Skala Bahagia

Sesungguhnya Bahagia itu tidak bisa diukur.

Benarkah yang punya jabatan penting dalam urusan pekerjaannya adalah manusia paling bahagia?

Tidak juga! Mereka yang punya kedudukan penting seringkali tak punya waktu luang untuk sekedar menonton tayangan iklan di stasiun televisi.

Apakah mereka yang terkenal memiliki hidup yang bahagia?

Belum tentu! Mereka bisa saja populer, tapi mereka tak bisa bebas berkeliaran di tempat umum. Tak bisa menikmati jajanan kaki lima tanpa diikuti fans yang kerap kali minta foto bersama atau sekedar tanda tangan.

Lalu, mereka yang bebas dan tak punya apa-apa… bisakah dikatakan sebagai manusia paling bahagia di dunia?

Tentu Tidak! Bagaimana bisa menikamti kebebasan dengan tidak memiliki apa-apa? Bagaimana bisa menikmati jajanan pinggir jalan dengan bebas tanpa memiliki uang?

Karena itu, sesungguhnya bahagia bukanlah hal yang bisa diukur. Bukan perkara yang bisa dengan mudah ditentukan indikatornya.

Bahagia tak punya kriteria penilaian.

Sesungguhnya skala bahagia itu adalah syukur.

Cerita Pagi

Suatu pagi….

Ibu A : “Ehhh si adek sudah bangun yaaaa….. Mau ikut Mama ngajar ya, Nak”

Ibu X : “Enggak tante, aku mau berjemur dulu”

Lalu kemudian kedua ibu-ibu tersebut ‘bercengkrama’

“blablablablablablablablaaaaaaaaaaaa….”

Mulai dari harga bawang, hingga harga garam..

Mulai dari kehidupan pasar, sampai tumpakan bawang di kamar..

Lalu kemudian si bayi berceloteh..

“Ammppphhhhhhh… ardkgkkssss…”

Dialog seru antar ibu tersebut berhenti sejenak. Salah satunya berkata;

Apa..le…”

Lalu kemudian kedua ibu-ibu tersebut berbisik-bisik seru…. Menjadikan salah seorang penghuni kos baru sebaagai bahan perbincangan..

Dan si bayi kembali memotong diskusi ibunya

“Oamrrrrghjkjkkk..aappmmhhhh..”

Dengan sedikit rengekan, bayi yang usianya tak lebih dari 3 bulan tersebut tak hanya ‘ngeroweng’ beberapa saat… tetapi sepanjang kedua ibu-ibu itu berbicara mesra.

Hingga kemudian, si Mama berkata

“Sebentar ta le.. diam dulu. Kok kamu cerewet si. Mama ngomong sebentar”

Oke… setidaknya perbincangan tersebut berlangsung selama 30 menit. Waktu yang setidaknya bisa digunakan untuk ‘memanaskan’ si bayi. Si Mama mengatakan anaknya cerewet, lalu dia bagaimana? -_-

Well done, Mam!

Setelah Final

Salah satu cara menghilangkan euforia final dini hari tadi adalah menghabiskan waktu ke pusat perbelanjaan bersama sang Pangeran. Dan yaa… sama seperti dugaan kami, sepanjang perjalanan banyak sosok berbaju Barca. Mulai dari lapangan parkir hingga bagian dalam pusat perbelanjaan. Mulai dari perjalanan pergi, hingga perjalanan pulang.

Kami adalah satu-satunya sosok manusia yang mengenakan atribut Bianconerri.

Banyak sekali lirikan yang mereka arahkan ketika bersisipan dengan kami. Bahkan ada pasangan yang terang-terangan tertawa cengengesan ketika mereka melintasi kami.

Mungkin mereka pikir kami gila… Ada pula seorang wanita yang berbisik cukup keras pada pasangannya;

“Tadi dia kalah kan? Masih make bajunya, gak malu ya”

Hihihihihihi… dasar mbak-mbak…. Kalau kalah, terus harus berhenti mendukung tim kesayangan? Harus membuang semua kostum yang berhubungan dengan Juve?

Kami ini cinta dengan sepenuh jiwa & raga… mau menang, mau kalah, mau seri… Juventus tetap di hati.

