PR Yang Menjadi Beban

Harusnya… les atau tambahan mata pelajaran, baik itu private maupun berkelompok, menjadi waktu bagi murid untuk mempelajari hal-hal yang tidak dimengerti di sekolah atau menanyakan pekerjaan rumah yang mereka tak bisa kerjakan sendiri. Tugas guru les itu menjelaskan apa-apa yang tidak dimengerti di sekolah. Bukan mengerjakan PR yang didapat dari sekolah!

Itulah susahnya jadi guru les untuk bocah SD yang agak ‘istimewa’.

Bahkan untuk menyelesaikan PR saja harus menggunakan bantuan guru lesnya.

PR nya pun tidak susah… hanya mewarnai contohnya… Hanya sekedar memoleskan pensil warna saja, sederhana tetapi jika diterus-teruskan bukan tidak mungkin bocah itu benar-benar enggan menyelesaikan sendiri tugas rumahnya. Terlebih lagi jika perintah untuk mengerjakan PR itu berasal langsung dari sang Bunda.

Guru les bisa apa?? 

Padahal salah satu tujuan guru sekolah memberikan pekrejaan rumah adalah meminimalkan kemalasan belajar siswa saat di rumah. Kalau PR kemudian dibebankan kepada guru les… kapan si murid belajar di rumah? :|

Menggambar Saja

Model

Model

Mengamati si panda

Mengamati si panda

Adek les yang berdialog dengan Panda

Adek les yang berdialog dengan Panda

Adek les benar-benar menikmati aktivitas mengamati setiap detail tubuh si panda

Adek les benar-benar menikmati aktivitas mengamati setiap detail tubuh si panda

Hasil Gambarnya :D

Hasil Gambarnya :D

Bosan dan lelah dengan aktivitas sekolahnya yang cukup padat membuat adek les menjadi sedikit tidak bersemangat saat belajar di malam hari. Jadilah di hari terakhir les minggu ini lesnya diisi dengan menggambar. Setidaknya dia suka. :)

Pindahkan Jam Tayang Maha……….

Hari ini salah satu materi belajar yang saya berikan pada adek les adalah menyebutkan struktur morfologi (bagian-bagian) bunga. Hanya bagian-bagian utama dan bagian dasarnya.

  • Mahkota bunga
  • Kelopak bunga
  • Tangkai bunga

Ketika penjelasan saya mengenai bagian-bagian tersebut selesai… adek les saya bertanya;

“Mbak, kalo mahkota manusia sama gak dengan mahkota bunga?”

Say menimpalinya;

“Manusia gak punya mahkota, dek. Apa coba fungsi mahkota untuk manusia? Kalo buat bunga kan ada”

Lalu adek les saya berkata lagi;

“Ada loh mbak manusia yang punya mahkota. Coba liat Mahabarata!”

AAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGG

Tolong… siapa saja… hentikan tayangan maha maha di televisi!! Pindahkan jam tayangnya!!! Tolong :(

Sebuah Kompetisi

Salah satu efek dari implementasi kurikulum 2013 adalah semakin kompetitifnya subjek pendidikan.

Iya.. guru dituntut untuk lebih berkompetensi, yang secara tidak langsung juga harus berkompetisi dengan guru-guru lain dalam ujian kompetensi guru (UKG).

Murid? Saya pikir, sejak zaman dahulu memang ada kompetisi atara anak yang satu dengan yang lain. Banyak diantara mereka yang selalu ingin menduduki peringkat pertama di kelas. Setidaknya masuk dalam jajaran sepuluh besar. Saya sendiri menjadi saksi hidup bagaimana ‘perang’ itu terjaddi.

Suatu hari adek les saya tidak mencatat soal pekerjaan rumah yang dituliskan guru di papan sekolahnya. Alasan adek les saya adalah dia tidak sempat mencatat karena soal dihapus ketika bel pulang dibunyikan. Hanya kurang 3 soal. Soalnya pun tidak berbentuk kalimat panjang. Sekedar angka, karena perintahnya hanya menggambar bentuk sudut.

Kebetulan saya memiliki mantan adek les yang sekelas dengan adek les saat ini. Saya mencoba menanyakan 3 soal sisa tersebut pada mantan adek les, tetapi jawaban yang saya terima sungguh mengejutkan.

