Kutukan Air Mata Seorang Kawan

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #JuveINA14 dari Nine Sport Inc. untuk memenangkan tiket meet and greet dengan para pemain Juventus. Follow @ninesportinc untuk informasi lebih lanjut.

Kala itu saya hanya terpaku melihat kawan sebangku menitikkan air mata. Dengan alasan setia kawan saya tetap duduk di sebelahnya, sembari menerka-nerka mengapa kawan saya menangis sepagi ini. Pikiran bocah yang masih duduk di bangku kelas 3 SD saat melihat kawannya menangis tidaklah macam-macam. Saya, mengira ia menangis karena terkena omelan orang tua atau bertengkar dengan kakak perempuannya. Saya juga sempat memikirkan bagaimana cara menghiburnya. Ketika ide untuk menghentikan air mata kawan sebangku itu datang, ia berkata

“Aku sedih, Mei. Juve kalah. Gak jadi juara liga champions….blablablablaaaa”

Dan masih banyak keluh kesahnya. Saya menjadi seperti orang linglung. Tidak tahu harus menimpali bagaimana. Segala ide penghiburan atas kesedihannya lenyap seketika. Entahlah, saya fikir kawan saya itu gila.

Betul..saat mendengarnya menuturkan penyebab tangis pagi harinya itu, saya beranggapan kawan saya itu gila.

Bagaimana mungkin dia menangis karena sebuah club sepakbola yang ada di negeri nun jauh di sana. Hei.. kami berada di daerah yang bahkan tidak dekat dari ibukota Indonesia, bagaimana bisa dia menangis karena tim yang bernama Juventus harus kalah dari tim yang berlabel Los Galacticos? Tidak masuk akal!

Masih dengan alasan setia kawan, saya bertahan mendengar kisahnya. Cerita yang dia tuturkan sepekan penuh, yang saya anggap sebagai pengobat dukanya. Semakin lama dia bercerita tentang club sepak bola yang katanya berasal dari Italia itu, semakin yakinlah saya bahwa kawan sebangku saya ini tidak waras. 

“Juventus itu hebat, Mei. Apalagi strikernya…Inzaghi, cakep. Mainnya juga bagus… Harusnya kemarin itu Juve menang. Itu golnya off side…blablablablablablaaa”

Saya mendengarkan, sembari membatinkan kutukan. Striker?? Saya kira saat itu saya mendengar ia mengucapkan ‘sticker’, semacam tempelan  yang berbentuk kartun-kartun lucu yang sedang saya koleksi… dan apa itu off side??! :|

Setelah sebulan kawan saya bertutur tentang Juventusnya, saya merasa risih. Rasanya tak mengerti apapun yang diucapkannya. Sama sekali tak paham tentang si kulit bundar. Namun di sisi lain saya tak mau menjadi pendengar yang bahkan tak mengerti apa yang didengar, risetpun mulai saya lakukan. Mulai dari membaca, bertanya pada kawan, bertanya pada saudara, hingga secara sembunyi-sembunyi memutar televisi di luar aturan jam TV yang berlaku di rumah saya. Mencari tahu apapun tentang Juventus. Supaya saya tahu kenapa club yang berada sisi Bumi lain itu bisa membuat kawan saya menangis gila. Mencari tahu sembari mengutuk. 

Akhirnya, kutukan yang saya luncurkan berbalik mengutuk diri sendiri. Seperti penyihir yang merapalkan mantranya dengan tongkat sihir cacat dalam kisah Harry Potter. Kutukan saya terhadap air mata kawan sebangku atas sebuah club yang bernama Juventus memantul pada diri sendiri. Saya menjadi gila pada La Vecchia Signora. Gilanya melebihi kawan sebangku saya. Memasukkan Juventus dalam setiap kesempatan doa, yang mungkin membuat Tuhan juga beranggapan bahwa saya gila.

Benar mungkin kata orang bahwa batas antara benci dan cinta itu tidak kentara. Berawal dari kutukan air mata seorang kawan, saya jadi belajar bahwa cinta itu tidak harus dekat dan saling kenal… bahkan untuk mencintai sebuah club sepak bola yang letaknya jauh di luar batas negara. 

Presiden Pilihan

Beberapa jam setelah KPU mengumumkan hasil Pemilu pada 9 Juli lalu, saya menggerakkan kaki ke dalam pasar yang letaknya tak jauh dari kosan. Sekedar menghilangkan penat setelah seharian berkutat dengan layar leptop.

Ketika saya berhenti di sebuah kios kelontong yang lumayan ramai, saya mendengar percakapan antara seorang pembeli dengan penjual.

Pembeli : “Untung presidene Jokowi”

Penjual : “Opo’o Mak?” (Kenapa Bu) 

Pembeli: “Jokowi iku gak koyok sing sijine. Jokowi lebih merakyat”

Penjual: “Sing sijine sopo, Mak?” (yang satunya siapa, Bu?)

Pembeli: “Emboh.. poko’e Jokowi menang. Jokowi merakyat”

Penjual: tersenyum

kemudian si pembeli berlalu, dan saya masih mendengar sayup-sayup pembeli mengatakan pada orang-orang yang ditemuinya bahwa capres pilihannya terpilih sebagai presiden Indonesia yang ketujuh.

Yaahh… mungkin seperti itulah gambaran rakyat (kecil) saat ini. Mereka seakan-akan dibutatulikan oleh slogan “Merakyat”.

Benar, rakyat kecil memang butuh sosok pemimpin yang bisa berkomunikasi dengan mereka lebih dekat. Membutuhkan sosok yang mau blusukan ke pasar. Membutuhkan sosok yang mau kotor-kotoran di sawah.

Mereka tidak mengerti tentang inflasi. Mereka hanya tahu tentang korupsi dari televisi. Mana pula rakyat kecil tahu bahwa di tahun 2015 mendatang pasar bebas ASEAN benar benar diberlakukan??

Saya juga tidak tahu persepsi pembeli yang saya tuturkan di muka tentang “Merakyat”. Bahkan rasanya aneh ketika dia mengatakan tidak tahu siapa capres lain yang menjadi lawan politik capres pilihannya. Capres di Pemilu lalu hanya dua orang, sementara di pembeli hanya tahu salah satunya. Ketika memilih, apakah tidak sempat melihat wajah capres lain di surat suaranya?

