Berburu PEG


Niat untuk ke malang mencari PEG sebagai bahan TA saya pun dimulai pukul 12.00 WIM (Waktu Indonesia Bagian Malang) . Bersama Hehek, saya meluncur ke jurusan Biologi Universitas Brawijaya. Hemm… saya sudah membayangkan akan mendapatkan keterangan mengenai kampus UB dari Hehek yang memang anak UB. Kayak study tour gitu loh…. Dan semua itu hanya bayangan. Bayang-bayang ilusi….

Saya: “Hek, kita dimana sekarang?

Hehek: “Aduh Mei.. kita dimana ya? Parkir dimana ya? Cepet telepon Bul-bul.. Bilang kita udah di depan gedung peternakan gitu!”

Saya : “Hahhhh???” (sembari mengernyitkan dahi)

Saya pun menelpon Bul-bul, teman SMA saya yang sekarang anak Biologi UB. Dan dengan dialah saya sesungguhnya membuat janji. Dia berjanji untuk membantu saya mendapatkan PEG, sedangkan Hehek berperan sebagai induk semang saya selama di Malang serta penyedia transportasi.

Selama beberapa menit saya dan Hehek menunggu Bul-Bul  di atas motor seperti orang aneh. Semua mata tertuju pada kami. Mungkin pikiran mereka adalah kami ini adalah dua orang bodoh yang tersesat dan sangat bodoh karena tidak bertanya pada mereka mengenai tujuan kami…

Hehek!! sebenarnya kamu beneran anak UB gak sih…

Kenapa tempat-tempat di UB dia gak tahu? Masuk tempat parkir motor saja gak tahu….:(

Poto di sebelah inilah yang saya ambil sewaktu saya dan Hehek menanti Bul-Bul di pinggir jalan… Hihihihihihiii….  Kurang jelas memang, tetapi yang penting ada poto dan ada sesuatu yang saya lakukan saat menunggu.

 

 

 

Jam 12.30 WIM…

Bul-bul pun datang dan kami bertiga bergegas menuju laboratorium fisiologi Tumbuhan, Kultur Jaringan Dan Mikroteknik, Biologi, UB. Menurut informasi yang saya peroleh sebelumnya, PEG itu tersedia di Lab ini, Karena itulah saya meminta bantuan Bul-Bul untuk memudahkan akses saya mendapatkan barang itu. Untuk kalian yang tidak tahu apa itu PEG, googling aja, pasti dapat penjelasan lengkap karena kalo kalian Tanya sama saya, saya gak bisa dong jelasin panjang lebar di sini!!!!

Bul-bul beraksi! Dia masuk lab di lantai dua dan ketemu sama mas-mas laborannya. Saya dan Hehek menunggu di koridor… Dan 15 menit kemudian, Bul-Bul keluar Lab dan dia bilang bahwa stok PEG di gudang labnya sedang kosong dan kami di suruh cari ke Fakultas Pertanian. Katanya pasti ada deh. Tapi kami disuruhnya ke sana jam 13.00 atau Setengah duaan lahh.. karena takut mas-masnya masih makan siang dan shalat dhuhur.

Dan karena pencarian kami harus ditunda sampe jam 1 atau stengah 2an, saya dan Hehek memutuskan untuk makan siang. Bul-bul? Ah..biarin ajah dia nungg di kampusnya!! Siapa suruh coba dia bilang PEG di labnya ada, tapi ternyata gak ada… Hehehehehe… Bercanda.. Saya sudah mengajak Bul-Bul untuk makan sama-sama kok, tapi dia nolak. Katanya sudah makan dan dia mutusin nunggu kami aja di jurusannya.

So, lets get the Lunch!!!

Jam13.40 WIM

Saya dan Hehek menunggu Bul-bul di depan jurusan Biologi. Bul-bul kemana? Hilang??

Gaklahh.. dia tengah bepergian ke laboratorium jurusan Kimia untuk mencari PEG saya.. Kata dia mungkin di Kimia ada.. Ya Tuhan… So Sweat bangettt…. Thank You, Guys!! Hahahahahahahaha… jadilah saya menunggu lagi dan jadilah saya poto-poto lagi 🙂 .