“Aku les mbak… pulangnya malem. Gak bisa ngasih tau. Salah sendiri gak nyatet di sekolah”

Sebuah jawaban yang menggambarkan persaingan antara siswa. Jadi, saya tidak berhasil menanyakan ketiga soal tersebut. Adek les saya sih tenang-tenang saja. Dia tidak panik, tidak juga ambil pusing dengan pekerjaan rumahnya yang kurang tiga soal. Mungkin itu pulalah yang membedakan kaum adam dengan lawan jenisnya, adek les saya ini laki-laki yang sama sekali belum punya beban dan pikiran. Kalau saja yang kurang 3 soal itu mantan adek les saya, mungkin dia akan merengek kebingungan dan tidak mau masuk sekolah esok harinya.

Namun saya masih tetap mencoba untuk menghubungi orang tua mantan adek les… Meminta tolong apakah bisa memotretkan soal pekerjaan rumah  milik anaknya. Hanya soalnya saja. Saya tak butuh diberi contekan jawaban. Lalu, jawaban yang saya dapatkan tetaplah penolakan.

“Anakku masih les, mbak. Pulangnya malem. Jadi aku gak janji”

Well… padahal saya dan si Mama mantan adek les cukup mengenal. Kami juga masih sering berkomunikasi. Tapi entah kenapa secara tiba-tiba permintaan tolong saya tidak dikabulkan. Padahal saya tidak meminta yang macam-macam. Hanya meminta untuk diberitahu soal pekerjaan rumah anaknya. Itulah bentuk kompetisi orang tua. Secara tidak langsung, Mama dari mantan adek les saya tidak ingin nilai anaknya di bawah adek les saya. Logikanya adalah jika adek les saya hanya mengerjakan 7 dari 10 soal, maka nilai maksimal yang didapat hanya 70… sementara anaknya yang mengerjakan semua soal berpeluang untuk mendapatkan nilai 100.

Yaaa..itu memang hanya pemikiran saya… tetapi jika memang tak ada unsur kompetitif, kenapa tidak mau memberi tahu 3 soal yang saya minta?

Ahh… memang sih.. salah satu interaksi yang terjadi pada setiap kehidupan adalah kompetisi.

Sebuah Diskusi Yang Tidak Pantas

Awal bulan ini saya mendengar begitu banyak keluhan dari orang-orang sekitar mengenai kurikulum pembelajaran 2013 atau kurikulum 2013. Mayoritas dari mereka yang mengeluh adalah orang tua (wali murid) dan para pengajar.

Kurikulum anyar tersebut dinilai merepotkan. Terlalu banyak memeras tenaga dan pikiran semua pihak yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Guru harus lebih berkompeten dalam menerangkan materi-materi pembelajaran, murid dituntut untuk lebih kreatif, sementara orang tua harus lebih berperan aktif dalam kegitan belajar anaknya.

Ironisnya… ketika mayoritas para tenaga pendidik yang saya ketahui tengah berjuang memikirkan repotnya kurikulum anyar, secara tak sengaja saya mendapati gerombolan pengajar yang sibuk mendiskusikan  hal-hal yang sifatnya sangat non akademis.

Bolehlah membahas masalah rekreasi perpisahan untuk siswa kelas 6, tapi bukankah tahun ajaran baru dimulai 3 minggu? Reksreasi sekolah masih pertengahan tahun depan… masih sangat lama.. kenapa harus dibahas sekarang? Lalu kemudian mereka mengubah topik pembicaraan.. menjadikan ‘adegan kasur’ sebagai  bahan diskusi. Ohh… terserah mereka memang mau menceritakan hubungan dengan pasangan masing-masing, tetapi tak bisakah mendiskusikan hal-hal rahasia tersebut di tempat yang lebih tertutup?

Saat itu kami sedang di warung makan pinggir jalan. Banyak pembeli lain. Ada beberapa pembeli yang masih di bawah umur pula. Sangat tidak etis rasanya jika harus bertukar cerita mengenai hubungan suami istri di tempat tersebut.

Kenapa tidak mendiskusikan kurikulum yang katanya susah? :|

Unexpectedly Questions

Suatu malam, adek les memberikan pertanyaan tak terduga….

