I Can Do It With My Self, What More Is That?

Tiba-tiba saja teringat saat saya dibantai ketika seminar proposal TA. Kala itu saya tidak didampingi oleh dosen pembimbing 1 dan harus bertempur melawan empat orang penguji yang berusaha menjungkalkan saya. Sebenarnya satu dari empat orang penguji itu adalah dosen pembimbing 2 saya, tapi entah kenapa pada saat itu beliau malah ikut-ikutan menyerang dan menembakkan peluru pada saya. Kalo dingat-ingat terus rasanya sakit dan menyebalkan. Bagaimanapun saya telah berjuang mempertahankan argumen dan keyakinan saya akan proposal TA saya itu dan meskipun saya dilingkupi aura shock alias takut alias mati rasa di awal lantaran DoBing 1 saya tidak datang, saya tetap lulus seminar :).

Setelah melihat seminar beberapa kawan saya yang juga merupakan anak bimbing DoBing 1 saya itu rasanya saya iri dan cemburu setengah mati pada mereka. Alasannya banyak….

Pertama, saat bimbingan teman-teman saya diberi catatan macam-macam dan ketika disuruh revisi tidak hanya sekedar disuruh tetapi juga diberi literatur atau saran-saran yang tidak mbulet dan malah membuat malas untuk merevisi (Catatan: DoBing 1 Saya gak pernah ngasih saran mbulet yang membuat mahasiswanya malas revisi…ngasih saran mbulet itu bukan DoBing1 saya kok).

Kedua, ketika mereka mengkonsultasikan slide yang akan dipresentasikan saat seminar mereka mendapat kesempatan untuk mempresentasikannya di depan Dobing 1 saya itu.

Ketiga, DoBing 1 saya itu menghadiri seminar teman-teman saya meskipun ada beberapa seminar yang beliau hadiri separuh waktu alias meninggalkan ruang seminar setelah beliau membantu anak bimbingnya, setidaknya beliau datang.

Keempat, yang paling membuat saya iri adalah bantuan yang diberikan DoBing 1 saya pada saat teman-teman saya tersudut oleh suatu pertanyaan yang diberikan para penguji.

Dan masih banyak alasan kecil yang membuat saya iri pada mereka dan kalo saya mengingatnya rasanya betul-betul sakit tapi terkesan tolol.

Saya ingat betul berapa kali saya menemui DoBing 1 saya untuk konsultasi proposal. Hanya lima kali. Pertama saat pembuatan latar belakang alias Bab 1, kedua saat revisi latar belakang, ketiga saat membuat metodologi, keempat saat revisi metodologi, dan kelima adalah saat konsultasi slide yang saya lakukan seminggu sebelum seminar.

Pertemuan Pertama

Saya: “Bu, ini Bab 1 saya… saya menggunakan spesies yang ibu sarankan dengan konsentrasi senyawa…blablablablablabla” (tidak semua orang mengerti apa yang saya ucapkan setelahnya, jadi daripada buang-buang waktu lebih baik saya sensor saja)

DoBing 1 Saya: “heeemmmmm” (membuka file yang saya berikan sambil membolak-balik dengan khidmat)

Saya: “…………” (diem sambil bernafas pelan…sumpah saat itu sedang tidak punya pikiran. Seandainya ada jin atau setan usil, mungkin saat itu pikiran saya adalah tempat yang pas untuk mereka bermain)

DoBing1 Saya: “sreeetttt…sreettt…sreeeettt….” (menggoreskan pensil di atas Bab 1 saya)

Saya: “……………..” (tetap diem dengan muka menunduk karena rasanya sudah lebih dari 10 menit saya duduk manis dan mata saya mulai panas alias mengantuk euy!!)

DoBing1 Saya: “Oke… di latar belakang ditambah hasil jurnal penelitian ya. Terus yang perlu diperbaiki Cuma manfaat dan tujuannya saja. Ini filenya..cepet direvisi biar cepat maju” (Beliau menyerahkan Bab 1 saya)

Saya: “Jurnal penelitiannya agak susah, Bu”

DoBing1 Saya: “Ah…masa susah. Coba dicari lagi…banyak kok penelitian-penelitian yang menggunakan senyawa seperti yang kamu gunakan” (Beliau tersenyum nakal pada saya… eeiitttsss..)

Saya: “Iya Bu, nanti saya cari… kalo begitu makasih Bu.. saya permisi” (saya menghela nafas panjang dan berdiri dari kursi”

DoBing1 Saya: Mengangguk dan tersenyum

Pertemuan Kedua (Tiga Hari Setelah Pertemuan Pertama)

Saya: “Ini revisi Bab 1 saya,Bu”

DoBing1 Saya: “oooo…sudah ya…cepet sekali” (langsung membaca file yang saya serahkan)

Saya: Tersenyum…antara bahagia dan mumet

DoBing1 Saya: “Ini sudah baik.. langsung lanjut Bab 3 ya..” (menyerahkan file pada saya tanpa memberikan coretan pada file tersebut)

Saya: “Iya, Bu…” (tidak lebih dari 5 menit saya duduk, saya pun bergegas meninggalkan ruang dosen)

Pertemuan Ketiga (Satu Minggu Setelah Pertemuan Pertama)

Saya: “Mau konsultasi bab 3, Bu”

DoBing1 Saya: “Metodologinya standar kultur jaringan kan?” (Beliau mulai membolak-balik file yang saya berikan)

Saya: “Iya, Bu” (sembari mengangguk dan duduk manis…seperti pada pertemuan sebelumnya)

DoBing1 Saya: “Lainnya Oke, hanya perlu perbaikan di rancangan penelitiannya…blablablablabla”