Ya poto di samping ini….. Alas kaki yang saya pake cantik kan??? Yang warnanya kuning emas kecoklatan atau apalah pokoknya yang pake kaus kaki itu kaki saya… itu punya Hehek loh sepatu sandalnya nya, bukan punya saya . Saya sih dari Surabaya pake sandal… masa ke kampus pake sandal? Makanya pinjem… 😉.

Terus gambar kedua adalah mading anak Biologi UB dan di bawahnya adalah gedung Biologi UB tampak depan… hemmm.. lurang jelas lagi!!

Akhirnya Bul-bul datang TANPA PEG:(

Melangkahlah kami ke Fakultas Pertanian. Muter-muter… itulah yang saya alami. Rasanya kepala saya mulai bergolak kembali. Ya Tuhan…mengapa harus sekarang? Saya butuh kondisi prima untuk mendapatkan PEG. Dengan mengabaikan rasa sakit di kepala yang mulai muncul, saya menikmati perjalanan ke Fakultas Pertanian bersama Hehek dan Bul-bul. Saya berjalan sok kuat dan pura-pura si migrant gak lagi nongkrong di tempurung kepala saya. Saya betul-betul berusaha tidak terjadi apa-apa, karena prinsip saya adalah saat si Migran ini mulai menampakkan batang hidungnya dan saya bersikap acuh maka si migrant ini akan pergi karena ngerasa dicuekin dan prinsip ini terkadang manjur kok, jadi saya gak perlu makan obat. Tapi ternyata si migrant ini memang pengen bertamu pada saya. Mungkin dia kangen karena sudah dua minggu dia tidak bersua dengan saya.

Ya sudahlah… kuat kok saya. Meskipun perjalanan menuju Fakultas Pertanian berliku-liku, lewat kelokan-kelokan, dan muter-muter gak jelas… saya tetap berusaha untuk menikmati perjalanan ini. Dan dua orang tour guide saya ini sama sekali tidak membantu. Mereka bukan tour guide yang baik… masak kampus sendiri gak tahu??

Ya Tuhannn…. Bul-bul sih mending masih tahu dikit-dikit tempat atau gedung yang saya tanyakan selama perjalanan kaki kami ini, tapi Hehek… beeeeee…..dia tutup mulut… hehehehehehehe….. mungkin bagi Hehek UB terlalu luas untuk dijelajahi dan dia tak seperti saya yang sukanya pengen tahu tempat-tempat yang saya huni dan datangi ;). Inilah momen-momen pengalihan perhatian saya pada si migrant.. motret-motret pake hape..

Poto di sebelah ini adalah salah satu Green Housenya fakultas Pertanian… tapi mungkin mereka menyebutnya GlassHouse. Kalo dibandingkan dengan greenhouse di kampus saya mah… jauhhhhh…… Punya kampus saya lebih kecil, bahkan mungkin cukup kalo dimasukin ke greenhouse yang ada di Fakultas Pertanian ini… tapi saya tetap cinta greenhouse saya kok  😉

Saat sampai di laboratorium Fisiologi Tumbuhan di Fakultas Pertanian, saya ikut Bul-Bul menemui laborannya. Karena saya sangat ingin mengalihkan perhatian saya dari migrant yang tak mau pergi ini. Hasilnya…. PEGnya ada.

YESSSS!!!!!!

Tapi… gak bisa kami beli karena kata ibu-ibu di situ KaLabnya lagi keluar negeri dan baru kembali ke tanah air besok dan baru aktif di kampus hari senin. Dan sebagai laboran, dia tidak berani menjual PEG itu pada kami tanpa izin KaLab. PEG itu adalah bahan penting bagi mereka, jadi tidak bisa digunakan sembarangan. Ibunya juga bilang kalo PEG yang kami butuhkan atau lebih tepatnya saya butuhkan, jumlahnya terlalu banyak. Memangnya saya mau beli berapa kilo?? Busettt dahhh….. gak kiloan lah.. saya Cuma mau beli 5 gram aja kok dan menurut si Ibu 5 gram itu banyak…

TIDAKKKK!!! Saya sungguh-sungguh membutuhkan PEG hari ini juga untuk kemudian saya bawa ke Surabaya dan saya bisa mulai mengerjakan penelitian untuk Tugas Akhir saya 😦

Dan dengan sedikit informasi bahwa di Fakultas Pertanian ini juga ada Lab Kultur Jaringannya maka bergegaslah saya ke Lab Kuljarnya di lantai 2. Pas di lantai dua kami masuk Lab dan mulai menanyakan keberadaan PEG pada orang yang ada di lab itu. Jawabannya adalah

Tunggu aja dulu, Dek. Laborannya masih shalat. Duduk aja dulu”.

