Salahkah Menjadi Pengemis?

Sewaktu makan-makan bersama adik saya and the gank…. tempat kami makan didatangi tak lebih dari enam orang pengemis. Rata-rata dari mereka adalah perempuan paruh baya yang menggendong balita. Satu-persatu mereka mendatangi kami sembari mengulurkan tangan…. dan satu-persatu dari merekapun mengalami penolakan.

Sebenarnya saya tidak tega, terlebih saat melihat bocah yang menggantung di lengan mereka. Maunya sih saya memberi sekedarnya, tapi biasanya saat saya memberi pasti akan datang lebih banyak lagi teman-teman sesama pengemis yang menghampiri saya. Kalau hanya satu atau dua orang sih gak papa. Tapi kalo sudah puluhan atau ratusan??? Bisa-bisa saya mengikuti jejak mereka menjadi pengemis.

Kalau sudah begitu siapa yang salah coba? saya, pengemis,  atau sistem di negeri ini?

Jika saya yang disalahkan, tentu saja saya tak terima. Mereka kan bukan tanggung jawab saya. Dan terkadang ada ibu-ibu pengemis yang suka ngomel-ngomel jika tidak diberi uang… Heiiii…. ini benar loh… teman saya pernah dilabrak pengemis lantaran tidak mau memberi uang pada si pengemis. Kata si pengemis, teman saya tak punya hati… Tak berperasaan dan pelit!!! Ya Tuhan… tak punya hati??? Bagaimana mungkin seseorang hidup tanpa hati?? (hehehehehehe…. just kidding). Apa iya saya pelit jika tak memberi? Saya kan bukan seorang milyarder yang bisa seenaknya ‘membuang-buang’ uang, terlebih untuk sesuatu yang tak penting.  Memang benar, untuk berbagi tidak harus menjadi milyader. Tapi bukankah hidup itu harus realistis? Mencari pahalakah??? Ah….kalau urusan pahala sih bukan urusan saya…. Pahala itu hanya Tuhan yang tahu dan saya ataupun manusia lainnya tak berhak menuntut. Kalau kisahnya seperti yang dialami teman saya bagaimana? Si pengemisnya dosa dong karena memaki-maki teman saya!!!!

Lalu, apakah ini juga salah si pengemis? Bolehkah saya menyalahkan pengemis? Salah mereka sendiri tidak mau bekerja keras. Rata-rata pengemis yang saya temui berada pada usia produktif dan saya yakin mereka bisa mendapatkan pekerjaan jika mereka mau. Bukannya mengulurkan tangan sembari berucap ‘sak wellase, nak…’ Mereka juga bisa buka usaha bukan? Lagipula sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan pengemis, dimanapun itu, memiliki suatu jejaring sosial. Mereka memiliki komplotan sesama pengemis yang terkoordinasi secara matang. Misalnya satu orang pengemis saya kasih, pasti beberapa menit berikutnya akan ada lagi yang mengulurkan tangannya pada saya. Rasa-rasanya mereka memiliki alat komunikasi yang kecepatan signalnya melebihi  signal Telkomsel (hehehehehe…maaf sebut merk). Dan hal ini terkadang membuat suasana makan saya sedikit terganggu 😦 AAAAhhhh…. itu sih koreksi dangkal saya mengenai para pengemis. Jika ditelaah lebih jauh lagi, saya pun tak berhak menyalahkan mereka. Toh saya tidak tahu kondisi mereka yang sebenarnya. Mungkin saja jika menjadi mereka saya akan menjadi pengemis pula. Mereka juga hidup dan hidup butuh uang. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Dan bukan salah mereka sepenuhnya jika mereka tak memiliki uang cukup untuk menjalani hidup. Terlebih lagi zaman cabe sekilo 100 ribu seperti sekarang ini…. apa-apa bayar…Jadi sangat sulit menetukan apakah mengemis itu salah atau benar…..

Ending-endingnya pun hanya bisa menyalahkan sistem pemerintah…. Haduhhhh… kalau sudah menyangkut sistem, otak saya semakin berpilin. Sangat ruwet. Karena pemerintah saat ini lebih mirip suatu parodi yang mendebarkan. Terkadang lucu, terkadang mengharukan, terkadang patut diteladani.

Kesimpulannya? Introspeksi dan sadar diri. Tidak hanya pemerintah, tapi semua kalangan, termasuk saya dan para pengemis. Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya (Makna Panjat Pinang Buat Saya), menjadi pemerintah itu sebenarnya tak senyaman seperti yang dibayangkan rakyat, JIKA mereka benar-benar memerintah dengan BAIK DAN BENAR. Karena itulah, saya katakan kita semua harus introspeksi dan sadar diri… setelah itu do the best for everything! Tuhan, tak pernah memejamkan mataNya… bahkan untuk pengemis sekalipun….