Saya: Mengangguk dan merekam perkataan DoBing1 Saya dengan Hp saya (hehehehehehe….HP saya memang gak canggih-canggih banget, tapi cukup canggih untuk merekam suara dan hal ini sangat membantu saya mengingat ucapan dosen termasuk ketika sedang kuliah di dalam kelas. Lumayan membantu saya untuk lebih memperhatikan dosen ketimbang mencatat, kegiatan mencatat biasanya saya lakukan sepulang kuliah atau saat di kosan…itung-itung sambil mengingat pelajaran)

DoBing1 Saya: “Ya sudah…ayo direvisi”

Saya: tersenyum dan berpamitan pada dosen saya dengan wajah berlinang airmata…Hikksssss…. Gak Lahhhhhh…. memangnya saya mau kemana…

Pertemuan Keempat (Sepuluh Hari Setelah Pertemuan Pertama)

Saya: “Maaf Bu, mengganggu. Saya mau menyerahkan revisi Bab 3 saya sekalian bimbingan”

DoBing1 Saya: “Sudah ya Revisinya…” (sambil mengulurkan tangannya pada saya untuk meminta uang, upsss…salah..minta naskah alias file revisian saya)

Saya: Diam…dan mengambil nafas panjang sembari menyerahkan file Bab 3 saya

DoBing1 Saya: membaca naskah saya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya

Saya: seperti biasalah…duduk manis

DoBing1 Saya: “Oke-oke… sudah sip..tinggal kamu cek lagi kata-katanya, mungkin ada yang salah ketik atau kurang huruf. Sekarang temui KoOr pengampu TA, langsung plot jadwal seminar” (Menyerahkan naskah saya sambil tersenyum)

Saya: “Ndak ada lagi yang perlu direvisi, Bu?”

DoBing1 Saya: “Sudah baik, kok. Sudah bisa diseminarkan, makanya plot jadwal”

Saya: “Iya, Bu, Tapi saya belum selesai dengan dosen pembimbing 2, Bu!” (saya menjawab lemah dan tersenyum kecuttttttttt banget)

DoBing1 Saya: “ooo…gitu. Ya sudah..gak papa. Nanti kalo sudah langsung plot jadwal seminar ya… dari saya sudah cukup”

Saya: mengangguk takzim dan bergegas keluar dari ruang dosen

Pertemuan Kelima (DUA BULAN setelah Pertemuan Pertama/H-7 Seminar)

Saya: “Bu, ini slide untuk presentasi seminar saya”

DoBing1 Saya: “Sudah Ok, ya proposalnya” (Sambil melihat-lihat slide yang saya tunjukkan)”

Saya: Diam lagi

DoBing1 Saya: “Sudah Oke, kok. Sudah sana tunjukkan ke pembimbing 2 mu”

Saya: “I…ya…Bu” (Bengong, tapi langsung mengendalikan diri dengan tersenyum)

Akhirnya saya seminar dan dosen pembimbing 1 saya tidak menghadiri seminar saya dengan alasan lupa kalo saya seminar hari itu dan pada saat itu beliau ditugaskan rapat oleh jurusan di gedung rektorat. Saya pun menjadi sebatang kara dan terasa merana :(. Semua konsentrasi buyar entah kemana. Yang saya ingat adalah perkataan dua orang senior saya pada H-3 seminar saya

“Pokoknya kalo gak ada Ibunya jangan maju seminar,Dek. Riskan gak lulus”

Ya Tuhan…kenapa harus perkataan senior saya itu yang saya ingat. Bodohnya saya ini. Saya sangat menyesal karena terpengaruh oleh pernyataan so stupid itu :(. Saya betul-betul menyesal. Memangnya kenapa coba kalo DoBing1 saya itu gak bisa datang? Memangnya saya ini siapa beliau sehingga ibunya lebih memilih melihat seminar saya yang mungkin membosankan dibandingkan rapat di rektorat ketemu professor-profesor?!! Lagipula yang akan seminar kan saya, bukan dosen pembimbing saya….. Supaya mendapat bantuan dan dukungan moral? Oke.. itu memang perlu. Setiap orang memang tidak mungkin bisa hidup sendiri, tapi setiap orang kan harus MANDIRI!!! Mana ada orang yang mau meluangkan waktunya 24 jam hanya untuk kita… Nobody!! Dan saya rasa dengan menjadi pembimbing saya saja sudah merupakan dukungan moral dari DoBing1 Saya pada saya.

Jadi saya sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat menyesal karena terpengaruh oleh pernyataan itu :(. Kalimat stupid yang dilontarkan senior saya itu membuat saya memikirkan hal-hal bodoh lainnya. Saat seminar saya sempat berfikir bahwa dosen pembimbing 1 saya itu tidak peduli pada saya. Ada lagi pikiran-pikiran negatif tentang beliau yang cukup saya dan Tuhan saja yang tahu 😉. Intinya adalah saya benar-benar merasakan keirian yang luar biasa besar atau cemburu yang menguras hati dan rasa cemburu itu membuat konsentrasi saya semakin terpecah belah dan akhirnya saya tidak bisa menjawab sebuah pertanyaan simple dari salah satu penguji saya 😦. Ya Tuhan….betapa tololnya saya. Pertanyaan tersebut sangat mudah dan simple. Bahkan rasanya terlalu mudah untuk sebuah pertanyaan. Untungnya pertanyaan tersebut adalah pertanyaan terakhir dari para penguji. Dan sewaktu saya mengatakan “Pas” sebagai jawaban, dosen penguji saya tersenyum pada saya. Senyuman tersebut bukan senyuman menghina atau ngece atau senyuman jahat lainnya, melainkan senyuman tulus dan sedikit geli yang mungkin dikarenakan si Ibu melihat ekspresi lelah di mata saya.

Setelah melihat senyuman dosen penguji saya itu, pikiran saya mulai terbuka dan akhirnya muncullah penyesalan karena saya terlalu memikirkan perkataan stupid dari senior saya. Betul-betul stupid karena saya toh bisa lulus seminar tanpa kehadiran DoBing1 saya!!!