Saya pun tak tahu mengapa si pembeli begitu girang dengan presidennya (presiden kami) yang baru itu. Mengapa dia heboh mengabarkan pada penduduk seisi pasar bahwa capres merakyatnya terpilih sebagai presiden RI. Entah apa yang mendasari alasan dia memilih.

Kalau saya ditanya bagaimana saya menjatuhkan pilihan… simple, saya lihat covernya.

Mau mengatakan “Dont judge a book from the cover” ?? Ahh…. saya manusia biasa yang tak bisa menelaah jalan pikiran orang, sehingga untuk menentukan pilihan haruslah lihat kemasan. Saya juga sama seperti si ibu pembeli tadi. Saya rakyat biasa. Saya tak tahu menahu dengan yang namanya inflasi. Saya tidak super dalam hal ketatanegaraan. Saya pun tak banyak mengerti dengan AFTA yang akan diberlakukan tahun depan. Karena itulah saya memilih dari bungkusnya.

Sama saja seperti membeli makanan di swalayan, tak mungkinlah saya memilih makanan yang kemasannya buruk. Bahkan beberapa produk dilabeli “Jangan diterima bila kemasan rusak”. Sama juga dengan kalian yang hendak membeli buah kiloan atau sayur di pasar, pastilah memilih buah dan sayur yang masih segar… mana ada yang mau membeli buah dengan kulit keriput dan sayuraan layu??? Atau saya yang suka membeli buku… saya tentu saja menolak apabila cover buku tidak dalam kondisi baik… ada lipatan dan lecek sana-sini di cover, cari stok yang covernya masih rapi.

Itu sih cara saya memilih. Iya, saya tahu bahwa memilih presiden itu bukan hanya tentang cover, keriput, busuk, atau buruk rupa. Tapi bukankah sosok yang mencalonkan diri sebagai presiden bukanlah sembarang orang. Semua capres yang sudah lulus seleksi KPU pastilah orang-orang hebat. Mereka pasti telah memiliki treck record sendiri-sendiri untuk negeri ini. Tak mungkinlah KPU memutuskan keduanya sebagai capres jika meraka tak punya kapasitas mumpuni. Karena sama-sama punya taji untuk membangun negeri maka begitulah cara saya menjatuhkan pilihan.

Masih menentang cara saya menjatuhkan pilihan?

Ini kan demokrasi, jadi suka suka saya mau memilih siapa dan atas dasar apa.

Tapi ya sudahlah…. toh sudah ada preien terpilih. Silihan rakyat yang katanya merakyat.

Selamat ya Pak Presiden terpilih… Semoga benar-benar bisa menjadi presiden yang diharapkan mereka yang memilih.

Welcome, Max!

Sudah pasti, Max Allegri akan menggantikan posisi Conte sebagai pelatih kepala di Juventus. Masih shock sebenarnya dengan pengunduran diri Conte dari jabatan pelatih Juve, tapi mau bagaimana lagi? Conte sudah resmi menceraikan dirinya dari Vinovo dan Allegri datang sebagai pengganti. Saya juga masih shock dengan kabar/rumor/isu/gosip terkait pengunduran diri Conte. Banyak kabar yang beredar bahwa Conte telah menjalin kesepakatan dengan merda merah hitam, sehingga membuat pihak club berang. Akhirnya terjadi kesepakatan putus kontrak. Bercerai secara baik-baik. Ahh… entahlah… toh saya bukan pendukung Conte, saya Juventini. Jadi, jika Conte pergi itu hak dia & setidaknya dia pergi dengan meninggalkan prestasi yang luar biasa bagi club.

Saya sendiri tidak mengenal sosok Allegri dengan baik. Tidak paham trek record kepelatihannya. Yang saya ketahui adalah lelaki itu merupakan mantan pelatih AC M#l*n. Sosok yang memiliki pacar yang pernah menghina dina Juventus dan Conte.

Sama sekali tidak punya karakter I Bianconeri. DNA Juventus tak saya lihat dari sosoknya. Mungkin terlalu dini untuk menolak Allegri, tetapi sungguh saya tak merasakan aroma La Vecchia Signora pada pelatih yang telah dikontrak Juve selama 2 musim ke depan. Iya, saya menolak Allegri menangani Bianconerri.

Bahkan saya menjadi satu diantara Juventini yang mungkin tidak setuju atas penunjukan Allegri sebagai sucsesor Conte.

Tapi, saya masih dan tetap mendukung Juventus. Berharap dukungan tersebut akan menumbuhkan kepercayaan saya bahwa Allegri bisa dipercaya. Satu-satunya cara agar kami (saya) percaya adalah menang dan gelar. Tak ada jalan lain untuk menarik hati kami (saya) para Juventini dengan kemenangan dan juara.

Buatlah dua musim ke depan lebih baik. Scudetto itu wajib, dan liga Champions fardu ‘ain hukumnya!

Yaa…mau bagaimana lagi? Allegri tak punya ‘rasa’ Juventus, jadi satu-satunya cara agar ia diterima di Turin adalah mempersembahkan juara.

Saya percaya pada anda, Max… asal anda membawa gelar juara. Buktikan bahwa anda mampu!

Welcome, Max!

Grazie Conte

Dan akhirnya drama Juventus musim 2014-2015 dibuka dengan mundurnya Antonio Conte sebagai pelatih tim utama.

Tidak ada rumor. Tidak ada berita kasak-kusuk. Semuanya nyata. Juventus harus rela melepas pelatih yang telah membuat cerita tiga juara beruntun di Turin.

Tak ada lagi allenatore Conte di musim 2014-2015.

Alasan Conte mundur memang masih simpang siur. Namun melalui surat yang dituliskan pemilik club tersirat bahwa Conte tak lagi memiliki ambisi dan tradisi yang diharapkan Bianconeri. Akhirnya berakhirlah kontrak kerjasama Conte dengan club. Ada juga kabar bahwa Conte akan menempati posisi pelatih Timnas Azzuri yang ditinggalkan Cesare Prandeli. Entahlah, semuanya masih sebatas spekulasi.

Maybe there was something that had been brewing inside for sometime. When you come to these decisions, it’s perhaps because there is no more willingness to continue working together. Sigh.

Apapun itu, tiga tahun bersama Conte adalah prestasi. Juventus kembali disegani di ranah Itali. Juventus kembali bertaji.

3 musim yang luar biasa, Coach!!!

Semoga saja spirit 3 musim terakhir masih tertanam dalam semua pemain. Pun semoga Anda sukses pada petualangan lain, saya harap Anda benar-benar pergi dari Juventus untuk timnas Italia (semoga saja).