Alhasil, saya dan hehek menunggu sedangkan Bul-bul pergi shalat juga. T

Setelah 20 menit menanti akhirnya laboran lab kultur jaringan ini datang, kalo gak salah namanya Mas Deni deh.. dan saya pun menghampirinya 

Saya: “Maaf, Mas. Saya mau Tanya

Masnya: “Iya, kenapa Dek?”

Saya: “Saya butuh PEG, mas

Masnya: “PEG itu apa?

Saya: “(menghela nafas sembari membatin masnya ini beneran laborannya bukan sih) Polyethilene glycol, Mas”

Masnya: “OOOO… kalo itu lab ini gak punya, Dek

Saya: “Gitu ya, Mas

Masnya: “Iya. Kamu dapat info dari mana kalo lab ini punya PEG?”

Saya: “dari mbk-mbk di lantai 1 mas. Katanya coba tanya di Lab Kultur Jaringan di Lantai dua

Masnya: “Ya kalo gitu ke lab KulJar aja, Dek

Saya: “Lah… terus ini lab apa, Mas? (saya masang tampang bingung)”

Masnya: “Ini lab Bioteknologi, Dek. Lab kulJar di sebelah kanan sana”.

Saya: “Ya Sudah, Mas… makasih…. Mari, Mas

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA……………… malu…… ternyata kami salah masuk Lab… Hadehhhh… wasting time!!!

Kemudian saya dan Hehek pun ngacir meninggalkan laborannya yang senyum-senyum nyinyir. Dan ketika saya hendak masuk ke lab KulJar…. Ternyata di dalam itu ada ibu-ibu yang saya dan Bul-bul temui di Lantai 1… Hiiiiiiiiiiiiiii…….saya pun langsung mengajak Hehek untuk mengambil langkah seribu… TAKUT 😦

Karena lelah, saya dan Hehek memutuskan untuk mengistirahatkan kaki sejenak di bangku-bangku yang ada di lantai dua itu sembari menunggu Bul-bul yang masih shalat. Kalo saya baca, tempat ini namanya Wifi Zone. Jadi kami duduk diantara orang-orang yang lagi internetan….

Bul-Bul datang dan hujan turun. Karena kami ini pejalan kaki maka kami memutuskan untuk menunggu redanya hujan. Saya sendiri ndak masalah sama hujan, tapi berhubung kepala saya sedang tidak normal maka saya tidak mengambil resiko untuk hujan-hujanan. Sumpah, saat ini dan untuk satu semester ke depan saya butuh tubuh saya sehat jasmani dan rohani. Dan keputusasaan itupun mulai menghampiri saya. Rasanya PEG itu terlalu jauh untuk saya. Bagaimana tidak, dari semua lab yang saya targetkan memiliki PEG ternyata kosong! Mereka kehabisan stok.

Bul-bul bilang PEG itu memang agak langka dan kalo di jurusan-jurusan seperti Biologi dan Kimia atau pertanian, dibutuhkan sama banyak mahasiswa.. jadinya jarang ada stok di gudang. Ya Tuhan… haruskah saya terbang ke Jogja untuk berburu PEG di UGM???

Baiklah… kalo memang tidak ada di UB ini maka saya akan ke jogja. Saya akan mencari PEG di UGM. Lalu saya akan mengitari malioboro. Masuk ke Keraton Sri Sultan. Pergi ke Taman Sari. Menelusup di setiap celah prambanan. Atau sekalian menjelajahi Borobudur. Ya…. Saya siap untuk itu… Jiaahhhhh…… itu sih mau-maunya saya saja jalan-jalan ke Jogja ;).

Hujan yang tidak reda ini membuat kami bertiga mendiskusikan saya dan PEG. Akhirnya terjadi kesepakatan jika hari ini saya tidak mendapatkan PEG maka Hehek dan Bul-bul yang akan mengurus hal ini pada hari senin, sesuai janji ibu-ibu yang tadi kami temui di lantai satu. OKlah… saya sedikit lega meskipun masih deg-degan.. takut gak ketemu sama si PEG.