Dan hari ini saya baru menyadari bahwa saya sebenarnya tidak perlu iri karena diperlakukan berbeda dari teman-teman saya yang lain. Kenapa saya iri jika waktu bimbingan saya paling lama 15 menit sedangkan teman-teman saya minimal 30 menit? Saya harusnya bersyukur karena tidak harus berlama-lama di ruang dosen yang sunyi senyap dan membuat saya mengantuk ;). Kenapa saya harus iri jika file proposal saya tidak penuh dengan coretan seperti milik teman-teman saya? Bukankah itu membuat proposal saya terlihat jauh lebih baik dan tidak diperlukan orang jenius untuk menjelaskan apa artinya! Kenapa pula saya harus iri karena DoBing1 Saya tidak datang saat seminar? Bukankah itu berarti beliau percaya bahwa saya bisa bertahan dari gempuran penguji dan buktinya saya bisa (Alhamdulillah… 🙂). Jadi saya tidak perlu iri karena rasa iri itu sudah terlalu banyak menyulitkan saya. Membuat hidup saya tidak tenang. Membuat kelabu pada hari-hari saya yang penuh warna.

 

P.S: Bu Tutik…Maafkan Saya karena beberapa bulan terakhir merasa kesal pada Ibu. Tapi Saya betul-betul mengharapkan kehadiran Ibu di Sidang TA saya… Please, Mom…come to my Final Session Day!!:(

Lagi-Lagi Miss Communication

Belum juga dimulai, salah satu praktikum yang saya pegang sudah menimbulkan masalah. Bukan perkara macam Gayus yang merugikan negara ratusan triliun atau masalah PSSI yang gak ketahuan pangkal ujungnya, melainkan masalah kecil yang terjadi antara saya dan teman-teman asisten lainnya. Biasalah…masalah kurang komunikasi dan koordinasi.

Minggu lalu saat briefing pertama telah disepakati bahwa mata acara praktikum pertama dan kedua dilakukan secara communal alias bareng-bareng dengan semua kelompok. Karena praktikan berasal dari strata atau angkatan yang berbeda maka jadwal praktikum pertama dan kedua yang dilakukan minggu ini disesuaikan dengan jadwal kosong praktikan dan asisten yang artinya adalah praktikan harus melakukan koordinasi dengan praktikan lain dan asistenpun melakukan hal yang sama.

Praktikum ini bukanlah pertama kali saya menjadi asisten dan saya rasa teman-teman asisten lain yang kebetulan adalah senior-senior saya tidak baru kali ini saja menjadi asisten. Kami sudah beberapa kali menjadi asisten di beberapa acara praktikum. Hanya saja baru kali ini kami bekerja sama sebagai asisten. Karena itu saya beranggapan bahwa kami pasti bisa mengatur diri kami masing-masing dan bisa mengerti mengenai tata cara praktikum dan tidak meributkan masalah yang simple. Lagipula praktikum Kultur Jaringan ini termasuk dalam mata kuliah pilihan sehingga jadwal praktikumnya bersifat kondisional.

Tapi masalahnya adalah sejak briefing pertama dengan teman-teman praktikan, keputusan mengenai waktu praktikum communal belum juga mencapai kata sepakat. Atau mungkin sudah ada kesepakatan tetapi saya tidak mengetahui kesepakatan tersebut.

Inilah alasan saya mengapa saya lebih menyukai berkolaborasi dengan teman-teman seangkatan sebagai asisten praktikum. Karena dengan teman-teman angkatan yang jadwal kuliah dan maennya sama saja kami jarang bertemu sehingga komunikasi hanya bisa melalui SMS atau chatingan internet macam YM atau FB, Bagaimana dengan saya dan senior-senior yang notabennya kami memiliki jadwal yang sama berbeda? Kan ada SMS? Iya sih, tapi tetap aja beda banget. Biasanya kalo dengan teman sendiri SMS sannya itu lebih santai, tapi kalo dengan senior agak kaku. Dan karena kekauan itulah saya jadi sungkan menghubungi senior. Kalo saya yang tanya duluan ke mereka mengenai konfirmasi jadwal praktikum dari praktikan takutnya saya dikira cerewet atau sok ngatur atau sok penting. Tapi kalo saya gak menghubungi mereka, jadinya seperti ini…. kemarin sore saya baru tahu kalo praktikum pertama dan kedua dilaksanakan hari ini dan sialnya hari ini saya sudah punya agenda yang tidak mungkin saya tanggalkan.

Hahhh….. benar-benar aneh. Kenapa pula praktikum tetap dilaksanakan hari ini sementara ada beberapa praktikan yang tidak dapat mengikuti praktikum? Beberapa teman-teman saya (angkatan 2007) yang juga mengambil mata kuliah kultur jaringan baru mengetahui bahwa praktikum di lakukan hari ini ya tadi H- beberapa jam sebelum praktikum. Dan Liza juga praktikan, apa mungkin dia meninggalkan seminarnya hanya untuk praktikum ini? Nonsense!!

Siang tadi Liza seminar dan saya adalah tim suksesnya. Mana bisa saya meninggalkan ‘klien’ saya sendirian menghadapi pembantaian para dosen? Saya harus mengurus masalah konsumsi, jadi juru tulis dia saat seminar, sampe membisikkan sedikit jawaban jika ada pertanyaan yang membuat teman saya itu terpaku tak berdaya… jadi mana mungkin saya bersenang-senang dengan praktikan saya sementara Liza harus memperjuangakan langkah awal hidupnya!!!

