Sinetron ala Indonesia


Pusing sekali kepala saya, bukan migrant yang seperti biasa. Tapi kepala kleyengan muter-muter dan tidak bisa berfikir. Semua pemberitaan saat ini sangat membosankan. Penting memang mengetahui kondisi aktual dalam negeri, tetapi gak penting juga kalo ternyata setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setip pekan, setiap bulan, sepanjang tahun selama beberapa tahun belakang ini masalah yang diberitakan selalu sama. Mungkin hanya beda pemeran utama saja, tetapi kisahnya tak jauh berbeda.

Waktu saya stay turn di stasiun TV A beritanya Hari ini polisi korupsi. Besoknya anggota dewan korupsi. Terus lusa orang KPK korupsi (nah lho… KPK kok jadi ikutan korupsi). Jangan-jangan tukang sayur yang suka lewat depan kos saya juga korup!!!! Karena bosen saya pindah channel ke TV Z untuk cari kisah yang berbeda. Dan hasilnya “tak ada!!!!!” Sama saja. Yang membuat beda hanya alur ceritanya. Kalo yang di stasiun TV A diawali dari teroris, di Stasiun TV Z diawali dari pembayaran pajak. Tapi ending-endingnya tetap saja korupsi… upssss…salah..bukan ending, tapi inti ceritanya karena dari semua sinetron itu belum ada kejelasan ending. Semuanya antiklimaks dan membuat penonton yang sebagian besar rakyat jelata seperti saya semakin bingung. Mau mikirin juga masih harus mikirin harga-harga sembako yang terus naik seenak jidat mereka atau seperti saya yang masih harus memikirkan TA yang belum juga selesai, jadinya kami hanya bisa menonton dan melontarkan argument atau cacian sopan pada kotak segiempat berwarna dan bersemut (di kosan saya sih 🙂 ) dan kalau sudah tidak tahu apa yang harus dikatakan dipencetlah tombol berwarna merah pada remote control lalu cuci muka dan tidur. Selesai sudah.

Tapi kemudian saya menemukan channel yang menyajikan kisah berbeda. Ternyata TV T memiliki gaya tersendiri dalam menyajikan kisah 1001 malan negeri ini. Kisahnya bukan tentang korupsi!!! Asiikkkk…mantap dah!! Sambil minum kopi hangat plus air putih saya pelototin si layar kotak segiempat. Dan kemudian si news presenternya pun berkata;

Dari Surabaya, Jawa Timur, diketahui seorang mahasiswa dari Universitas Ternama mengalami gangguan jiwa dan berniat membunuh dosennya. Mahasiswa tersebut diindikasikan terlalu stress karena tengah mengalami tekanan yang kabarnya berasal dari studi yang dijalaninya. Menurut teman dekatnya, mahasiswa yang berinisial ‘M’ tersebut kerap kali diperlakukan tidak baik oleh...”

AAAAAAAAAAAAAAAAAAA………………ganti-ganti!!! Beritanya memang beda, tapi menakutkan…Hiiiiii.. 😉

Lalu, pindahlah saya ke TV S. Di stasiun TV ini saya mendapati berita bahwa presiden merasa dipecundangi oleh bawahannya karena selama beliau menjabat sebagai Presiden, sangat sedikit sekali proyek-proyek daerah yang terealisasikan dan kesejahteraan masyarakat masih berada di garis kemiskinan (untung tidak di bawah garis kemiskinan). Waduh… kalo Pak Presiden saja merasa dipecundangi, bagaimana dengan saya? Bagaimana dengan rakyat jelata lainnya? Berarti selama tujuh tahun terakhir ini semua yang terjadi di negeri ini hanya kisah fiktif dong?? Hanya sebuah sinetron gitu?

