Bicara Tentang Revolusi (Mesir, Tunisia, & Indonesia)

Sejak beberapa pekan terakhir segala pemberitaan media tertuju pada bumi Mesir. Ratusan massa menuntut turun takhtanya presiden mereka, Hosni Mubarok. Jalanan Mesirpun menjadi lautan manusia. Yang membuat Saya lebih miris lagi adalah keadaan beberapa hari terakhir. Baku tembak antar pro dan kontra Hosni Mubarok,  lempar-lemparan batu, tonjok2kan, tendang-tendangan, pisuh-pisuhan, jambak-jambakan, nari bareng, nyanyi bareng…lohhh…. heheheheee.. Just Kidding.

Ya Tuhan… negeri yang selama ini saya kenal sebagai negeri dengan peradabannya yang luar biasa ternyata bisa juga bergolak. Hari ini adalah hari kesepuluh sejak aksi unjuk rasa dimulai, tetapi belum ada tanda-tanda bahwa aksi tersebut akan berakhir. Hemmm… saya jadi teringat peristiwa 13 tahun yang lalu.

1998 negeri ini pun dipenuhi oleh aksi unjuk rasa yang juga dimaksud untuk menggulingkan Presiden Soeharto. Hasilnya pak Hartopun mundur dari kursi presiden pada Mei 1998. Hehhhh… saya ini gak ngerti banget sama politik dan sejenisnya… tapi sebagai warga negara RI boleh dong saya ngomong kalo saya lebih suka Indonesia dipimpin sama Pak Harto… eittss… bukannya saya pro Orde Baru..

Saya ngomong begini karena kehidupan saya lebih enak waktu presiden Indonesia itu Pak Harto. Mana ada dulu harga cabe sekilo 100.000 rupiah?? Mahall banggetttttt. Terus dulu itu ndak ada yang namanya ekspor beras. Saya juga gak pernah dengar Malaysia usil sama negeri ini. Mana berani mereka ngaku-ngaku Batik itu dari Malaysia? Mana ada juga dulu polisi kita ditukar sama ‘maling’ ikan… trus kenapa coba si Malaysia baru ngaku-ngaku lagu rasa sayange itu pas baru-baru ini? Kenapa gak dulu pas jamane Pak Harto? Mereka (Malaysia) gak akan pernah usil sama negara kita kalo seandainya Pak Harto saat ini masih ada.

Ah.. mungkin sebagian dari kalian berfikiran bahwa saya terlalu kekanak-kanakan dan tolol. Mungkin… karena saat peristiwa itu berlangsung saya memang masih kecil.. masih duduk di bangku SD kelas 3. Dulu itu saya hanya plonga-plongo ngeliatin gereja-gereja dibakar, toko-toko dijarah, dan orang-orang bawa spanduk dengan tulisan-tulisan serem (sekarang juga masih plonga-plongo sih)

Pokoknya secara jangka pendek saya pengennya harga-harga sembako dan keperluan hidup yang turun, bukannya harga diri yang turun. Saya juga suka kok sama Pak SBY… saya setuju-setuju ajah beliau jadi presiden RI.. presiden seumur hiduppun Ok… Asal:

1. Harga-harga gak mahal seperti sekarang

2. Biaya pendidikan murah sampe kuliah (Kasih dana BOS juga dong Pak untuk mahasiswa…hehehehe)

3. Cari kerja gak susah

4. Kebebasan berpendapat tetap ada

5. Bebas korup 😉

Selain pengalaman pribadi bangsa, aksi rakyat Mesir saat ini juga mengigatkan saya pada peristiwa serupa di negara teluk lainnya yang masih sangat seger… Revolusi Tunisia. Bahkan menurut saya dan di dukung dengan pemberitaan di berbagai penjuru dunia 😉 revolusi Tunisia inilah yang menginspirasi rakyat Mesir untuk mulai turun ke jalan sejak 25 Januari 2011 lalu untuk menurunkan si Presiden. Dan setelah 26 hari berunjuk rasa secara besar-besaran, akhirnya pada 16 Januari 2011 kemarin Presiden Tunisia Zine Al-Abidine resmi mundur dari tampuk kepemimpinannya… well..mungkin rakyat Mesir berfikir kalo Tunisia ajah bisa gulingin presidennya yg udah 23 tahun menjabat, kenapa mereka (rakyat Mesir) gak? Secara penduduk Mesir jumlahnya jauuuhhhhhh lebih banyak dibanding Tunisia… Dan akhirnya jadilah Mesir seperti sekarang.

Indonesia, Mesir, Dan Tunisia hanyalah segelintir negeri yang rakyatnya berani menuntut pemerintahnya yang diktator. Ketiga bangsa besar ini menuntut dengan dasar yang sama.. ‘Menghilangkan Kediktatoran yang Menyebabkan Kemiskinan Rakyat’

Semoga saja gejolak di Mesir bisa segera berakhir. Saya juga berharap (sangat berharap malah) Piramid, Spinx, dan situs-situs budaya di Mesir tidak ‘terluka’ karena peristiwa ini karena saya belum ke sanaaaaa  😦

Seandainya si otoriter tersingkirkan, semoga tidak digantikan oleh si otoriter lainnya. Tidak hanya di Mesir, tetapi juga di semua negeri yang  ada di muka Bumi ini. Saya sudah muak dengan peperangan

Advertisements

Surabaya, Wait a Minute

12.00 PM

Sepuluh hari sudah saya meninggalkan hingar bingar Surabaya. Melepaskan sejenak tanggung jawab ngelab yang belum saya mulai.  Bukannya mau lari, melainkan hanya untuk melepas penat…

Lagipula saya toh jarang pulang kampung jadi sekalinya pulang kampung boleh dong agak lama dikit 😉

sejak seminggu lalu ‘ratusan’ SMS memasuki kotak inbox saya. Isinya sama…  menanyakan kapan saya kembali ke Surabaya dan mengerjakan Tugas Akhir saya.

Dewi : “Mei…kapan balik?”

Ucha : “Mei, kapan balik kota?”

Liza : “Teman, kapan balik ke Sby?”

Dewi : “Hello, yang lagi liburan kapan balik?

Dewi (again): “Mei, kalo balik ke Sby SMS aku ya!”

Dewi (lagi): “Cinta.. kapan balik ke SBY?!!!!”

Haahahahahahahahaha… Ok teman-teman. Sebentar lagi saya kembali.

Sabarlah menanti saya. Saya pasti kembali untuk S.Si kita!! Pasti kok.

Surabaya….. wait a minute


Buat Mery

Mery resmi lulus semester 7 artinya dia lulus 3,5 tahun. Great! Sekarang namanya adalah Maryam Raudatul Santoso, S.Si.

Lucu sekali… padahal dia belum benar-benar pergi dari kos tetapi saya sudah berfikir akan merindukannya. God… it’s imposible, Right? Bagaimana mungkin saya akan merindukan orang yang begitu menyebalkan seperti Mery? Tidak mungkin saya akan merindukan orang yang selalu mau ikut campur urusan orang seperti Mery. Tidak mungkin saya akan merindukan orang yang kekanak-kanakannya seperti Mery. Tidak mungkin saya akan merindukan orang yang seperti dia. Tidak mungkinlah pokoknya!

Tapi… Ya.. saya pasti akan merindukannya. Pasti. Seberapa menyebalkannya dia, seberapa besar sok ikut campurnya dia, dan apapun yang menyebalkan darinya pasti akan membuat saya merindukannya. Mery bukanlah orang jahat. Dia baik sekali. Bahkan cukup baik dibandingkan mereka yang tersenyum hanya untuk sebuah catatan dan contekan tugas. Hanya saja dia selalu memandang semua di dunia ini mudah…uhhh… bagaimana ya menuliskannya… Susah..