Saya sama sekali tidak ingin melepaskan tanggung jawab sebagai asisten, dan saya rasa selama menjadi asisten saya tidak pernah teledor pada tanggung jawab saya, tapi minggu lalu saya sudah menekankan bahwa saya tidak bisa mengasisteni pada hari rabu 30 Maret 2011 karena harus membantu seminar teman saya. Dan akhirnya ketika saya tahu bahwa praktikum dilakukan pada hari rabu maka saya langsung mengontak praktikan saya bahwa praktikan yang saya asisteni melakukan praktikumnya di hari lain. Mereka akhirnya setuju karena beberapa diantara mereka harus mengikuti suatu pelatihan yang dilaksanakan kampus. Dan karena inilah saya mendapatkan teguran dari salah satu senior saya. Senior saya itu sepertinya kesal karena saya membuat keputusan sendiri dengan mengadakan praktikum di hari lain tanpa konfirmasi dan hal itu membuat waktu praktikum menjadi simpang siur. Mendengar teguran yang berasal dari pesan singkat tersebut jiwa saya terpecah belah ;).

Separuh jiwa hitam saya mengatakan: Harusnya saya yang kesal karena saya tidak diberitahu mengenai jadwal praktikum hari ini.:( Sehingga saya memutuskan untuk membuat jadwal praktikum bagi praktikan saya karena saya benar-benar gak bisa meninggalkan seminar teman saya. Lagipula saya tidak punya maksud buruk. Bisa saja saya tetap menyuruh praktikan saya melakukan praktikum tanpa saya dan menitipkan mereka pada asisten lain. Tapi satu asisten itu sudah punya 14 orang praktikan, jika saya menitipkan praktikan saya pada teman-teman asisten lain sanggupkah teman-teman asisten menangani? Karena buat saya praktikum itu bukan untuk dolanan… sebagai asisten saya merasa punya kewajiban untuk memaparkan apapun yang saya ketahui kepada praktikan dan dengan tidak meremehkan asisten lain saya tidak yakin apakah pemikiran saya sama dengan asisten lainnya. Saya pernah menjadi praktikan kultur jaringan dan saya tidak mendapatkan apa-apa kecuali angka 100 pada pretes dan postes saya 😉 .Selebihnya saya pelajari sendiri. Dan itu karena saya merasa asisten-asisten saya waktu itu kurang memberikan ilmu… Dan jika saya menanyakan sesuatu pasti dijawab begini “Di buku ada lengkap kok. Baca aja sana, Mei… kamu kan suka baca, Dek?!!” Fuiiihhhhh….. 😦 kemudian saat ujian akhir praktikum yang biasanya adalah presentasi, asisten saya selalu bilang begini “Pertanyaan untuk kamu apa ya? Kalo pertanyaan yang biasa-biasa aja pasti bisa jawab!” Busettttttt……. baru saya tahu ada seorang pendidik yang tidak suka jika siswanya mampu menjawab pertanyaan. Dan saya tidak ingin praktikan saya bernasib seperti itu, karena itulah jika saya tidak bisa mengasisteni saya selalu mencari jadwal lain untuk praktikum susulan… saya tidak mau melepas tanggung jawab. Hanya itu niat saya saat saya menyuruh praktikan saya praktikum di hari lain, bukan untuk menyimpang siurkan berita!! Justru konfirmasi yang tidak dibagikan itulah yang menurut saya sebagai penyebab kesimpang siuran berita.

Separuh jiwa putih saya mengatakan: Sudahlah… saya memang salah karena tidak mengikuti kesepakatan asisten dan membuat keputusan sendiri mengenai jadwal praktikum. Mungkin sikap saya ini membuat image asisten kurang baik di mata praktikan, khususnya kurang kompak dan kurang koordinasi. Karena itu saya betul-betul meminta maaf jika sikap saya ini mengganggu suasana hati teman-teman asisten. Sungguh, saya tidak punya niatan jelek. 🙂

Seperti yang saya bilang tadi, masalah ini terjadi karena kurangnya komunikasi antara praktikan dan asisten. Lagi-lagi miss communication!!!! Ah….begini rasanya jika kepala-kepala batu dikumpulkan menjadi satu. Jika saling berbenturan bunyinya begitu keras, tapi Insya Allah semakin kuat benturan itu semakin cepatlah bongkahan batu menjadi kerikil yang akhirnya melapuk menjadi tanah sehingga mampu dijadikan pijakan bagi siapa saja yang ada di atasnya 😉

 

P.S: Saya tidak tahu apakah saya dimaafkan atau tidak. Apakah senior saya masih marah atau tidak. Yang jelas saya tidak mau memperpanjang masalah ini karena masalah TA saya saja sudah cukup panjang. Setidaknya saya tidak merugikan siapa-siapa….. seperti Gayus yang merugikan Negara

Susahnya Kuliah di Kampus Saya

Ya Tuhan… apa lagi ini. Saya pikir masalah Tugas Akhir saya sudah selesai tapi ternyata NOT YET!!!! Saya masih harus berurusan dengan masalah absensi proposal TA. DAMN IT!!!!! 😦

Sepengetahuan saya yang berasal dari desas-desus senior dan kawan-kawan, mahasiswa di jurusan saya bisa maju sidang TA jika telah menghadiri minimal 10 seminar TA. Dan saya yang sudah menghadiri 7 seminar TA santai-santai saja karena hanya kurang 3 dari target minimal. Tapi ternyata hari ini ketua jurusan saya mengatakan bahwa  semua mahasiswa bisa melakukan sidang TA jika telah menghadiri seminar proposal TA minimal 80% dari total mahasiswa yang mengambil mata kuliah seminar. Atau bisa langsung sidang TA tapi nilai kelulusan tidak keluar sebelum syarat mengikuti seminar proposal TA terpenuhi.

Huuuuaaaaaaaaaaaa………bagaimana ini?? Rencana sidang TA saya bulan depan belum bisa terlaksana dong ;)…. berarti saya masih harus leyeh leyeh dong…hehehehehehehe… 🙂 Oh No!!!!!! Saya bisa-bisa menjadi malas….

