Belajar Senang

Menghadapi kelakuan bocah berseragam sekolah itu memang membutuhkan kesabaran yang sangat. Ada saja tingkah mereka yang terkadang tak terduga. Dan benar bahwa perkembangan manusia juga mengikuti perkembangan zaman. Tidak wajar jika menuntut mereka untuk berpola pikir dengan anak sekolah di era 90’ sementara mereka dilahirkan pada saat penjamuran teknologi melebihi jamur.

Benar memang bahwa alat komunikasi dalam bentuk apapun sudah sewajarnya dinonaktifkan saat pengajar berkicau di depan kelas, tetapi menyuruh anak-anak zaman sekarang untuk lepas dari gadget sepanjang waktu di kelas sama dengan mengunyah batu.. keras dan alot. Saya sendiri saja menyumpal telinga dengan earphone sepanjang menerima materi di era kuliah…secara sembunyi-sembunyi memang karena saya tahu tak ada dosen yang suka mahasiswanya menyalakan alat elektronik dalam bentuk apapun kala dia menjelaskan pelajaran di depan kelas… tapi setidaknya saya memahami materi yang dijelaskan. Jadi itulah prinsip saya sekarang ketika memberikan pengajaran… ‘Gadget Oke, Otak kece’. Saya tidak mengharamkan mereka ngegames di kelas, selama memahami materi yang saya berikan. Saya sama sekali tak mempermasalahkan di depan mereka ada laptop selama mereka bisa menangkap pelajaran saya di kelas itu. Mau putar musik sepanjang pelajaran pun saya persilahkan, asal semua tenang ketika saya mengoceh di depan. Tak ada pula larangan untuk berteriak-teriak di kelas, asal mereka senyap ketika saya memaparkan materi. Boleh makan dan minum di kelas, asal tidak membuang sampah di dalam kelas.

Lalu saya dibilang pengajar yang kurang disiplin? Ahh, kedisiplinan tidak sebatas duduk manis di kelas dengan meja yang hanya dipenuhi alat tulis. Lagipula mereka datang ke lembaga bimbingan belajar bukan untuk diajarkan tentang disiplin, melainkan penjelasan materi pelajaran yang di era ini merupakan barang langka di sekolah. Hal terpenting adalah siswa senang dan mau belajar!

Selain gadget, hal yang sedang trendi di kalangan anak-anak sekolah saat ini adalah selfie. Iya, bahkan ada beberapa siswa yang rajin sekali foto selfie lalu menjadikannya sebagai status update di BBB mereka. Di suatu kelas contohnya.. saat saya baru saja menutup pintu, seorang siswi mendatangi saya lalu mengajak saya berfoto selfie bersama..kemudian dia menjadikan foto kami sebagai status update BBM dan akun jejaring sosialnya dengan caption “Mau mulai les dengan Mbak Guru”. Hal tersebut juga dilakukan sebelum saya meninggalkan kelas. Foto selfie, lalu update status.

Mengajak foto selfie terang-terangan ini jauh lebih menyenangkan daripada tindakan siswa-siswa yang hobi mencuri-curi foto. Kan tidak enak ketika saya sedang berkonsentrasi menulis materi di depan kelas terpotong oleh panggilan siswa;

“Ibu… Ibu…”

Lalu ketika saya menoleh, blitz kamera menyambar-nyambar. Ya ampun adek…kan lebih enak minta foto daripada harus mencuri-curi begitu -_- Saya merasa seperti tersangka kasus korupsi yang disambar oleh kilat lensa para pemburu berita.

Sebagai pengajar, saya bukannya tak punya haters… Pasti adalah satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sosok yang tidak sepaham dengan pola pikir saya.. baik itu siswa maupun sesama pengajar atau siapapun di tempat saya bekerja saat ini. I don’t cares.. tapi saya geli pada salah satu hater yang berasal dari kalangan siswi. Dia terlihat begitu garang setelah teman lelakinya ‘sengaja’ mencuri pandang pada saya yang tengah berdiri di depan kelas untuk mendengarkan lagu yang diputar sebagai relaxasi selama 5 menit. Saya yang sadar akan pandangan tersebut balas memberikan pandangan dan seutas senyum simpul, yang kemudian dibalas senyum sumringah oleh siswa tersebut dan perempuan di sebelahnya memberikan kernyit dahi plus mulut manyun pada saya. Hahahahahaha…… Lucu sekali. Dikiranya saya sedang berusaha menarik minat pacar siswi yang cembetut itu. Dan setelahnya dia (si siswi) begitu kepo… menanyakan identitas saya pada operator CS dan beberapa pengajar. Yang kemudian, entah dia tahu dari siapa dan entah siapa yang membuat gosip, dia tahu saya sudah menikah -_- Ya sudahlah…

So far, so fun… Semoga saya tetap sabar dan tetap mau belajar.

