Tuntutan Pada Seorang Guru

Setelah ibu, pekerjaan tersusah di dunia adalah guru. Susah bangettt!

Guru itu harus pinter. Harus bisa mengajari murid-muridnya dengan berbagai pengetahuan, sehingga menjadi guru harusnya memiliki pengetahuan yang luas. Guru tidak hanya mengajarkan mamatematika, bahasa Inggris, IPA, sejarah, dan mata pelajaran wajib lainnya… seorang guru juga harus pandai bertutur kata. Guru juga yang mengajarkan siswa tentang arti berbudaya dan pentingnya sosialita. Pintarnya anak bergantung pada sosok yang disebut guru. 

Padahal sebuah literatur penelitian mengemukakan bahwa  2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, 1/3 sisanya bersifat genetis, sedangkan pada kemampuan intelejensia 1/3 dari pendidikan dan 2/3 sisanya berasal dari genetik. Jika seorang guru dituntut untuk menjadikan siswa pandai (dalam sisi intelejensia) sementara siswa tersebut tidak memiliki 2/3 intelejensia genetik, apa itu salah guru?

Satu lagi, guru seringkali mendapatkan tuntutan untuk selalu perfect! Tidak boleh cacat. Tidak boleh sakit. Fiuuhhh -___-

Padahal… guru  juga manusia

 

Gallery

Action On The Wedding

This gallery contains 10 photos.

Blitzzzzzzz …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Fren Wedding

Benar, jodoh itu di tangan Tuhan. Tidak ada yang tahu dengan siapa manusia berjodoh. Tidak menyangka, seorang teman yang super kemplo ( :* ) sudah melepas masa lajangnya; dengan sosok yang tidak dikenalnya dalam waktu tahunan. Hanya dalam hitungan pekan saja, tetapi toh mereka berjodoh!

Feel good for her :D

Semoga saja bisa bahagia dunia akhirat ya, plo :)

The Bride

The Bride

Kerja Itu Harus Nyaman

Jaman ini cari pekerjaan itu tidak mudah, apalagi pekerjaan yang memberikan pendapatan maksimal dengan tugas ringan. Tapi bagi saya tetap, bekerja itu juga harus nyaman. Tidak lagi nyaman adalah alasan saya melepaskan pekerjaan saya sebelumnya walaupun (hingga saat ini) belum mendapatkan pekerjaan lain. Tidak nyaman itu bukan karena pendapatan yang kecil, tidak sama sekali. Saya tidak nyaman saja dengan sikap atasan yang kerap membuat saya hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Tak perlu saya ceritakan panjang lebar, yang jelas saya resign karena saya tidak nyaman dan butuh jalan-jalan :D .

Keluarga menyayangkan keputusan saya. Bahkan hingga saat ini mereka masih saja sering mengomentari sikap saya yang menurut mereka kurang bersyukur. Ketika banyak orang sibuk mencari pekerjaan, saya justru melepas pekerjaan yang secara jelas merupakan dunia yang saya suka….. itulah yang menjadi bahan gunjingan mereka.

Seandainya saya meneruskan pekerjaan tersebut, tetapi saya tidak nyaman…. bukankah hasil kerja saya menjadi tidak maksimal?!

Saya hanya ingin bekerja dengan ‘nyaman’; tidak dengan atasan yang suka menjelek-jelekkan tim saya! Kawan saya juga banyak yang mengundurkan diri dari tempat kerjanya walaupun pekerjaan tersebut adalah ‘dunia’ mereka… alasannya satu… mereka tidak nyaman.

Kurang nyaman dengan suasana kerja. Kurang nyaman dengan kota dimana mereka harus bekerja. Kurang nyaman dengan aturan institusi yang mengikat mereka. Mungkin boleh dikatakan bahwa saya dan mereka-mereka yang melepas pekerjaan kami adalah manusia songong yang terlalu idealis. Yaaa… mau bagaimana lagi…

The Multitasking Woman is A Mom

Susahnya jadi Ibu banget. Harus mengurus pekerjaan rumah. Harus mengurus anak. Benar kata iklan salah satu produk di TV, Ibu itu harus multitasking karena beliau tidak hanya mengurus rumah. Ibu itu juga berperan sebagai akuntan, sebagai koki, sebagai psikolog, sebagai guru, sebagai manajer keuangan, sebagai waiters, dan mungkin semua jenis pekerjaan di dunia ini harus bisa dilakukan oleh mereka yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga!

