Terimakasih Untuk Adikku Yang Ajaib, Tuhan!

Dear God….

Terimakasih karena sudah memberi saya adik yang ajaib

Terimakasih… karena dengan keberadaan adik saya yang ajaib itu ada kekuatan ekstra yang saya miliki dalam menjalani kehidupanMu

Sungguh Tuhan… saya bersyukur karena Kau tidak membuat saya harus susah-susah mencari pengalaman dan pembelajaran hidup karena adik saya yang ajaib itu

Terimakasih Tuhan.. karena membuat saya bisa belajar banyak dari adik saya tentang apa-apa yang tidak bisa saya alami sendiri

Mungkin saya tidak bisa kuat jika harus mengalami alur cerita yang terjadi pada adik saya, tapi dengan adanya dia saya menjadi pribadi yang cukup kuat karena turut merasakan betapa luar biasa curamnya jalan yang dipilih adik saya itu

Terimakasih, Tuhan..

Terimakasih tiada tara untuk semua pelajaran ini…

Kalau saya memang cukup kuat untuk menerima keajaiban adik saya yang lain, maka tunjukkanlah kekuatan itu

Tapi kalau saya sudah tak mampu lagi, tolong…. cukupkanlah kelakuan ajaib adik saya

Overall…Thanks God!

1st Semester in The Office

Hampir satu semester saya bekerja di tempat ini. Kantor profesional pertama setelah saya lulus sekolah. Tempat saya bekerja ‘pertama’ setelah lebih dua dekade menengadahkan tangan pada orang tua.

Setelah satu semester…. saya jadi benar-benar merasakan sendiri betapa lelahnya bekerja. Iya…. bekerja itu ternyata capek. Capek banget.

Sangat merasa bersalah karena sebelumnya saya selalu meminta ini dan itu pada orang tua. Belum lagi biaya sekolah hingga jenjang mahasiswa yang entah mereka sudah menghabiskan dana seberapa. Dan dari satu semester terakhir ini saya tidak hanya tahu, tetapi juga merasakan bahwa berkecimpung di dunia pekerjaan itu susahnya naudzubillah!

Bukan jenis pekerjaannya yang membuat lelah, melainkan orang-orang di tempat kerja.

Adaaaaaaa saja tindak tanduk atau pernytaan orang di tempat kerja yang membuat emosi kesal membuncah. Selalu ada hal-hal kecil yang menyebabkan intrik yang menurut saya sebenarnya tidak penting untuk diintrikkan. Bahkan sampai saat ini saya masih belum mengerti mengapa orang-orang di tempat kerja saya selalu saja cepat memberikan persepsi mereka terhadap hal-hal yang sebenarnya tak memiliki potensi untuk menghancurkan perusahaan. Gimana yaaa menjelaskannya…. bingung!

Tapi biarlah….. itu hanya salah satu materi pelajaran yang saya dapat dalam satu semester bekerja di kantor ini. Selain itu, banyak hal yang saya pelajari dalam satu semester terakhir. Kompetensi menulis, itu pasti. Belajar ilmu-ilmu pengetahuan baru pula. Dan mengenal orang-orang dengan berbagai pola pemikiran. Mengetahui karakter masing-masing teman. Bahkan mengenal seseorang yang memiliki ‘keunikan’ tersendiri diantara teman sekantor lainnya. Keunikan yang kadang-kadang (selalu) menjadi bahan diskusi diantara rekan kantor. Dan satu hal yang benar-benar saya pelajari selama satu semester terakhir adalah “saya bisa banyak bicara, tetapi memilih diam untuk membuat mereka yang terlalu banyak bicara terdiam”.

Enam bulan terakhir saya sudah melakukan semua pekerjaan dengan maksimal. Mungkin hasilnya tidak sesuai ekspektasi mereka, atau entah bagaimana mereka menilai. Tetapi yang jelas saya selalu berusaha untuk lebih baik di setiap menuntaskan pekerjaan. Semoga satu semester ke depan kinerja saya bisa jauh lebih baik dari saat ini!!!!!