Simbiosis Siswa-Pengajar

Dua pekan adalah waktu yang cukup bagi saya untuk mengobservasi tingkah pola adek-adek les serta tempat dimana saya harus mengisi kelas. Setelahnya, saya mulai terbiasa dengan lingkungan tempat belajar tambahan tersebut.

Dan tak ada lagi ketakutan ataupun salah fokus saat harus berhadapan dengan puluhan mata di depan kelas pada pekan ketiga saya mengajar. Materi yang harus saya jabarkan juga tidak terlalu rumit. Hanya saja di pekan ini saya jadi tahu bagaimana pemikiran beberapa siswa yang mengikuti pelajaran tambahan di LBB ini.

Di suatu kelas, tiba-tiba saja tiga hingga empat orang siswa berdialog…

Saya tak ingat runtut ucapannya, yang saya ingat hanyalaah pernyataan salah satu diantara mereka..

“Kalo memang gak suka sama kebiasaan kita di kelas, mendingan guru itu pergi aja. Toh kita di sini bayar. Kalo dia gak suka, keluar aja..kita bisa kok cari guru lain yang mau ngajar. Yang butuh loh bukan kita, tapi dia!”

Sebuah pernyataan yang benar-benar jahat. Pernyataan yang serta merta membuat saya mencelos. Saya tahu bahwa mereka tengah menggunjingkan pengajar lain, hanya saja sebagai sesama pengajar… mendengar pernyataan tersebut sedikit membuat saya geram.

Benar memang bahwa pengajar di LBB ini (dan semua LBB saya kira) membutuhkan siswa untuk mendapatkan penghasilan. Pengajar bisa memenuhi kebutuhannya karena siswa membayar. Membayar untuk diberi pelajaran ekstra. Namun bukan berarti siswa memiliki hak veto untuk menjadikan kelas sebagai ruang kekuasaannya. Pengajar juga punya hak yang sama dengan siswa.

Pengajar memang dibayar, tetapi dia dibayar setelah memberikan ilmunya kepada siswa. Apa dikira ilmu itu mudah didapat? Membayar bukan berarti selalu benar. Pengajar pun memiliki hak untuk tidak melaksanakan tugasnya jika siswa benar-benar tak mau diajar. Bullshit jika dalam suatu LBB hanya berlaku simbiosis komensalisme dimana pengajar diuntungkan karena siswa yang membayar uang tambahan pelajarannya. Bagaimana jika tak ada pengajar LBB? Bukankan tak akan ada yang namanya LBB? Jika tak ada LBB, kemana siswa akan pergi mencari penjelasan mengenai materi pelajaran yang tak dijelaskan di sekolah? Ahh…bagi saya tak semua siswa menjadikan LBB sebagai tempat belajar ekstra. Mayoritas diantara mereka menjadikan LBB sebagai pilihan utama daripada harus stay di rumah dan mendengar omelan mama. Dengan kata lain, LBB tak ubahnya sebagai tempat pelarian. Jika tak ada LBB..mau lari kemana?

Karena itulah… tak ada yang namanya murid tak butuh guru, begitu pula sebaliknya. Kalau memang suatu saat nanti saya menjadi bahan gunjingan siswa, terutama masalah simbiosis pada siswa, maka saya punya hak untuk menolak mengajar kelas mereka.Simbiosis diantara siswa dan pengajar haruslah sama-sama menguntungkan..

Selebihnya.. pekan ketiga berjalan menyenangkan :)

Mengajar Di Pekan Kedua

Pekan kedua memerah otak bukanlah tanpa celah..

