Negeri vs Swasta

Perjalanan hari ini begitu ‘menyenangkan’.

Pertama, Saya dan Liza harus menunggu di pos satpam selama 45 menit hanya untuk bertemu seseorang yang “sangat menyenangkan”. Kemudian saat bertemu dengannya (she) saya pun mendapatkan perlakuan yang begitu “menyenangkan”!!!

She is so Jerk!!!! Saya rasa tidur malam saya tidak diiringi mimpi buruk, jadi mengapa saya harus bertemu dengan orang yang menyebalkan seperti itu??!!! Saya tidak akan mengatakan siapa dia dan bagaimana wajahnya karena sekarangpun saya sudah melupakan wajahnya dan siapa namanya!!! Yang saya harapkan adalah tak ada lagi orang sepertinya. Dan semoga sikap dia bisa berubah sehingga nantinya orang, kerabat, kawan, ataupun kenalan saya yang bertemu dengannya tidak lagi mendapatkan perlakuan seperti saya hari ini.

Meskipun tidak ada informasi baru dan penting yang saya dapatkan, saya tetap berfikir positif  sehingga di tengah-tengah kekesalan otak saya masih sempat berpikir jernih untuk mengabadikan kunjungan saya ke tempat yang menurut beberapa orang amazing (iya sih, tapi kalo dihuni sama orang-orang seperti yang saya temui sih bukannya amazing, melainkan sinting!!! ). Jadilah saya jepretin camdig…padahal saya tahu bahwa ada aturan dilarang moto, tapi whateverlah… saat itu saya sok buta huruf saja plus melampiaskan kekesalan saya pada orang yang sudah menyakiti hati saya 😦

Take more picture!!!! 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah melakukan kunjungan singkat ini saya dan Liza langsung cabut ke Kebun Raya Purwodadi yang jaraknya sekitar 2 KM dari lokasi pertama yang saya dan Liza kunjungi. Ketar-ketir, kami takut mendapatkan perlakuan yang sama dengan sebelumnya. Karena pikiran saya adalah tempat yang akan kami kunjungi adalah instansi pemerintah yang dihuni oleh para pegawai negeri sipil alias PNS dan menurut kawan-kawan pelayanan di instansi pemerintah itu jauh lebih tidak menyenangkan dibandingkan pihak swasta.

Menyerah?? GAKLAHHHH…. saya tidak mengenal kata itu. Lanjut saja. Niat saya dan Liza kan baik, jadi kenapa pula harus berhenti di tengah jalan?

Pukul 02.00 WIB sampailah saya di kantor pelayanan Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan.

Deg… deg…deg……deg….. saya takut disakiti lagi dan sayapun tahu bahwa Liza merasakan hal yang sama dengan saya. Tapi kami tetap melewati pintu pagar lalu menemui satpam. Dan tak lebih dari lima menit, setelah mengisi buku tamu, kami dipersilahkan masuk!!!! Hahhhhhhh….Cuma lima menit di pos satpam!!!

Kami diantar ke perpustakaan oleh bapak-bapak (saya lupa tanya siapa nama beliau).

Kemudian di perpustakaan, kami benar-benar diperlakukan dengan baik. Sangat baik…. sampe-sampe saya jadi sungkan sendiri. Sangat bertolak belakang dengan apa yang sudah saya alami satu jam sebelumnya. Saya mau mencari literatur dimana saya pikir cukup diantar ke perpus saja sudah Ok…. Tapi di perpus…. dicarikan bukunya juga terus sharing-sharing materi juga sama mbknya… dibukain halaman yang berkaitan dengan materi TA saya…

Mbk… its verry kind of you… nama mbknya kalo gak salah mbk Amik dan mbk Fadilla…Udah baik, cantik pula (P.S: saya normal kok). Setelah itu kami diantar ke greenhousenya….  yang ini sih butuhnya Liza. Dia kan mau TA tentang anggrek, jadi dia pengen tahu anggrek-anggrek yang ada di sini.

Dan di greenhouse kami berbincang dengan Pak Pai, bapak-bapak yang kenal anggrek sejak 20 tahun yang lalu. Ya Tuhan… bapaknya juga gak pelit berbagi informasi dan ilmu yang beliau punya. Saya tahu bahwa Pak Pai ini smart, tapi beliau humble. Gak keminter dan sombong tingkat tinggi. Apa yang saya dan Liza tanyakan selalu dijawabnya dengan lugas sembari tersenyum Sebenarnya yang paling banyak tanya Liza, karena memang dia yang butuh ke tempat ini, sedangkan saya hanyalah pengiring. Tapi saya gak maulah membuang kesempatan luang ini dengan berdiam diri, jadi ya apalagi kalo gak poto-poto. Sementara Liza berdiskusi dengan Pak Pai, saya sibuk mengabadikan greenhouse yang penuh dengan anggrek ini. Tapi saya juga mendengarkan penjelasan Pak Pai kok… saya juga mau mendapat tambahan ilmu 🙂

Hasil jepretan saya di tempat ini legal kok, karena saya sudah mendapatkan izin dari Pak Pai. Lihat deh poto Pak Pai…. orangnya keliatan friendly kan? Beliau mengatakan sering masuk hutan untuk mendapatkan anggrek. Pak Pai sudah menyapa Gunung Wilis, Tengger, dan bahkan telah bersua dengan Ranu Pane (Gusti, kapan saya bisa ke Ranu Pane??? 😦 ).

