I Can Be Anything

Sometimes I wondered what Iโ€™d be when I grew up
And then I remembered it was anything I dreamed of
I could be a poet or be a singer
I can be a scientis……

lagu dari David Archuletta di atas sering kali๏ปฟ saya dendangkan, bahkan nyaris tiap hari, terutama saat saya merasa bingung mengapa saya ada di tempat ini. Alur cerita keberadaan saya menuntut ilmu di kampus saya sekarang memang sangat panjang dan cukup rumit. Bahkan sangat di luar dugaan. Dan ini semua gara-gara Herdia (awas koen, Hek!!!! ๐Ÿ˜‰ ). Tapi percuma saja menyesali,menangisi, ataupun me me yang lain karena toh saya sudah berada di ujung pendidikan saya. Saya sudah di kampus ini hampir empat tahun, jadi untuk apa menyesali? yang bisa saya lakukan adalah do the best and keep fight!

Tetangga saya, teman ibu saya, budhe saya, embah saya, sepupu saya, dan bahkan tukang sayur di rumah saya kerap kali menanyakan

“mbaknya kan kuliah Biologi, nanti kalo lulus jadi apa itu?”

Hah!!! Jadi apa? Ya gak jadi apa-apa lah. Kalo setelah lulus nanti saya gak kerja apa-apa ya saya gak jadi apa-apa! Bedanya hanya nambah S.Si. aja. Tapi buat apa coba? Apa dengan kata S.Si itu saya tiba-tiba bisa jadi Duta Besar Indonesia untuk Italia gitu?!! (Bisa gak ya kayak gitu ๐Ÿ™‚ AMIN aja lah..siapa tahu bisa! AMINNNNN ). Saya gak akan jadi apa-apa setelah lulus kalo saya gak berbuat apa-apa. Mahasiswa Biologi hanyalah sebuah status dimana saya menimba ilmu, tetapi status itu bukanlah sebuah patokan mengenai Saya ingin dan akan menjadi apa karena yang menunjukkan siapa Saya bukanlah kemampuan Saya, tetapi pilihan Saya (weiiisssss….guaya rekkk ๐Ÿ˜‰ ).

Gak cuma saya, hal itupun berlaku untuk semua orang yang sedang kuliah! Gak mestilah kuliah di kedokteran terus lulus-lulus jadi dokter…..Kalo setelah lulus kuliah kedokteran tiba-tiba pengen buka usaha terus usahanya berkembang pesat, dan mungkin lebih mendatangkan omset gede daripada buka praktek..mending jadi pengusaha kan?? Saya boleh dong bilang kalo setelah lulus kuliah bulan agustus mendatang (AMIN ๐Ÿ˜‰ ) saya mau jadi fotografer kerajaan Inggris!!! Saya juga boleh dong ngomong kalo saya pengen jadi reporter CNN atau VOA?!! Gak ada yang gak mungkin kan?

Jadi, untuk teman-teman yang merasa terbebani dengan pertanyaan pragmatis orang-orang sekitar… Forget it!!! Kenapa harus bingung mau menjadi apa setelah lulus kuliah? Kuliah matematika gak harus jadi guru Matematika, bisa kok jadi guru TK kalo mau. Terus faedah kita kuliah apa dong kalo gak nyambung sama pekerjaan kita kelak? Kuliah itu banyak kok manfaatnya. Sekalipun bukan pilihan dari hati kita yang terdalam, setidaknya kita bisa menambah fren list alias kawan alias koneksi kan? Terus kita juga dapat banyak ilmu. Dan ilmu itu tidak hanya materi-materi yang dosen sampaikan di kelas, tetapi juga mengenal lebih banyak karakter manusia. Dan dari situ kita bisa belajar untuk menjadi lebih baik lagi..

Come’on.. dunia punya banyak warna dan sayang sekali jika kita melewatkannya dengan penyesalan… We could be anything that we want!! ๐Ÿ™‚

Sinetron ala Indonesia

Pusing sekali kepala saya, bukan migrant yang seperti biasa. Tapi kepala kleyengan muter-muter dan tidak bisa berfikir. Semua pemberitaan saat ini sangat membosankan. Penting memang mengetahui kondisi aktual dalam negeri, tetapi gak penting juga kalo ternyata setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setip pekan, setiap bulan, sepanjang tahun selama beberapa tahun belakang ini masalah yang diberitakan selalu sama. Mungkin hanya beda pemeran utama saja, tetapi kisahnya tak jauh berbeda.

Waktu saya stay turn di stasiun TV A beritanya Hari ini polisi korupsi. Besoknya anggota dewan korupsi. Terus lusa orang KPK korupsi (nah lho… KPK kok jadi ikutan korupsi). Jangan-jangan tukang sayur yang suka lewat depan kos saya juga korup!!!! Karena bosen saya pindah channel ke TV Z untuk cari kisah yang berbeda. Dan hasilnya โ€œtak ada!!!!!โ€ Sama saja. Yang membuat beda hanya alur ceritanya. Kalo yang di stasiun TV A diawali dari teroris, di Stasiun TV Z diawali dari pembayaran pajak. Tapi ending-endingnya tetap saja korupsi… upssss…salah..bukan ending, tapi inti ceritanya karena dari semua sinetron itu belum ada kejelasan ending. Semuanya antiklimaks dan membuat penonton yang sebagian besar rakyat jelata seperti saya semakin bingung. Mau mikirin juga masih harus mikirin harga-harga sembako yang terus naik seenak jidat mereka atau seperti saya yang masih harus memikirkan TA yang belum juga selesai, jadinya kami hanya bisa menonton dan melontarkan argument atau cacian sopan pada kotak segiempat berwarna dan bersemut (di kosan saya sih ๐Ÿ™‚ ) dan kalau sudah tidak tahu apa yang harus dikatakan dipencetlah tombol berwarna merah pada remote control lalu cuci muka dan tidur. Selesai sudah.