Grazie Mille, Conte!!! Grazie per che… No 2 Senza 3!!! Forza Conte!!

P.S: Dear team… please stay with Juventus. My club need you, so do I.

Sebuah Drama Di Musim 2013-2014

Musim 2013-2014  adalah drama terindah dalam karir saya sebagai pecinta La Vecchia Signora.

Setelah mengawali kemenangan 4 gol tanpa balas kontra Lazio di laga super coppa Italia, klub saya harus melakoni laga berat di pekan-pekan pertama liga. Jujur saja, ketika menatap jadwal pertandingan musim 2013-2014 saya tidak memiliki asa yang begitu tinggi. Sebagai juara bertahan yang juga harus tampil di pentas Eropa, La Vecchia Signora harus menghadapi tim-tim besar di pekan-pekan pertama, sekaligus beberapa kali harus disisipi laga Eropa. Optimis itu ada, tetapi selalu bersiap pula untuk hasil yang mungkin memunculkan air mata. Ber-asa, namun siaga.

Dimulailah giornata pertama. Harus bertandang ke Sampdoria, sepekan setelah laga super copa. Poin yang kami dapat memang tiga, hanya saja gol tunggal Carlitos Tevez di menit 58 tak membuat saya terlalu sumringah. Baru pekan pertama, hanya sebiji gol, sementara runner up musim 2012-2013 mampu menang 3 gol tanpa balas kala menjamu Bologna sehingga mereka duduk di puncak klasemen sementara.

Saya masih percaya bahwa kami akan menambah 3 angka di pekan kedua. Benar, memang. Tim saya kembali meraih 3 punti. Kembali melumat tim biru dari ibukota dengan rangkaian 4 gol; dua diantaranya dilesakkan King Artur Vidal dan satu gol masing-masing oleh Vucinic serta Tevez; meskipun dibalas sebiji gol oleh Klose. Juventus kembali menang. Saya memang senang, tetapi masih menahan riang. Kami memang menang dengan gol yang lebih dari satu, tetapi tim lawan juga melakukan hal yang sama. Napoli juga membukukan 4 gol, AS Roma 3 gol, dan bahkan si ungu mampu menghajar lawannya yang menjadi tuan rumah dengan lima gol. Tim saya masih kalah dalam selisih gol dengan ketiga tim tersebut.

Dan di pekan ketiga… saya harus bertandang ke markas merda biru hitam. Siapa yang bisa mengontrol degup jantung?? Nope! Saya tak bisa mengatur detak jantung yang begitu cepat selama pertandingan giornata ketiga ini berlangsung. Bagaimana bisa bersikap biasa saja saat tim saya sempat tertinggal satu gol? Saya hanya meminta pada Tuhan untuk tidak kalah. Iya…saya tak mau kalah, terlebih pada si ular kadot. Dan yaaa, hasilnya Juventus bermain imbang di giornata ketiga. Bersyukur karena Vidal mampu memaksimalkan assists Asamoah, sehingga keunggulan *nt%rn#z*&n$l@ M*l%n (maaf sensor, saya tak mau berkata kotor) tak lebih dari dua menit. Posisi klasemen??? Ahhh…jangan tanya. Serigala Ibukota dan pasukan Naples masih kokoh di peringkat 1 dan 2. Saya juga mendesah, yaa…setidaknya hasil pertandingan ini tak terlalu buruk untuk pertandingan pertama di pentas Eropa kontra Copenhagen pada tengah pekan selanjutnya. Ada alasan bahwa tak maksimalnya laga ini adalah persiapan laga Eropa. Bagaimana hasil di Eropa? Belum sempurna. Tak juga menunjukkan kelas juara. Kami hanya bisa mendapatkan 1 poin dari Denmark. Tidak terlalu membahagiakan.

Partai di musim ini masih berlanjut. Hasil imbang di dua pertandingan terakhir mengharuskan Conte memecut anak asuhnya untuk lebih serius meraup poin di pentas liga. Hasilnya, walaupun tidak mudah kami kembali meraih tiga angka. Walau sempat tertinggal, Tevez dan Llorente mampu mencetak (masing-masing) satu gol sehingga Juventus menang versus Hellas Verona dengan skor 2-1. Setidaknya Juventus Stadium masih bersih dari nol poin.

Pekan berikutnya kami harus bersua dengan saudara sekota Hellas, Chievo. Line up utama tidak diisi oleh pemain inti. Dan kami sempat tertinggal satu gol di menit ke 28. Hasil akhirnya, beruntung Quaqliarella mampu menyamakan kedudukan dan pemain lawan melesakkan gol ke gawangnya sendiri di menit 65. Perlu diketahui bahwa pertandingan yang berlangsung tengah pekan ini saya seperti menonton seorang diri. Di tempat nobar, hanya ada segelintir pendukung yang sibuk dengan urusannya seniri-sendiri. Ruangan yang biasanya penuh sesak oleh 50 – 100 orang hanya diisi 10 manusia, termasuk saya di dalamnya. Sementara sosok yang mengantar saya ke area Nobar duduk manis di ruangan lain untuk menonton pertandingan tim kesayangannya. Sebuah tengah pekan yang sunyi di tempat nobar, tapi untunglah hasilnya cukup membuat wajah saya berseri.

Kemudian tim saya melanjutkan perjuangan di akhir pekan dengan menjamu saudara sekota, Torino. Di pertandingan ini semuanya berjalan begitu menegangkan. Membuat geregetan. Sejumlah peluang di babak pertama tidak juga berbuah gol. Sempat terlintas partai ini akan berakhir dengan skor kacamata, namun Pogba merubah segalanya. Di menit ke 55, pemain belia asal Perancis ini mampu menjebol kebuntuan. Syukurlah, masih tiga poin. Walaupun puncak klasemen masih dikuasai srigala ibukota karena di pekan yang sama mampu menghajar Bologna dengan 5 gol tanpa balas. Saya sama sekali tidak ragu akan tim kebanggaan, karena itu selalu menekankan pada diri sendiri bahwa posisi klasemen sementara bukanlah sebuah pesta. Baru boleh lega jika musim sudah selesai. Karena itulah, masih percaya bahwa Juventus akan mengangkat trofi ketiga beruntun di musim ini.