Saran saya tetap….. dunia kerja itu susah. Kejam. Angker. Lebih jahat dari hukum rimba. Jadi, pilihlah pekerjaan yang benar-benar kalian suka, sehingga ketika kalian dijahatin, ditikam, dianiaya, atau dihina dina, setidaknya kalian tetap bisa melakukan pekerjaan dengan optimal karena memiliki pekerjaan di bidang yang kalian suka :)

State of The Art

State of the art.

Kalau diartikan satu-persatu ke dalam bahasa Indonesia, kira-kira artinya adalah ‘kesenian negara’. Dan apa hubungannya ‘kesenian negara’ dengan aforestasi?

Inilah masalahnya…..Coba saja tanyakan pada mbah gugel! Jawaban yang diberikan pasti semakin tidak memiliki hubungan. ‘kesenian negara’ — ‘aforestasi’ Apa hubungannya?

GAK ADA!

Inilah masalah yang sebenarnya seringkali menimbulkan intrik diantara rekan kerja seprofesi. Perbedaan persepsi mengenai suatu topik!

Saat saya menanyakan mengenai pengertian ‘state of the art‘ tersebut pada teman yang menjadi penulis pertamanya, jawaban yang diberikan adalah “Aku gak ngerti juga. Kemarin aku juga bingung pas dapet materi itu”.

Okay. Akhirnya saya pun tahu.

Ternyata yang dimaksud dengan ‘state of the art’ pada tugas kali ini adalah referensi penelitian ilmiah yang telah dilakukan oleh peneliti di masa lalu, sederhananya adalah penelitian terdahulu. State of the art!

Tapi jujur saja, saya masih belum mengerti mengapa penelitian terdahulu itu dinamalainkan state of the art!!!!!!

Juventini Hanya 1

Sungguh, bangganya menjadi Juventini.

Bukannya mau sombong, tetapi setelah mendengar cerita dari seorang kenalan yang merupakan Romanisti rasa syukur kepada Tuhan karena telah membuat saya menjadi bagian dari komunitas yang bernama Juventini semakin besar.

Kakak Romanisti mengatakan bahwa meskipun dia cinta mati pada club asal ibukota Italia, dia iri pada Juventus. Mengapa? Karena menurutnya hanya Juventus yang memiliki satu pendukung. Satu suporter. Mendukung Juventus dalam satu nama “Juventini”. Kita bicara di Indonesia.

Saya kira semua suporter club itu berdiri pada satu payung yang sama. Pendukung Juventus ya Juventini. Pendukung Roma ya Romanisti. Pendukung Inter ya tak tahulah mereka menamakan dirinya apa (tidak peduli). Tapi ternyata saya salah. Dari Kakak Romanisti tersebut saya jadi tahu bahwa di Indonesia, hanya Juventini yang bernaung dalam satu fanbase dengan nama JCI (Juventus Club Indonesia). Suporter lain memang memiliki organisasi serupa, namun tak hanya satu. Tidak seperti Juventini yang hanya punya JCI.

Pecinta Roma di Indonesia terbagi dalam 3 komunitas fans club. Barcelona yang katanya club terbaik di dunia saja punya dua kelompok suporter. Manchester United yang notabennya lebih seleb daripada Juventus juga memiliki beragam komunitas suporter.

Hanya Juventini yang bernaung di satu payung yang sama. Juventini Indonesia, hanya milik JCI dengan chapter-chapternya yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Saya memang orang baru dalam komunitas JCI, tapi paling tidak saya tetap boleh berbangga bahwa Juventini tidak terpecah belah karena perbedaan komunitas. Untuk apa pula berpecah-belah? Bukankah kami mendukung tim yang sama?