Tapi kemudian saya menemukan channel yang menyajikan kisah berbeda. Ternyata TV T memiliki gaya tersendiri dalam menyajikan kisah 1001 malan negeri ini. Kisahnya bukan tentang korupsi!!! Asiikkkk…mantap dah!! Sambil minum kopi hangat plus air putih saya pelototin si layar kotak segiempat. Dan kemudian si news presenternya pun berkata;

โ€œDari Surabaya, Jawa Timur, diketahui seorang mahasiswa dari Universitas Ternama mengalami gangguan jiwa dan berniat membunuh dosennya. Mahasiswa tersebut diindikasikan terlalu stress karena tengah mengalami tekanan yang kabarnya berasal dari studi yang dijalaninya. Menurut teman dekatnya, mahasiswa yang berinisial โ€˜Mโ€™ tersebut kerap kali diperlakukan tidak baik oleh...โ€

AAAAAAAAAAAAAAAAAAA………………ganti-ganti!!! Beritanya memang beda, tapi menakutkan…Hiiiiii.. ๐Ÿ˜‰

Lalu, pindahlah saya ke TV S. Di stasiun TV ini saya mendapati berita bahwa presiden merasa dipecundangi oleh bawahannya karena selama beliau menjabat sebagai Presiden, sangat sedikit sekali proyek-proyek daerah yang terealisasikan dan kesejahteraan masyarakat masih berada di garis kemiskinan (untung tidak di bawah garis kemiskinan). Waduh… kalo Pak Presiden saja merasa dipecundangi, bagaimana dengan saya? Bagaimana dengan rakyat jelata lainnya? Berarti selama tujuh tahun terakhir ini semua yang terjadi di negeri ini hanya kisah fiktif dong?? Hanya sebuah sinetron gitu?

Aiiii… saya benar-benar tak habis pikir. Mengapa stasiun TV di negeri ini menyuguhkan kisah yang serupa pada pemirsanya? Mengapa negeri ini suka sekali menyajikan kisah yang sama pada rakyatnya? Korupsi, Gila, Pembunuhan, ataupun Ekonomi lemah memang merupakan rangkaian huruf yang berbeda. Akan tetapi, inti cerita dari semuanya tidaklah berbeda. Korupsi terjadi jelas karena uang. Gila pun terjadi karena memikirkan uang. Pembunuhan? Bisa berawal dari uang. Ekonomi lemah, jelas karena tidak ada yang namanya uang!! Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya jelas butuh uang. Ujung-ujungnya saya jadi tambah pusing.

Kalau episode korupsi belum juga menemukan endingnya, saya sarankan pada โ€˜sutradaraโ€™ untuk mengganti jalan ceritanya. Misalnya dengan menghapuskan pajak. Nah..kalo rakyat tidak usah bayar pajak, kan gak ada tu kantor pelayanan pajak dan pasti gak akan ada penyalahgunaan pajak negara yang artinya tak ada korupsi pajak. Selain sinetron korupsi TAMAT, rakyat juga gak perlu menyisihkan penghasilannya yang sudah seret untuk bayar pajak dan saya gak usah takut-takut masuk resto keren yang di daftar menunya biasa tertulis โ€˜Harga Belum Termasuk PPNโ€™ ๐Ÿ˜‰ . Simple kan… itu sih menurut pemikiran dangkal saya saja. Tapi, kalo si sutradara punya cara lain yang lebih bagus dan jitu ya segeralah dilakukan syutingnya supaya sinetron ini cepat selesai.

Terus cerita orang gila dan percobaan pembunuhan gimana ngerubah skenarionya? Gampang mah itu… kalo TA sudah selesai, penyakit gilanya pasti hilang. Dan gak mungkin ada pembunuhan, karena saya rasa mahasiswa tersebut cukup pandai untuk berfikir ke depan dan menyadari bahwa dia lebih baik jalan-jalan poto-poto jika stress memikirkan TA nya daripada membunuh dosen…jadi cerita di TV T tadi itu hanya sekedar gosip. Bumbu penyedap acara TV belaka.