Pertandingan selanjutnya berlangsung di tengah pekan, di pentas eropa. Juventus menjamu Galatasaray. Sayangnya panggung eropa belum memberikan hasil luar biasa. Lagi, Juve hanya mampu meraih hasil imbang. kor 2-2 menjadi hasil akhir pertandingan yang berlangsung di Turin. Tak bisa menyalahkan tim. Kami memang sedang fokus untuk gelar Eropa, namun jadwal liga di akhir pekan ini juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Kami harus bersua Milan. Walaupun sedang tidak dalam kondisi primanya, Milan masih lawan kuat bagi La Vecchia Signora. Terbukti, ketika pertanddingan berlangsung degup jantung saya sangat sulit diatur. Kami sempat tertinggal dengan gol dari Muntari. Namun sang maestro lini tengah, Andrea Pirlo mampu menyamakan kedudukan melalui tendangan khasnya. Tidak hanya alot, tetapi juga panas. Tensi tinggi dengan banyak kartu yang diberikan wasit kepada masing-masing tim. Kembali bersyukur karena kami mampu mengakhiri laga dengan poin tiga. Giovinco mampu membalikkan keunggulan tim dan poin kami ditutup oleh gol tambahan yang dicetak Giorgio Chiellini. Tak peduli dengan gol kedua yang dicetak Muntari. Juventus masih bertahan di trek perebutan juara musim kompetisi ini.

Berbekal kemenangan melawan AC Milan, rasa percaya diri saya (dan tim) melambung kala kami harus bertandang ke markas La Viola. Benar, kami main luar biasa di paruh pertama. Hebat. Permainan kelas dunia berhasil disajikan oleh anak-anak asuh Conte. Dua gol masing-masing dicetak Tevez dan Pogba di babak pertama. Bagaimana hasil akhirnya? Kami menjadi pecundang yang sama sekali tak punya daya. Pasukan Montella mampu unggul dengan skor 4-2. Iya, kami kalah. Bukan karena tidak bisa, tetapi kurang berusaha. Terlalu congkak di babak kedua yang masih berlangsung selama 45 menit. Permainan Pogba menjadi kacau balau. Lo spirito yang menjadi DNA tim seakan-akan dicuri oleh Fiorentina. Saya hanya bisa diam. Kecewa, tetapi tetap percaya bahwa tim saya akan juara. Pertanddingan ini bukan hasil yang memuaskan kawan. Bukan modal untuk bertandang ke Bernabue dalam lanjutan liga champions. Tak perlu berlama-lama saya cerita karena hasilnya kami kalah (lagi). Harus mengakui keunggulan Los Galacticos 2-1. Saya masih percaya pada tim ini, tetapi kalah di dua event secara beruntun menyebabkan saya sedikit hilang daya. Mungkin juga karena kelelahan saya harus kembali bersua dengan obat-obatan. Sepanjang minggu harus terbaring di atas tempat tidur. Mungkin juga ditambah dengan pekerjaan dari kantor yang luar biasa padat (saat itu saya masih bekerja). Minggu yang buruk buat saya dan tim.

Akhir pekan selanjutnya, Juventus harus melawan Genoa. Bukan tim yang terlalu jumawa, namun juga tidak mudah. Hasil buruk sebelumnya seolah menjadi lecutan bagi tim untuk tidak lagi ‘bermain-main’ di kompetisi liga. Hasilnya adalah 2 gol Carlitos Tevez kembali mengamankan posisi tim di jalur juara. Hasil di liga kembali pada angka 3. Pertandingan berikutnyapun sama. Saat menghadapi Catania, saya kembali melihat Lo Spirito alla Juventus. 4 gol tanpa balas menjadi hasil akhir pertandingan Juventus di giornata ke 10 di musim 2013-2014 ini.

Pekan ke 11, istimewa buat saya. Menyaksikan pertandingan Juventus di Yogyakarta :) Pekan melawan Parma ini kami akhiri dengan 3 angka. Walaupun dengan susah payah, Pogba berhasil menambahkan angka saat waktu pertandingan bersisa 13 menit. Dan di pekan ini, pesaing utama dalam perebutan gelar juara liga (AS Roma) ditahan imbang oleh saudara sekota kami. Peluang untuk menggeser puncak klasemen menjaddi terbuka. Walaupun sebelumnya kami pernah kalah, setidaknya kami masih punya kesempatan untuk menggeser Roma dari puncak klasemen sementara dan mempertahankannya hingga akhir musim. Sungguh di pekan ini saya bahagia, karena Pogba dan imbangnya Roma (serta Yogya :D ).

Lanjutan liga Eropa bagaimana? Kami menjamu El Real di Turin. Hasilnya tidak sempurna memang, tetapi setidaknya kami tidak kalah. Mampu menaham imbang Real Madrid 2-2-. Saya masih bahagia.

Dengan rasa bahagia di pekan sebelumnya, pertandingan menjamu Napoli tidak membuat saya gentar. Kebahagian sepanjang pekan menjadi power kepercayaan tersendiri bagi saya bahwa tim saya akan kembali meraih poin penuh. Tidak peduli dengan garangnya Edinson Cavani, saya percaya pada tim. Hasilnya sempurna. Kami berhasil menang berkat Llorente, Tevez, & Pogba. Walaupun wasit harus mengusir keluar Ogbonna karena dua kartu kuning yang didapatnya, hasil pertandingan masih menjadi milik Juventus. Bahagia tambahan karena Roma kembali tertahan. Ya tuhan, energi yang sempat hilang di akhir bulan Oktober seakan-akan menumpuk di bulan November. Hasil pertandingan di bulan ini seakan obat paling mujarab bagi saya yang sedang tidak sehat sepenuhnya.

Pekan 13. Pekan krusial. Jika kami berhasil menang,  dan Roma tak mampu bermain maksimal maka capolista menjadi milik Juve. Hasilnya adalah duet striker utama Tevez-Llorente mampu membukukan masing-masing sebiji gol, yang membuat Juventus menggeser Roma di puncak klasemen (sementara). Bagaimana dengan Roama, sangat-sangat bersyukur karena pasukan ibukota kembali mendapatkan hasil seri di pertandingan yang mereka lakoni. Kata orang 13 itu sial, tapi tida bagi tim saya :). Liga Eropa?????  Hahahahaha, akhirnya kami berhasil mendapat 3 angka karena mampu mengalahkan Copenhagen dengan skor 3-0. Masih ada asa untuk melangkah ke babak berikutnya, tetapi entahlah saya sendiri tidak begitu antusias dengan Eropa. Kurang percaya pada tim di kompetisi internasional tersebut. Bukan berarti tidak cinta, melainkan naluri saya lebih kepada juara liga.

