Trouble is a Friend


 

Pernah tahu istilah “Musuh Terbesar adalah Teman Terdekat dan Teman Terdekat adalah Musuh Terbesar” ? Jangan bilang belum pernah karena toh baru saja kalian baca :). Saya rasa itu benar.

Pendidikan saya memang berkutat dengan dunia sains, tapi saya harus jujur bahwa ini bukan dunia saya. Dan karena ini bukan dunia saya, saya jadi biasa aja sama yang namanya sains. Kalaupun sekarang saya tahu beberapa hal tentang sains, ya karena itu sudah konsekuensi saya. Dan salah satu alasan saya tidak menyukai sains adalah karena di dunia sains ini ada musuh abadi saya, MATEMATIKA. Saya dan Matematika sepertinya ditakdirkan untuk saling membenci sejak saya dilahirkan. Gak tahu kenapa, matematika gak mau bersahabat dengan saya jadi bukan salah saya dong kalo saya gak suka dia? Saya bahkan membencinya!! Sangat. Gimana saya tidak benci coba, satu-satunya angka 9 terbalik di raport sekolah SD-SMA saya ya si Matematika itu.. bahkan saya pernah mendapat angka 5 saat duduk di bangku SMP kelas 2 😦

Dan akhirnya apa coba sekarang? Saya harus sekamar sama Nuri Anggi Nirmalasari. Saya harus sekamar dengan orang yang sangat mencintai Matematika!!!! Dan mau tidak mau saya harus melihat buku matematika di kamar saya…. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….. dan mau tidak mau pula saya menjadi dekat dengan Nuri…menjadi dekat dengan Matematika.

Satu lagi, saya ini Juventini (ngerti kan? masa gak ngerti!!) dan Nuri itu Milanisti (kalo gak ngerti ini… wajar!!!). Hadehhhhh… saya tidak pernah membayangkan akan hidup sekamar dengan seorang milanisti, tapi kenapa saya harus berbagi kamar dengannya selama tiga setengah tahun terakhir ini? Untunglah saya hanya hidup dengannya hingga Oktober 2011 mendatang (AMIN), bagaimana coba kalo seumur hidup saya harus berbagi kamar dengan Milanisti?? AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…………

Saya tidak tahu pasti apa rencana Tuhan pada saya. Saya yakin Dia tahu bahwa saya dan Matematika  tak pernah bisa akur. Tapi kenapa saat ini, selama hampir empat tahun, saya harus dekat dengannya? Harus sekamar dengan seorang Merah-Hitam? Takdir? Ahh.. tak tahulah. Yang saya tahu adalah saya harus berteman dengan musuh saya.

Dan teman terdekat itu adalah musuh terbesar. Tapi saya tidak tahu cara mendefinisikan statement tersebut karena saya belum mengalaminya (Ya Tuhan, jangan sampai).

Namun, yang perlu saya aplikasikan adalah saya tidak boleh terlalu membenci sesuatu karena mungkin pada akhirnya saya akan menjadi teman baiknya dan rasanya sangat aneh jika hal itu terjadi lagi pada saya. Karena saya saat ini harus mengakui bahwa Matematika itu keren :(.

Wait a minute, bukan berarti kemudian saya jadi bersahabat dengan matematika loh ya… saya tetap menganggapnya sebagai monster yang menakutkan!!! Tapi karena sudah terbiasa melihat Nuri ngutak-ngatik angka, meski sedikit pusing, keren juga. Membaca bahasa matematika itu gak banget buat saya, mana ada coba hurufnya…la wong angka semua. Jadi keren banget anak-anak matematika itu… Tugas Akhir mereka gimana ya?????

Jadi mulai sekarang sekarang sepertinya saya harus berhati-hati jika membenci sesuatu, demi kebaikan saya sendiri.

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s