Kepergian Pak Pai gak hanya sekedar hiking atau poto-poto (seperti saya 😉 ), tetatpi juga mengambil anggrek yang ada di sana untuk dieksplore di Kebun Raya ini. Ngambil anggrek alamnya juga gak sembarang ambil. Ada aturan dan cara tersendiri (beliau berjanji akan mengajari saya jika saya kembali berkunjung ke sana 🙂 ).

Saya merasa bahwa Pai itu bukanlah nama asli beliau. Hemmm…saya dan Liza berfikir identitas asli beliau itu terselubung, bukan karena sok melainkan karena rendah hati karena saya yakin bahwa beliau ini bukan orang sembarangan. Paling gak Pak Pai ini pastilah sudah menerbitkan satu buku tentang tanaman anggrek. Gak mungkin orang se smart beliau hanya keluar masuk hutan dan ngawinin anggrek setiap hari!! Saya harus cari tahu!!! Harus!!! 🙂

Dan akhirnya saya bisa berbangga karena ternyata tidak semua instansi pemerintah itu memberikan pelayanan buruk. Tidak semua PNS itu sok. Kecintaan saya pada produk dalam negeri semakin meningkat, gak banyak sih… tapi paling gak kan sedikit menerangkan pada saya bahwa negeri ini belum berakhir. Pelayanan pemerintah masih bisa dibanggakan dibandingkan milik swasta yang kebanyakan adalah milik orang asing. Hari ini adalah hari Merah-Putih bagi saya. I love Indonesia!!!!

Advertisements

Bulan Hanya Butuh Pengakuan

Ketika Malam berselimut berawan.. Bulan berlindung dibalik gelap

Bukan karena takut, Bukan pula tak mampu bersinar… Tetapi Bulan merasa lelah karena dia hanya sendiri

Tak ada kawan yang mau di sampingnya, Yang ada hanya kawanan Bintang yang bahu-membahu melawannya..

Sepintas Bulan dan Bintang bersahabat, namun persainganpun terjadi di sini..

Bulan pun seakan menjadi pecundang diantara kawanan Bintang…

Bukan berarti Bulan tak mampu,

Bulan hanya butuh pengakuan..

Saat malam benderang tanpa awan, Bulan berusaha memancarkan sinar tercerahnya dengan sekuat tenaga

Tanpa lelah dan putus asa, Bulan tersenyum meskipun acuh hanya untuk Bintang

Tak berhenti, Bulan tetap berputar mengikuti perintah tuannya

Prestasi tertingginya hanyalah sebuah purnama

Namun, Bulan Terus bergerak dan bergerak…. hanya untuk sebuah pengakuan

Ah…. menyedihkan sekali si Bulan…

Atau mungkin bodoh?

Tak ada kata berhenti untuk Bulan…

Malam terang, malam gelap… Bulan tetap tersenyum tak terkungkung oleh Bintang

Bulan tidak melawan dan tak juga menurut

Bulan bekerja sesuai kehendaknya dengan tujuan yang mulia

Terus…. dan terus… Semakin banyak Bintang di sekitarnya, semakin giatlah Bulan bergerak

Karena Bulan Hanya butuh sebuah pengakuan..

By meirina Posted in Poetry

Road To S.Si Ala Mei

Berorientasi pada hasil seminar teman-teman saya  maka saya menyimpulkan bahwa ada cara untuk lolos dari seminar, tentunya selain kita paham materi 100% dengan diiringi doa (terutama dari OrTu) .  Dan Tips menghadapi seminar ala saya adalah sebagai berikut:

  1. Gak banyak cengar-cengir karena pada umumnya dosen gak suka mahasiswanya cengar-cengir alias cengengesan. Dosen kerap kali menganggap mahasiswa tukang nyengir itu meremehkan materi dan gak serius, dan yang paling parah kita dianggap gak waras alias gila. Dan salah satu teman saya ini,Efi, sepertinya GILA!! Cengengesan aeeeeee…. nyengir-nyengir bisa bikin image mahasiswa peserta seminar di depan dosen penguji agak aneh. Gak seriuslah kasarnya….
  2. Eye Contact. Itu penting banget. Pandangan harus fokus pada dosen, apalagi pas dosen ngasih pertanyaan. Tatap mata mereka karena itu menandakan kita memperhatikan apa yang mereka katakan. Jangan terlalu banyak kedip juga, karena dosen bisa mikir kita lagi godain mereka… Kalo perlu kelopak mata kita kasih lem kayu aja biar gak banyak kedip. Kalo mau ngejawab pertanyaan dosen, pandangan mata itu penting. Jawab aja sambil lihat dosen, jangan liat keman-mana atau main-main dengan laptop. Contohnya si Indra ini… dikit-dikit cari file di laptop. Dikit-dikit buka PDF. Boleh juga sih mempersiapkan jurnal sebagai bukti otentik yang bisa mendukung jawaban kita pas ditanya dosen, tapi gak enak juga kan kalo setiap kali kita mau jawab mesti buka-buka file dulu. Dosen bisa mikir kalo kita cuma siap jurnal aja, tapi gak ngerti. Mendingan jawab aja pertanyaan dosen secara langsung, terus kalo mereka minta diliatin literaturnya barulah ditunjukin dengan begitu kita dianggap siap menghadapi seminar. Simplenya ‘hafalin’ aja semua materi dalam artian kita ngerti bukannya sekedar nyerocos ngapalin…  alhasil gak perlulah terlalu banyak buka-buka laptop. Kept Eye Contact!!
  3. Mendengar. Simple, tapi dari pengalaman saya melihat seminar proposal teman-teman dan senior-senior saya mereka rata-rata kena virus tuna rungu. Setiap dosen bicara maunya juga ikut bicara. Dosen ngomong, mereka pun ikut ngomong. Jadinya tempuk deh suaranya. Pada akhirnya gak kedengeran kan apa yang dosen bicarakan dan terjadilah miss communication yang akhirnya menambah alasan para penguji untuk tidak meluluskan mahasiswanya itu. Mahasiswa yang gak suka dengerin omongan dosen sampe tuntas biasanya nimpali pertanyaan sak kareppe dhewe…. Emboh bener atau salah yang penting mereka jawab. Bahhhhhh…… kalo asal jawab sih ponakan saya yang masih TK aja mungkin bisa. Mempertahankan pendapat dan jawaban di depan dosen bolehlah asal pendapat itu masuk akal dan jawabannya gak ngawur. Terus kalo jawaban kita salah ya jangan ngeyel, dengerin aja sanggahan dosen… Gak usah ngotot-ngototan karena toh mahasiswa pasti kalah sama dosen kalo masalah seminar TA. Mendengarkan itu gak membuat kita rugi kok, justru dari mendengar kita bisa lebih tahu. Percaya deh sama saya :).
  4. Humble. Gak Sombong. Buat kalian yang masih sok-sok an sombong dan berencana melakukan seminar TA atau sidang TA saya sarankan bersikaplah rendah hati. Kepandaian gak harus selalu diumbar. Ndak usahlah sok pintar di depan penguji karena gak akan ada penguji yang terkesan dengan kepandaian kita. Sak pinter-pinterre mahasiswa, gak ada yang namanya dosen ngomong betapa canggihnya otak kita saat seminar atau sidang TA. Kalaupun kita merasa segalanya perfect, pasti adalah kritik dari penguji-penguji yang harus kita terima. Walau kritik itu terkadang begitu menyakitkan, tetapi saya bisa pastikan bahwa penguji bermaksud baik. Paling tidak dengan kritikan itu mental jadi tambah kuat atau bisa bikin kita tetap rendah hati karena menyadari di atas langit masih ada langit… Jiaaaaahhhhhhh mantap dahhh. Sok bodoh di depan penguji juga gak rugi-rugi banget deh. Karena dengan merasa kita bodoh kita lebih bisa menerima masukan dari penguji karena biasanya orang yang ngerasa dirinya pinter itu punya tempurung kepala sekeras batu, jadinya susah masukin kritik dan saran ke dalamnya….paling banter masuk kuping kanan keluar kuping kiri (atau masuk kuping kiri keluar kuping kanan).
  5. Percaya diri. Penting banget nih. Kalo dari awal kita sudah percaya bahwa kita bisa ya pasti bisa (Insya Allah). Seperti salah satu quotes favorit saya, ‘If I think I can, I Can Do It. Karena prasangka Tuhan tidak akan jauh dari prasangka hambaNya. Kalo kita sudah punya pikiran baik, pasti Tuhanpun demikian. Tapi terlalu percaya diri kan bisa jadi bomerang? Yuuuupppp….. memang. Terlalu percaya diri terkesan sombong, so balik lagi aja ke tips saya sebelumnya….