Belajarlah untuk setia, mbak…. Musim depan, Juventus bisa lebih baik dari ini. Semoga club kita bisa kembali bersua di Final UCL musim depan (kalo si mbak masih jadi angel buat club Catalunya). Sampai ketemu di San Meazza (Bingung nyebut stadion duo Milan…San Siro atau Giuseppe Meazza) 2015 mendatang. AMIN…

Grazie Juventus

Musim 2014-2015  diawali dengan rentetan cerita yang kurang menyenangkan.

Keputusan Antonio Conte untuk meninggalkan posisi sebagai kepala pelatih di Vinovo hingga penunjukan Max Allegri sebagai pengganti merupakan pembuka yang hambar. Bukan pilihan pengganti yang tepat, itulah pemikiran mayoritas teman-teman Juventini di seluruh muka Bumi. Banyak alasan yang menjadikan unjuk rasa penolakan Allegri sebagai pelatih Juve. Saya sendiri menolak Allegri bukan karena dia tidak bisa melatih, melainkan karena dia ‘bukan Juve’. Entahlah… yang jelas, saya tidak sedikitpun melihat semangat Bianconeri pada mantan arsitek tim Milano tersebut. No spirit. Tak ada ‘Lo spirito alla Juventus’ dalam sosok Max.

Tapi mau bagaimana lagi, keputusan siapa yang akan menukangi Juve tetap berada di tangan para petinggi club. Mau tak mau, ucapan ‘Welcome Max’ pun harus saya lontarkan. Lupakan Conte!

Belum lagi rumor, desas-desus serta gosip akan rencana hengkangnya Arturo Vidal ke Manchester merah… Awal musim yang begitu menggiatkan kerja suprarenalis!

Satu-satunya kisah manis di awal musim ini adalah kunjungan Juventus ke Indonesia. Melihat mereka berlari-lari di lapangan secara langsung, hanya berjarak 10 meter. Setelahnya.. saya berencana untuk menjalani musim ini dengan rentetan doa. Bukan karena pasrah, melainkan sebuah permohonan pada yang Kuasa untuk tetap mempertahankan tim ini dengan mental juara. Pasalnya, sebagaimana pemaparan di awal, tak ada aura ‘spirit’ dalam sekujur tubuh pelatih baru. Kami sudah meraih tiga gelar serie A beruntun, butuh mental yang lebih lagi untuk bisa mempertahankannya menjadi empat.

Musim kompetisi pun diawali dengan lawatan ke Verona. Sebuah laga pembuka yang sama sekali tak saya ingat jalannya. Skor akhir sepertinya didapat dengan susah payah. Setidaknya gol tunggal Martin Caceres membuat Juve membukukan 3 poin pertama di musim kompetisi baru. Pekan keduapun sama, tak ada greget Juve. Bermain di kandang menjamu Udinese juga tak membuat semangat Juve terlihat di lapangan… Bolehlah Tevez dan Morata mencetak masing-masing sebuah gol, tapi tetap… rasa Juve seakan-akan tak terlihat di J-Stadium.

Tapi tetap, dukungan saya 100% untuk tim. Berusaha untuk tetap setia menyaksikan mereka dari layar kaca. Tetap menjadikan nonton bareng sebagai salah satu agenda kencan. Berangkat ke venue Nobar pada pekan ketiga, berusaha tetap ceria walau panasnya arena nobar naudzubillah… Dan yaaa kecewa, karena tak bisa menonton pertandingan hingga akhir.. tak lebih dari 15 menit, listrik di wilayah setempat padam. Pekan ketiga vs Milano pun gagal menjadi titik balik semangat akhir pekan yang musim lalu selalu saya dapatkan sepulang nobar. Untunglah kami masih mendapatkan tiga poin. Menang satu gol (lagi).

Pekan-pekan setelahnya, setiap pertandingan di liga domestik tidak menggairahkan. Menang dalam tiga pertandingan beruntun, termasuk menggeser posisi AS Roma sebagai capolista di pekan ke 6… namun sama sekali tak terasa semangat alla Juve.