Kenapa harus ada peraturan begitu? Pantas saja mahasiswa di jurusan saya sangat susah untuk lulus 3,5 tahun. Jangankan 3,5 tahun, mau lulus standar strata 1 (4 tahun) saja sudah harus bekerja sangat keras. Kuliahnya susah, penelitiannya susah, biayanya susah, dan sekarang di tambah dengan syarat yang baru saya ketahui. Apa coba maksud dari persyaratan ini?

Saya betul-betul mendoakan supaya teman-teman saya dan semua mahasiswa di kampus saya cepat maju seminar supaya saya bisa cepat maju sidang TA dan lulus tepat waktu lalu melanjutkan studi ke strata selanjutnya dan seterusnya..Pokoknya cepat lulus lah…AMIN 😉

i wanna go home

Di depannya selalu bersikap dingin, tidak ada setitik antusias…

Hanya meminta, tapi tak tahu bisakah membalas…

Terkadang kami berjalan beriringan, tapi saat itu saya membuat jarak

Ketika kami jauh, ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan rentetan syair indah sekalipun…

Inikah yang dinamakan rindu?

Mam…Dad….

Aku ingin pulang

By meirina Posted in Poetry

Cukup Dengan Rasa

Bukan sesuatu yang salah jika dilakukan..

Bukan hal yang yang berdosa jika dirasakan..

Bukan keburukan yang harus disembunyikan..

Bukan kesalahan dan tak perlu kata penyesalan..

Bukan kebodohan yang perlu revisi berulang….

Bukan perkara sulit sehingga tak butuh profesor untuk sekedar menganalisisnya…

Bukan keanehan..

Bukan kelangkaan…

Tapi bukan sesuatu yang patut dipaksakan..

Hanya untuk dirasakan…..

Tidak ada paksaan

Tidak ada keharusan untuk membalas ataupun dibalas

By meirina Posted in Poetry

Khadafi Dan Juventus Saya

Tripoli masih bergejolak. Gempuran militer AS dan Inggris tak juga berhenti. Koalisi Khadafi tak mau kalah. Dan pemberontak belum juga menyerah untuk sebuah demokrasi. Sampai kapan Afrika Utara membara? Jangan tanya pada saya karena saya tidak punya hubungan apapun dengan mereka yang saat ini tengah bermain-main dengan mesiu. Kalaupun saya peduli pada konflik di Libya tersebut karena keluarga Khadafi memiliki saham kepemilikan Juventus dan seandainya terjadi apa-apa pada keluarga Khadafi akibat perang tersebut maka Juventus saya akan ikut terseret ke dalam masalah Khadafi, masalah financial club. Kalo sampai hal itu terjadi, bisa rugilah my lovely Juve!!!! 😦

Mungkin saya di cap egois atau tidak peduli pada kondisi kritis masyarakat Tripoli karena saya hanya peduli pada Juventus. Saya mungkin dicap tidak punya rasa kemanusian dan belas kasih, tapi mau bagaimana lagi coba? Saya toh tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan konflik Khadafi. Saya tidak punya uang dollar sekarung yang bisa saya salurkan untuk membantu penduduk Libya yang menjadi korban. Saya juga tidak punya uang untuk terbang ke sana menjadi relawan dan kalaupun punya mungkin saya lebih memilih plesir ke Italia atau melanjutkan studi saya di London atau Manchester ;). Bukannya tidak peduli, saya hanya berusaha untuk realistis. Karena hidup saya juga penuh dengan tanggung jawab dan kewajiban.

Saya juga tidak terlalu paham masalah politik dan kawan-kawannya. Yang saya mengerti saat ini adalah kekerasan demi kekerasan terjadi di sana. Tak peduli AS, Inggris, Khadafi dan para pemberontak semuanya hanya bergelut dengan kekerasan, dan saya sama sekali tidak menyukai kekerasan.

Saya rasa kekerasan hanya akan menimbulkan dendam dan dendam itu adalah salah satu penyakit hati terjahat di dunia. Tidak ada gunanya terus-menerus mengirimkan personil tentara ke sana, karena yang ada hanya akan semakin memperbanyak letusan-letusan bom dan baku tembak. Selain memakan korban jiwa, entah itu kalangan militer ataupun sipil, suara-suara letusan baku tembak tersebut pasti berisik sekali. Rasanya saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika seandainya saya di sana, pasti saya tidak bisa tidur pulas karena terlalu berisik. Bukannya lebih baik dana yang dialokasikan untuk perang dipake untuk rakyat Libya yang jadi korban konflik? Lagipula untuk apa coba militer AS ikut ambil bagian dalam masalah Khadafi? Bukannya itu masalah internal antara Khadafi dan penduduk Libya, kenapa USA ikut campur? Saya bingung…

Hal yang paling saya inginkan tentu saja kedamaian di muka bumi ini, siapa coba yang tidak mau hidup dalam kedamaian? Tapi secara khusus saya mengharapkan tidak terjadi apa-apa pada Khadafi dan keluarganya, karena dengan begitu saham Juventus saya aman :).

P.S: Berita terakhir yang saya dengar adalah saham Khadafi di Juventus dibekukan…. ohhhhh… semoga tak ikut membekukan kondisi finansial Juve!!

BITS 2007 Sedang Bad Mood Massal

Hari ini saya kembali melihat wajah-wajah yang terlipat dengan mulut manyun. Sepertinya bad mood ngelab yang saya rasakan juga dialami oleh kawan-kawan saya. Mereka memang gak bad mood untuk ngelab, tapi tetep saja bad mood.