  1. Malaikat kan bisa menghancurkan Bumi, kuat mana Malaikat sama Allah?
  2. Kalau Nabi lawan Malaikat siapa yang menang?
  3. Kalau Nabi sama Allah kuat mana?
  4. Setan, Jin, Iblis… lebih kuat mana?
  5. Terus kalau Allah lawan Iblis… kira-kira Iblis bisa menang apa gak?
  6. Dewa sama Allah kuat mana?

Begitulah…hampir 45 menit pertanyaan mengenai ‘siapa yang paling kuat’ diajukan adek les. Setelah memberikan jawaban dengan hati-hati dan (jujur saja) sedikit ketakutan dan terengah-engah dan berkeringat… saya pikir kami bisa melanjutkan sisa jam les dengan membahas materi pelajaran yang lain.. tapi kemudian adek les saya kembali memberondong kakak lesnya ini dengan pertanyaan yang tak kalah wau dari tema’siapa yang paling kuat’.

  1. Bumi ini yang nyiptain Allah kan mbak… terus siapa yang nyiptain Allah?
  2. Allah itu ada dimana?
  3. Allah itu kayak apa? Bentuknya seperti orang atau gimana?
  4. Allah kan yang paling kuat, berarti bisa menghidupkan orang yang sudah mati? (ketika pertanyaan ini diajukan, saya membatin.. seandainya memang bisa..lalu tersenyum simpul)
  5. Orang-orang mati yang di surga dan neraka, apa bisa lihat Allah?
  6. Caranya masuk ke Surga dan Neraka gimana?
  7. Naik apa kalo kita mau ke surga? Sama gak kendaraannya kalo kita mau ke neraka?
  8. Katanya Allah maha pemaaf, tapi kok ada orang mati yang disiksa di neraka?
  9. Tuhannya orang Kristen, Hindu, Budha, dan Katolik itu siapa yang nyiptain?

:|

Lelahnya… jadwal les malam itupun harus berlangsung satu jam lebih lama karena pertanyaan-pertanyaan ingin tahu si Adek les… Ya Allah… semoga saja jawaban yang saya berikan bisa sedikit menjinakkan pemikiran liar bocah 8 tahun itu…

Hebohnya Kurikulum 2013

Tiba-tiba saja dunia sekolah dasar di sekitar tempat tinggal dihebohkan dengan perubahan kurikulum. Saya hanya mendengar gerutuan wali murid mengenai kurikulum anyar tersebut melalui orang tua adek les. Masalah internet, raport online, hingga mata pelajaran tematik.

Hebohnya masya Allah…. dan sebagian besar dari orang tua murid yang heboh tersebut memusingkan masalah teknologi yang menjadi salah satu sarana pembelajaran di semester ini. Lucu saja ketika harus mendengarkan ibu-ibu yang kebingungan dan mungkin setengah ketakutan saat mengatakan

“Internet iku opo… piye carane gawe” (Internet itu apa, gimana cara menggunakannya?)

Belum lagi mereka yang pusing dengan kurikulum 2013 yang mereka kenal sebagai kurikulum tematik. :D

Ahh Ibu….

Internet itu tidak susah, kok… Hanya perlu dibiasakan saja. Tidak jauh beda dengan mengutakatik smartphone. BBM dan facebook-an saja lancar, masa iya hanya melihat nilai raport anak via internet gelagapan???

Dan tidak perlu juga memusingkan masalah kurikulum 2013. Sama saja. Mau kurikulum apapun semuanya sama-sama memberikan pengajaran bagi anak. Benar memang, orang tua harus lebih aktif di kurikulum baru ini… tapi kurikulum 2013 ini lebih ditekankan untuk mengup-grade kompetensi guru. Supaya para tenaga pendidik juga tidak ketinggalan zaman. Dunia sudah berkembang pesat…jika metode pengajaran di sekolah tidak dikembangkan juga; peserta didik di sekolah formal tidak akan belajar banyak. Kurikulum tematik tersebut juga diterapkan supaya anak tidak menganggap sekolah hanya sebagai formalitas untuk selembar ijazah karena ‘rencana’ pembelajaran pada kurikulum 2013 tidak hanya mencakup IQ, tetapi juga EQ serta pengembangan bakat plus minat peserta didik.

Kalau benar-benar diterapkan… kurikulum 2013 ini oke kok…. :D

Kutukan Air Mata Seorang Kawan

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #JuveINA14 dari Nine Sport Inc. untuk memenangkan tiket meet and greet dengan para pemain Juventus. Follow @ninesportinc untuk informasi lebih lanjut.