Mungkin itu juga yang membuat seorang ibu disarankan untuk fokus saja dengan urusan keluarganya dibandingkan bekerja di luar rumah. Benar, sekarang ini tidak ada ada lagi mainstream wanita harus stay di rumah. Tapi sekalinya wanita (ibu) terjun bebas ke ranah pekerjaan, apapun alasannya, korban terberatnya adalah anak. Kasihan rasanya pada adek les yang mamanya harus bekerja seharian. Dia harus menghabiskan waktunya di kamar kos setelah pulang sekolah. Tidak ada interaksi lebih antara dia dan mama. Hanya diantar ke sekolah, dijemput, diberi makan, tidur, mandi, lalu ditinggal bekerja. Tidak sepenuhnya salah si mama, karena si mama bukanlah Maryam yang bisa mengandung Isa tanpa peran kaum Adam. Tapi tetap, membiarkan bocah berusia 7 tahun sendiri di area wanita yang masih doyan bersenang-senang bukan cara bijak mengasuh anak.

Tidak tega rasanya ketika harus melihat adek les sibuk dengan teman hayalannya di kamar sebelah seorang diri. Tidak ada teman bermain, tidak ada ‘psikolog’ yang bisa diajak bercengkrama, tidak ada ‘guru’ yang bisa diajak bertukar pikiran, tidak ada ‘waiters’ yang membatu mengelapi makan minumnya yang berceceran. Tapi saya belum bisa sepenuhnya berbagi ‘emosi’ dengan si adek. I’m not a girl, but not yet a woman. Karena itulah, terkadang seringkali merasa kesal jika si adek mulai melancarkan jurus mencari perhatiannya. ‘Mengganggu’ masa rehat atau mengajak mengobrol.

Ahhh….. Mam… please, comeback to your son.

Adek Les yang Malang

Adek les yang malang… Rasanya sangat tersentuh ketika beberapa kali dia memanggil saya dengan sebutan “Ma”.

Sesekali ketika kami sedang belajar bersama atau ketika dia hendak menanyakan sesuatu; pasti berkata “Ma… aku mau…” atau “Aku boleh makan nasi goreng gak, Ma”

Ohh Tuhan…malangnya dia.

Malang karena panggilan tersebut menunjukkan dia membutuhkan perhatian lebih dari mamanya. Membutuhkan waktu yang lebih untuk bersama mamanya.

Malang juga karena secara tidak sadar harus memanggil saya “Mama” melalui alam bawah sadarnya. Kalau dia sadar, pasti akan segera berisstighfar :D

Cerita di Surabaya

Pernah ke Monumen Kapal Selam? Saya, setelah lebih dari lima tahun berdomisili di kota Pahlawan… baru sekali menginjakkan kaki ke Monkasel. Salah satu destinasi wisata yang disediakan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Letaknya di Jalan Pemuda, bersebelahan dengan Surabaya Plaza atau lebih dikenal dengan Delta Plaza (tempat yang sudah sering saya kunjungi).

Mungkin sebagian besar orang menilai Monkasel hanyalah seonggok bangkai kapal yang sudah tidak digunakan, jadi untuk apa masuk ke dalamnya?

Kalau saya, ingin tahu saja apa yang ada di dalam Monkasel. Jarang-jarang bukan masuk ke dalam kapal selam yang digunakan TNI untuk perang? Dimana lagi kita bisa melihat torpedo kapal selam dengan bebas selain di Monkasel? Nope! Bahkan banyak bule yang menjadikan Monkasel sebagai tempat hang out mereka di Surabaya.

Satu lagi, di Monkasel ini addemmmm… walaupun hanya ‘bangkai’ kapal, di dalamnya terpasang AC sehingga pengunjung tidak perlu merasa sumuk saat berjejalan  di lambung kapal. Asiknya lagi di dalam Monkasel bebas poto-poto. Bisa mengeksplorasi setiap sudutnya dengan lensa kamera. Mbak yang menjaga di dalmnya juga menyenangkan. Tidak menampakkan wajah yang metutu. Setiap pertanyaan pengunjung dijawab tanpa ada perasaan terganggu.