Saya memulai minggu ini dengan sebuah ketololan yang menggelikan. Saya dengan bisanya lupa tidak menggunakan helm saat berkendara motor dari rumah kakak menuju tempat mengajar. Kebetulan awal pekan ini saya ditugaskan di lokasi yang lumayan jauh dari pusat kota. Harus melewati jalanan raya yang super padat oleh bus dan truk-truk besar. Belum lagi siang hari, para pejabat polisi selalu berkeliaran di jalan raya.. mengatur arus jalan dan (mungkin sembari) mencari mangsa pengendara yang lalai terhadap perarturan lalu lintas. Saya, melewati tiga orang polisi di tiga titik macet pusat kota, tetapi ketiganya tidak mengacuhkan saya. Tidak menyetop motor yang dikemudikan adek. Saya baru menyadari tidak ada helm yang melekat di kepala ketika kami hampir sampai di tempat tujuan. Ya Tuhan.. kenapa saya begitu stupid :) . Mungkin karena terlalu excited dengan tempat mengajar yang jauh dari kota, dan yang pertama kali bagi saya menjamah daerah tersebut… sehingga amnesia akan helm.. Bersyukur rasanya tidak terkena operasi Mr. Police… Semoga saja Tuhan membalas kebaikan polisi-polisi yang tidak menjadikan saya sebagai ‘mangsa’ mereka (AMIN).

Esok harinya dan lusanya, tidak banyak kejutan yang saya dapatkan… Celotehan siswa masih tetap sama.. tentang saya yang kurang tinggi serta tulisan yang begitu mini. Satu dua orang berceletuk;

“Tahu gini aku pake kacamata”

“Aduh..aku gak terbiasa nyatet dengan tulisan kecil”

Lalu kemudian setelah selesai mencatat materi, saya menuju jajaran bangku paling belakang di kelas tersebut. Mencoba membaca tulisan saya yang kata mereka tak terlihat. Hasilnya… saya bisa kok membaca tulisan saya. Saya akui bahwa tulisan saya tidak besar, tetapi tidak berarti mirip sandi rumput yang tak terbaca. Saya juga iseng menanyakan pada salah satu siswa yang masih mencatat;

“Bisa gak baca tulisanku di depan?”

Siswa yang saya tanya menjawab;

“Bisa kok, Bu”

Lalu kemudian ada suara lain yang menimpali dari jajaran bangku di depan;

“Bisa kok dibaca, tapi aku males nyatet.. besok kalau mau ulangan aku fotokopi aja”

Ahh…tulisan saya yang kecil menjadi kambing hitam dari sebuah kemalasan bocah SMP :)

Jadi, setelahnya jika masih ada komentar tentang tulisan saya yang kecil.. saya datangi bocahnya dan saya tanyakan;

“Yang mana yang gak kelihatan, Dek? Aku diktekan sekarang”

Kemudian di kelas itu tak ada lagi bulan-bulanan tentang tulisan saya yang kecil… Kalau malas mencatat, ya tidak usah mencatat semua… jadi tak perlu menjadikan tulisan di papan tulis sebagai alasannya.. hohohohoohohoo..

Saya kembali terkejut ketika harus mengisi materi di kelas 2 SMP. Seperti mengasuh bocah playgroup. Kelas itu seperti taman bermain. Mereka berlari ke sana- kemari. Usil menyembunyikan tutup spidol saya.. Bahkan ada yang dengan sengaja berdiri terus di sebelah saya, mengikuti setiap gerakan yang saya lakukan. Mungkin baginya saya tak jauh beda dengan instruktur senam di kelas itu..

Berteriak-teriak di kelas adalah kegiatan yang berlangsung selama 90 menit penuh, baik lelaki maupun wanitanya. Ada juga siswa yang suka memotong pembicaraan. Ketika saya menjelaskan tentang ‘A’, tiba-tiba saja ada teriakan dari sisi kelas;

“IBUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU…COBA LIHAT SOAL NOMOR 3..ITU MAKSUDNYA APAAAA????!!!!!!!!”

Semua kata dilafalkan dalam nada 12 oktaf… teriakan nada seorang Mariah Carey pun lewat -_-

Lalu ketika hendak memberikan jawaban, ada lagi teriakan lain dari sisi sebelah… Padahal membahas soal sudah ditentukan dilakukan setelah menjelaskan materi. Tapi, aturan itu tak bisa diberlakukan pada siswa yang berada pada usia labil…di satu sisi mereka sudah harus berhadapan dengan masa akil baliq primer, tetapi di sisi lain mereka masih pantas berseragam putih merah.

