Makna Panjat Pinang (Buat Saya)


Ibaratnya panjat pinang, mungkin sekarang saya seperti orang-orang yang ada di strata terbawah yang memanggul beban orang yang berdiri di atas saya dan orang di atasnya lalu di atasnya hingga mereka yang berdiri paling atas yang sedang kegirangan melihat barang-barang bergelantungan.

Sejenak saya berfikir bahwa saya adalah orang paling menderita di dunia. Diinjak-injak. Harus memikul beban berat. Dan harus kuat. Sementara dia yang di atas, berdiri paling atas, menjadi orang yang paling berbahagia di dunia karena tangannya mampu meraih apapun yang dia inginkan. Mampu menuturkan berbagai perintah pada orang-orang di bawahnya untuk ke kiri ataupun ke kanan.

Namun, adakah yang pernah berfikir bahwa sebenarnya dia yang berdiri di paling atas itu adalah orang yang paling kebingungan sedunia? Orang yang paling sengsara di dunia! Sedangkan saya yang ada di bawah ini adalah orang yang paling beruntung.Dia yang ada di atas memang bisa meraih barang apapun yang dia inginkan, tapi bukankah dia harus berfikir keras bagaimana caranya mendapatkan barang yang cocok untuk mereka yang di bawah. Dia yang ada di atas harus membuat keputusan tepat dan meraih barang yang memang dibutuhkan oleh mereka yang di bawah. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah barang-barang yang diraihnya sebagian besar ia jatuhkan ke bawah yang secara otomatis orang-orang yang di bawahlah yang menerimanya. Sedangkan ia mungkin masih bergelantungan di atas pohon pinang karena ditinggalkan oleh ‘bawahannya’. Sedangkan saya dan orang-orang yang ada di bawah lainnya saling tikam untuk memperoleh barang yang berjatuhan dan kami yang tidak kebagian pada akhirnya akan ngomel-ngomel gak jelas sambil mencaci maki Dia yang ada di atas. Benar-benar suatu parodi.

Saya mengatakan kami yang di bawah ini adalah manusia-manusia yang paling beruntung karena tidak harus berfikir keras, tapi kami sebenarnya adalah manusia-manusia yang paling kurang bersyukur. Seandainya rasa syukur cukup tertanam di otak saya yang sekeras batu ini mungkin saya tak akan pernah berkoar dan menuntut macam-macam dari dia yang ada di atas. Seandainya saya bisa bersyukur mungkin saya tidak akan pernah meninggalkan Dia yang ada di atas untuk memperebutkan barang-barang yang berserakan di atas tanah, tapi tetap menopang  Dia yang ada di atas. Menjunjungnya hingga ‘permainan’ selesai. Dan jika Dia sudah lelah berada di atas, saya dan orang-orang di bawah akan menurunkannya dengan penuh keanggunan dan berterimakasih atas apa yang telah Dia berikan pada kami yang di bawah. Itu yang seharusnya terjadi pada parodi di negeri ini karena Dia yang ada di atas itu bukanlah ‘Presiden Guyonan’.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s