Than

Hehek: “PEG biasanya dipake untuk apa lagi sih, Mei

Saya: “biasanya dipake anak farmasi untuk ngelarutin obat, Hek. Mungkin anak kedokteran juga tahu!

Bul-Bul: “Siapa ya kenalan kita yang anak kedokteran UB?”

Hhhhhhhhhhhhhhhhh,,,,,,,,, kami terdiam beberapa saat. Saya tidak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh kedua teman saya, yang jelas hal yang saya fikirkan adalah bagaimana mengusir migrant ini ditambah lagi badan saya mulai panas dan linu-linu. Sepertinya saya juga didatangi oleh demam.

Bul-bul & Hehek: “TIKAAAAAAAAAAAAAA!!!”

Mereka berdua berteriak bersamaan. Ok, guys…. Santai saja. Saya kan jadi kaget!! Dan akhirnya kami menghubungi Tika, teman SMA kami yang lain yang sekarang kuliah di Kedokteran UB. Karena tidak mendapatkan balasan dengan cepat, modal nekat kami gunakan untuk datang ke Fakultas Kedokteran. Kenapa nekat? Karena kami semua berpakaian haram artinya adalah kostum kami dilarang masuk kampus kedokteran. Kami semua bercelana jeans. Saya pake sepatu sih, tapi kalo dilihat dari belakang… alas kaki yang saya pake itu lebih tepat dibilang sepatu sandal dan Hehek malah pake sepatu sandal murni :), Cuma bul-bul yang pake sepatu….

Jam 15.15 WIM

Saya dan Hehek di depan lab Biomediknya FK, sedangkan Bul-bul masuk ke dalam karena hanya dialah yang paling memunuhi persyaratan kostum yang legal di kampus FK ini…. Hehehehehehe… maaf, Ya Bul-Bul… saya benar-benar merepotkan. Saya hanya bisa menanti dan berharap cemas tapi tetap semangat 😉 bersama Hehek. …… Saya jadi gak enak sama Hehek juga… padahal dia juga sedang sibuk sama Skripsinya tapi hari ini dia rela menemani saya seharian :). Suatu saat nanti saya akan membalas jasa kedua teman saya ini… saya tahu mereka ikhlas, tapi saya ingin sekali membalas keikhlasan mereka ini. dan saya ikhlas kok membalasnya..

 

Lamaaaaa…sekali Bul-bul di dalam dan karena penasaran saya pun menelpon si bul-bul. Kemudian dia keluar lab dan menyuruh saya masuk. Dia tersenyum dan bilang, “Ada”.

Saya tersenyum harap-harap cemas karena dari awal semua lab bilangnya ada. Karena itulah saat ini saya tidak mau terlalu banyak berharap dulu. Kemudian Bul-Bul mengatakan, “Sek, Mei. Diambilin mbknya. Kita ke bagian administrasinya dulu buat bayar”.

Ya Tuhan… betulkah saya akan segera berjumpa dengan PEG? Dan akhirnya setelah ke bagian kasir dan dapat kwitansi dari petugasnya, saya mengikuti Bul-Bul ke dalam laboratorium dan menunggu kedatangan PEG. Lalu, pukul 15.35 WIB (Waktu Indonesia Bagian Lab. Biomedik) seorang mbk2 berparas ayu menyerahkan PEG itu pada saya. Dan barang yang ada di tangan Hehek itulah si PEG…. hahahahahahahaha… hanya untuk benda berbentuk garam itu saya muter-muter keliling UB bersama kedua rekan saya ini 🙂

Alhamdulillah…. Saya dapat PEG. Saya menemukan PEG. Perburuan saya berhasil. Untunglah saya sabar, karena sabar itu mendatangkan keuntungan.

Terimakasih Hehek… Terimakasih Bul-Bul….

Tanpa kalian, perburuan saya ini tidak akan berhasil. Saya betul-betul berterimakasih. Terimakasih BANYAK….

Dan akhirnya saya meninggalkan UB dengan PEG digenggaman dan migrant yang masih betah mendiami kepala saya dan sekarang ditambah dengan demam yang cukup tinggi. Benar-benar perburuan yang penuh perjuangan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s