Hentikan Kerusuhan Di Laboratorium Saya

Lagi dan lagi. Mengapa kesabaran saya terus menerus diuji? Mengapa pula harus dengan subjek dan objek yang sama? Mungkin ini resiko menggunakan lab umum. Harus selalu waspada setiap saat. Hari ini saya menyadari satu hal bahwa berinteraksi dengan sesama tak cukup dengan saling percaya. Selama beberapa bulan ini saya percaya pada teman-teman sesama penghuni lab bahwa kami bisa bekerjasama dengan baik. Saya percaya mereka bisa menggunakan lab dengan baik. Saya percaya bahwa mereka bertanggung jawab atas apapun yang ada di laboratorium. Saya percaya mereka sehingga kami tidak perlu membuat suatu kesepakatan tertulis.

Tapi setelah kejadian hari ini, saya pikir saya harus membuat kesepakatan dengan mereka, teman-teman pengguna lab. Saya masih bisa mentolerir jika teman-teman tidak memporak porandakan lab dasar. Saya masih bisa memaafkan jika mereka tidak mematuhi peraturan ‘masuk lab harus pakai sandal lab”. Saya masih bisa bertahan saat mereka dan praktikan-praktikan mereka tak mau mengembalikan kursi lab ke tempat semula. Saya bisa memaafkan jika kekacauan itu terjadi di lab botani. Tapi jika kekacauan itu dilakukan di tempat saya berjuang menyelesaikan TA saya, saya tidak akan tinggal diam. Saya tak akan membuat hidup kalian tenang jika kerusuhan itu menyebabkan Nicky saya terkontaminasi. Cukup sudah kalian membuat saya mendapatkan beberapa terguran dari laboran-laboran. Teguran yang sepantasnya untuk kalian. I’m done.

Tolong saya, teman. Kita kan sudah sama-sama gede… kalian juga pasti tahu pentingnya lab untuk kita. Jadi gunakan lab sebaik-baiknya. Buat pengguna lab botani, kembalikan kursi ke tempat semula setelah kalian selesai menggunakannya. Gunakan sandal lab yang ada di rak sepatu. Jangan meninggalkan sampah apapun di lab. Gunakan alat-alat lab sesuai petunjuk, kalo kesulitan jangan ragu untuk bertanya pada siapapun yang lebih mengerti menggunkan alat tersebut. Setelah menggunakan alat, kembalikan alat ke tempat semula. Matikan lampu lab sesudah digunakan. Tutup jendela jika hendak meniggalkan lab. Simple, bukan? Untuk pengguna lab KulJar…. TOLONG…. jangan membuat rusuh lab. Jika tempat sampah penuh, segera buang keluar lab. Tutup lemari alat jika tidak digunakan. Jangan tinggalkan barang-barang tidak penting di lab. Cuci peralatan sampai bersih setelah kalian menggunakannya. Letakkan botol-botol kultur dengan rapi. Dan yang lebih penting, jangan lupa mematikan LAF yang sudah kalian gunakan. Tutup jirigen tempat aquades. Jangan meletakkan barang-barang aneh di atas meja. Lap-lap kotor dan bersih jangan diletakkan di satu tempat. Sapu lantai setiap hari, masa sih gak kuat menyapu ruangan yang seluas 3 x 3 m ?

Semua itu memang sederhana, tapi jika saya yang harus melakukannya seorang diri setiap saat… YO AKU EMMOH REK!!!!  😦 Ayoalah….. Saya tidak mau tahu siapa tersangka dan pelaku utama penyebab kerusushan di lab kita, saya hanya meminta kesadaran diri kalian masing-masing. Kalo merasa masih belum sadar…….. ikut rukiyah gih….. supaya setan-setan yang merasuki kalian bisa jauh-jauh dari lab. Sekali lagi, mohon kerjasamanya. Trims.

Perjanjian DenganNya

Tuhan, aku kembali menagih janji

Aku telah melaksanakan apa yang kujanjikan….

Mengapa aku tak melihat tanda-tanda kedatangan janjimu?

Apakah kau sengaja bersembunyi dariku?

Atau Kau lupa padaku karena janjiMu tak hanya padaku?

