Tak Perlu Menjadi Bodoh Jika Kita Tidak

Saya pernah mengatakan bahwa menjadi bodoh itu terkadang lebih baik daripada menjadi orang yang sok tahu atau ngeyel. Bener 100%. Orang-orang bodoh di luar sana banyak yang punya rumah bernilai ratusan juta. Orang-orang bodoh di luar sana banyak yang punya mobil mewah. Orang-orang bodoh di luar sana pun banyak yang punya timbunan uang di Bank. Dan saya menyimpulkan orang bodoh itu lebih sering dihampiri Dewi Fortuna.

Tapi gimana ceritanya kalo kita gak bodoh? Pura-pura aja jadi bodoh. Pura-pura gak tahu. Dan pura-pura lemot.com. Mungkin bisa mendapatkan apa yang orang bodoh dapatkan. Itulah masalahnya. Kalo saya pintar, kenapa saya harus pura-pura bodoh? Kalo kita bisa, kenapa harus pura-pura tidak bisa? Kenapa kita senang dikatakan bodoh? 😦

Semester ini betul-betul penuh ujian dan aral melintang untuk sebuah Final Project. Perlu diingat bahwa beda TA, beda pula masalah yang dihadapi. Masalah saya adalah saya harus berhadapan dengan manusia, Subjek Tuhan yang paling rumit dan menyebalkan. Hanya gara-gara Nicotiana tabacum, saya menjadi terkenal. Tidak hanya di kampus, tetapi mungkin juga di luar. Hiiiiaaaa…. berasa artis deh!! . Ceritanya pannjaaaannngggg… tapi intinya saya telah menjadi terkenal di suatu populasi yang ada di dalam salah satu perusahana terbesar di negeri ini.

Tiga minggu lalu saya dibilang tidak punya sopan santun. Minggu ini saya dibilang gak punya tata krama. Mungkin minggu depan saya dibilang tidak punya otak!!!!!

Hubungannya sama orang bodoh apa ????

Si Nicky itu tak kunjung saya dapatkan. Manusia yang saya mintai tolong itu sama sekali tidak membantu. Tidak menolong. Saat saya menghubunginya melalui SMS, dia malah menyebarluaskan SMS saya itu ke salah satu adik tinggkat saya. Dan adik tingkat saya menceritakan hal itu pada salah satu teman angkatan saya. Dan teman angkatan saya itu menceritakan pada saya. Mbuletttttt ae!!!

Saya sih tidak tahu pasti apa yang Jerk People itu ceritakan pada adik tinggkat saya, tapi sepertinya saya sudah di blacklist. Adik tingkat saya itu disuruh menyampaikan pesan supaya saya tidak mengirim SMS jika butuh bantuan, tapi langsung telpon. Dan karena saya SMS itulah saya dibilang gak tahu adat!! Busyet dah!!

Saya bukannya gak mau telpon, tapi kan ada orang yang gak mau ngangkat telpon dari nomor yang gak dikenal. Makanya saya kirim SMS dulu dan isi SMS itu gak macem-macem kok. Cuma sekedar introduction singkat. Saya SMS nya formal dan gak pake icon kedip-kedip juga!!

Dan kata teman saya kalo saya telpon si manusia edan itu saya diharuskan bersikap kalem aja. Sok gak ngerti apa-apa. Jadi bersikap lugu aja!! LuGu?? Lucu dan Guobbllokkkk???

Saya akui bahwa saya butuh orang itu. Tapi bukan berarti saya harus menerima semua caci makinya kan?!! Saya tidak harus tunduk dan patuh padanya layaknya abdi dhalem keraton Jogja dan dia juga bukan Sultan!!! Saya bukan orang bodoh yang harus mengikuti semua aturannya. Saya tidak mau berpura-pura bodoh hanya untuk sebuah tembakau 😦

Hari ini dia mengatakan “Sopo koen, aku gak butuh awakmu” karena saya tidak bersikap seperti teman-teman atau orang lain padanya. Saya cuma mengucapkan terimakasih sebelum menutup telpon dan istighfar setelahnya.

Sabar…… Orang sabar itu beruntung.

Dan saya rasa saya benar karena dua jam setelah hinaan ini saya mendapatkan SMS dari senior saya dimana dia mengatakan bahwa dia mau membantu saya (perlu waktu tersendiri untuk menceritakan senior saya ini).

Alhamdulillah ya, Insya Allah… saya sudah mendapakan objek penelitian untuk TA ini 🙂

Terkadang menjadi orang bodoh memang mendapatkan kehidupan yang lebih menyenangkan dan tanpa beban. Namun, saya yakin dengan pasti bahwa menjadi orang pintar itu jauh lebih terhormat. Meskipun lebih banyak mendapatkan ujian. Meskipun lebih banyak dicerca. Meskipun lebih banyak dihina dina. Pasti masih  banyak yang lebih memilih menjadi orang pintar dibandingkan orang bodoh. Sama seperti seorang Presiden. Meskipun banyak dihujat rakyat. Ditelikung oleh partai oposisi. Dijadikan sasaran teroris. Tapi saya saya yakin jika pilihanya antara Presiden dan Tukang Becak… Siapa yang menolak menjadi Presiden?

P.S: Pintar itu tidak harus ditandai dengan rentetan piala atau piagam penghargaan atau IPK 100 atau gelar atau jabatan atau pangkat atau gaji tinggi. Pintar itu seperti Oryza sativa yang semakin berisi semakin merunduk dan seperti Cocos nucifera yang semua bagian tubuhnya dapat bermanfaat untuk sekitar.

Advertisements