Vika memberikan senyuman sinis saat saya melemparkan guyonan padanya. Indra cembetut di depan leptop. Ada juga segerombolan orang di depan lab botani saya yang terlihat lesu. Ais Intan terlihat seperti biasa, tapi kerutan di keningnya tidak bisa menipu saya jika dia sedang bad mood. Saya dan Ketut ribet cari tugas presentasi sambil poto-poto :)…. Tapi yang jelas tadi itu  saya merasakan ada perang dingin antara dua kubu…

Kalo menurut sok tahu saya, salah satu bad mood disebabkan hanya gara-gara masalah jabatan asisten. Heran deh Saya…cuma masalah sepele saja sampai manyun-manyun 10 m. Kenapa coba saling berbisik-bisik untuk masalah yang sebenarnya tidak terlalu penting ini? Asisten praktikum ae loh… Kenapa pula kalian terpana dengan jabatan asisten? Ok, mungkin ada kebanggaan tersendiri untuk beberapa orang ketika menjadi asisten dosen atau asisten lab. Dapat honor, dapat makan siang, dapat kenalan praktikan, dapat ilmu, dan dapat capek. Thats All. Capeknya luar biasa banget… ngurursin nilai orang padahal belum tentu nilai kita diurus.. ngejelasin materi sampe keluar busa dari mulut padahal belum tentu materi itu bisa menembus tempurung kepala praktikan yang kerasnya melebihi batu… belum lagi kalo jadi koordinator asisten….ngerekap nilai praktikan yang jumlahnya uakehh nemen di akhir semester dan ngerekapnya harus extra hati-hati karena menyangkut hidup matinya si praktikan…kalo sampe gak lulus…haduh….bebannya gede banget!!! (ceritane saya lagi curhat colongan ;)).

Dan saya rasa sangat tidak adil menukar ‘kebersamaan 2007’ dengan jabatan asisten. Siapapun kalian dan mengasisteni apapun, jadilah asisten yang kompak, jangan saling ngegosipin sesama asisten… Gosipin praktikan aja gimana??? 😉  Dan ingat, untuk yang menjadi koor asisten…ndak usah terlalu heboh dan berlaku semena-mena… jadi koor itu malah punya tugas yang lebih dibandingkan teman-teman asisten lainnya……jadi ndak usah kegirangan, biasa ae po’o… saya loh biasa aja ;).

Kalo memang ada masalah internal, sebaiknya dibicarakan bersama antar asisten, sehingga tidak ada yang namanya miss communication atau miss understanding dan miss miss yang lain…. Terus kalo ada pengumuman dari dosen, kasih tahu tu teman-teman asisten yang lain, jangan dikempit sendiri infonya..toh nanti juga si Koor butuh teman-teman asisten lainnya. Kalo mau dapet info dari dosen sendiri, yo ngasisteni dhewe ae loh..iso ta ngurusi 70 bocah-bocah ghemblung sendiri? Dengan begitu, Insya Allah gak ada yang ngegerundel di belakang (teman-teman asisten yang saya koordinir, kalian gak ngegerundel di belakang saya kan??? Percuma…. badan saya loh kecil, jadi saya tahu kalo kalian di belakang saya ;)).

Untuk yang sedang bad mood karena belum ada ide untuk membuat proposal TA, ya sudah…jangan muncul ke kampus. Mendingan pergi kemana gitu, karena pada umumnya ide  datang di tempat yang tidak terduga. Ke kebun Binatang kek..ke taman kota, ke pantai, atau jalan-jalan keliling kota…dan kalo sudah dapat ide, segera nyalakan komputer atau leptop kalian lalu buka MS Office dan ketikkan ide itu secepatnya. Atau bawalah blocknote kecil plus pulpen atau pensil saat jalan-jalan dan kalo melihat sesuatu yang tiba-tiba memunculkan ide, langsung tuliskan ide tersebut. Lalu buat deh proposal dan besoknya segera berburu dosen pembimbing… mudah kan 🙂

Buat yang sudah dapat ide, ya langsung garap rek proposalmu biar cepet selesai… Dan buat yang moody gara-gara proposal bolak-balik direvisi, jangan menyerah!!! Itu tandanya dosen pembimbing kita tahu bahwa kita bisa lebih baik, makanya kita disuruh memperbaiki…. Revisi saja, ikuti kata dosen..Niscahaya berhasil..Meskipun terkadang menyebalkan dan menjengkelkan, tapi toh pada akhirnya kita memang membutuhkan dosen untuk merevisi kita, bukan? So, keep move on!! 🙂

Mungkin saya hanya sok tahu, tapi biasanya sok tahu saya itu bener kok :). Ayolah teman…jangan begini…saya butuh kalian yang rame, bukan kalian yang merengut-rengut… kalo memang sedang tidak enak hati, lebih baik jangan ke kampus..seperti saya kalo lagi bad mood…tidur atau mendekam di kosan sampai suasana hati membaik 🙂 Minggu Depan saya tidak mau lagi ngeliat kerutan di kening kalian, kalo hal itu terjadi pada saya..Tolong tegur saya, OK 😉 Hentikan bad mood massal pada BITS 2007!!! Stop Bad Mood!!

Saya Belum Ingin Menikah

Akhirnya hari ini wejangan itu datang dari Ayah saya……

Nduk, sambil ngerjakno skripsi mbok yo cari-cari pasangan gitu loh. Biar nanti setelah lulus bisa langsung nikah!

Damn it!!!

Kenapa pula pernyataan itu harus diucapkan sekarang? Cari pasangan? Nikah? Ya Tuhan… saya saja tidak pernah memikirkannya. Bagaimana mungkin saya punya pikiran tentang hal itu sementara ada hal lain yang menurut saya jauh lebih penting yang patut saya nomor satukan. Cari pasangan…pasangan apa? Pasangan sekamar? Saat ini saya tinggal sekamar berdua dengan kawan saya, Nuri, kalau harus cari teman sekamar lagi nanti Nuri bobok dimana coba?? Saya sudah punya Dewi sebagai pasangan ngelab,  dan sejauh ini dia tidak pernah berbuat macam-macam yang sampai membuat saya murka. Terus mau pasangan apa lagi coba? Jalan-jalan? Saya juga punya pasangan untuk jalan-jalan. Bahkan pasangan saya jalan-jalan banyak, tidak hanya satu. Ada Robby, ada Eni, ada Ika, ada Chaca, ada Puput, ada Liza, dan masih banyak lagi pasangan jalan saya lainnya ;). Kenapa coba saya harus cari pasangan sekarang?