Kala itu saya hanya terpaku melihat kawan sebangku menitikkan air mata. Dengan alasan setia kawan saya tetap duduk di sebelahnya, sembari menerka-nerka mengapa kawan saya menangis sepagi ini. Pikiran bocah yang masih duduk di bangku kelas 3 SD saat melihat kawannya menangis tidaklah macam-macam. Saya, mengira ia menangis karena terkena omelan orang tua atau bertengkar dengan kakak perempuannya. Saya juga sempat memikirkan bagaimana cara menghiburnya. Ketika ide untuk menghentikan air mata kawan sebangku itu datang, ia berkata

“Aku sedih, Mei. Juve kalah. Gak jadi juara liga champions….blablablablaaaa”

Dan masih banyak keluh kesahnya. Saya menjadi seperti orang linglung. Tidak tahu harus menimpali bagaimana. Segala ide penghiburan atas kesedihannya lenyap seketika. Entahlah, saya fikir kawan saya itu gila.

Betul..saat mendengarnya menuturkan penyebab tangis pagi harinya itu, saya beranggapan kawan saya itu gila.

Bagaimana mungkin dia menangis karena sebuah club sepakbola yang ada di negeri nun jauh di sana. Hei.. kami berada di daerah yang bahkan tidak dekat dari ibukota Indonesia, bagaimana bisa dia menangis karena tim yang bernama Juventus harus kalah dari tim yang berlabel Los Galacticos? Tidak masuk akal!

Masih dengan alasan setia kawan, saya bertahan mendengar kisahnya. Cerita yang dia tuturkan sepekan penuh, yang saya anggap sebagai pengobat dukanya. Semakin lama dia bercerita tentang club sepak bola yang katanya berasal dari Italia itu, semakin yakinlah saya bahwa kawan sebangku saya ini tidak waras. 

“Juventus itu hebat, Mei. Apalagi strikernya…Inzaghi, cakep. Mainnya juga bagus… Harusnya kemarin itu Juve menang. Itu golnya off side…blablablablablablaaa”

Saya mendengarkan, sembari membatinkan kutukan. Striker?? Saya kira saat itu saya mendengar ia mengucapkan ‘sticker’, semacam tempelan  yang berbentuk kartun-kartun lucu yang sedang saya koleksi… dan apa itu off side??! :|

Setelah sebulan kawan saya bertutur tentang Juventusnya, saya merasa risih. Rasanya tak mengerti apapun yang diucapkannya. Sama sekali tak paham tentang si kulit bundar. Namun di sisi lain saya tak mau menjadi pendengar yang bahkan tak mengerti apa yang didengar, risetpun mulai saya lakukan. Mulai dari membaca, bertanya pada kawan, bertanya pada saudara, hingga secara sembunyi-sembunyi memutar televisi di luar aturan jam TV yang berlaku di rumah saya. Mencari tahu apapun tentang Juventus. Supaya saya tahu kenapa club yang berada sisi Bumi lain itu bisa membuat kawan saya menangis gila. Mencari tahu sembari mengutuk. 

Akhirnya, kutukan yang saya luncurkan berbalik mengutuk diri sendiri. Seperti penyihir yang merapalkan mantranya dengan tongkat sihir cacat dalam kisah Harry Potter. Kutukan saya terhadap air mata kawan sebangku atas sebuah club yang bernama Juventus memantul pada diri sendiri. Saya menjadi gila pada La Vecchia Signora. Gilanya melebihi kawan sebangku saya. Memasukkan Juventus dalam setiap kesempatan doa, yang mungkin membuat Tuhan juga beranggapan bahwa saya gila.

Benar mungkin kata orang bahwa batas antara benci dan cinta itu tidak kentara. Berawal dari kutukan air mata seorang kawan, saya jadi belajar bahwa cinta itu tidak harus dekat dan saling kenal… bahkan untuk mencintai sebuah club sepak bola yang letaknya jauh di luar batas negara. 

Presiden Pilihan

Beberapa jam setelah KPU mengumumkan hasil Pemilu pada 9 Juli lalu, saya menggerakkan kaki ke dalam pasar yang letaknya tak jauh dari kosan. Sekedar menghilangkan penat setelah seharian berkutat dengan layar leptop.