Benar memang, posisi puncak tetap berada di genggaman I bianconerri ketika tim hebat ini harus kalah sebiji gol dari Genoa di pekan ke 9, tetapi hasrat akan ‘Juventus’ tak juga muncul. Jujur saaja, musim ini saya sempat melewatkan beberapa pertandingan. Tak ada semangat untuk nonton bareng di akhir pekannya. Bahkan di sebuah jadwal pertandingan besar melawan tim biru hitam (nama tim sebenarnya tak boleh disebutkan, tabu!), pacar saya tertidur hingga kami batal nonton bareng. Dimulai dari pekan 17 itulah semangat saya akan Juventus hilang seketika.

Berkurangnya semangat pada tim juga ditunjukkan dengan kegagalan meraih tropi Piala Super Italia di Qatar pada bulan Desember…

Saya bukannya berhenti mendukung Juventus, melainkan tak ada semangat yang saya rasa kala Tim ini berlaga di liga. Tapi tetap saja, Juventus masih & selalu yang tercinta.

Rentetan pertandingan di Liga hingga pekan ke 38 tak saya hafal dengan benar… tak ada catatan rapi seperti musim lalu. Saya hanya berdoa. Hingga kemudian asa itu menjadi nyata. Kami tetap juara di pentas liga Italia. Berhasil finish di urutan terdepan. Tanpa 102 poin. Hanya butuh 87 saja dengan catatan 3 kali kalah, beberapa kali seri dan sisanya menang… Ahh, bahkan rincian hasil seri dan menangpun saya tak tahu.

Perjalanan Juve tak hanya sampai di Liga.. Kami pun menjadi jawara Coppa Italia. Sepuluh gelar untuk kompetisi kelas dua di negeri Pizza. Plus harapan besar untuk menggenapi musim di ranah Eropa.

Setelah sukses lolos dari babak penyisihan grup, Juve menghentikan laju Monaco di 16 besar, lalu menjegal Dortmund pada perempat final, hingga memaksa sang juara bertahan El Real angkat kaki di semi final pada laga Liga Champions Eropa (UCL). Partai puncak di Berlin mengharuskan kami bersua Barcelona. Sebuah asa lain muncul… di luar ekspektasi siapapun Juventus berhasil menembus final UCL musim 2014-2015.

Kata legenda hidup & besar Juve;

From Berlin to Serie B, From Serie B to Berlin!”

Harapan untuk membawa pulang Piala Kuping Besar dan uang 10 juta Euro semakin meningkat. Berharap Gigi Biffon bisa mendapatkan kesuksesan di stadion yang sama kala Ia mengankat trophy World Cup untuk Italia pada 2006 silam. Saya optimis, tetapi tetap realistis.

Skuad ‘alakadarnya’ akan berhadapan dengan bintang-bintang lapangan hijau. Saya percaya pada tim, bahwa mereka akan melakukan yang terbaik… tapi kami masih harus banyak belajar. Di akhir 90 menit pertandingan, Berlin belum berpihak pada Juventus.

Juventus masihlah salah satu yang terbaik di Eropa, dan selalu terbaik di pikiran dan hati saya. Delapan kali menembus final UCL dengan hanya dua kemenangan adalah cerita kurang beruntungnya kami di partai puncak. Menjadi runner-up yang ke 6 kali di pentas Eropa jauh lebih membanggakan daripada mereka yang hanya bisa berkomentar lantaran clubnya hanya bisa berlaga di liga lokal pada musim depan.

Musim ini…Target perempat final UCL terlampaui hingga final…. maka Juventus telah memberikan lebih daripada harapan yang mereka emban.

Berlin telah selesai… Juventus pulang tanpa mahkota, tapi bagi saya mereka tetaplah Juara. Saya pikir saya akan bersimbah air mata atas kegagalan di partai final UCL ini, ternyata yang ada hanya bangga dan rasa cinta yang lebih besar pada La Vecchia Signora.

Musim lalu kami gagal di kompetisi kedua Eropa, kemudian Juve memperbaikinya di musim ini dengan menembus Final UCL. Maka musim depan, prasangka positif untuk Trophy UCL haruslah dimiliki semua elemen Juve.. termasuk Juventini. Cukuplah hadiah 6.5 juta Euro untuk membenahi skuad di musim depan.