Sedangkan kisah ekonomi lemah bisa digantikan dengan cara hemat!! Banyak cara sebenarnya dan hemat adalah salah satunya. Buat pemerintah, gak usahlah berbondong-bondong pergi ke Luar Negeri untuk melakukan kunjungan kenegaraan. Biar Pak Presiden aja yang pergi. Ngapain juga semua menteri beserta istri dan anaknya atau mungkin orang tua dan mertuanya ikut lawatan negara…. ngapain coba?? Kalo mau ke luar negeri ya pake budget sendiri dong, jangan nebeng Pak Presiden saya!!! Buat para jutawan atau yang hobby jalan-jalan.. gak perlulah keliling dunia seminggu sekali. Ok.. bolehlah keliling dunia (karena saya juga mau), tapi kalo cuma sekedar potong kuku gak perlu sampe terbang ke Aussie kan? Kenapa gak ke supermarket atau swalayan saja untuk membeli potongan kuku terus potong kuku saja di rumah…. keluar biayanya paling banter 5 ribu rupiah. Jalan-jalan puter-puter Indonesia juga asik kok. Ada jogja, ada Bromo, ada Bunaken, Ada Danau Toba, Ada Kuta, ada Sanur, Ada Raja Ampat, dan ada macem-macem. Bule-bule aja doyan datang ke Indonesia. Masa mereka rame-rame ke Indonesia terus kita malah pergi ke tempat mereka? Ibaratnya kan kita ninggalin rumah dan menyerahkannya pada orang lain. Kalo niat bulenya baik sih OK, tapi kalo niatnya mau melakukan bioinvasi gimana? Kita bisa kehilangan rumah… bukan tukeran rumah sama si bule. Makanya, jangan sering-sering jalan ke luar negeri , stay at home!! Hematlah pokoknya!!

Ya Tuhan, semoga sinetron ini cepat menemukan episode terakhirnya. Saya yakin bahwa pasti ada ending dari sebuah drama. Pasti. Entah merah, putih, kuning, ataupun kelabu, pasti ada warna dari semua kisah, tak terkecuali sinetron di Bumi Pertiwi ini karena saya betul-betul bosan pada cerita dan kisah-kisah di TV saat ini.

ย 

ย 

Tak Perlu Menjadi Bodoh Jika Kita Tidak

Saya pernah mengatakan bahwa menjadi bodoh itu terkadang lebih baik daripada menjadi orang yang sok tahu atau ngeyel. Bener 100%. Orang-orang bodoh di luar sana banyak yang punya rumah bernilai ratusan juta. Orang-orang bodoh di luar sana banyak yang punya mobil mewah. Orang-orang bodoh di luar sana pun banyak yang punya timbunan uang di Bank. Dan saya menyimpulkan orang bodoh itu lebih sering dihampiri Dewi Fortuna.

Tapi gimana ceritanya kalo kita gak bodoh? Pura-pura aja jadi bodoh. Pura-pura gak tahu. Dan pura-pura lemot.com. Mungkin bisa mendapatkan apa yang orang bodoh dapatkan. Itulah masalahnya. Kalo saya pintar, kenapa saya harus pura-pura bodoh? Kalo kita bisa, kenapa harus pura-pura tidak bisa? Kenapa kita senang dikatakan bodoh? ๐Ÿ˜ฆ

Semester ini betul-betul penuh ujian dan aral melintang untuk sebuah Final Project. Perlu diingat bahwa beda TA, beda pula masalah yang dihadapi. Masalah saya adalah saya harus berhadapan dengan manusia, Subjek Tuhan yang paling rumit dan menyebalkan. Hanya gara-gara Nicotiana tabacum, saya menjadi terkenal. Tidak hanya di kampus, tetapi mungkin juga di luar. Hiiiiaaaa…. berasa artis deh!! . Ceritanya pannjaaaannngggg… tapi intinya saya telah menjadi terkenal di suatu populasi yang ada di dalam salah satu perusahana terbesar di negeri ini.

Tiga minggu lalu saya dibilang tidak punya sopan santun. Minggu ini saya dibilang gak punya tata krama. Mungkin minggu depan saya dibilang tidak punya otak!!!!!

Hubungannya sama orang bodoh apa ????

Si Nicky itu tak kunjung saya dapatkan. Manusia yang saya mintai tolong itu sama sekali tidak membantu. Tidak menolong. Saat saya menghubunginya melalui SMS, dia malah menyebarluaskan SMS saya itu ke salah satu adik tinggkat saya. Dan adik tingkat saya menceritakan hal itu pada salah satu teman angkatan saya. Dan teman angkatan saya itu menceritakan pada saya. Mbuletttttt ae!!!

Saya sih tidak tahu pasti apa yang Jerk People itu ceritakan pada adik tinggkat saya, tapi sepertinya saya sudah di blacklist. Adik tingkat saya itu disuruh menyampaikan pesan supaya saya tidak mengirim SMS jika butuh bantuan, tapi langsung telpon. Dan karena saya SMS itulah saya dibilang gak tahu adat!! Busyet dah!!

Saya bukannya gak mau telpon, tapi kan ada orang yang gak mau ngangkat telpon dari nomor yang gak dikenal. Makanya saya kirim SMS dulu dan isi SMS itu gak macem-macem kok. Cuma sekedar introduction singkat. Saya SMS nya formal dan gak pake icon kedip-kedip juga!!

Dan kata teman saya kalo saya telpon si manusia edan itu saya diharuskan bersikap kalem aja. Sok gak ngerti apa-apa. Jadi bersikap lugu aja!! LuGu?? Lucu dan Guobbllokkkk???