Jadilah.. saya yang harus mengerti. Menahan diri untuk tidak melayangkan benda-benda sekitar pada keliaran mereka. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGG… Harus atur nafas dengan benar. Selesai mengajar, saya berasa baru saja melakukan lari cepat 10 KM.. Lelahnya.. Alhamdulillah, sistem pernafasan saya masih normal dan oksigen masih tersedia bebas di alam.

Semoga saja edisi lari di kelas tak ada lagi di sesi mengajar selanjutnya… Tak apalah lari-lari sedikit, asal ilmunya bisa diterima. Asal mereka senang. Asal mereka mau belajar. Kalau senang, insya Allah belajarnya mau.. ilmunya sampai..

Mengajar Di Pekan Pertama

Begini rasanya menjadi pengajar yang peserta didiknya memiliki panca indera lengkap dan tubuh tanpa cacat. Bisa berbicara keras, motil, serta sistem eksresi yang masih normal. Bising, berisik, dan bau keringat bercampur menjadi satu di ruang kelas yang ukurannya sekitar 7 x 6 meter. Ya salam… ramenya tak kalah seru dari pasar malam.

Minggu pertama ketika harus bergumul dengan adek-adek pengguna seragam putih abu-abu dan putih biru terasa mengejutkan. Semacam ada shock culture. Iya, mereka memang mendengarkan saat pengajar di depan kelas menerangkan materi, tetapi tetap saja saat pengajar menuliskan materi… semua mulut sepertinya berkicau. Berebut untuk berbicara.

Singkat cerita, dalam satu kali memberikan pelajaran di kelas, waktu saya adalah 90 menit. 30 menit untuk menuliskan materi di papan tulis, 25 menit untuk menjelaskan materi, 5 menit istirahat (biasanya diputarkan musik oleh mbak-mbak CS), dan 30 menit untuk membahas soal-soal yang berkaitan dengan materi yang telah saya jelaskan.

Adek-adek yang usianya sudah belasan itu biasanya langsung mengikuti kelas (les) sepulang sekolah, jadi bisa dibayangkan bagaimana kondisi mereka. Masih berseragam, dengan aktivitas di sekolah yang mungkin seabrek. Kucel dengan sedikit bau-bauan masam, sebuah kombinasi relaksasi aromaterapi yang tak akan mudah dilupakan. Ditambah dengan ocehan yang seakan tak ada putusnya plus tawa hingar bingar, lengkaplah sudah nina bobo bagi saya di setiap siang/sore hari.

Kadang-kadang, ada beberapa kelas yang seakan-akan tidak menganggap keberadaan saya di depan kelas. Mungkin bagi mereka, saya hanya manekin hidup yang merangkap sebagai sales yang menjajakan ‘materi’ pelajaran.

Saya juga sering ‘dirasani’… dikata kurang tinggi (memang :D ), dibilang tulisannya terlalu mini (kan mirip orangnya hohohoho), atau bahkan dibilang terlalu hobi menulis lantaran materi yang saya berikan terlalu banyak.

Ada juga yang suka iseng mencuri-curi memotret saya saat sedang menjelaskan materi… -___-

Yang paling mengesalkan adalah jika mereka mengajukan pertanyaan yang tidak semestinya. Misalnya ketika materi pelajaran berhubungan dengan sistem reproduksi, ada beberapa gelintir bocah yang tanpa malu-malu menanyakan bagaimana caranya mengeluarkan cairan sperma -__- Saya yakin mereka paham, hanya usil saja menanyakannya pada pengajar baru.

Ahhh…adek-adek yang lucu…

Sempat beberapa kali ingin melemparkan spidol atau penghapus pada mereka yang tidak mau mendengar penjelasan atau mengoceh dari awal hingga akhir kelas, tetapi akhhirnya saya hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Menyadari bahwa mereka masih terlalu muda untuk mengerti tentang susahnya mencari nafkah, mungkin dulu saya juga begitu.

Saya juga bukan  tanpa celah.. di minggu pertama berbagi ilmu, saya sempat beberapa kali kurang fokus. Pertama karena materi yang saya pelajari saat malam hari ternyata bukan materi yang harus saya jelaskan di depan kelas. Ada misscommunication antara pengajar dengan pembuat jadwal. Kedua, karena saya belum terbiasa dengan keramaian kelas.. suara-suara ribut membuat konsentrasi saya kacau, inginnya marah-marah. Tapi setidaknya, masa orientasi sepekan bisa saya lalui.