Jika memang Max Allegri tetap menjadi pilihan manajemen untuk mengarsiteki Juventus di musim depan maka dia HARUS memperbaiki ‘semangat’ Juve! Mengembalikan ‘Lo Spirito alla Juventus’ pada setiap pertandingan.

Terimakasih untuk musim ini, Tim! Apapun dan bagaimanapun hasilnya, selalu bangga bisa menjadi salah satu bagian dari semangat Bianconerri. Musim depan, semangat itu harus lebih digali. Harus lebih besar. Musim depan, kitalah yang terbaik di Eropa..

Cukuplah untuk musim ini… 33 gelar dan satu bintang perak… #4Ju33 #LaDecima …

Grazie Juventus.

#ProudOfJu

 

Kerja Senang

Berbicara kenyamanan di tempat kerja, maka indikatornya adalah senang. Senang akan setiap tugas dan kewajiban, senang akan ruangan kerja, serta senang akan rekan kerja di sekitar.

Sayangnya untuk mendapatkan ketiga senang tersebut tidaklah gampang.

Selalu saja ada gerundelan tentang tempat kerja. Kesampingkan masalah penghasilan, kenyamanan di tempat kerja seringkali terganggu dengan rekan kerja…entah itu perilakunya, karakternya, maupun sifatnya yang kurang ramah. Bagi saya semua kriteria tersebut bukanlah masalah, asal masih dalam batas profesionalitas kerja dan tidak merugikan rekan kerja lain.

Tapi, tidak sulit mendapatkan kenyamanan di tempat kerja… Mudah kok.. caranya adalah, carilah dunia pekerjaan yang benar-benar kita suka. Menyukai jenis pekerjaannya. Mau seburuk apapun tempat kerja, bagaimanapun menjengkelkannya orang-orang sekitar… setidaknya kita masih punya rasa senang saat melakukan semua tugas dan kewajiban.

Syukur-syukur jika semua faktor nyaman  bisa kita dapatkan… hingga akhirnya kita dibayar untuk bersenang-senang :)

Lembaga Bukanlah Hutan Rimba

Mungkin benar, dimanapun… yang namanya tempat kerja tak ubahnya hutan rimba. Siapa yang kuat dialah sang juara. Tak peduli benar atau salah, asal punya kuasa dialah yang bebas dari siksa.

Mau lembaga sebesar dan setenar apapun, hukum yang kuat yang menang adalah aturan mutlak yang tak tertulis.

Bohong jika tak ada faham senioritas! Nyatanya hampir semua institusi, pihak minor selalu saja menjadi sosok yang dipersalahkan.

Benar mungkin pandangan teori yang pernah saya baca di beberapa literatur bahwa sebenarnya mayoritas perusahaan, lembaga dan institusi di tanah air lebih menjadikan materi sebagai indikator kesuksesan lembaga. Menjadikan kepuasaan pelanggan sebagai target, tanpa peduli dengan kompetensi SDM.

Selalu saja menomersatukan aset materil daripada aset manusiawi.

Yang dipikirkan adalah bagaimana caranya mendapatkan ‘pelanggan’ sebanyak mungkin di setiap semester, tanpa peduli pada kualitas SDM yang menjalankan lembaga. Kalaupun ada pelatihan untuk SDM, paling-paling indikatornya berupa angka… Selalu saja dinilai melalui ujian yang isinya soal-soal. Padahal, angka hasil ujian bisa berubah sewaktu-waktu.

Jarang sekali saya dapati sebuah lembaga melakukan perbaikan mental, pola pikir, perilaku, dan sifat SDM.

Memperbaiki mental karyawan yang tak lebih dari sebuah kerupuk basah, memanipulasi waktu kerja untuk dicantumkan dalam laporan kerja harian misalnya.

Merubah pola pikir yang luasnya tak lebih besar dari daun talas.Hanya beranggapan bahwa kerja itu harus disebuah ruangan. Atau belajar itu harus duduk di bangku dan ada setumpuk kursi di atas mejanya.

Merubah perilaku yang suka bergunjing, bergosip, atau memperbincangkan keburukan rekan kerja di hadapan rekan kerja lain.Perilaku yang bermanis-manis muka, namun kerap menusuk seketika saat dirinya merasa bersalah namun tak mau kalah!