Saya akui bahwa saya butuh orang itu. Tapi bukan berarti saya harus menerima semua caci makinya kan?!! Saya tidak harus tunduk dan patuh padanya layaknya abdi dhalem keraton Jogja dan dia juga bukan Sultan!!! Saya bukan orang bodoh yang harus mengikuti semua aturannya. Saya tidak mau berpura-pura bodoh hanya untuk sebuah tembakau ๐Ÿ˜ฆ

Hari ini dia mengatakan โ€œSopo koen, aku gak butuh awakmuโ€ karena saya tidak bersikap seperti teman-teman atau orang lain padanya. Saya cuma mengucapkan terimakasih sebelum menutup telpon dan istighfar setelahnya.

Sabar…… Orang sabar itu beruntung.

Dan saya rasa saya benar karena dua jam setelah hinaan ini saya mendapatkan SMS dari senior saya dimana dia mengatakan bahwa dia mau membantu saya (perlu waktu tersendiri untuk menceritakan senior saya ini).

Alhamdulillah ya, Insya Allah… saya sudah mendapakan objek penelitian untuk TA ini ๐Ÿ™‚

Terkadang menjadi orang bodoh memang mendapatkan kehidupan yang lebih menyenangkan dan tanpa beban. Namun, saya yakin dengan pasti bahwa menjadi orang pintar itu jauh lebih terhormat. Meskipun lebih banyak mendapatkan ujian. Meskipun lebih banyak dicerca. Meskipun lebih banyak dihina dina. Pasti masihย  banyak yang lebih memilih menjadi orang pintar dibandingkan orang bodoh. Sama seperti seorang Presiden. Meskipun banyak dihujat rakyat. Ditelikung oleh partai oposisi. Dijadikan sasaran teroris. Tapi saya saya yakin jika pilihanya antara Presiden dan Tukang Becak… Siapa yang menolak menjadi Presiden?

P.S: Pintar itu tidak harus ditandai dengan rentetan piala atau piagam penghargaan atau IPK 100 atau gelar atau jabatan atau pangkat atau gaji tinggi. Pintar itu seperti Oryza sativa yang semakin berisi semakin merunduk dan seperti Cocos nucifera yang semua bagian tubuhnya dapat bermanfaat untuk sekitar.

Tidur 15 Jam = Males

Setelah melanglang buana bersama Ais, Ucha, Nicha, dan Ismi selama 12 jam mengitari kota Malang akhirnya tepar selama 15 jam!!! Sampe Kosan jam 10.30 malam terus mandi, shalat, dan bersih-bersih isitas , abis itu tidurlah saya. Jam lima tadi sempat bangun buat shalat shubuh, tapi langsung tidur lagi…. dan baru bangun jam dua siang ini :).

Gagal lah rencana preparation ngelab hari ini. Padahal jam 10.00 tadi saya berniat untuk ngelab bentar. Nyuci-nyuci alat atau sekedar ngencerin bahan.

Ya… tapi apa daya tubuh saya terlalu lemah dan saraf pusat saya tak mampu mengontrol mata, jadilah saya terlelap dan bangun-bangun kosan sudah sepi. Bangun-bangun, badan saya jadi pegel semua. Gak ada migran sih, tapi rasanya gak enak. Mau ngapa-ngapain lemes. Otak jadi gak bisa kepake.

Ya Tuhan, jangan-jangan otak saya memang sudah tak bisa diharapkan lagi!!!! AAAAAAAAAAAA…. Salah saya. Semua salah saya. Kenapa coba saya tidak bisa melawan males sampe-sampe tidur selama 15 jam penuh, padahal ini bukan hari libur :(.

Sekarang saya cuma bisa duduk di depan si Dellpie sambil ngetik-ngetik gak jelas….

Ganti Status, Gan!!!

Pagi-pagi buka yahoo, lihat up date status teman-teman.. Dan semua status yang saya temukan berkisah tentang air mata. Semuanya mengeluh. Dan membuat saya yang tadinya ingat mencari semangat malah tertular lemes.

Karena berniat menjalani Selasa pahing ini dengan Ok, saya pun membuka FB untuk melihat kelucuan komen kawan-kawan FB saya. Dan hasilnya? NIHIL!!!

Kenapa status teman-teman saya sedih-sedihan semua? Kenapa gak bikin status yang seneng-seneng atau quotes yang bikin semangat? Atau setidaknya yang lucu-lucu gitu!! Masa semuanya bersedih?

Ok, mungkin mereka sedang ada masalah. Mungkin kawan-kawan saya stress menghadapi tugas kuliah, kerjaan yang menumpuk, biaya hidup yang semakin besar, atau masalah keluarga yang tak bisa diselesaikan. Tapi, haruskah di tuliskan di status FB atau jejaring sosial setiap saat??

Saya juga stres mikirin TA. Saya juga punya masalah mikirin biaya hidup. Sayapun punya masalah keluarga yang gak selesai-selesai. Tapi tidak usahlah meng- up date status sedih setiap satu detik sekali. Berlebihan itu namanya ๐Ÿ˜ฆ

Bukan hak saya memang untuk mengatur kalian mau menuliskan status apa, tapi kan gak perlulah tiap menit, dalam satu jam, dalam satu hari, selama seminggu membuat status yang isinya keputusasaan.ย Come on, guys….. life is short!! Jangan buang waktu untuk bikin status sedih sepanjang hari!!!

Buat yang sedih karena diputusin pacar, cari aja pacar baru. Buat yang nangis karena gak dapat kerja (seperti saya), buat aja kerjaan sendiri. Buat yang bete’ karena gak punya uang lebih (seperti saya), ya sudah terima saja :). Buat yang stres karena TA atau Skripsi (seperti saya lagi), jangan putus asa dong… Ayo semangat!!!!!