Ok..begini. Mery itu anak tunggal dari keluarga yang cukup berada. Sejak kecil dia sudah hidup dengan apapun yang dia butuhkan dan inginkan. Dia mau ini selalu ada ini. Mau itu selalu ada itu. Tidak pernah dia kekurangan apapun. Bayar uang kuliah atau uang kospun tak pernah membuatnya pusing. Never!!! Segalanya selalu dia peroleh dengan mudah. Everything is perfect for Her!!

Novel Harry Potter 1-7 lengkap (huhuhuhuuhuhuuu, saya juga pengen punya lengkap). Handphone canggih 2 buah. Laptop merek Vaio (meskipun mini menurutku itu luar biasa dibanding laptopku.. hehehehe) lengkap dengan DVD dan Hard disk eksternal. Keluar masuk Starbucks, JCo, Excelso, McD, PizzaHut, dan resto-resto ataupun tempat tongkrongan lain yang tidak mungkin saya datangi setiap hari dengan kondisi keuangan saya yang sangat jauh dari rata-ratanya ;). Belanja baju di Soho atau dimanapun yang bajunya bermerek. Semua yang dia mau selalu ada. Dan sekarang dia tengah berbahagia karena lulus kuliah 3,5 tahun dan berencana melanjutkan S2 nya di ITB yang Insya Allah dia mampu bayar atau lebih tepatnya orang tuanya mampu bayar. Mungkin karena itulah dia menganggap dunia itu mudah. Saya tidak menyalahkannya karena dia seperti itu. Terserah dia kaleee, hidup-hidup dia kok (kikikikikkkkkkkkkkkk ;))

Saya mengenal Mery sejak duduk di bangku SMP. Tapi lebih tepatnya bukan mengenal, melainkan mengetahui karena kami bukan teman dekat. Saat itu yang saya dengar tentang kawan saya ini tidaklah banyak karena saya memang tidak peduli padanya. Ketika duduk di bangku SMA lah saya mulai mengenal dia karena kami sekelas saat di kelas satu yang saat itu disebut kelas X (sepuluh). Dari situlah awal mula saya tahu seberapa menyebalkannya dia. Selalu ingin menang. Selalu ingin menjadi pusat perhatian. Selalu ingin semua orang patuh terhadapnya. Betul-betul menyebalkan. Hingga suatu hari terjadi suatu insiden yang membuat saya sangat ingin sekali menghajarnya.

Saat itu hari Jumat, entah tanggal berapa dimana kami menerima hasil tes (atau kami menyebutnya ulangan) Sosiologi kami. Kemudian pukul 09.15 WIB aku menerima kabar bahwa akan diadakan ulangan Sosiologi ulang. What?? Tes ulang? Yang benar saja. Nilaiku adalah 98 dan aku harus ikut ulangan ulang? No Way!!! Selidik punya selidik ternyata Mery melapor pada Bu Susi (guru sosiologi saya) bahwa hasil ulangan teman-temannya tidak jujur. Mery mengatakan bahwa teman-teman sekelasnya telah mendapatkan jawaban ulangan dari kelas lain yang sudah melakukan ulangan terlebih dahulu sehingga teman-teman mendapatkan nilai yang cukup bagus. Bahkan lebih bagus dari nilainya yang hanya 65. Hahhhh…. Benar-benar menyebalkan. Saya berani bersumpah bahwa saya tidak mengetahui apapun tentang tukar menukar jawaban itu. Saya bukannya munafik dengan mengatakan tidak pernah mencontek atau tukar-menukar jawaban. Tentu saja saya pernah melakukannya, secara gitu saya tidak memiliki otak Pak Habibie. Akan tetapi, kenakalan itu Saya lakukan hanya untuk mata pelajaran Matematika, Fisika, dan Kimia. Cuma tiga pelajaran itu dan itupun sangat menyiksa jiwa saya (hehehehehehehehehe). Selebihnya karena saya memang bisa. Sosiologi? Saya tidak mungkin melakukan tindakan bodoh pada salah satu mata pelajaran faforit saya ini. Huhhh… dan ulangan ulang itu benar-benar membuat saya kesal. Saya pun menghampiri Mery di kelas kemudian memaki-makinya. Ya… saya melabrak dia. Menggubrak bangkunya dan mengatakan bahwa dia seharusnya menutup mulutnya rapat-rapat sebelum saya yang menutup mulutnya (hehehehehehehehehehe). Dari kejadian inilah saya mulai mengenal bahwa Mery perlu lebih banyak belajar mengenai kehidupan. (P.S: Saya sudah meminta maaf pada Mery atas perlakuan saya itu. Saya mengatakan bahwa saya sangat kesal dan terlalu emosi. Setelah saya marah-marah saya sadar untuk apa saya kesal karena ulangan ulang? Toh saya bisa di mata pelajaran sosiologi ini. Jadi kenapa saya takut ulangan ulang? Ayolah ulangan ualng!! Ulangan ulang sayapun mendapat 98… hehehehehehehe ).