  6. Sabar. Itulah salah satu cara saya yang lain supaya bisa menghadapi penguji-penguji seminar. Saya sabar mendengarkan mereka. Saya sabar saat gak ditanggapi sama dosen pembimbing. Saya sabar saat disuruh revisi, hingga revisi ke 13!!!! Saya sabar saat dikatain goblok. Saya sabar saat dipisuin. Saya sabar saat ditertawakan. Saya sabar saat melihat proposal teman-teman lain sudah fix sedangkan milik saya (saat itu) masih revisi ke 5. Untunglah saya sabar karena orang sabar itu pasti beruntung. Meskipun proposal saya kala itu baru disetujui oleh dosen pembimbing setelah direvisi 13 kali sedangkan teman-teman lain hanya empat sampai lima kali, saya beruntung bisa mempresentasikan proposal TA itu lebih dahulu daripada mereka. I’m verry lucky ;). Karena itulah sabar penting bagi mereka yang akan menghadapi seminar atau sidang TA.
  7. Ikhlas. Rada susah sih mempraktekkan ini, karena saya sebagai manusia normal juga perlu waktu untuk menjadi ikhlas. Ikhlas kalo lulus dan ikhlas juga kalo gak lulus. Dan sebagai individu yang lulus, saya merasa sulit sekali menjadi ikhlas. Mungkin lebih mudah ikhlas kalo saya gak lulus karena banyak banget kata-kata mutiara untuk kegagalan. Sedangkan untuk keberhasilan, kata mutiaranya susah banget. Yang ada malah ucapan selamat dari sejuta umat yang membuat saya tertawa sepanjang hari (GILA) dan pada akhirnya lupa bahwa saya toh baru lulus seminar bukan lulus sidang TA dan kalo pada tahap tertawa sepanjang hari itu juga belum bisa ikhlas maka akhirnya sampailah pada titik congkak (Ya Tuhan, semoga saya tidak begitu). Dan cara ikhlas yang saya lakukan setelah lulus seminar adalah berkata dalam hati Di atas langit masih ada langit. Cara itu terbukti manjur untuk saya.
  8. Jaga Kesehatan. SANGAT PENTING. Jangan sampe seperti saya yang terserang radang tenggorokan dua minggu sebelum seminar yang bikin suara ilang total dan muncul H-2 seminar ckckckckckckck… Demam tinggi plus ingusan dan dibarengi dengan diare. Komplitlah pokoknya! Entah itu gara-gara si cekaman atau apa tapi yang pasti juga karena kelalaian saya menjaga kesehatan. Jangan sampe makan empat hari sekali dan tidur malem cuma di hari sabtu! Meskipun belajar semalaman sampe sepagian, percuma kalo di hari H tepar. Jadinya gak maksimal…. seperti yang sudah saya alami. Keep Healthy!!!! Healthy inside, Fresh Outside
  9. Membentuk Tim Sukses. Gak hanya Calon Presiden saja yang boleh bikin tim sukses, peserta seminar juga bisa kok. Banyak banget manfaatnya Tim sukses ini bagi kelancaran seminar. Dengan adanya tim sukses, kemarin pas saya seminar pikiran saya hanya terfokus pada presentasi jadi yang ngurus masalah teknis ya Tim suksenya. Mulai dari pesen konsumsi penguji dan penonton, ngurusin ruangan, manggil dosen di ruangannya 30 atau sepuluh menit sebelum seminar mulai (biasanya banyak dosen yang suka dateng telat, bahkan lupa kalo harus nguji seminar 😦 ), sampek nyatetin revisi dari penguji karena repot kan kalo kita sibuk nyatet apa yang diomongin penguji yang pada akhirnya malah mengurangi eye contact dengan dosen.
  10. Penonton. Mutlak perlu. Karena kehadiran teman-teman inilah yang semakin menyemarakkan suasana ruang serminar. Paling tidak sedikit memberikan kehangatan di tengah-tengah cekaman seminar ;). Meskipun kedatangan mereka terkadang hanya untuk klenikan seharga 500, tapi kedatangan teman-teman menjadi penyemangat tersendiri bagi peserta seminar, itulah yang saya rasakan (lagi-lagi saya ucapkan terimakasih pada teman-teman yang sudah meramaikan seminar saya … Grazie Mille ).

Bukannya saya mau sok kasih tahu atau sok ngajarin. Tapi dari pengamatan saya terhadap beberapa teman yang tidak lolos seminar ya karena kebanyakan dari mereka tidak mengikuti tips yang sudah saya tuliskan di atas.

Saya harap teman-teman yang akan seminar selanjutnya bisa lolos dengan hasil yang maksimal…. Good luck Guys!! Wish all the best for You! AMIN 🙂