Andaikan Ia Tetap ‘Telanjang’

Manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang..kotor…berbau amis..

Tak ada bedanya antara yang satu dan yang lain, hanya pada saat itu…

Hanya tangis, meraung-raung, dan merengek

Selimut, handuk, dan berbagai pelapis tubuhpun disampirkan untuk menutupinya dari ketelanjangan

Menghilangkan kotor dan memudarkan segala bau tak sedap…

Kemudian, berbedalah manusia yang satu dengan yang lain

Pelapis tubuh yang berbeda itu memberikan gradasi dan tingkatakan pada makhluk tersempurna Tuhan

Setelah berbeda, manusia menjadi makhluk Tuhan yang paling rumit

Ia tetap yang paling sempurna, namun sangat sulit dimengerti

Ketika Ia Tak lagi telanjang seperti dahulu…

Dengan paras elok nan rupawan, tak ada lagi tangisan

Yang ada hanyalah senyum dan kerutan di kening disertai rentetan jadwal makan malam di hotel berbintang

Bersih dan rapi!

Atau ia yang masih setengah telanjang..

Jangankan makan malam di tengah-tengah para petinggi, tersenyum saja sudah lupa bagaimana caranya

Ditambah lagi bau sampah dan keringat…

Dan perbedaan itu sulit sekali dienyahkan..

Perbedaan itu sangat kuat…. begitu mencolok…

Sulit sekali dipahami…

Mungkin, lebih mudah jika manusia tetap dalam keadaan telanjang

By meirina Posted in Poetry

Keinginan Terpendam (Katatakan atau Tidak Sama Sekali)

Tiba-tiba saja keinginan untuk mendaki gunung ini kembali muncul. Keinginan yang sudah ada sejak saya duduk di bangku sekolah. Keinginan yang kala itu saya tahan sedemikian rupa karena berbagai alasan yang menurut saya cukup kuat. Bahkan saya sempat melupakan keinginan tersebut.

Jujur saja saya sangat iri pada adik saya karena dia telah menginjakkan kakinya di puncak-puncak di dataran Jawa. Dia bahkan sudah bersua dengan Mahameru. Ah….. seandainya dulu saya berani mengatakan pada orang tua saya bahwa saya ingin mengikuti ekstrakulikuler Pecinta Alam, mungkin saya pun sudah akan menghirup udara ranu pane dan ranu kumbolo yang tersohor itu. Saya hanya bisa memandang foto-foto hasil dokumentasinya. Tapi sayangnya saya tak bisa mengatakan apa-apa. Saya hanya menjadi salah satu siswa yang berkutat dengan buku-buku di perpustakaan sekolah dengan buku-bukunya yang berdebu.

Saya memang mengambil bagian dari satu kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Namun, keanggotan saya hanya sebuah formalitas belaka. Saya mencoba untuk bergabung dengan suatu komunitas yang bisa mengisi waktu-waktu luang saya. Hasilnya hanya kebosanan dan akhirnya saya keluar tanpa kontribusi berarti bagi komunitas tersebut. Kemudian saya mencoba bergabung dengan kelompok lainnya dimana salah satu pekerjaannya memang salah satu keahlian saya. Dan lagi-lagi saya tak mendapat apa-apa. Waktu luang saya memang terisi, tapi tak beresensi. Tak ada greget dan gairah. Lagi-lagi hampa. Ah….. seandainya saat itu saya berani berjudi…

Tak seperti saya, adik saya berani meminta pada orang tua kami untuk mengizinkannya naik gunung. Permintaan tersebut sempat ditentang oleh orang tua kami, terutama ibu. Alasannya pasti karena banyaknya pemberitaan media mengenai pendaki-pendaki yang hilang atau tewas saat mendaki gunung. Namanya juga orang tua, pastilah mencemaskan anak-anaknya. Mendengar penolakan orang tua saya tersebut, membuat saya semakin enggan mengungkapkan keinginan itu. Saya tak ingin ditolak seperti adik saya, karena saya sangat benci sekali pada penolakan. Namun, kegigihan dan kelihaian adik saya merayu berbuah manis. Diapun dengan mudahnya melenggang ke puncak-puncak gunung bersama komunitasnya.

Selain tak bisa mengungkapkan keinginan itu, saya merasa harus mengalah pada adik saya. Dia yang lebih berani mengatakan keinginannya pada kedua orang tua kami saya anggap lebih patut untuk mendapatkan hadiah spesial itu. Mempelajari hidup dari alam sekitar. Saya tak tahu niat dia saat mendaki apa. Saya pun tak tahu bagaimana dia dimata para pendaki lain. Hal yang saya tahu adalah saya ingin berada dalam rombongan pendakian itu. Namun saya hanya diam tanpa berkomentar apa-apa. Saya tak mencaci maki atau membenci adik saya, karena tak ada alasan bagi saya untuk melakukan hal itu. Saya juga tak terlalu antusias mendengarkan saat dia menceritakan kisah pendakiannya pada semua anggota keluarga. Saya hanya diam dan baginya atau keluarga saya yang lain, sikap diam saya itu adalah kewajaran yang tak berarti apa-apa.

Selagi adik saya disibukkan dengan berbagai program pendakiannya, saya mengalihkan perhatian dengan berbagai urusan sekolah. Hah…sungguh konservatif sebenarnya! Tapi menjadi seseorang yang dituntut untuk harus selalu berada di jalur kanan seperti saya, pengalihan perhatian ini merupakan hal yang luar biasa. Bahkan sekarang, saat mengingat masa itu, saya merasa terkejut dengan apa yang telah otak saya lakukan. Bertahan di dunia yang sama sekali tak membuat saya merasa bernyawa. Dan kala itu saya belum bisa mengatakan apa-apa akan apa yang saya inginkan. Semua susunan kata yang telah terangkai di dalam tempurung kepala ini selalu tercekat di kerongkongan dan kemudian turun ke ‘hati’ dan mendekam di sana. Menjadi gerundelan kata yang mengendap.

Sekarang ini, keinginan tersebut kembali meluap. Saya ingin melihat pulau Jawa dari bagian tertingginya. Saya ingin melihat keindahan Rinjani. Atau mungkin sekedar menapakkan kaki di atas Papandayan. Keinginan saya tak muluk-muluk bukan? Saya tak ingin menjadi anggota ‘seven summit’ karena saya menyadari batas kemampuan saya mungkin saja tak akan bisa mengikuti langkah mereka. Saya hanya ingin mendaki gunung dan keinginan terbesar saya adalah Mahameru. Saya pikir saya belum terlambat untuk hal ini, bukankah tak ada kata terlambat untuk sebuah cita-cita?

P.S: Diam itu terkadang membuahkan emas, namun bukan berarti harus bungkam seumur hidup. Bermimpilah…. sampaikan mimpi-mimpi itu ke seluruh dunia, karena dunia akan membuat mimpi itu lebih mudah diraih 🙂