Mengajar itu memang susah, tapi menyenangkan :)

Semoga saja kelas-kelas selanjutnya bisa memberikan kejutan lain yang tak kalah seru seperti di pekan pertama lalu.

PR Yang Menjadi Beban

Harusnya… les atau tambahan mata pelajaran, baik itu private maupun berkelompok, menjadi waktu bagi murid untuk mempelajari hal-hal yang tidak dimengerti di sekolah atau menanyakan pekerjaan rumah yang mereka tak bisa kerjakan sendiri. Tugas guru les itu menjelaskan apa-apa yang tidak dimengerti di sekolah. Bukan mengerjakan PR yang didapat dari sekolah!

Itulah susahnya jadi guru les untuk bocah SD yang agak ‘istimewa’.

Bahkan untuk menyelesaikan PR saja harus menggunakan bantuan guru lesnya.

PR nya pun tidak susah… hanya mewarnai contohnya… Hanya sekedar memoleskan pensil warna saja, sederhana tetapi jika diterus-teruskan bukan tidak mungkin bocah itu benar-benar enggan menyelesaikan sendiri tugas rumahnya. Terlebih lagi jika perintah untuk mengerjakan PR itu berasal langsung dari sang Bunda.

Guru les bisa apa?? 

Padahal salah satu tujuan guru sekolah memberikan pekrejaan rumah adalah meminimalkan kemalasan belajar siswa saat di rumah. Kalau PR kemudian dibebankan kepada guru les… kapan si murid belajar di rumah? :|

Menggambar Saja

Model

Model

Mengamati si panda

Mengamati si panda

Adek les yang berdialog dengan Panda

Adek les yang berdialog dengan Panda

Adek les benar-benar menikmati aktivitas mengamati setiap detail tubuh si panda

Adek les benar-benar menikmati aktivitas mengamati setiap detail tubuh si panda

Hasil Gambarnya :D

Hasil Gambarnya :D

Bosan dan lelah dengan aktivitas sekolahnya yang cukup padat membuat adek les menjadi sedikit tidak bersemangat saat belajar di malam hari. Jadilah di hari terakhir les minggu ini lesnya diisi dengan menggambar. Setidaknya dia suka. :)

Pindahkan Jam Tayang Maha……….

Hari ini salah satu materi belajar yang saya berikan pada adek les adalah menyebutkan struktur morfologi (bagian-bagian) bunga. Hanya bagian-bagian utama dan bagian dasarnya.

  • Mahkota bunga
  • Kelopak bunga
  • Tangkai bunga

Ketika penjelasan saya mengenai bagian-bagian tersebut selesai… adek les saya bertanya;

“Mbak, kalo mahkota manusia sama gak dengan mahkota bunga?”

Say menimpalinya;

“Manusia gak punya mahkota, dek. Apa coba fungsi mahkota untuk manusia? Kalo buat bunga kan ada”

Lalu adek les saya berkata lagi;

“Ada loh mbak manusia yang punya mahkota. Coba liat Mahabarata!”

AAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGG

Tolong… siapa saja… hentikan tayangan maha maha di televisi!! Pindahkan jam tayangnya!!! Tolong :(

Sebuah Kompetisi

Salah satu efek dari implementasi kurikulum 2013 adalah semakin kompetitifnya subjek pendidikan.

Iya.. guru dituntut untuk lebih berkompetensi, yang secara tidak langsung juga harus berkompetisi dengan guru-guru lain dalam ujian kompetensi guru (UKG).

Murid? Saya pikir, sejak zaman dahulu memang ada kompetisi atara anak yang satu dengan yang lain. Banyak diantara mereka yang selalu ingin menduduki peringkat pertama di kelas. Setidaknya masuk dalam jajaran sepuluh besar. Saya sendiri menjadi saksi hidup bagaimana ‘perang’ itu terjaddi.

Suatu hari adek les saya tidak mencatat soal pekerjaan rumah yang dituliskan guru di papan sekolahnya. Alasan adek les saya adalah dia tidak sempat mencatat karena soal dihapus ketika bel pulang dibunyikan. Hanya kurang 3 soal. Soalnya pun tidak berbentuk kalimat panjang. Sekedar angka, karena perintahnya hanya menggambar bentuk sudut.