Ketika saya berhenti di sebuah kios kelontong yang lumayan ramai, saya mendengar percakapan antara seorang pembeli dengan penjual.

Pembeli : “Untung presidene Jokowi”

Penjual : “Opo’o Mak?” (Kenapa Bu) 

Pembeli: “Jokowi iku gak koyok sing sijine. Jokowi lebih merakyat”

Penjual: “Sing sijine sopo, Mak?” (yang satunya siapa, Bu?)

Pembeli: “Emboh.. poko’e Jokowi menang. Jokowi merakyat”

Penjual: tersenyum

kemudian si pembeli berlalu, dan saya masih mendengar sayup-sayup pembeli mengatakan pada orang-orang yang ditemuinya bahwa capres pilihannya terpilih sebagai presiden Indonesia yang ketujuh.

Yaahh… mungkin seperti itulah gambaran rakyat (kecil) saat ini. Mereka seakan-akan dibutatulikan oleh slogan “Merakyat”.

Benar, rakyat kecil memang butuh sosok pemimpin yang bisa berkomunikasi dengan mereka lebih dekat. Membutuhkan sosok yang mau blusukan ke pasar. Membutuhkan sosok yang mau kotor-kotoran di sawah.

Mereka tidak mengerti tentang inflasi. Mereka hanya tahu tentang korupsi dari televisi. Mana pula rakyat kecil tahu bahwa di tahun 2015 mendatang pasar bebas ASEAN benar benar diberlakukan??

Saya juga tidak tahu persepsi pembeli yang saya tuturkan di muka tentang “Merakyat”. Bahkan rasanya aneh ketika dia mengatakan tidak tahu siapa capres lain yang menjadi lawan politik capres pilihannya. Capres di Pemilu lalu hanya dua orang, sementara di pembeli hanya tahu salah satunya. Ketika memilih, apakah tidak sempat melihat wajah capres lain di surat suaranya?

Saya pun tak tahu mengapa si pembeli begitu girang dengan presidennya (presiden kami) yang baru itu. Mengapa dia heboh mengabarkan pada penduduk seisi pasar bahwa capres merakyatnya terpilih sebagai presiden RI. Entah apa yang mendasari alasan dia memilih.

Kalau saya ditanya bagaimana saya menjatuhkan pilihan… simple, saya lihat covernya.

Mau mengatakan “Dont judge a book from the cover” ?? Ahh…. saya manusia biasa yang tak bisa menelaah jalan pikiran orang, sehingga untuk menentukan pilihan haruslah lihat kemasan. Saya juga sama seperti si ibu pembeli tadi. Saya rakyat biasa. Saya tak tahu menahu dengan yang namanya inflasi. Saya tidak super dalam hal ketatanegaraan. Saya pun tak banyak mengerti dengan AFTA yang akan diberlakukan tahun depan. Karena itulah saya memilih dari bungkusnya.

Sama saja seperti membeli makanan di swalayan, tak mungkinlah saya memilih makanan yang kemasannya buruk. Bahkan beberapa produk dilabeli “Jangan diterima bila kemasan rusak”. Sama juga dengan kalian yang hendak membeli buah kiloan atau sayur di pasar, pastilah memilih buah dan sayur yang masih segar… mana ada yang mau membeli buah dengan kulit keriput dan sayuraan layu??? Atau saya yang suka membeli buku… saya tentu saja menolak apabila cover buku tidak dalam kondisi baik… ada lipatan dan lecek sana-sini di cover, cari stok yang covernya masih rapi.

Itu sih cara saya memilih. Iya, saya tahu bahwa memilih presiden itu bukan hanya tentang cover, keriput, busuk, atau buruk rupa. Tapi bukankah sosok yang mencalonkan diri sebagai presiden bukanlah sembarang orang. Semua capres yang sudah lulus seleksi KPU pastilah orang-orang hebat. Mereka pasti telah memiliki treck record sendiri-sendiri untuk negeri ini. Tak mungkinlah KPU memutuskan keduanya sebagai capres jika meraka tak punya kapasitas mumpuni. Karena sama-sama punya taji untuk membangun negeri maka begitulah cara saya menjatuhkan pilihan.

Masih menentang cara saya menjatuhkan pilihan?

Ini kan demokrasi, jadi suka suka saya mau memilih siapa dan atas dasar apa.

Tapi ya sudahlah…. toh sudah ada preien terpilih. Silihan rakyat yang katanya merakyat.