Hilangkan SEDIH dari status FB, YM, TWITTER, atau situs-situs pertemanan kalian lainnya….

Belajar Itu Bisa Untuk Bertahan Hidup

“Seekor serangga menggunakan daun suatu tumbuhan sebagai makanannya. Lama-kelamaan, ketika serangga mulai memantapkan eksistensinya di dunia ini, si tumbuhan merasa hidupnya terancam. Tentu saja karena daun-daun mereka disantap oleh serangga sedangkan tumbuhan sendiri membutuhkan daunnya untuk tetap hidup yang tentunya sebagai tempat fotosintesis (tanya mbah google kalo gak tahu pentingnya fotosintesis buat tumbuhan!!!). Kemudian tumbuhan mulai mengeksplore kemampuan dirinya untuk menjaga daun pada tubuhnya. Caranya adalah dengan membentuk senyawa yang rasanya pahit, sehingga serangga tak lagi memakan daun tersebut. Amanlah hidup tumbuhan. Lalu bagaimana dengan serangga? Lama-kelamaan seranggapun merubah pola makannya dengan memanfaatkan tumbuhan lain yang tidak terasa pahit. Sehingga di sini dapat dikatakan baik serangga maupun tumbuhan melakukan suatu perubahan pada diri mereka secara bersamaan atau bahasa kerennya koevolusi untuk tetap bertahan hidup. Dan perubahan tersebut tidak terjadi secara dadakan atau tiba-tiba. Semuanya butuh proses dan proses itu adalah belajar.”

Dari kisah hidup serangga dan tumbuhan itu saya tahu bahwa untuk bertahan hidup sangat dibutuhkan belajar. Belajar di sini bukan berarti hanya duduk di perpustakaan sambil membaca textbook setebal 50000 halaman plus alunan musik klasik. No Way!!! Belajar untuk bertahan hidup dapat dilakukan dengan berbagai cara. Dan belajar itupun tak hanya dilakukan satu-dua kali. Ratusan kali.. bahkan mungkin sampai jutaan kali supaya terjadi perubahan pada hidup.

Saya ingin seperti serangga di atas, yang mampu belajar untuk mengetahui mana daun yang pahit serta yang manis. Belajar mengetahui mana yang baik dan yang buruk. Saya pun ingin menjadi seperti tumbuhan. Meskipun bersifat statis atau tak dapat bergerak kesana-kemari layaknya serangga, tumbuhan mampu menggunakan kemampuan fisiologisnya untuk bertahan dari pesta pora serangga. Walaupun butuh waktu berpuluh-puluh tahun untuk berubah, mereka tetap belajar dan belajar karena mereka ingin terus hidup di dunia ini.

Lama dan tidak mudah memang, tetapi setidaknya mereka belajar. Jika mereka saja bisa bertahan hidup dengan belajar, maka saya pun pasti bisa. Belajarlah hingga ke negeri Pizza (upssss… China sih ๐Ÿ™‚ Tapi saya maunya ke negeri Pizza, jadi terserah saya dong). Reguk ilmu setinggi langit-langit rumah, supaya bisa kita gapai… setelah itu barulah setinggi langit Tuhan :). Saya yakin, dengan belajar apapun yang kita inginkan pasti terwujud. Belajar itu adalah usaha, dan Tuhan tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha hambaNya. Let’s Study!!

Just The way You Are

Orang sering kali mengeluh (termasuk saya) tentang betapa sulitnya hidup ini. Mengeluhkan betapa beratnya masalah yang mereka hadapi. Menangis, mengadu, bahkan ada yang mencoba bunuh diri. Alasan klasiknya adalah merasa hidup masing-masing jauh lebih berat daripada yang lain.

Pikiran bahwa Tuhan tidak adil itu kerap kali muncul di otak saya. Sangat sering. Tapi bedanya saya gak nangis-nangis atau ngadu atau bunuh diri. Karena saya sudah cukup jelek tanpa harus menangis. Saya tak punya kemampuan berbicara pada orang untuk mengadu dan saya tak punya keberanian untuk bunuh diri.

Jadi setiap kali saya dicaci maki, setiap kali saya ditertawakan, setiap kali saya gagal, dan setiap kali saya merasa tertekan atau merasa bad mood atau sedih atau apapun yang gak enak maka saya akan tertawa dan melakukan apapun yang saya suka. Mentok-mentok pake earphone untuk dengerin mp3 keras-keras sembari memejamkan mata!

Dengan tertawa saya jadi lebih sadar bahwa hidup itu terlalu berharga untuk ditangisi. Hidup terlalu singkat untuk disia-siakan. Dan saya pun tahu bahwa semua kemurungan dan rasa sedih atau apapun tadi yang bikin air mata keluar, hanya akan membuat sakit, membuat pikiran jelek, bikin mangkel dan bikin nambah kerutan di muka.

Dan sebenarnya semua yang jelek-jelek itu dikarenakan kita tidak mau mensyukuri diri sendiri, tidak menjadi diri sendiri. Hidup seperti bunglon. Hahhh…. untuk apa coba terlihat sempurna untuk orang lain? Untuk apa berusaha supaya mendapatkan pengakuan dari orang? Untuk apa menjadi orang lain kalau toh diri kita sudah sangat baik di mata Tuhan. Every creature is better alive than dead.