Kebetulan saya memiliki mantan adek les yang sekelas dengan adek les saat ini. Saya mencoba menanyakan 3 soal sisa tersebut pada mantan adek les, tetapi jawaban yang saya terima sungguh mengejutkan.

“Aku les mbak… pulangnya malem. Gak bisa ngasih tau. Salah sendiri gak nyatet di sekolah”

Sebuah jawaban yang menggambarkan persaingan antara siswa. Jadi, saya tidak berhasil menanyakan ketiga soal tersebut. Adek les saya sih tenang-tenang saja. Dia tidak panik, tidak juga ambil pusing dengan pekerjaan rumahnya yang kurang tiga soal. Mungkin itu pulalah yang membedakan kaum adam dengan lawan jenisnya, adek les saya ini laki-laki yang sama sekali belum punya beban dan pikiran. Kalau saja yang kurang 3 soal itu mantan adek les saya, mungkin dia akan merengek kebingungan dan tidak mau masuk sekolah esok harinya.

Namun saya masih tetap mencoba untuk menghubungi orang tua mantan adek les… Meminta tolong apakah bisa memotretkan soal pekerjaan rumah  milik anaknya. Hanya soalnya saja. Saya tak butuh diberi contekan jawaban. Lalu, jawaban yang saya dapatkan tetaplah penolakan.

“Anakku masih les, mbak. Pulangnya malem. Jadi aku gak janji”

Well… padahal saya dan si Mama mantan adek les cukup mengenal. Kami juga masih sering berkomunikasi. Tapi entah kenapa secara tiba-tiba permintaan tolong saya tidak dikabulkan. Padahal saya tidak meminta yang macam-macam. Hanya meminta untuk diberitahu soal pekerjaan rumah anaknya. Itulah bentuk kompetisi orang tua. Secara tidak langsung, Mama dari mantan adek les saya tidak ingin nilai anaknya di bawah adek les saya. Logikanya adalah jika adek les saya hanya mengerjakan 7 dari 10 soal, maka nilai maksimal yang didapat hanya 70… sementara anaknya yang mengerjakan semua soal berpeluang untuk mendapatkan nilai 100.

Yaaa..itu memang hanya pemikiran saya… tetapi jika memang tak ada unsur kompetitif, kenapa tidak mau memberi tahu 3 soal yang saya minta?

Ahh… memang sih.. salah satu interaksi yang terjadi pada setiap kehidupan adalah kompetisi.

Sebuah Diskusi Yang Tidak Pantas

Awal bulan ini saya mendengar begitu banyak keluhan dari orang-orang sekitar mengenai kurikulum pembelajaran 2013 atau kurikulum 2013. Mayoritas dari mereka yang mengeluh adalah orang tua (wali murid) dan para pengajar.

Kurikulum anyar tersebut dinilai merepotkan. Terlalu banyak memeras tenaga dan pikiran semua pihak yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Guru harus lebih berkompeten dalam menerangkan materi-materi pembelajaran, murid dituntut untuk lebih kreatif, sementara orang tua harus lebih berperan aktif dalam kegitan belajar anaknya.

Ironisnya… ketika mayoritas para tenaga pendidik yang saya ketahui tengah berjuang memikirkan repotnya kurikulum anyar, secara tak sengaja saya mendapati gerombolan pengajar yang sibuk mendiskusikan  hal-hal yang sifatnya sangat non akademis.

Bolehlah membahas masalah rekreasi perpisahan untuk siswa kelas 6, tapi bukankah tahun ajaran baru dimulai 3 minggu? Reksreasi sekolah masih pertengahan tahun depan… masih sangat lama.. kenapa harus dibahas sekarang? Lalu kemudian mereka mengubah topik pembicaraan.. menjadikan ‘adegan kasur’ sebagai  bahan diskusi. Ohh… terserah mereka memang mau menceritakan hubungan dengan pasangan masing-masing, tetapi tak bisakah mendiskusikan hal-hal rahasia tersebut di tempat yang lebih tertutup?

Saat itu kami sedang di warung makan pinggir jalan. Banyak pembeli lain. Ada beberapa pembeli yang masih di bawah umur pula. Sangat tidak etis rasanya jika harus bertukar cerita mengenai hubungan suami istri di tempat tersebut.

Kenapa tidak mendiskusikan kurikulum yang katanya susah? :|

Unexpectedly Questions

Suatu malam, adek les memberikan pertanyaan tak terduga….