On The Bus

Di dalam bus

Teman Sepermainan

Teman Sepermainan

The Passangers

The Passangers

Adek-Adek Cantik Anak Salah Satu Bapak-Bapak IT

Adek-Adek Cantik, Anak Salah Satu Bapak-Bapak IT

:)

:)

Mas-Mas Yang Baik Banget Karena Hampir Tiap Hari Nganterin Saya Pulang Kantor :)

Mas-Mas Yang Baik Banget Karena Hampir Tiap Hari Nganterin Saya Pulang Kantor :)

Bapak/Mas/Adek GA *fiiuuhhh...susah manggilnya

Bapak/Mas/Adek GA *fiiuuhhh…susah manggilnya

:D

:D

Masih Seger Nih Make Up nya

Masih Seger Nih Make Up nya

Dinner

Makan Malam…OTW Surabaya

Menunggu Antrian Makan..

Menunggu Antrian Makan..

Bapak-Bapak Bagian Transportasi

Bapak-Bapak Bagian Transportasi

Bapak Direktur Perusahaan. Kata Beliau, Tahun Depan Kami Umroh bersama (AMIN) *Ke Italia bersama juga boleh Pak :P

Bapak Direktur Perusahaan. Kata Beliau, Tahun Depan Kami Umroh bersama (AMIN) *Ke Italia bersama juga boleh Pak :P

One Family. Keluarga Bapak Heri :)

One Family. Keluarga Bapak Heri :)

Sudah Makan :)

Sudah Makan :)

Poto di Parkiran Rumah Makan Sebelum Pulang.

Poto di Parkiran Rumah Makan Sebelum Pulang.

 

Teman Sebangku Di Bus :)

Teman Sebangku Di Bus :)

Last…Sunan Bonang

Spot Terakhir…. Di Makam Sunan Bonang, Tuban.

The New Couple in The Office

The New Couple in The Office

Duet Si Mbak di Atas Becak

Duet Si Mbak di Atas Becak

Masjid di Alun-Alun Kota Tuban, Di Belakang Masjid inilah Letak Makam Sunan Bonang

Masjid di Alun-Alun Kota Tuban, Di Belakang Masjid inilah Letak Makam Sunan Bonang

Sama Abang Kecil

Sama Abang Kecil

Setelah Dari Makam :)

Setelah Dari Makam :)

Sama Temen Seruangan :)

Sama Temen Seruangan :)

Poto Sama Bapak Penjual Siwalan. Saya Dapat Satu Buah Gratis Loh... Grazie, Bapak :)

Poto Sama Bapak Penjual Siwalan. Saya Dapat Satu Buah Gratis Loh… Grazie, Bapak :)

Asmaraqondi, Tempat Mandi Sore

Sebelum ke Makam Wali yang ke 5 di Jawa Timur, Mampir Bentar ke makam Asmaraqondi. Saya kurang faham siapa itu Asmaraqondi, saya hanya tahu bahwa di area ini banyak sekali kamar mandi umum yang bersih & enakdibuat mandi sore. So, saat yang lain sibuk di area makam saya menyempatkan diri membasahi diri di sebuah kamar mandi umum. Biayanya murah kok…Rp. 2000. Lebih murah daripada bayar toilet di terminal ataupun pusat perbelanjaan di Surabaya.

Habis mandi… foto dong :)

All Peserta Tour. KecualiSaya Tentunya :( *Lupa bawa tripod

All Peserta Tour. Kecuali Saya Tentunya :( *Lupa bawa tripod

Mbak Ila (kanan) & Istri Salah Satu Karyawan Kantor Yang Anaknya Sempat Menghilang

Mbak Ila (kanan) & Istri Salah Satu Karyawan Kantor Yang Anaknya Sempat Menghilang

Poto Bertiga ;) Diselamatkan Oleh Sebuah Kursi Plastik, Pengganti Tripod

Poto Bertiga ;) Diselamatkan Oleh Sebuah Kursi Plastik, Pengganti Tripod

Mbak-Mbak Yang Gak Mandi Seharian :D

Mbak-Mbak Yang Gak Mandi Seharian :D

Saya Sudah Mandi Sore Loh Ini :)

Saya Sudah Mandi Sore Loh Ini :)