Nikah…… Haduh… saya kesulitan mendeskripsikan kata itu. Sejauh saya hidup, saya tidak pernah punya pikiran untuk menikah. Belum punya mungkin dan saya tidak tahu kapan saya punya pikiran untuk itu. Bahkan ketika Bapak saya menuturkan nasehatnya tadipun saya hanya terdiam. Sepertinya otak saya berhenti bekerja. Saya bingung mau menimpali dengan kalimat apa. Lidah saya seakan bertulang dan kepala saya tak lebih dari sebuah bangun bola lonjong dengan ornamen-ornamen di permukaan luarnya. Saya betul-betul bingung dan kehabisan kata.

Lalu Mami tiba-tiba mengirimi saya SMS yang isinya adalah:

Kapan ya Ibu, bisa makan kue lamaran lagi?

Dan ada pula orang tak dikenal yang tiba-tiba mengirimi saya pesan singkat yang isinya sungguh bukan saya banget dehhhhh….. dan selidik punya selidik orang itu adalah ponakan tetangga bude saya dan entah kenapa secara tiba-tiba mengajak saya untuk menikah!!! Busettttt…..berani sekali orang itu…saya salut atas keberaniannya mengutarakan hal itu secara langsung. Tapi, saya yang sama sekali tak pernah memikirkan masalah tersebut menolak dengan mantap dan tentu saja secara beradap karena meskipun saya tak pernah punya pikiran mengenai kata nikah, bukan berarti saya tidak mengerti bahwa menikah itu bukan sesuatu yang buruk malah sesuatu yang berpahala…itu adalah salah satu yang diajarkan di keyakinan yang saya anut. Jadi saya berusaha untuk tidak menyakiti siapa pun…

Kenapa orang tua saya menuturkan kata nikah di saat saya sedang dipusingkan dengan tobacco saya?? Untuk apa ayah saya menyuruh saya langsung menikah setelah lulus kuliah? Apa gunanya coba saya kuliah terus ujung-ujungnya cuma disuruh nikah? Jangan sampe Bapak dan Ibu saya mengatakan mereka ingin memiliki cucu..karena toh mereka sudah punya sangat banyak cucu dari sista-sista saya…ponakan saya sudah menumpuk, jadi cucu bukan alasan relevan  bagi mereka untuk menuntut saya menikah!

Nuri kerap kali mengatakan, bahkan setiap hari, bahwa saya benar-benar biksu! Dan sebutan itu dia sematkan pada saya karena dia menganggap saya tidak normal karena sekalipun tak pernah punya pikiran untuk menikah. Bagaimana mungkin coba saya punya pikiran menikah sementara eksplan saya belum mendapatkan tempat tumbuhnya? Bagaimana mungkin saya punya pikiran untuk menikah sementara saya belum mengelilingi dunia? Saya belum melihat Italia, saya belum menapakkan kaki di altar Oxford University, saya belum menghirup udara yang biasa dihirup dewa-dewi Yunani, saya belum membawa Ibu saya melihat menara Eifell yang menjulang, saya belum punya pekerjaan yang membuat saya punya penghasilan, saya belum punya perpustakaan, saya belum punya toko buku, saya belum punya buku yang  jadi bestseller di seluruh dunia, saya belum menjadi apa-apa, dan saya masih 21 tahun.

Saya mencoba membayangkan seandainya saya menikah saat ini. Usia saya 21 tahun dan rata-rata manusia hidup adalah 70-80 tahun. Anggaplah saya hidup sampai usia saya 80 tahun. Itu artinya saya akan menghabiskan sisa hidup saya dengan orang yang sama selama 59 tahun karena tidak mungkin saya menikah dengan banyak orang!!! No Way!!! 😦 Saya belum siap untuk itu, Bapak!!! Saya harus mengakui bahwa pernyataan Nuri ada benarnya. Dia mengatakan bahwa Saya tidak akan takut pada siapapun yang mengajak saya berkelahi atau perang atau siapapun yang mau menjatuhkan saya, tapi saya akan langsung mengibarkan bendera putih jika ada yang mengajak saya menikah 😦

Mungkin pikiran itu hanya sekedar pikiran kasar saya semata, tanpa analisis lebih lanjut. Pikiran itulah yang saat ini ada di dalam kepala saya mengenai pernikahan karena saya memang tidak ingin memikirkan hal itu saat ini. Saat ini TA saya jauhhhhhhhhhhhhhhh lebih penting dari pada apapun !!

Jadi saya harap tidak ada lagi yang ‘mengutuki’ saya dengan kata nikah dan tetek bengeknya. Dan bude saya tidak lagi menjodoh-jodohkan saya dengan ponakan tetangganya atau siapapun. Biarkan saya hidup dengan cara saya sendiri.

Percayalah, kalau saya mau menikah saya sendiri yang akan melapor pada kalian! Kalau Tuhan memang mengizinkan, saya pasti menikah pada waktunya. Tapi tidak sekarang!

Saya Sedang Tidak Ingin Ngelab

Rencana membuat larutan stok hari ini akhirnya hanya tinggal rencana. Pertama karena saya tiba-tiba terserang Bad Mood :), Kedua karena tiba-tiba saja saya eneg ngeliat lab, dan ketiga karena secara tiba-tiba saya males ngelab 😉

Sebagian besar orang mungkin mengatakan saya malas dan cari-cari alasan untuk tidak ngelab. Tapi mau bagaimana lagi, ngelab saya ini kan bukan sekedar masuk laboratorium terus nyampur-nyampur bahan, bikin-bikin medium, atau main-main dengan alat yang ada di lab..tapi ngelab ini menyangkut masa depan saya…menyangkut senyum orang tua saya…dan tentu saja menyangkut hidup mati saya…jadi saya rasa saya harus melakukannya dengan sepenuh hati!!! Dan saya punya keyakinan bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan suasana hati yang baik alias good mood akan memberikan hasil yang jauh lebih memuaskan dibandingkan saat dikerjakan ketika suasana hati sedang buruk. Dan itu sudah saya buktikan sendiri.