Mari lanjut ke area liga saja. Pekan 14 kontra Udinese. Setelah bersusah payah dan menunjukkan menit ke-90, laga ini seolah akan berkesudahan tanpa gol, sebelum kemudian Llorente muncul sebagai pembeda. Secara dramatis, Llorente berhasil menangkan Juventus. Memaksimalkan tendangan keras Stephan Linchsteiner dengan kepalanya. Hasil akhirpun 3 angka di rumah.

Selanjutnya kami melawat ke Bologna. Sebuah performa yang luar biasa karena dengan kemenangan di Renato Dall’Ara ini, tim saya melanjutkan tren kemenangan hingga tujuh laga tanpa pernah kebobolan. Arturo Vidal dan Chiello menjadi penentu kemenangan di giornata 15. Modal penting untuk melawat ke Turki dalam lanjutan pentas Eropa. Pertandingan hidup mati di Liga Champions. Hasilnya, Turki tidak memuaskan. Kami kalah 1 – 0 dan tersingkir di Liga Champions. Mau bagaimana lagi, sebagai penghuni posisi ketiga klasemen di grup B liga champions dan tak bisa lolos ke babak 16 besar, Juventus diberi kesempatan untuk melakoni pertandingan ddi liga UEFA. Kasta kedua pertandingan klub antar negara-negara Eropa. Kalau kata orang-orang main di liga malam jumat karena pertandingannya memang berlangsung kamis malam waktu Indonesia. Sudahlah, saya memang tak percaya pada liga champions di musim ini. Kepercayaan terbesar saya adalah juara liga.

Dan di pekan 16, setelah tersingkir dari arena liga Champions, tim saya bermain cukup lepas. Absennya Andrea Pirlo karena cedera tidak membuat tim berhenti untuk berkreasi di lapangan. Antonio Conte menggeser Kwadowo Asamoah ke posisi aslinya sebagai gelandang tengah untuk menutup abesnnya Andrea Pirlo dan Claudio Marchisio pada laga kontra Sassuolo. 4 gol menjadi skor akhir dengan hattrick yang dicetak oleh Tevez. Hasil itu menjadikan Juve kokoh di puncak klasemen dan memperpanjang rekor kemenangan di Serie A menjadi delapan partai beruntun tanpa pernah kebobolan.

Seolah lepas dari beban berat pertandingan lain…. tanpa liga champions dan piala itala, liga menjadi project utama bagi Zebra Turin di pekan-pekan ini. Pikiran untuk piala UEFA masih bisa ditangguhkan hingga berakhirnya musim dingin. Masih berlangsung di Februari. Lawatan ke Atalanta dilakoni Juventus di pekan 17. Hasilnya adalah Antonio Conte benar-benar memecut anak asuhnya dengan teror wajib menang. 4 gol berhasil di bukukan oleh Tevez di babak pertama, Pogba ketika babak kedua baru berjalan 1 menit, Llorente yang menerima assist Chiellini, dan tendangan mendatar Il Guerreiro di menit 79. Skor 4-1 yang bertahan hingga laga usai, membuat Juventus makin kokoh sebagai capolista Serie A lewat torehan 46 poin, unggul lima angka dari Roma yang juga menang lewat skor meyakinkan 4-0 atas Catania di waktu bersamaan.Meski gagal melanjutkan rekor clean sheet menjadi sembilan partai beruntun, torehan empat gol Juventus ke gawang Atalanta sudah cukup membuat mereka menutup 2013 dengan manis.

Setelah libur musim dingin, pertandingan lanjutan di liga kembali digelar di awal tahun Pekan 18 dilakoni Juventus dengan menantang AS Roma. Misi tim kami adalah mengokohkan diri di puncak klasemen (sementara), sedangkan Roma berambisi memangkas selisih poin. Pada pertandingan ini kiper tim saya tampil luar biasa. Roma yang menekan sejak menit awal tak mampu mencetak angka karena penyelamatan yang gemilang dari Gigi Buffon. Justru Llorente berhasil membuka skor untuk Juventus di menit 17. Hasil akhirnya Bonnuci dan Mirko Vucinic menutup laga ini dengan skor akhir 3-0 untuk Bianconeri. Kemenangan ini membuat skuat Antonio Conte unggul delapan angka atas Roma yang berada di posisi kedua sekaligus memaksa AS Roma menelan kekalahan pertama di Serie A Italia musim ini.

Pertandingan terakhir paruh pertama di musim ini berlangsung di pulau Sardinia. Bertamu ke markas Cagliari. Tertinggal lebih dulu oleh gol Mauricio Pinilla, I Bianconeri bangkit lewat sepasang gol Fernando Llorente, Claudio Marhisio dan Stephan Linchsteiner yang menutup pesta. Juara paruh musim. Kokoh di puncak klasemen.

Dan paruh kedua pun dimulai pada pertengahan Januari 2014. Tim saya menjamu Sampdoria. Syukurlah, kami berhasil menang dengan skor 4-2. Selain menjaga kekokohan status capolista, raihan tripoin yang hadir berkat sepasang gol Arturo Vidal dan masing-masing satu dari Fernando Llorente dan Paul Pogba ini sekaligus mempertajam rekor kemenangan konsekutif Si Nyoya Tua, menjadi 12 laga.

Lalu beranjak ke pekan 21. Juventus begitu jumawa nan perkasa. Bahkan lawatan ke ibukota guna bersua I Biancocoleste tidak juga mengurangi antusiasme tim untuk menang. Hasilnya adalah di luar dugaan. Jalannya pertandingan begitu menegangkan. Sungguh, ini adalah pertandingan pertama ddi musim ini yang membuat saya gemetar hebat. Petaka itu terjadi pada menit ke-24 ketika Buffon melanggar keras Klose. Sang kiper mendapat kartu merah, sementara Lazio mendapat keuntungan hadiah penalti. Beruntung, meski bermain dengan sepuluh pemain dan tertinggal di babak pertama, Juventus akhirnya bisa menahan imbang tuan rumah Lazio di babak kedua dalam lanjutan Serie A Italia di Stadio Olimpico. Llorente menjadi penyelamat tim saya dari kekalahan. Bianconeri masih tetap aman di puncak klasemen sementara dengan raihan 56 poin dari 21 pertandingan, unggul sembilan angka dari pesaing terdekat AS Roma.