So, come on guys….. Take it easy!! Ndak usah terlalu menyesali diri sendiri. Ndak usah sedih-sedihan lah. Boleh sedih atau nangis kepiyer, tapi jangan terlalu meratapi diri sendiri.

Saya sudah sangat bosan membaca status FB atau twittter kalian yang isinya cuma sedih, nangis, kesel, dan capek.

Mulai sekarang…. Kalo kita bikin salah, buat kesalahan itu sebagai batu loncatan utuk kesempatan berikutnya. Percaya deh, kesempatan itu gak hanya datang sekali. Kalo kita bentul-betul mau nyari, kesempatan itu selalu di kasih sama Yang Di Atas.

Untuk dihargai orang lain tidak harus menjadi orang lain karena saya yakin masih ada orang (semoga masih banyak) yang menghargai kita karena diri kita sendiri, bukan karena kita menjadi orang lain. Nikmati sajalah hidup, karena di dunia ini masih banyak warna yang harus kita lihat.

Cauze your amazingThat’s the way you are!!!!

Be Good Girl

My Mom: “Me, nanti jam 1 ibu ke Surabaya”

Saya: “Ha… yang bener? Naik apa, Mi?”

My Mom: “Naik bis, ndoll… numpak opo mane? La wong ndadak kok”

Saya: “kok ndadak? Mau jalan-jalan ta?”

My Mom: “Mau lihat adikmu itu loh… kan abis jatuh!”

Saya: “ooooooo…”

Percakapan itu terjadi kemarin malam antara saya dan ibu saya. Dan hari ini beliau menepati janjinya untuk datang ke Surabaya. Orang tua saya datang dari kampung…berangkat dini hari dengan menggunakan bis umum. Pikiran awal saya adalah sebegitu niatnya mereka untuk datang ke Surabaya menemui putrinya, saya. Namun, ternyata saya yang terlalu GeEr……. Mereka datang bukan untuk saya, melainkan untuk melihat kondisi adik saya yang baru saja jatuh dari tangga (ciri-ciri anak ‘pendiam’ ๐Ÿ˜‰ ). Ya… nasib-nasib. Memang beginilah resiko anak buangan. Hati saya sudah melambung tinggi karena kedatangan orang tua yang ternyata tidak datang untuk saya :(. OK Ok… tak masalah. Untuk apa dan siapa pun mereka datang, saya sudah sangat senang karena bisa melihat mereka. Rasanya baru saja tiga minggu lalu saya pulang kampung, tapi toh saya tetap merindukan mereka sehingga kedatangan mereka hari ini sedikit mengobatai kerinduan saya (jiiiaaaahhhhhh) :).

Ada untunggnya juga adik saya jatuh dari tangga, saya jadi bisa bersua dengan orang tua saya. Sembari menunggu dia yang di scanner atau foto ronsen atau apalah.. seperti biasa saya poto-poto dong ;). Poto sama mak dan bapak saya tentunya.

Sayangnya kondisi adik saya tidak terlalu parah, jadinya tidak perlu terlalu lama di rumah sakit dan jadinya orang tua saya juga tidak lama di Surabayanya. Mungkin besok atau lusa sudah balik kampung :(. Huhhh…. coba saja kondisi adik saya sedikit lebih parah… pasti mereka di sininya lebih lama (hehehehehee….just kidding!!).

Saya cemburu pada adik saya. Saya iri padanya. Saya jelous padanya. Saya benar-benar benci karena demi dia orang tua saya mau datang ke Surabaya. Hanya untuk melihat kondisinya. Setidaknya sudah dua kali mereka datang ke Surabaya hanya untuk adik saya. Bukan untuk saya. Apakah mereka akan seperti itu jika sesuatu yang buruk ,seperti jatuh dari tangga, terjadi pada saya? Haruskah saya membuat masalah supaya mereka datang khusus untuk saya?? Haruskah?? Pertanyaan itu kerap kali ada di pikiran saya. Dan saya pun menjawab “TOLOL”.

Untuk apa saya membuat masalah supaya mereka datang mengunjungi saya? Mengapa pula saya ingin celaka supaya disambangi orang tua dari kampung? Benar-benar TOLOL!! Kalo saya membuat masalah, yang ada saya malah membuat mereka malu. Dan kalo saya celaka, mereka akan cemas. Dan saya tidak ingin membuat mereka malu ataupun cemas. TIDAK. Jadi, untuk apa saya iri pada adik saya? Untuk apa coba saya cemburu padanya? TOLOL.

Justru saya bersyukur bahwa setidaknya sampai saat ini saya tak harus membuat masalah ataupun celaka supaya orang tua saya datang dari kampung ke kota. Itu berarti saya bisa menjaga amanah mereka kan?? Lagipula saya sudah cukup senang melihat mereka, tak peduli mereka datang untuk siapa dan karena apa.. saya tetap senang masih bisa melihat mereka. I love that because what more is that?