Jadi, kenapa saya berfikir saya akan merindukannya? This is it….

1.       Meskipun Mery bukanlah teman yang asik untuk berdiskusi mengenai hidup karena sangat jelas dia tidak (belum) mengenal hidup yang sebenarnya, tetapi dia teman yang menyenangkan untuk diajak tertawa. Tertawanya selalu lepas tanpa beban (mungkin karena dia memang tidak punya beban). Meskipun tawanya sangat keras, bahkan mungkin terlalu keras sampe-sampe sering bikin migrant saya kambuh saya toh pengen tertawa seperti dia. Benar-benar tertawa.

2.       Dia sering memberi saya ‘jajan-jajan’ dari tempat tongkrongannya. Misalnya Donat JCo, Tiramisu, Pizza, Ice Cream dari salah satu resto Ice Cream di Mall dan jajanan kecil lainnya (meskipun enak, setelah melahap jajanan ala Mery itu migrant Saya langsung kambuh. Sumpah, saya gak bohong. Migran saya kambuh yaa salah satunya karena itu.. ckckckckckck.. mungkin karena saya terlalu memikirkan apa jadinya kalo saya yang beli jajanan itu, bisa-bisa saya gak makan setahun!!! Hiiiii). Dan jika dia sudah tidak di kos, siapa yang akan memberi Saya ‘jajan-jajan’ berkelas? Saya pasti akan sangat merindukannya… merindukan siapa? Jajannya!! Heheheheheheheheheeee… Just Kidding. Bukan kue-kue mahal itu yang akan saya rindukan. Sumpah bukan… karena kalo pengen saya toh bisa beli sendiri meskipun kemungkinannya satu per satu juta karena saya dan dompet saya gak doyan makanan seperti itu. Saya akan merindukan saat Mery memberikan jajan-jajan itu pada Saya. Ekspresi wajahnya itu loh.. bukan ekspresi memberi karena ingin diperhatikan atau cari muka. Ekspresinya itu tulus dan ikhlas tanpa paksaan. Benar-benar berniat untuk memberi. Sangat jarang saya menemukan ekspresi seperti itu. Sejauh ini hanya empat orang yang saya tahu yang memunculkan ekspresi seperti itu, ibu Saya, mbk Gesti (salah satu sepupu saya), Bu Tanti yang merupakan salah satu dosen Saya (She is my favourite lecture <;), dan Saya sendiri (hahahahahahahahaha). Dan setelah mengenal Mery jadinya ekspresi itu saya temukan pada lima orang.