Atau janji itu hanya sekedar rentetan kata tak berarti……

Kata malaikatMU Kau tak akan pernah ingkar

MalaikatMu mengatakan Kau tak pernah lupa

MalaikatMu menyampaikan bahwa Kau selalu mengingatku

MalaikatMU berpesan supaya aku tetap setia padaMu

Dan aku percaya pada MalaikatMu itu

Aku memutuskan untuk menunggu kedatangan janjiMu yang itu….

Bahkan aku sekarang ingin membuat kesepakatan baru denganMu…

Yang ini sama dengan yang  itu, tapi kali ini untukku….

Bisakah kita berjanji kembali?

Setidaknya sebagai bonus untukku yang sabar akan JanjiMu sebelumnya….

Bisa Bukan?

Aku berjanji akan melakukan’nya’ jika Kau memberikan’nya’….

Jangan pernah mengrimkan malaikatMu untuk mengatakan bahwa dia hanya sekedar singgah dan akan hilang…

Aku mohon, jangan rusak harmoni ini

Tolong, izinkan aku menjadi manusia karena Kau mewujudkanku sebagai manusia….

Aku mohon Tuhan….

Sepakati permohonan perjanjianku ini….

Aku menunggu jawabanMu, Tuhan

By meirina Posted in Poetry

Bukan Sekedar ‘Bukan Niat Buruk’

Semua artikel dan tulisan yang berasal dari buku-buku dan literatur lain, khususnya yang bersifat religi, selalu mengatakan bahwa apapun yang dilakukan seorang suami pada istrinya pastilah ‘bukan niat buruk‘. Ya… saya setuju mengenai bukan niat buruk, tapi faktanya saya selalu melihat ‘bukan niat buruk’ itu BURUK.

Saya mengenal seorang keluarga dimana si suami memiliki ‘bukan niat buruk’ terhadap istrinya. Dan menurut saya ‘bukan niat buruk’ si suami terhadap istrinya itu sangat perlu direvisi.

Si suami tidak pernah mengijinkan istrinya beraktivitas di luar rumah. Setiap hari, si Istri hanya berada di dalam rumah. Aktivitasnya hanyalah mengasuh anak-anaknya yang masih balita. Tidak ada arisan dengan ibu-ibu tetangga. Tidak ada acara belanja ke pasar. Tidak ada acara jalan-jalan ke supermarket atau departemen store. Tidak ada acara mengantar jemput anak ke sekolah. Tidak ada acara main-main dengan komputer. Bahkan yang paling parah adalah tidak ada yang namanya ponsel atau HP.

Mengasuh anak dan tidak ikut-ikut arisan memang baik karena tidak ikut menambah dosa karena acara arisan selalu di isi oleh sesi gosip. Tidak belanja ke pasar juga Ok karena membuat si Istri tak perlu berdesak-desakan untuk menawar harga cabe atau menenteng  tas plastik berisi sayuran. Tidak ada acara belanja ke supermarket tanpa suami juga baik karena siapa tahu ada sesuatu yang tak inginkan menimpa si istri sewaktu di jalan. Tapi, tak bolehkah si istri melakukan hal tersebut seorang diri? Bagaimana jika si suami dipanggil oleh Sang Pencipta? apa si Istri harus meminta malaikat untuk mengirim suaminya ke dunia beberapa menit supaya bisa belanja ke pasar??