Saya juga sudah cukup umur untuk mengerti bahwa mereka sayang pada saya. Meskipun kata itu tak pernah terlontar, saya tahu bahwa tak ada orang tua yang tak sayang pada anaknya. Jadi meskipun mereka datang untuk adik saya, bukan berarti mereka tak ingin bertemu saya. Meskipun tak pernah terungkap, saya sudah cukup mengerti melalui sikap mereka… Apa saya yang ke GeEran yaaa????? hahahahahahahahahaaa….. Gaklah…. di sinetron-sinetron aja gak ada orang tua yang benci sama anaknya. Macan aja luluh sama babynya. Jadi tak mungkinglah orang tua saya bersikap lebih buruk daripada macan.

Suatu saat (sebentar lagi) mereka akan datang untuk saya, Hanya untuk saya. Bukan karena saya membuat masalah… Bukan pula karena saya celaka, melainkan karena saya memakai toga di hari kelulusan saya (Insya Allah, Amin ๐Ÿ™‚ ).

Kemana Kau Bawa Aku Berlayar?

Tuhan, kemana Kau bawa aku berlayar?

Bahteraku terlampau limbung..tak terkendali

Aku menunggu dan menunggu…hanya menunggu

Bertopengkan diam bertemankan harap kuhabiskan waktuku

Tidak untuk menghabiskan waktu dengan mematuk diri di depan kaca memang

Namun, tetap tak terkendali dan membisu

Sikap ini seolah-olah tak peduli, tapi sebenarnya takut

Cara ini seakan-akan kekuatan, tapi sebenarnya palsu

Hanya sebuah pertahanan diri yang sederhana

Kemana Kau bawa aku berlayar, Tuhan?

inginku menyebrangi Atlantik, namun aku hanya berada di pusaran laut Jawa

Adakah dia yang di sana turut menunggu?

Atau bahkan dia tak kenal aku… Tak sadar bahwa aku menunggunya..

Aku ingin menemuinya… aku ingin berada di sisi kanan Atlantik

Benar-benar ingin

Dapatkah Kau katakan padaku… kemana Kau bawa aku berlayar, Tuhan?

By meirina Posted in Poetry

Negeri vs Swasta

Perjalanan hari ini begitu ‘menyenangkan’.

Pertama, Saya dan Liza harus menunggu di pos satpam selama 45 menit hanya untuk bertemu seseorang yang “sangat menyenangkan”. Kemudian saat bertemu dengannya (she) saya pun mendapatkan perlakuan yang begitu “menyenangkan”!!!

She is so Jerk!!!! Saya rasa tidur malam saya tidak diiringi mimpi buruk, jadi mengapa saya harus bertemu dengan orang yang menyebalkan seperti itu??!!! Saya tidak akan mengatakan siapa dia dan bagaimana wajahnya karena sekarangpun saya sudah melupakan wajahnya dan siapa namanya!!! Yang saya harapkan adalah tak ada lagi orang sepertinya. Dan semoga sikap dia bisa berubah sehingga nantinya orang, kerabat, kawan, ataupun kenalan saya yang bertemu dengannya tidak lagi mendapatkan perlakuan seperti saya hari ini.

Meskipun tidak ada informasi baru dan penting yang saya dapatkan, saya tetap berfikir positifย  sehingga di tengah-tengah kekesalan otak saya masih sempat berpikir jernih untuk mengabadikan kunjungan saya ke tempat yang menurut beberapa orang amazing (iya sih, tapi kalo dihuni sama orang-orang seperti yang saya temui sih bukannya amazing, melainkan sinting!!! ). Jadilah saya jepretin camdig…padahal saya tahu bahwa ada aturan dilarang moto, tapi whateverlah… saat itu saya sok buta huruf saja plus melampiaskan kekesalan saya pada orang yang sudah menyakiti hati saya ๐Ÿ˜ฆ

Take more picture!!!! ๐Ÿ™‚

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah melakukan kunjungan singkat ini saya dan Liza langsung cabut ke Kebun Raya Purwodadi yang jaraknya sekitar 2 KM dari lokasi pertama yang saya dan Liza kunjungi. Ketar-ketir, kami takut mendapatkan perlakuan yang sama dengan sebelumnya. Karena pikiran saya adalah tempat yang akan kami kunjungi adalah instansi pemerintah yang dihuni oleh para pegawai negeri sipil alias PNS dan menurut kawan-kawan pelayanan di instansi pemerintah itu jauh lebih tidak menyenangkan dibandingkan pihak swasta.

Menyerah?? GAKLAHHHH…. saya tidak mengenal kata itu. Lanjut saja. Niat saya dan Liza kan baik, jadi kenapa pula harus berhenti di tengah jalan?

Pukul 02.00 WIB sampailah saya di kantor pelayanan Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan.

Deg… deg…deg……deg….. saya takut disakiti lagi dan sayapun tahu bahwa Liza merasakan hal yang sama dengan saya. Tapi kami tetap melewati pintu pagar lalu menemui satpam. Dan tak lebih dari lima menit, setelah mengisi buku tamu, kami dipersilahkan masuk!!!! Hahhhhhhh….Cuma lima menit di pos satpam!!!

Kami diantar ke perpustakaan oleh bapak-bapak (saya lupa tanya siapa nama beliau).