Jadi untuk teman-teman atau mbak-mbak yang tadi sedang ribet di lab, maaf jika kalian merasa saya tidak perhatian pada kerja kalian atau kalian menganggap saya sak kareppe dhewe… Saya betul-betul sedang tidak ingin ngelab. Terserah persepsi masing-masing mau mengekspektasi saya bagaimana. Yang jelas saya sedang bad mood dan saya tidak ingin ngelab. Thats All!!!

P.S: Kalo saya sedang on fire…. kerja saya di lab tidak buruk kok…Cara ngelab saya memang tidak sama dengan kalian, tapi toh hasil yang saya dapatkan tidak menyimpang , jadi biarkanlah saya ngelab dengan cara saya sendiri.

 

 

Derita Pemegang Kunci

Beberapa hari terakhir terjadi suatu kekacauan kecil di lab saya. Kunci Lab tempat saya ‘bermain-main’ beserta kunci lemari bahan disita oleh my lovely lecture (Miss.Tanti) dengan alasan laboratorium Botani di lantai dasar berantakan alias kotor. Damn it!! Padahal lab botani hanya saya gunakan untuk ngobrol-ngobrol alias gossip 😉 dengan teman-teman Botanical Communities, dan kamipun tidak berbuat ulah…paling banter juga cuma ngesot di lantai dan poto-poto…Gak lebih!! Tapi akibatnya malah berdampak pada lab Kultur saya 😦

Selidik punya selidik, kekacauan kecil ini dilakukan oleh salah satu senior saya (DILARANG SEBUT MEREK!!) yang tengah mengerjakan Tugas Akhirnya. Bu Tanti marah karena lantai lab kotor dan puncak kemarahan itu terjadi kemarin saat beliau mengetahui salah satu stop kontak listrik atau colokan listrik di Lab Botani rusak.  Dan karena saya yang  diututs untuk membawa kunci Botani  maka saya lah yang dimintai keterangan pertama kali mengenai penyebab rusaknya colokan listrik itu 😦 Kemudian tadi pagi dosen saya tercinta itu ngomel karena masalah layar LCD di Lab yang tiba-tiba raib….. dan karena masalah itu Beliau menelpon saya yang sedang terlelap :)… Saya Lagi….

Waduhhhhhh……. Jangan-jangan nanti saya malah tidak lagi diijinkan untuk membawa kunci lab Botani…padahal kan kunci lab botani selama ini sudah memberikan banyak hal untuk saya….. Saya jadi bisa punya tempat untuk klesotan sambil ngenet untuk cari-cari Jurnal atau literatur yang mendukung TA saya plus main-main dengan FB juga 😉 Tapi seandainya kunci lab disita dari sisi saya…dimana lagi di kampus ini saya bisa WiFi an dengan posisi ueennnaaaakkk??? 🙂 Haduhhhhhh…..

Tapi untunglah semua masalah sudah beres… Senior saya itu datang ke kampus dan menyelesaikan masalahnya dengan Miss Tanti…. saya sih gak tahu dengan pasti kronologis kejadiannya, tapi sudahlah…it’s not my own Business!!Dan Layar LCD yang menghilang telah kembali…. Ternyata layarnya dipinjam oleh Lab Zoologi… hhhhhhhhh

Pelajaran yang saya dapat dari peristiwa kecil ini adalah Harus Punya Rasa Memiliki. Maksudnya adalah saya harus selalu merasa bahwa lab ini adalah milik saya sehingga saya berkewajiban untuk menjaganya sepenuh hati tanpa paksaan sehingga tidak terjadi lagi peristiwa rusaknya alat seperti kemarin. Karena saya butuh lab ini untuk menghabiskan hari-hari saya selama semester akhir ini (AMIN ;)) maka saya akan berusaha menjaganya dengan sepenuh hati… Dan untuk masalah Layar LCD saya sih sudah membicarakannya dengan mbak dan mas laboran… Everything is undercontrol 🙂

Ternyata susah juga menjadi pemegang kunci…

Hanya Bermain Dengan Kata

Dan akhirnya ada sebuah kesadaran bahwa semua ini hanya sebatas kata

Bagi satu jiwa, kata itu adalah arti dan hilangnya suatu maya

Namun bagi jiwa yang lain, kata hanyalah kerumunan huruf yang dapat dibongkar pasang

Bagi satu jiwa, kata itu adalah rupa-rupa yang tak terterka

Namun bagi jiwa yang lain, kata hanya sebatas permainan yang menghibur

Bagi satu jiwa, kata itu cermin dari nyata

Namun bagi jiwa yang lain, kata adalah kehilafan pusat pengatur kerja tubuh

Bagi satu jiwa, kata adalah bibit yang diharapkan menjadi pohon menjulang

Namun bagi jiwa yang lain, kata itu hanyalah suatu lelucon berkepanjangan

Bagi satu jiwa, kata itu untaian doa yang penuh harap

Namun bagi jiwa yang lain, kata hanya berupa cara untuk terbahak

Bagi satu jiwa, kata itu harapan setinggi angkasa

Namun bagi jiwa yang lain, kata tak lebih dari sekedar cara untuk menghina

Mengapa harus bermain-main dengan kata?

Tak adakah permainan lain yang bisa membuatnya tertawa melebihi kata?

Dan akhirnya jiwa ini sadar bahwa semuanya tak lebih dari sekedar kata….

By meirina Posted in Poetry