Serta memperbaharui difat SDM yang semanunya sendiri, mau menang sendiri, sok berkuasa, sok senior, dan sok bersih!

Sangat disayang jika suatu lembaga tersohor memiliki punggawa yang kualitasnya hanya sebatas ukuran angka 0-9. Lembaganya sudah punya nama, seharusnya SDM yang tergabung di dalamnya punya cara supaya nama tenar lembaga tidak tercemar.

Terlebih lagi jika lembaga (institusi) tersebut berhubungan dengan dunia pendidikan….Harusnya setiap individu yang bergabung dengan lembaga terkemuka bisa menjaga diri untuk tidak ‘menerkam’ rekan kerjanya…Menyalahgunaan kewenangan yang dipunya atau bersikap tak mau disalahkan! Toh sama-sama mencari nafkah… sama-sama memiliki bagian kerjanya… Sama-sama mengemban nama baik lembaga. Kenapa pula harus menjadikan tempat kerja sebagai hutan rimba?

Kami Butuh Keadilan

I Need The Fairly Tale, Perhaps...

I Need The Fairly Tale, Perhaps…

Benar memang, suka tidak suka… kasus perusakan citra oleh ‘dia yang namanya menjijikkan untuk disebut’ sudah sangat terlambat untuk dibahas ulang. Sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu kebenaran, tapi suatu kebenaran tetaplah mutlak.

Juventus bersih.. harusnya, jika asosiasi yang menaungi keberadaan semua tim di ranah Italia mengerti akan keadilan.. kebenaran yang telah saya (dan seluruh komponen dan ornamen Juventus) yakini selama ini mendapatkan porsi keadilan yang sewajarnya. Harusnya, tak ada alasan lagi bagi FIGC untuk mengelak memberikan balasan setimpal kepada ‘dia yang namanya menjijikkan untuk disebut’ atas tuduhan tak berdasar kepada tim kami.

Dua gelar yang sembilan tahun lalu dirampas, masih ada di lemari piala Juventus. Tak ada alasan bagi FIGC untuk mengembalikan dua gelar tersebut setelah Moggi dinyatakan bersih dari tuduhan yang dulu dikemukakan oleh ‘dia yang namanya menjijikkan untuk disebut’, karena keduanya memang hak kami. FIGC hanya perlu menunjukkan kapasitasnya sebagai ‘payung’ yang menaungi semua club sepakbola di sana…menjatuhkan hukuman setimpal pada ‘dia yang namanya menjijikkan untuk disebut’ beserta antek-antek dan kroni-kroninya.

Mau merayu Juventus dengan cara menjadikan J-Stadium sebagai venue di laga-laga persahabatan Azurri? Laga persahabatan itu justru akan merusak fasilitas stadion kami..bangku penonton bisa jadi rusak, toilet tidak bersih, sampah dimana-mana, dan yaa..justru semakin menambah biaya operasional sewa stadion. Putusan banding yang slealu ditunda pun sebenarnya cukup memakan biaya.

Daripada begitu, bukankah jauh lebih baik untuk membayarkan saja kompensasi yang diminta Juve atas ‘kesalahpahaman’ di sembilan tahun lalu?

Silahkan saja bernegosiasi, tapi Agnelli pastilah sudah geram setengah mati. Memutus kontrak sebagai sponsor FIGC adalah langkah manis untuk membuat mereka sadar akan ketidakadilan yang Juve terima. Semoga saja di 15 Juli 2015 mendatang, keputusan sidang sudah mencapai akhirnya.

Dimanapun, Mengajar itu Sama

Orang-orang yang hidup di ujung-ujung negeri, selalu saja beranggapan bahwa menjadi tenaga pendidik di tengah kota jauh lebih beruntung dari pada mereka yang mengajar di hutan belantara. Alasannya karena arus informasi bisa berlangsung lebih cepat…gaji yang rutin setiap waktu… ada tunjangan ini itu… bisa melihat pergerakan kemajuan zaman.

Ahh…hanya sebuah perspektif dari mereka yang terlalu lama hidup di daerah.

Padahal sama saja. Tak ada beda antara pendidik di daerah dengan pendidik kota. Kalau ingin mendapatkan uang dengan cepat, jadilah koruptor..jangan jadi tentor.

