DILARANG FALS UNTUK SEORANG MUADZIN

Adzan adalah panggilan shalat untuk kaum muslim di seluruh dunia dan saya rasa semua muslim di seluruh dunia mengetahui hal ini. Setiap adzan berkumandang mayoritas muslim bergegas meninggalkan aktivitasnya untuk menunaikan shalat  meskipun ada beberapa yang mengulur-ngulur waktu shalatnya (mungkin saya 😉 ). Adzan juga selalu ditunggu-tunggu saat bulan Ramadhan… khususnya adzan maghrib… Adzan bisa membuat mereka yang teriak-teriak seperti senior-senior saya saat pengkaderan alias ospek kampus terdiam sesaat. Pokoknya adzan bukanlah sesuatu yang buruk.

Tapi bagi saya, tiga tahun terakhir ini adzan adalah sesuatu yang menambah tabungan dosa. Hah???? Setiap adzan dikumandangkan saya selalu menggerutu…. alasannya karena suara si muadzin itu fals banget!!! Sumpah… adzannya itu gak enak didengar blas. Sumbang poll!!!!!! Karena saya biasanya di kampus dari pagi sampai sore maka suara muadzin jelek itu saya dengar saat adzan maghrib dan subuh, ketika saya berada di kos yang  jaraknya  dari masjid tempat si muadzin itu melantunkan suara falsnya… Masya Allah… saya benar-benar merasa terganggu dengan suara tak beraturan si muadzain dan itu membuat saya merasa diganggu oleh adzan 😦

Saat adzan biasanya saya langsung ke kamar mandi sambil menghidupkan air kran sambil ambil air wudhu dan menunggu sampai si muadzin menyelesaikan tugasnya…setelah itu barulah saya kembali ke dalam kamar. Terus jika saya sedang libur shalat karena alasan biologis wanita, saya ngidupin MP3 kenceng-kenceng…. dan karena saya masih punya rasa hormat dan tunduk pada Tuhan maka saya pake earphone untuk mendengarkan lagu-lagu dari MP3 saya…. Mau bagaimana lagi coba…daripada saya marah-marah dan jadi bad mood gara-gara suara adzan fals itu lebih baik saya mendengarkan suara-suara merdu dari MP3 saya… (Ya Tuhan, saya tidak berdosa kan??? 😉 ).

Dan karena itulah saya berfikiran bahwa untuk menjadi seorang muadzin harus memiliki suara yang setara dengan Rio Febrian atau Keith Martin atau David Cook atau David Archuleta. Suara muadzin gak boleh fals. Gak boleh sumbang. Gak boleh berantakan, tapi harus mengikuti aturan nada adzan!!! Supaya adzan yang dikumandangkan tidak hanya sekedar suara yang bikin rame dan membuat kepala saya sakit luar biasa!!!! Membuat kuping saya sakit! Membuat saya menggerutu saat adzan dikumandangkan!! Membuat dosa saya semakin menumpuk!!!So, orang yang ingin menjadi muadzin harus ikut kursus vokal sebelum mengumandangkan adzan…. coba dengar adzan di tivi-tivi atau radio, mana ada yang fals? Pokoknya yang mau jadi muadzin harus punya suara bagus supaya adzan yang dikumandangkan punya nada yang gak berantakan dan enak didengar….

Seandainya bapak-bapak muadzin di masjid dekat kos saya sadar bahwa suaranya itu mengganggu sekali… Ya Tuhan…saya tidak membenci adzan… saya menyukai panggilan shalat Mu itu.. tapi kalau harus dikumandangkan dengan suara sumbang yang membuat saya sakit jiwa dan raga… maka saya lebih memilih mendengarkan suara Bruno Mars atau Owl city atau saya nyanyi-nyanyi saja sendiri….


Menjadi ‘Seminar (Lebih) Irit’

Aturan baru lagi untuk teknis seminar proposal TA di kampus saya…  Mulai semester ini peserta seminar tidak diwajibkan menyediakan konsumsi seminar, baik konsumsi penonton maupun konsumsi dosen penguji…. Yes Yes Yes….. akhirnya seminar saya bisa menjadi seminar irit seperti di jurusan Nuri 😉 Tidak usah lagi mengeluarkan biaya untuk yang namanya konsumsi….. Hemat…

Sayangnya saya sudah seminar, jadi saya tidak bisa merasakan yang namanya saeminar irit ala kampus saya…. dan karena  ke depannya saya hanya berperan sebagai penonton seminar, membayangkan menonton seminar teman-teman tanpa klenikan pasti membosankan plus ‘merana’. Bagi penonton yang  menjadikan konsumsi seminar sebagai alasan untuk menghadiri seminar harus siap-siap mencari alasan baru untuk menghadiri seminar supaya menghadiri seminar tidak hanya terkesan membuang-buang waktu dengan duduk manis selama dua  jam.

Untungnya saya menghadiri seminar dengan alasan untuk mendokumentasikan seminar-seminar teman-teman angkatan saya… untuk bermain-main dengan Kodie saya… sehingga ada ataupun tidaknya konsumsi bukan masalah besar bagi saya. Saya tidak menyangkal bahwa saya pun senang mendapatkan jajan seminar, tetapi alasan itu bukanlah alasan utama saya mengahadiri seminar sehingga saya tidak perlu mencari alasan lain untuk menjadi penonton seminar proposal TA…Asalkan saya boleh bermain-main dengan Kodie, saya tetap mau menonton seminar teman-teman saya meskipun tidak disogok  jajanan  ringan 😉

Terimakasih pada Bapak dan Ibu dosen yang telah menetapkan aturan baru bagi pelaksanaan seminar proposal TA ini… Aturan ini tentu saja sedikit memangkas rangkaian biaya TA dan tentunya bisa sedikit meringankan teman-teman mahasiswa yang akan melakukan seminar proposal TA dan bisa juga semakin memberikan semangat pada teman-teman saya untuk segera melakukan seminar proposal TA…… 🙂