Pertandingan ketiga di paruh kedua adalah menjamu si biru hitam jelek. Juventus belum terbendung. Kemenangan 3-1 atas FC %nt$rn$z*on*l? pun menjadi buktinya. Derby d’Italia edisi ke-220 tersaji di Juventus Stadium, dan tim tuan rumah menjadi tim yang tersenyum terakhir. Linchteiner, Chielini, dan Arturo Vidal menjadi penentu kemenangan di pertandingan ini. Kami kokoh di puncak klasemen dengan raihan 59 poin.

Dengan euforia yang luar biasa karena mampu menjungkalkan si biru hitam jelek, lawatan ke Verona seolah dilakoni Juve dengan keseriusan 50%. Lagi, kami terlalu menyepelekan pertandingan. Merasa telah juara, padahal masih banyak pertandingan sisa. Saat tripoin sudah berada di depan mata, gol Juanito memaksa pertandingan ini harus berakhir sama kuat, 2-2, setelah Bianconerri sempat unggul berkat dua gol dari Carlos Tevez. Iya, tim saya memang masih di puncak klasemen, namun ini masih sementara. AS Roma masih punya peluang untuk mengejar. Sebagai pendukung setia, saya masih percaya bahwa kami akan menjadi juara liga.

Dalam lanjutan pertandingan di pekan 24, Juventus seakan hendak menebus dosa atas kelalaian di pekan sebelumnya. Juventus mengukuhkan posisi di puncak klasemen sementara Serie A Italia, usai menumbangkan Chievo Verona dengan skor 3-1. Asamoah, Marchisio, dan Llorente adalah pahlawan pada pertandingan tersebut. Alhamdulillah, saya semakin percaya bahwa sebentar lagi kami akan mengunci gelar juara. Bagi saya, sedikit lega boleh dilakukan jika tim saya sudah mmbukukan setidaknya 60 poin pada saat paruh kedua. Pada pekan ini, total poin Juventus adalah 63, unggul 12 poin dari AS Roma. Di tengah pekan ini tim saya juga berhasil membukukan kemenangan melawan Trabzonspor (saya baru tahu ada klub ini :D ) di liga malam jumat dengan skor 2-0 yang masing-masing gol dicetak oleh Pablo Osvaldo dan Paul Pogba.

Pekan berikutnya adalah kontra Torino. Laga melawan tim sekota selalu tidak mudah. Pretisenya bahkan melebihi derby d Italia sekalipun. Tidak tahu kenapa, Torino selalu tampil allout kala bersua Juventus. Derby yang seakan-akan mempertaruhkan nama club di kota  tercinta. Sebuah pertandingan yang tidak hanya berbicara tentang sepak bola, tetapi juga mempertaruhkan entitas vital, budaya dan politik, di salah satu kota di Italia Utara. Pemenangnya adalah penguasa kota. Pada pertandingan ini Torino menghadirkan kesulitan luar biasabagi Juve. Namun harus diakui, sang tuan rumah masih unggul segalanya dalam Derby della Mole ke-188. Juventus berhasil menjaga rekor 100 persen kemenangan selama 12 tahun dalam Derby della Mole. Carlitos Tevez menambah pundi-punddi golnya, sekaligus mengokohkan Bianconeri di puncak klasemen (sementara :) ). Modal bagus untuk melakoni leg 2 babak 32 besar liga malam jumat kontra Trabzonspor. Kali ini Turki bisa ditaklukkan pasukan Antonio Conte dengan skor 2-0. Aggregat 4 – 0 menjadikan Juventus lolos ke babak 16 besar guna menghadapi Fiorentina.

Selanjutnya adalah lawatan ke tanah mode di Italia. Milan adalah lawan kami di pekan 26 dalam lanjutan kompetisi serie A Liga Italia musim 2013-2014. Kegemilangan Carlos Tevez menjadi kunci keberhasilan La Vecchia Signora untuk membawa pulang tiga angka. Berkontribusi penting pada gol pertama, El Apache jadi protagonis melalui gol spektakulernya untuk memastikan kemenangan 2-0. Poin kami menjaddi 69.

Setelah lawatan ke Milan, Juventus sukses memenangi pertarungan sengit dengan Fiorentina berkat gol semata wayang Kwadwo Asamoah dalam lanjutan giornata 27 Serie A Italia di Juventus Stadium. Dengan kemenangan yang diraih kali ini, tim arahan Antonio Conte itu semakin berada di atas angin untuk meraih gelar juara di musim ini setelah mengemas 72 poin. Hasil ini juga menjadi modal penting untuk melakoni liga malam jumat yang juga menjadikan La Viola sebagai lawan. Pada pertandingan di tengah pekan tersebut, hasil hasil adalah 1-1. Untuk lolos ke babak 8 besar, Juventus harus menang di Firenze. Sure… my team have to win!!!!

Sebelum leg kedua kontra Fio, Juventus harus bertarung melawan Genoa dalam lanjutan perburuan gelar di liga domestik. Untunglah skuat Antonio Conte menang dengan skor 1-0 berkat gol tunggal Andrea Pirlo di menit terakhir. Kemenangan itu membuat Bianconeri berlari menjauh dari AS Roma di posisi kedua. Gol tunggal Pirlo pada pertandingan ini berlanjut pada laga kontra La Viola di liga malam jumat. Benar, Pirlo kembali menjadi penentu kemenangan tim setelah berhasil melesakkan sebiji gol di Artemio Franchi, sekaligus mengantarkan Juventus ke perempat final liga UEFA. Sesuai undian, Juventus akan bersua wakil Perancis Lyon di babak 8 besar yang digelar pada 3 & 10 April 2014 mendatang.

Mari berlanjut ke liga… Enatah kenapa dalam beberapa pekan terakhir, kemenangan Juventus berakhir dengan sebiji gol. Pada giornata 29 ini pun Juve hanya mampu menccetak sebiji gol ke gawang Catania. Carlos Tevez menjadi pahlawan setelah gol tunggalnya di babak kedua memastikan kemenangan bagi tim saya.

Akhir pekan berikutnya…..Juventus berhasil memantapkan posisi di puncak klasemen sementara berkat kemenangan 2-1 yang dibukukan atas Parma dalam lanjutan Serie A giornata ke-30. Tevez kembali membuktikan dirinya masih layak menjadi salah satu pemain kunci timnas Argentina. Dua gol yang dibukukan Tevez seolah menjadi teriakan terhadap pelatih Timnas negaranya supaya menjadikan dirinya sebagai salah satu punggawa Argentina di ajang WorldCup yang digelar pada pertengahan Juni 2014. Sebuah cara brilian dari pemain kelas dunia.