Kemudian di perpustakaan, kami benar-benar diperlakukan dengan baik. Sangat baik…. sampe-sampe saya jadi sungkan sendiri. Sangat bertolak belakang dengan apa yang sudah saya alami satu jam sebelumnya. Saya mau mencari literatur dimana saya pikir cukup diantar ke perpus saja sudah Ok…. Tapi di perpus…. dicarikan bukunya juga terus sharing-sharing materi juga sama mbknya… dibukain halaman yang berkaitan dengan materi TA saya…

Mbk… its verry kind of you… nama mbknya kalo gak salah mbk Amik dan mbk Fadilla…Udah baik, cantik pula (P.S: saya normal kok). Setelah itu kami diantar ke greenhousenya….ย  yang ini sih butuhnya Liza. Dia kan mau TA tentang anggrek, jadi dia pengen tahu anggrek-anggrek yang ada di sini.

Dan di greenhouse kami berbincang dengan Pak Pai, bapak-bapak yang kenal anggrek sejak 20 tahun yang lalu. Ya Tuhan… bapaknya juga gak pelit berbagi informasi dan ilmu yang beliau punya. Saya tahu bahwa Pak Pai ini smart, tapi beliau humble. Gak keminter dan sombong tingkat tinggi. Apa yang saya dan Liza tanyakan selalu dijawabnya dengan lugas sembari tersenyum Sebenarnya yang paling banyak tanya Liza, karena memang dia yang butuh ke tempat ini, sedangkan saya hanyalah pengiring. Tapi saya gak maulah membuang kesempatan luang ini dengan berdiam diri, jadi ya apalagi kalo gak poto-poto. Sementara Liza berdiskusi dengan Pak Pai, saya sibuk mengabadikan greenhouse yang penuh dengan anggrek ini. Tapi saya juga mendengarkan penjelasan Pak Pai kok… saya juga mau mendapat tambahan ilmu ๐Ÿ™‚

Hasil jepretan saya di tempat ini legal kok, karena saya sudah mendapatkan izin dari Pak Pai. Lihat deh poto Pak Pai…. orangnya keliatan friendly kan? Beliau mengatakan sering masuk hutan untuk mendapatkan anggrek. Pak Pai sudah menyapa Gunung Wilis, Tengger, dan bahkan telah bersua dengan Ranu Pane (Gusti, kapan saya bisa ke Ranu Pane??? ๐Ÿ˜ฆ ).

Kepergian Pak Pai gak hanya sekedar hiking atau poto-poto (seperti saya ๐Ÿ˜‰ ), tetatpi juga mengambil anggrek yang ada di sana untuk dieksplore di Kebun Raya ini. Ngambil anggrek alamnya juga gak sembarang ambil. Ada aturan dan cara tersendiri (beliau berjanji akan mengajari saya jika saya kembali berkunjung ke sana ๐Ÿ™‚ ).

Saya merasa bahwa Pai itu bukanlah nama asli beliau. Hemmm…saya dan Liza berfikir identitas asli beliau itu terselubung, bukan karena sok melainkan karena rendah hati karena saya yakin bahwa beliau ini bukan orang sembarangan. Paling gak Pak Pai ini pastilah sudah menerbitkan satu buku tentang tanaman anggrek. Gak mungkin orang se smart beliau hanya keluar masuk hutan dan ngawinin anggrek setiap hari!! Saya harus cari tahu!!! Harus!!! ๐Ÿ™‚

Dan akhirnya saya bisa berbangga karena ternyata tidak semua instansi pemerintah itu memberikan pelayanan buruk. Tidak semua PNS itu sok. Kecintaan saya pada produk dalam negeri semakin meningkat, gak banyak sih… tapi paling gak kan sedikit menerangkan pada saya bahwa negeri ini belum berakhir. Pelayanan pemerintah masih bisa dibanggakan dibandingkan milik swasta yang kebanyakan adalah milik orang asing. Hari ini adalah hari Merah-Putih bagi saya. I love Indonesia!!!!

Bulan Hanya Butuh Pengakuan

Ketika Malam berselimut berawan.. Bulan berlindung dibalik gelap

Bukan karena takut, Bukan pula tak mampu bersinar… Tetapi Bulan merasa lelah karena dia hanya sendiri

Tak ada kawan yang mau di sampingnya, Yang ada hanya kawanan Bintang yang bahu-membahu melawannya..

Sepintas Bulan dan Bintang bersahabat, namun persainganpun terjadi di sini..

Bulan pun seakan menjadi pecundang diantara kawanan Bintang…

Bukan berarti Bulan tak mampu,

Bulan hanya butuh pengakuan..

Saat malam benderang tanpa awan, Bulan berusaha memancarkan sinar tercerahnya dengan sekuat tenaga

Tanpa lelah dan putus asa, Bulan tersenyum meskipun acuh hanya untuk Bintang

Tak berhenti, Bulan tetap berputar mengikuti perintah tuannya

Prestasi tertingginya hanyalah sebuah purnama

Namun, Bulan Terus bergerak dan bergerak…. hanya untuk sebuah pengakuan

Ah…. menyedihkan sekali si Bulan…

Atau mungkin bodoh?

Tak ada kata berhenti untuk Bulan…

Malam terang, malam gelap… Bulan tetap tersenyum tak terkungkung oleh Bintang

Bulan tidak melawan dan tak juga menurut

Bulan bekerja sesuai kehendaknya dengan tujuan yang mulia

Terus…. dan terus… Semakin banyak Bintang di sekitarnya, semakin giatlah Bulan bergerak

Karena Bulan Hanya butuh sebuah pengakuan..

By meirina Posted in Poetry