Tidak ada antar jemput anak ke sekolah… Ok, jika si anak diberi kendaraan dan sopir pribadi dan si anak sudah berusia 15 tahun. Si suami memang mengantar jemput anaknya yang masih duduk di bangku TK. Tapi ada waktu dimana ia lupa menjemput anaknya dan si istri tak bisa berbuat apa-apa karena tak punya ijin suami untuk menjemput anaknya. Bolehlah tak usah antar jemput jika jarak sekolah dan rumah hanya beberapa meter, masalahnya jarak rumah dan sekolah si anak adalah 10 Km. Apa iya si anak harus jalan kaki. Lagipula dia masih duduk di bangku TK!!!! Benar-benar keterlaluan!!! Dan saat si anak memiliki acara di sekolahnya, si ibu tak pernah sekalipun hadir. Acara agustusan, lomba-lomba, bahkan waktu penerimaan raporpun tidak ada partisipasi si ibu. Tak pernahkah si suami berfikir mengenai perasaan si anak? Pernahkah si suami berfikir bahwa putrinya pasti menginginkan kehadiran sang ibu di salah satu acara sekolahnya? Si anak memang selalu diam karena dia tidak (belum) bisa mengatakan apa yang diinginkannya. Tapi saya yakin bahwa dia ingin seperti kawan-kawan sekolahnya. Diantar jemput dan sesekali ditemani oleh ibu mereka saat sekolah. Si anak pasti ingin menunjukkan kemampuannya di sekolah pada si ibu. Dan saat mengikuti perhelatan sekolah seperti gerak jalan, si anak pasti menginginkan dilihat oleh ibunya. Atau saat acara tamasya sekolah, si anak pasti sangat senang jika ia pergi bersama ibunya. Tak pernahkah ada perasaan seperti itu pada diri si suami? tidakkah si suami menyadari bahwa hal ini pun sangat berpengaruh pada mental dan perkembangan anaknya? Si suami bukan orang bodoh, tapi mengapa ia begitu bodoh sampai tak memikirkan perasaan putri kecilnya ???!!!

Lalu tak ada komputer dan ponsel. Di rumah mereka ada sebuah komputer, tapi si suami secara tidak langsung tidak mengijinkan si istri menggunakannya. Mengapa secara tidak langsung? Karena si suami membuat User Account pada komputer tersebut dan tidak memberitahukan paswordnya pada si istri. Bagaimana si istri bisa menggunakan komputer tersebut coba? Saya sendiri tidak mengerti maksud si suami, tapi jelas sekali bahwa dia SINTING!!! Apa si suami mempunyai hubungan dengan mafia keji dan semua rencana kejahatannya disimpan dalam komputer itu? Apa si suami punya selingkuhan yang fotonya ada di komputer itu??? Apa si suami senang memiliki istri gaptek di massa teknologi seperti saat ini? Dan peraturan paling baru yang diumumkan si suami pada istrinya itu adalah dilarang memiliki ponsel sendiri!!! Alasannya?? Karena secara (tidak) sengaja saya mengajarkan menggunakan situs-situs jejaring sosial pada istrinya. Karena itulah si istri tak boleh punya HP sendiri. Lucu sekali!!! Memangnya kenapa jika si istri bermain-main dengan internet melalui HP? Jika si suami tidak mengijinkan istrinya bermain dengan situs jejaring sosial, bukankah bisa menegur istrinya saja. Toh istrinya termasuk istri yang patuh pada suami ( 😦 ). Dilarang menggunakan internet di saat segala sesuatu serba online sungguh suatu perintah kocak.

Tapi melarangnya memiliki HP rasanya sangat lebih tak masuk akal. Tukang becak saja punya HP untuk menghubungi keluarga atau koleganya, masak istri seorang pegawai negeri sipil tidak punya? Bagaimana jika keluarga si istri ingin menghubunginya? Apa harus melalui si suami setiap saat sementara si suami bekerja dari pagi sampai sore! Seandainya ada hal buruk yang menimpa si istri saat suaminya bekerja, bagaimana cara si istri menghubungi suami sintingnya itu?

Menurut saya sikap si suami terlalu konservatif! Dan saya sangat mengharapkan bahwa ia merevisinya…. Saya tidak mengatakan bahwa dia bukan suami yang bertanggung jawab, melainkan hanya kurang tepat bersikap terlalu kaku di zaman menanam pohon di dalam botol seperti TA saya (upppssss 😉 ). Saya tidak bisa dan tidak mau membayangkan bagaimana rasanya tak ada HP, tak ada internet, tak ada komputer, tak ada sosialisasi dengan sesama, dan seharian terkungkung di dalam rumah bersama lima orang anak plus dua pembantu yang tak bisa diajak diskusi mengenai perkembangan politik Libya. Sungguh…. sebagai seorang adik, saya bangga pada kesabaran dan kekuatan salah satu kakak saya (si istri) itu. Tapi sebagai perempuan, saya sangat geram dan muak atas sikap ‘bukan niat buruk’ kakak ipar saya (si suami) itu…

‘Bukan Niat Buruk’ Itu harusnya tidak sekedar niatan, but act!!  Karena saya percaya bahwa Action will delinate and define someone!!!