3.       Mery adalah pendengar yang baik. Ya, karakter yang sangat jarang sekali saya temukan. Bahkan di keluarga saya sendiri. Saya memang tidak suka bercerita pada orang. Akan tetapi, ada beberapa saat saya ingin memuntahkan segala uneg-uneg saya. Dan saya pernah melakukan itu.. Apa? Curhat pada Mery. Tepatnya saat saya semester 3. Saat itu saya benar-benar frustasi dengan nilai-nilai kuliah saya yang membuat migrant kambuh setiap hari. Saya bukan orang bego atau pemalas. Saya bersikap layaknya seorang pelajar : Belajar setiap saat. Tidur jam 11 malam dan bangun pukul 1 dini hari untuk belajar. Saya selalu datang tepat waktu untuk kuliah dan duduk di deretan terdepan. Saya mencatat dengan rapi semua yang dosen saya katakan dan saya tahu bahwa banyak teman-teman yang menertawakan kelakuan saya ini, tetapi saya tidak peduli karena toh mereka pada akhirnya membutuhkan catatan saya untuk dikopi, So Whatever!!!! Saya mengerjakan tugas kuliah sendiri tanpa mencontek. Saya juga mengerti dengan sangat mata kuliah yang saya ikuti. Ujianpun saya ikuti dengan prinsip ‘jujur’ dan saya yakin bahwa hasil saya maksimal. Akan tetapi, hasilnya adalah nonsense!! Tidak dapat dipercaya! Nilai saya sangat jauh di bawah standar otak saya yang menurut saya Briliant (hehehehehehehehehe). Tiga semester berturut-turut saya dipecundangi oleh ketidakberuntungan. Oh God!! Betul-betul masa suram pada tahap edukasi saya. Putus asa? Nyaris! Seandainya saat itu Mery tidak mendengarkan keluhan Saya maka saat ini saya tidak akan menjadi seperti sekarang. Seandainya saat itu Mery tidak mendengarkan tangisan kesal saya maka sekarang saya tidak akan menjadi segelintir anak (angkatan 2007/angkatan saya) di jurusan saya yang lulus seminar proposal TA. Karena dia mendengarkan dengan baiklah saya tetap bertahan. Ya.. saat itu dia mendengarkan. Hanya mendengarkan saya menangis dan melontarkan umpatan-umpatan pada semua hal yang membuat saya menangis (ups.. ). Setelah saya selesai dengan umpatan, keluhan, dan tangisan saya, Mery pun berkata “Jalan-jalan yuk!!!” Toenggggg……. Heheheheee… I like Her.. Kamipun pergi jalan-jalan. Cuma ngomong jalan-jalan? Heheheheheheee…. Gaklah! Apa yang dia omongin yang membuat saya lebih berani lagi menjadi rahasia saya saja (bukan rahasia saya dan Mery karena saya yakin dia lupa pernah mengatakan hal itu pada saya …hehehehehehehehe <;). Dari sini saya tahu bahwa tanpa dia sadari dia (Mery) bisa menjadi sangat dewasa dan berbakat jadi motivator kelas ikan Hiu Pembunuh.

Entah apa lagi yang akan saya rindukan dari teman kos saya itu, yang pasti dengan perginya dia akan ada perbedaan di rumah kos saya nantinya. Saya harap Mery bisa berubah menjadi lebih baik dari saat ini terutama lebih mengerti bahwa hidup itu tidak hanya baik dan buruk. Hidup tidak hanya pagi dan malam. Hidup tidak hanya benar dan salah. Hidup tidak hanya hitam dan putih. Dia harus tahu bahwa dunia itu penuh warna yang harus betul-betul ia pelajari. Dan bagi saya Mery adalah salah satu warna baru yang saya temukan dalam perjalanan saya. Than, There’s colour everywhere.

P.S: Tulisan ini memang saya dedikasikan untuk Mery, my ‘little’ boarding house fren. Kalo salah satu dari kalian mengenal Mery tolong bilangin kalo ada blog yang ngegosipin dia, Ok?!! 🙂 dan kalo salah satu dari kalian adalah Mery, ini adalah apresiasi saya untukmu kawan 🙂