Selamat ya Pak Presiden terpilih… Semoga benar-benar bisa menjadi presiden yang diharapkan mereka yang memilih.

Welcome, Max!

Sudah pasti, Max Allegri akan menggantikan posisi Conte sebagai pelatih kepala di Juventus. Masih shock sebenarnya dengan pengunduran diri Conte dari jabatan pelatih Juve, tapi mau bagaimana lagi? Conte sudah resmi menceraikan dirinya dari Vinovo dan Allegri datang sebagai pengganti. Saya juga masih shock dengan kabar/rumor/isu/gosip terkait pengunduran diri Conte. Banyak kabar yang beredar bahwa Conte telah menjalin kesepakatan dengan merda merah hitam, sehingga membuat pihak club berang. Akhirnya terjadi kesepakatan putus kontrak. Bercerai secara baik-baik. Ahh… entahlah… toh saya bukan pendukung Conte, saya Juventini. Jadi, jika Conte pergi itu hak dia & setidaknya dia pergi dengan meninggalkan prestasi yang luar biasa bagi club.

Saya sendiri tidak mengenal sosok Allegri dengan baik. Tidak paham trek record kepelatihannya. Yang saya ketahui adalah lelaki itu merupakan mantan pelatih AC M#l*n. Sosok yang memiliki pacar yang pernah menghina dina Juventus dan Conte.

Sama sekali tidak punya karakter I Bianconeri. DNA Juventus tak saya lihat dari sosoknya. Mungkin terlalu dini untuk menolak Allegri, tetapi sungguh saya tak merasakan aroma La Vecchia Signora pada pelatih yang telah dikontrak Juve selama 2 musim ke depan. Iya, saya menolak Allegri menangani Bianconerri.

Bahkan saya menjadi satu diantara Juventini yang mungkin tidak setuju atas penunjukan Allegri sebagai sucsesor Conte.

Tapi, saya masih dan tetap mendukung Juventus. Berharap dukungan tersebut akan menumbuhkan kepercayaan saya bahwa Allegri bisa dipercaya. Satu-satunya cara agar kami (saya) percaya adalah menang dan gelar. Tak ada jalan lain untuk menarik hati kami (saya) para Juventini dengan kemenangan dan juara.

Buatlah dua musim ke depan lebih baik. Scudetto itu wajib, dan liga Champions fardu ‘ain hukumnya!

Yaa…mau bagaimana lagi? Allegri tak punya ‘rasa’ Juventus, jadi satu-satunya cara agar ia diterima di Turin adalah mempersembahkan juara.

Saya percaya pada anda, Max… asal anda membawa gelar juara. Buktikan bahwa anda mampu!

Welcome, Max!

Grazie Conte

Dan akhirnya drama Juventus musim 2014-2015 dibuka dengan mundurnya Antonio Conte sebagai pelatih tim utama.

Tidak ada rumor. Tidak ada berita kasak-kusuk. Semuanya nyata. Juventus harus rela melepas pelatih yang telah membuat cerita tiga juara beruntun di Turin.

Tak ada lagi allenatore Conte di musim 2014-2015.

Alasan Conte mundur memang masih simpang siur. Namun melalui surat yang dituliskan pemilik club tersirat bahwa Conte tak lagi memiliki ambisi dan tradisi yang diharapkan Bianconeri. Akhirnya berakhirlah kontrak kerjasama Conte dengan club. Ada juga kabar bahwa Conte akan menempati posisi pelatih Timnas Azzuri yang ditinggalkan Cesare Prandeli. Entahlah, semuanya masih sebatas spekulasi.

Maybe there was something that had been brewing inside for sometime. When you come to these decisions, it’s perhaps because there is no more willingness to continue working together. Sigh.

Apapun itu, tiga tahun bersama Conte adalah prestasi. Juventus kembali disegani di ranah Itali. Juventus kembali bertaji.

3 musim yang luar biasa, Coach!!!

Semoga saja spirit 3 musim terakhir masih tertanam dalam semua pemain. Pun semoga Anda sukses pada petualangan lain, saya harap Anda benar-benar pergi dari Juventus untuk timnas Italia (semoga saja).

Grazie Mille, Conte!!! Grazie per che… No 2 Senza 3!!! Forza Conte!!

P.S: Dear team… please stay with Juventus. My club need you, so do I.