Melewati 22 partai terakhir Serie A tanpa kekalahan, laju Juventus akhirnya dihentikan Napoli yang mengemas keunggulan 2-0 pada laga giornata 31 di San Paolo. Kalau bukan karena Buffon, tim saya mungkin akan kebobolan lebih banyak. Ahhh… sudahlah. Sakit memang dikalahkan, namun saya harus mengakui bahwa di pertandingan ini Juventus tidak bermain bagus. Terlepas dari kekalahan kedua musim ini, Juve tetap mengantungi keunggulan 11 angka dari AS Roma. Mungkin fokus Conte berada pada kunjungan ke Prancis untuk berjuang di kasta kedua kejuaraan Eropa. Liga malam Jumat kontra Lyon. Hasilnya memang nyata. Juventus berhasil menang di Lyon dengan 1 gol yang dilesakkan oleh Leonardo Bonnuci.

Pekan 32 liga Italia berlangusng di Turin. Bermain di Juventus Stadium Si Nyonya Tua tampil sangat percaya diri. Setelah gagal meraih poin di pekan sebelumnya, sepasang gol Fernando Llorente kembali menambah pundi-pundi poin la Vecchia Signora. Juventus kokoh di puncak klasemen (Ok, sementara :D ) dengan torehan 84 poin. Kemengan tersebut juga berlanjut di liga UEFA. Tim saya kembali mengungguli Lyon di turin dengan skor akhir 2-1. Dengan anggregat skor 3-1 ini, Juventus berhasil melaju ke babak semifinal liga malam jumat untuk bertarung melawan Benfica. Asa dan sedikit percaya itu semakin menguat, bahwa saya akan melihat Juventus mengangkan trophy eropa untuk pertama kalinya sejak saya mencintai (CINTA) tim ini.

Setelahnya kami fokus pada liga yang hampir berada pada ujungnya. Juventus kembali memperlebar jarak mereka dengan AS Roma dalam perburuan scudetto menjadi delapan poin pasca menang di Friulli, pada lanjutan Liga Italia Serie A giornata 33. Dua gol yang masing-masing dicetak oleh Giovinco dan Pogba. 87 Poin, kawan!

Pertandingan selanjutnya masih di liga, hasilnya juga 3 angka. Namun Juventus harus bersusah payah menembus pertahanan kokoh Bologna untuk menang 1-0, dalam lanjutan Liga Italia Serie A giornata 34. Empat pekan sebelum akhir musim. Kami punya 90 poin. Jika dalam empat pertandingan selanjutnya tim ini konsisten, maka 102 poin adalah rekor baru. Klub kami akan mencatatkan diri sebagai club pertama yang menjuarai Liga Italia dengan torehan 100 poin lebih. Istimewa :D

Sayangnya kemenagan di pentas domestik tidak memberikan hasil maksimal pada lawatan ke Portugal. Juventus tak bisa meraih kemenagan saat melakoni laga semifinal liga UEFA kontra Benfica. Kami harus menyerah dengan skor akhir 2-1. Peluang untuk tampil di final pun semakin menipis, namun masih ada kesempatan. Kami hanya butuh menang 1 gol di Turin pada 1 Mei 2014. Bukan misi yang sulit karena toh skuat kami berada pada kondisi yang fit.

Kegagalan di pentas Eropa tersebut seakan mengurangi gereget Juve kala bertandang ke markas Sassuolo. Juventus memang terlambat panas saat kebobolan lebih dulu di menit kesembilan. Namun, mereka sukses bangkit dan membalas satu gol Sassuolo dengan tiga gol gemilang. Juventus pun keluar sebagai pemenang dan mendekat ke podium Scudetto. Kemenagan yang setidaknya menjadi suntikan semangat anak-anak Turin untuk menang di laga tengah pekan kontra Benfica. Membalas kekalahan di pertemuan pertama, lalu melangkah ke final yang akan digelar di rumah sendiri pada 14 Mei 2014. Angan-angan bagi saya adalah pertandingan final Juventus di piala Eropa adalah salah dua hadiah ulang tahun terindah yang saya terima, salah satunya adalah scudetto. Dan ketika semifinal kedua itu digelar, tim saya bermain apik. Luar biasa. Tim saya sempat membukukan gol, namun wasit menganulir karena menganggap Osvaldo terkena jebakan offside terlebih dahulu. Kemudian berbagai keputusan wasit yang tidak adil (bukan karena saya Juventini lalu saya menyalahkan wasit), membuat tim saya harus puas dengan skor kaca mata. Kami hanya bermain imbang, sehingga gagal melaju ke final. Saya benar-benar kecewa. Bahkan di akhir pertandingan ini saya tak bisa menahan keluarnya air mata. Ya tuhan, untuk pertama kalinya sejak munculnya kasus dagelan calciopoli pada 2006 silam, saya kembali tersedu karena kecewa. Iya, ini adalah air mata saya untuk Juventus sejak tahun 2006. Are u missed my tears, team?? Sudahlah. Sudah selesai. Tak ada juara Eropa, kamipun fokus pada sisa pertaandingan di liga.

Menjamu Atalanta adalah pertandingan ketiga terakhir di liga. Dan yaahh…setelah kami gagal melangkah ke final piala UEFA, secara mengejutkan AS Roma tunduk dengan skor 4-1- dari Catania di pekan 36 ini. Hanya dengan dua pertandingan sisa dan selisih 11 poin, Juventus sudah menjadi juara…bahkan sebelum laga kontra Atalanta digelar. Namun target 100 poin itu menjadi tantangan lain. Walau resmi menjadi Campione d’ Italia, Antonio Conte tetap memaksa timnya bermain maksimal. Atalanta yang bermain tanpa beban nyatanya mampu menahan Bianconeri di babak pertama. Namun, ini Juve Bung! Kami berhasil menang melalui sontekan Padoin yang memaksimalkan umpan Quagliarella. Scudetto!!! 32!

Dua laga berikutnya adalah menghadapi tantangan Roma dan Cagliari.