HTM?? Rp 8000. Harga itu sebanding dengan apa yang disajikan di dalam lambung kapal! Selain masuk ke dalam museum kapal, tiket masuk itu juga berlaku untuk menikmati pertunjukan teater Ramayana yang letaknya di belakang museum. Tidak mahal kan? :D

Dari Monkasel…. lanjut ke Museum Tugu Pahlawan. Dan kunjungan ke Museum TP ini juga kali pertama bagi saya.

Apa yang disajikan di dalam Museum TP tidak kalah dari Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta. Bahkan saya harus mengakui bahwa Museum TP jauh lebih kece dibandingkan Museum Vredeburg. Bukannya ingin membandingkan, melainkan hanya memberikan penilaian yang objektif. Saya suka museum Benteng Vredeburg, tetapi selama kunjungan saya ke Museum yang ada di ranah sultan tersebut saya tak pernah sekalipun dapat menikmati diorama yang ada di sana. Kondisi diorama statis di Vredeburg sudah tidak sempurna. Untuk mengetahui jalan ceritanya harus membaca plakat yang terpampang di depan diorama. Sementara di museum TP, jalan cerita dioramanya masih bisa didengarkan melalui perangkat audio yang ada.

Jadi saya rasa tidak salah jika memberikan nilai lebih pada museum TP dibandingkan museum benteng Vredeburg :)

Walaupun harus  diakui bahwa HTM museum TP lebih mahal dibandingkan Vredeburg. Untuk masuk ke area Benteng Vredeburg saya hanya mengeluarkan Rp 2000, sedangkan memasuki museum TP harus  merogoh kocek sebesar Rp 5000,-. Sebandinglah dengan apa yang ada di dalamnya.

So, tidak memiliki ide untuk meikmati panasnya kota Pahlawan?? Ke Monkasel dan Museum TP saja, cukup untuk menggambarkan bahwa  Surabaya juga punya cerita.

Cerita Tentang Gunung Anyar

Semalam saya dan adik les belajar tentang penampakan permukaan bumi. Kami belajar tentang gunung. He’s so exiceted! Terlebih ketika saya memberikan pengajaran dengan memutarkan video-video tentang aktivitas yang bisa ‘dilakukan’ oleh gunung. Mulai dari gunung meletus, hingga gunung yang menjadi destinasi wisata oleh manusia. Letusan gunung adalah video favoritnya.

Adek les saya bertanya tentang nama-nama gunung berapi yang ada di Indonesia. Menanyakan gunung-gunung tertinggi di dunia & entah kenapa dia begitu takjub dengan nama gunung Kilimanjaro. Lalu kemudian dia bertanya “Gunung itu (Kilimanjaro) ada dimana mbak?”; Saya jawab “Di Afrika, Dek”. Lalu dia menimpali dengan sebuah cerita;

“Di Amerika ada mbak gunung yang lebih tinggi. Letusannya paling menakutkan di dunia”; awal cerita yang dilontarkannya secara menggebu.

Kemudian saya menimpali dengan  pertanyaan “gunung apa?”

Dia menjawab dengan mimik muka serius “Gunung Anyar”

Sayapun hanya bisa calangapan semabri melihatnya; berusaha menahan tawa. Bahkan saking sakitnya menahan tawa, keringat saya bercucuran deras!

Tak sampai di situ; dia membuat saya menahan tawa hingga sisa jam les. Menceritakan bagaimana si gunung anyar itu meletus hingga menyebabkan semua penduduk di Amerika  tak bernyawa. Sebuah kisah menakutkan yang dibawakan dengan penuh kengerian, sementara saya menahan nyeri karena harus memasang mimik muka tertarik pada kisah bocah 7 tahun itu.

Saat saya sedikit mengeluarkan tawa; si adek les berkata “Gunung Anyar ini di Amerika loh mbak; bukan Gunung Anyar yang ada di sini”.

Gunung Anyar di Amerika… dimanakah letak pastinya?? Di kota saya sekarang; Gunung Anyar itu adalah nama sebuah jalan.

Adek les saya ini luar biasa ya… hanya dari sebuah jalanan sempit, dia bisa melanglangkan pikirannya hingga lintas benua. Menjadikan Gunung Anyar sebagai setting kisah yang dia suka. Sebuah imajinasi takterkira dari bocah yang menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dan kamar kos (sesekali di tempat kerja mamanya).

Saya rasa malam itu dia kembali mengajarkan bagaimana caranya berbahagia dengan apa yang kita suka :)