Gaji lebih besar karena mereka yang di kota punya pengeluaran lebih dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Harus membeli bahan bakar elpiji untuk memasak… Kalau di kota masih ada lahan kayu bakar, mungkin saja tak ada tabung gas ijo dan biru yang diperjualbelikan.

Mau membandingkan dari perjuangan pendidik yang harus mengayuh sepeda melewati rawa dan bukit untuk sampai ke tempatnya bertugas? Di kota banyak jalan raya, kawan. Jalan raya itu tak kalah seramnya dari hutan rimba. Tidak jauh berbahaya pula dari sebuah rawa.

Di hutan mungkin ada macan, jalan raya punya banyak pengendara liar yang pengemudinya sibuk main henpon. Jika di rawa ada buaya, di jalan raya ada balapan bus kota. Resiko kecelakaan dan kematiannya sama!

Mau menjadikan model siswa sebagai perbandingan?

Pendidik di daerah harus sabar dengan sikap siswa yang enggan belajar karena lebih suka mencari kayu bakar, namun  pengajar di kota juga harus bersabar dengan kelakuan siswanya yang datang ke tempat belajar hanya untuk show off.

Bagaimana mungkin pendidik yang hidup di kota dikatakan lebih beruntung daripada mereka yang di daerah? Sama saja, kawan. Yang membedakan adalah bagaimana cara mereka mentransfer ilmu serta kemauan setiap individu untuk terus mengajar atau tidak. Oleh karena itulah, mengajar dimanapun tidaklah berbeda. Sama-sama membagi pengetahuan pada generasi penerus.

Ketika On Time Dipersoalkan

Risih rasanya ketika seorang penjaga gedung menuturkan pernyataan

“Ngapain mbak datang jam segini? Ngajarnya jam berapa coba? Emangnya situ udah jadi pegawai beneran di sini?”

yang kemudian diikuti gerundelan dan bisik-bisiknya  dengan beberapa pekerja di sana.

Sebuah kalimat yang menyiratkan bahwa mindset-nya terpaku pada pegawai kontraklah yang harusnya datang sebelum jam mengajar.

Saya hanya menimpali dengan senyuman…tapi membatin..

“Hei Boy… saya lebih suka datang lebih awal daripada harus terlambat.”

Mau dikontrak atau tidak, saya tak suka dengan keterlambatan. Harusnya protes itu tidak ditujkan pada saya. Kenapa kalimat sarkasmenya tidak dituturkan saja pada pekerja yang harusnya datang jam 12.00, tetapi justru menampakkan batang hidungnya pukul 14.00 ?

Saya terbiasa untuk on time, jadi jika benar-benar tak ada halangan untuk terlambat maka saya akan berada di sana tepat waktu. Mau dibilang lebay karena datang terlalu awalpun saya tak peduli, toh kedatangan awal saya tidak menyusahkan mereka. Saya datang tanpa minta dijemput. Tanpa meminta ongkos kendaraan umum.

Tak perlulah mengatur-ngatur saya untuk datang pukul berapa atau menyuruh-nyuruh saya untuk pindah tempat tinggal supaya saya lebih dekat dengan tempat kerja, sehingga tak perlu berangkat terlalu awal. Mau saya tinggal di antariksa pun jika saya bisa menyelesaikan setiap kewajiban mengajar tak masalah bukan? Tepat waktu untuk datang ke tempat kerja bukan karena dikontrak atau tidak, melainkan karena kebiasaan.

Jika saya menceritakan bagaimana si penjaga gedung itu ‘menasehati’ saya pada beberapa orang (include my boyfriend-perhaps), mereka pasti menuturkan ;

“Mungkin dia hanya mengemukakan pendapat. Biarkan saja”

Ahh..berpendapat… hidup saya bukan ajang musyawarah yang bisa menampung pendapat siapapun. Know before you judge, dude!

Ya..mungkin si penjaga gedung itu hanyalah salah satu wujud buramnya warna dunia kerja di Indonesia. Ada saja persoalan aneh yang seharusnya tak perlu diributkan, termasuk kebiasaan tepat waktu.

Tak perlu terlalu diambil pening pula, toh dia bukan siapa-siapa… hanya sosok yang mungkin begitu peduli dengan saya.