  1. Malaikat kan bisa menghancurkan Bumi, kuat mana Malaikat sama Allah?
  2. Kalau Nabi lawan Malaikat siapa yang menang?
  3. Kalau Nabi sama Allah kuat mana?
  4. Setan, Jin, Iblis… lebih kuat mana?
  5. Terus kalau Allah lawan Iblis… kira-kira Iblis bisa menang apa gak?
  6. Dewa sama Allah kuat mana?

Begitulah…hampir 45 menit pertanyaan mengenai ‘siapa yang paling kuat’ diajukan adek les. Setelah memberikan jawaban dengan hati-hati dan (jujur saja) sedikit ketakutan dan terengah-engah dan berkeringat… saya pikir kami bisa melanjutkan sisa jam les dengan membahas materi pelajaran yang lain.. tapi kemudian adek les saya kembali memberondong kakak lesnya ini dengan pertanyaan yang tak kalah wau dari tema’siapa yang paling kuat’.

  1. Bumi ini yang nyiptain Allah kan mbak… terus siapa yang nyiptain Allah?
  2. Allah itu ada dimana?
  3. Allah itu kayak apa? Bentuknya seperti orang atau gimana?
  4. Allah kan yang paling kuat, berarti bisa menghidupkan orang yang sudah mati? (ketika pertanyaan ini diajukan, saya membatin.. seandainya memang bisa..lalu tersenyum simpul)
  5. Orang-orang mati yang di surga dan neraka, apa bisa lihat Allah?
  6. Caranya masuk ke Surga dan Neraka gimana?
  7. Naik apa kalo kita mau ke surga? Sama gak kendaraannya kalo kita mau ke neraka?
  8. Katanya Allah maha pemaaf, tapi kok ada orang mati yang disiksa di neraka?
  9. Tuhannya orang Kristen, Hindu, Budha, dan Katolik itu siapa yang nyiptain?

:|

Lelahnya… jadwal les malam itupun harus berlangsung satu jam lebih lama karena pertanyaan-pertanyaan ingin tahu si Adek les… Ya Allah… semoga saja jawaban yang saya berikan bisa sedikit menjinakkan pemikiran liar bocah 8 tahun itu…

Hebohnya Kurikulum 2013

Tiba-tiba saja dunia sekolah dasar di sekitar tempat tinggal dihebohkan dengan perubahan kurikulum. Saya hanya mendengar gerutuan wali murid mengenai kurikulum anyar tersebut melalui orang tua adek les. Masalah internet, raport online, hingga mata pelajaran tematik.

Hebohnya masya Allah…. dan sebagian besar dari orang tua murid yang heboh tersebut memusingkan masalah teknologi yang menjadi salah satu sarana pembelajaran di semester ini. Lucu saja ketika harus mendengarkan ibu-ibu yang kebingungan dan mungkin setengah ketakutan saat mengatakan

“Internet iku opo… piye carane gawe” (Internet itu apa, gimana cara menggunakannya?)

Belum lagi mereka yang pusing dengan kurikulum 2013 yang mereka kenal sebagai kurikulum tematik. :D

Ahh Ibu….

Internet itu tidak susah, kok… Hanya perlu dibiasakan saja. Tidak jauh beda dengan mengutakatik smartphone. BBM dan facebook-an saja lancar, masa iya hanya melihat nilai raport anak via internet gelagapan???

Dan tidak perlu juga memusingkan masalah kurikulum 2013. Sama saja. Mau kurikulum apapun semuanya sama-sama memberikan pengajaran bagi anak. Benar memang, orang tua harus lebih aktif di kurikulum baru ini… tapi kurikulum 2013 ini lebih ditekankan untuk mengup-grade kompetensi guru. Supaya para tenaga pendidik juga tidak ketinggalan zaman. Dunia sudah berkembang pesat…jika metode pengajaran di sekolah tidak dikembangkan juga; peserta didik di sekolah formal tidak akan belajar banyak. Kurikulum tematik tersebut juga diterapkan supaya anak tidak menganggap sekolah hanya sebagai formalitas untuk selembar ijazah karena ‘rencana’ pembelajaran pada kurikulum 2013 tidak hanya mencakup IQ, tetapi juga EQ serta pengembangan bakat plus minat peserta didik.

Kalau benar-benar diterapkan… kurikulum 2013 ini oke kok…. :D