Semua Berawal Dari Mimpi


Pernah berfikir menumbuhkan tanaman di dalam sebuah botol? Hal itulah yang menjadi aktivitas harian saya saat ini. Menanam suatu tumbuhan di dalam botol bekas selai. Selain menggunakan botol, yang berbeda adalah media tanamnya. Tidak menggunakan tanah, tetapi menggunakan media khusus yang dipadatkan dengan menggunakan agar…yupsss… agar-agar yang biasanya dipake buat pudding yang bisa dibeli di swalayan-swalayan atau toko-toko kecil di pinggir jalan. Saya juga tidak menggunakan biji atau setek atau tunas sebagai bibitnya, tetapi memakai potongan kecil daun si tanaman. Memangnya bisa tumbuh? Bisa dong… Pasti banyak yang mengatakan “Mana mungkin!!!” atau “Ah…bisa-bisa aja”

Tapi toh saya bisa. Sangat bisa malah karena apa yang saya lakukan adalah salah satu penemuan yang didasari oleh teori ilmiah dan telah diterapkan sejak 2,5 abad yang lalu. Itulah penjelasan singkat mengenai Kultur Jaringan Tanaman alias Plant Tissue Culture atau Teknik In Vitro yang menjadi TA saya. Foto ini adalah salah satu buktinya…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari ini, ketika saya mengajak praktikan saya berkunjung ke lab tempat saya bereksperimen….. saya mendapatkan berbagai pertanyaan dari mereka. Dan dari berbagai pertanyaan yang diajukan, muncullah pertanyaan yang membuat sedikit perdebatan di antara mereka:

Praktikan 1: “Mbak… kalo misalnya si tumbuhan itu gak usah dipindahkan ke alam dan dibiarkan terus di dalam botol gitu boleh gak?”

Saya: “Boleh-boleh aja asal ada botol yang muat dan medium tumbuhnya tetap bisa menyuplai nutrisi untuk hidup tumbuhan itu”

Praktikan 1: “Ya disesuaikan sama tinggi tanamannya, mbak. Kan ada botol sirup… Terus mediumnya bisa dibikin agak banyak”

Saya: “Terus masukin tanamannya ke botol sirupnya gimana? Kalo misalnya tanaman itu sudah tumbuh sempurna dan siap ditumbuhkan di alam, kenapa kita repot-repot melihara dalam botol?” (Buset dah…. imajinasi praktikan saya ini tinggi sekali)

Praktikan 2: “Wes ta rek… koen iki kok..aneh-aneh ae… sing konkrit ngono lo lek takon…”

Saya: (diam tapi tersenyum)

Praktikan 1, 3, & 4 : “Ya namanya juga bertanya kok…. mosok gak oleh..”

Praktikan 2: “Yo, sing gennah lo lek takon… moso dilebokno nang botol sirup” (sambil geleng-geleng kepala)

Praktikan 1,3,&4: “Namanya juga meneliti…. kan gak harus yang biasa-biasa aja se…”

Praktikan 2: “Gak masuk akal”

Praktikan 3: “Orang dulu mikir kultur jaringan tanaman iku gak masuk akal, tapi ya buktinya sekarang bisa kok… Hayooo!!!”

Praktikan 1&4 : “BETULLLL ikuu” (sambil melakukan high five)

 

Saya pun hanya menikmati obrolan mereka sembari tersenyum simpul. Semua yang mereka katakan tidaklah salah. Hidup itu memang harus realistis dan berlogika supaya tidak terkesan tolol. Harus konkrit supaya bisa menjalani hidup dengan jelas. Tapi bukankah semuanya berawal dari imajinasi? Berawal dari rekaan. Berawal dari sebuah mimpi.

Mickey Mouse tidak aka nada seandainya Mr. Waltz Disney tidak membayangkan tikus yang bisa menari dan dia tidak akan pernah meraup uang jutaan milliard  dollar seperti sekarang. Arai di Sang Pemimpinya Andrea Hirata tak akan pernah menapakkan kaki di Benua Biru jika ia tak berani bermimpi. Jika Haberlandt tak pernah bereksperimen dengan ‘mainannya’ maka saya tak akan pernah mengenal yang namanya Plant Tissue Culture. Dan semuanya berawal dari mimpi. Thats All.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s