Di pekan 37 Juventus sukses mencetak 3 angka. Pablo Osvaldo hadir sebagai mimpi buruk di Olimpico dan mencetak gol tunggal yang mengalahkan mantan klubnya. Sebuah kemenangan dan hadiah istimewa bagi saya yang bertambah usia. Alhamdulillah :D

Di pekan terakhir, tim saya kembali mampu meraih 3 angka dengan 3 gol yang masing-masing dilesakkan oleh Pirlo, Llorente, dan Marchisio. I Bianconeri mengakhiri Serie A musim ini dengan rekor nilai tertinggi, 102 poin.

Sebuah musim yang benar-benar mendebarkan bagi saya. 102 poin untuk gelar ke 32.

Dan kata mereka gelar tim saya hanya 30. Ahhh..terserah mereka saja. Bagi saya, Juventus punya 32.

Terserah mereka hendak mencatat gelar kami 30 atau 32, setidaknya hingga saat ini hanya kami yang punya bintang tiga.

Benar, musim 2013-2014 ini saya memiliki banyak harapan pada tim ini. Ingin menjuari semua kompetisi yang kami ikuti. Tapi layaknya sebuah drama dalam sebuah opera maupun cinema, pemeran utama tidak harus selalu mendapatkan cerita yang sempurna. Ada bagian dimana pemeran utama harus ditindas oleh tokoh antagonisnya. Ada saat pemeran utama ditampilkan sebagai sosok yang paling hina. Namun pada akhirnya bahagia itu selalu ada.

Begitu juga drama Juventus di musim ini. Tim saya tidak memulai kompetisi sebagai pemuncak klasemen, bahkan kami juga pernah merasakan pahitnya kekalahan. Ketidakadilam tim pengadil di lapangan pun menjadi bagian dari kisah Juve di musim ini. Bahkan harus merasakan pahitnya kegagalan merengkuh tropi ketika pintu menuju gelar juara sudah sangat dekat. Namun pada akhirnya kami punya bintang tiga. Sebuah bahagia lain yang mungkin memang rencanaNya.

Saya juga masih percaya bahwa kami masih akan terus menambah gelar juara. Musim depan percaya saya tak hanya liga, tetapi juga Eropa. Karena itu saya tambahkan percaya ini dengan rangkaian doa.

Semoga doa dan percaya itu bisa menjadi nyata.

Selebihnya, terimakasih Juventus…. atas satu musim yang luar biasa.

P.S: See you soon at Jakarta, Team :)

Bukan Guru

Siapa bilang menjadi guru itu mudah? Hanya membuat soal lalu menyuruh siswanya mengerjakan soal-soal tersebut tanpa penjelasan lebih lanjut? Mahasiswa sekalipun membutuhkan petunjuk mengerjakan soal-soal yang menjadi tugas mereka, apalagi bocah sekolah dasar.

Dan sungguh…memberikan pengajaran kepada siswa putih merah itu tidak mudah :|

Benar kata salah seorang interviewer yang saya temui bahwa guru itu tidak harus super clever, tapi harus memiliki ketelatenan dan kesabaran di depan peserta didiknya. *sigh

Saya, belum masuk dalam kriteria tersebut. Masih sering mengeluhkan tingkah pola seorang bocah sekolah dasar yang tidak sejalan dengan pola pikir saya. Masih saja terlalu memusingkan perilaku kekanak-kanakan bocah berusia 8 tahun yang (mungkin) memang sewajarnya. Masih sebatas tenaga pengajar, bukan guru. Masih harus banyak belajar (dan bersabar).

Belajar Panah

Suatu sore,

Pada sesi obrolan santai antara saya dengan adik les sore itu kami membahas tentang weapon, senjata. Membahas macam-macam alat perang, mulai dari bambu runcing hingga senjata nuklir. Lalu kemudian ketika dia menanyakan;

“Mbak tahu panah?”

Saya: “Tahu dong. Kenapa?”

Adek les: “Bisa gak mbak main panah? Caranya gimana yaa mbak?”

Saya: “Wahh…aku gak bisa main panah. Gimana ya caranya..”

Adek les: “Trus mbak bisanya apa?”

Saya: “Bisa sih dek, tapi panah yang lain”

Adek les: “Panah yang lain itu gimana caranya? Panah apa?”

Saya: “Panah asmara”

Adek les: “Itu maennya gimana mbak? Bentuknya kayak apa?”

Saya: diem

Adek les: “Aku ajarin ya mbak main panah itu. Panah apa tadi namanya mbak? Panah asmara?”

Saya: mesem.

Payahhh………. berdialog dengan anak kecil berusia sekolah dasar memang harus hati-hati. Bagaimana bisa saya tahu dia begitu antusias untuk belajar panah asmara? Saya juga tak bisa menjelaskan bagaimana caranya memainkan panah tersebut.

Semoga saja dia tidak menceritakan topik panah asmara itu pada si mama -_-

Sebuah Doa

Iya, mungkin memang tidak pandai bersyukur

Kurang bisa menghargai apa yang ada

Tidak pula benar-benar ikhlas…

Manusia…

Benar-benar harus berusaha keras untuk merasa bahagia

Sama halnya dengan usaha payah untuk merasa cukup

Padahal limpahan tawa itu tak perlu dicari dengan bersusah-susah

Dan, semoga bisa

By meirina Posted in Poetry

Tuntutan Pada Seorang Guru

Setelah ibu, pekerjaan tersusah di dunia adalah guru. Susah bangettt!

Guru itu harus pinter. Harus bisa mengajari murid-muridnya dengan berbagai pengetahuan, sehingga menjadi guru harusnya memiliki pengetahuan yang luas. Guru tidak hanya mengajarkan mamatematika, bahasa Inggris, IPA, sejarah, dan mata pelajaran wajib lainnya… seorang guru juga harus pandai bertutur kata. Guru juga yang mengajarkan siswa tentang arti berbudaya dan pentingnya sosialita. Pintarnya anak bergantung pada sosok yang disebut guru. 

Padahal sebuah literatur penelitian mengemukakan bahwa  2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, 1/3 sisanya bersifat genetis, sedangkan pada kemampuan intelejensia 1/3 dari pendidikan dan 2/3 sisanya berasal dari genetik. Jika seorang guru dituntut untuk menjadikan siswa pandai (dalam sisi intelejensia) sementara siswa tersebut tidak memiliki 2/3 intelejensia genetik, apa itu salah guru?

Satu lagi, guru seringkali mendapatkan tuntutan untuk selalu perfect! Tidak boleh cacat. Tidak boleh sakit. Fiuuhhh -___-

Padahal… guru  juga manusia

 

Gallery

Action On The Wedding

This gallery contains 10 photos.

Blitzzzzzzz …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..