Aiiii… saya benar-benar tak habis pikir. Mengapa stasiun TV di negeri ini menyuguhkan kisah yang serupa pada pemirsanya? Mengapa negeri ini suka sekali menyajikan kisah yang sama pada rakyatnya? Korupsi, Gila, Pembunuhan, ataupun Ekonomi lemah memang merupakan rangkaian huruf yang berbeda. Akan tetapi, inti cerita dari semuanya tidaklah berbeda. Korupsi terjadi jelas karena uang. Gila pun terjadi karena memikirkan uang. Pembunuhan? Bisa berawal dari uang. Ekonomi lemah, jelas karena tidak ada yang namanya uang!! Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya jelas butuh uang. Ujung-ujungnya saya jadi tambah pusing.

Kalau episode korupsi belum juga menemukan endingnya, saya sarankan pada ‘sutradara’ untuk mengganti jalan ceritanya. Misalnya dengan menghapuskan pajak. Nah..kalo rakyat tidak usah bayar pajak, kan gak ada tu kantor pelayanan pajak dan pasti gak akan ada penyalahgunaan pajak negara yang artinya tak ada korupsi pajak. Selain sinetron korupsi TAMAT, rakyat juga gak perlu menyisihkan penghasilannya yang sudah seret untuk bayar pajak dan saya gak usah takut-takut masuk resto keren yang di daftar menunya biasa tertulis ‘Harga Belum Termasuk PPN’ 😉 . Simple kan… itu sih menurut pemikiran dangkal saya saja. Tapi, kalo si sutradara punya cara lain yang lebih bagus dan jitu ya segeralah dilakukan syutingnya supaya sinetron ini cepat selesai.

Terus cerita orang gila dan percobaan pembunuhan gimana ngerubah skenarionya? Gampang mah itu… kalo TA sudah selesai, penyakit gilanya pasti hilang. Dan gak mungkin ada pembunuhan, karena saya rasa mahasiswa tersebut cukup pandai untuk berfikir ke depan dan menyadari bahwa dia lebih baik jalan-jalan poto-poto jika stress memikirkan TA nya daripada membunuh dosen…jadi cerita di TV T tadi itu hanya sekedar gosip. Bumbu penyedap acara TV belaka.

Sedangkan kisah ekonomi lemah bisa digantikan dengan cara hemat!! Banyak cara sebenarnya dan hemat adalah salah satunya. Buat pemerintah, gak usahlah berbondong-bondong pergi ke Luar Negeri untuk melakukan kunjungan kenegaraan. Biar Pak Presiden aja yang pergi. Ngapain juga semua menteri beserta istri dan anaknya atau mungkin orang tua dan mertuanya ikut lawatan negara…. ngapain coba?? Kalo mau ke luar negeri ya pake budget sendiri dong, jangan nebeng Pak Presiden saya!!! Buat para jutawan atau yang hobby jalan-jalan.. gak perlulah keliling dunia seminggu sekali. Ok.. bolehlah keliling dunia (karena saya juga mau), tapi kalo cuma sekedar potong kuku gak perlu sampe terbang ke Aussie kan? Kenapa gak ke supermarket atau swalayan saja untuk membeli potongan kuku terus potong kuku saja di rumah…. keluar biayanya paling banter 5 ribu rupiah. Jalan-jalan puter-puter Indonesia juga asik kok. Ada jogja, ada Bromo, ada Bunaken, Ada Danau Toba, Ada Kuta, ada Sanur, Ada Raja Ampat, dan ada macem-macem. Bule-bule aja doyan datang ke Indonesia. Masa mereka rame-rame ke Indonesia terus kita malah pergi ke tempat mereka? Ibaratnya kan kita ninggalin rumah dan menyerahkannya pada orang lain. Kalo niat bulenya baik sih OK, tapi kalo niatnya mau melakukan bioinvasi gimana? Kita bisa kehilangan rumah… bukan tukeran rumah sama si bule. Makanya, jangan sering-sering jalan ke luar negeri , stay at home!! Hematlah pokoknya!!

Ya Tuhan, semoga sinetron ini cepat menemukan episode terakhirnya. Saya yakin bahwa pasti ada ending dari sebuah drama. Pasti. Entah merah, putih, kuning, ataupun kelabu, pasti ada warna dari semua kisah, tak terkecuali sinetron di Bumi Pertiwi ini karena saya betul-betul bosan pada cerita dan kisah-kisah di TV saat ini.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s