Still Keep Move On

“Hei rek… teman-teman kita siapa aja ya yang sudah ngedell seminar sama TA?”

Astaghfirullah….. mendengar salah satu pembicaraan kawan saya itu, kepala ini tiba-tiba berputar-putar. Masalahnya adalah sebelum mendengar pernyataan itu saya melakukan konsultasi dengan kedua pembimbing TA saya. Dan dari perbincangan singkat tersebut saya harus mengulang eksperimen yang saya lakukan. Saya harus kembali melakukan yang namanya inokulasi eksplan!!!!! Hahhhhhhh…….

Alasannya karena Nicky yang telah saya pelihara selama beberapa bulan terakhir tak menunjukkan perkembangan apa-apa selain berubah warna! Salah saya juga sih karena tidak menginformasikan hal ini jauh-jauh hari sebelumnya pada pembimbing. Menurut pembimbing saya, si Nicky itu biasanya mudah tumbuh dimanapun dia ditanam. Beliapun menerangkan bahwa harusnya saya berhasil menumbuhkan kalus pada perlakuan kontrol karena penelitian yang dilakukan oleh salah satu senior saya berhasil melakukannya dimana perlakuan senior saya itulah yang saya jadikan salah satu landasan teori. Tapi menurut saya yang namanya penelitian tak harus sesuai dengan teori ataupun hasil yang telah dilakukan oleh penelitian sebelumnya. Kalau semua penelitian memberikan hasil yang sama dengan penelitian sebelumnya, menurut saya itu bukan penelitian melainkan pengulangan. Tapi sayangnya yang harus menurut di sini bukan pembimbing melainkan saya dan saya HARUS mau menuruti pembimbing. Saya harus menerima pendapat dan masukan mereka karena saya memang butuh mereka.

Sebenarnya saya sedikit kesal saat Beliau mengatakan mengapa tak menghubunginya lebih awal, ketika si Nicky tak menunjukkan perkembangan apa-apa. Saya bukannya tak mau menghubungi pembimbing, melainkan saat itu beliau terlalu sibuk dengan urusannya. Saya pernah kok menemui pembimbing saya itu untuk konsultasi, tetapi saya malah diajak mendiskusikan masalah lain dimana saat itu saya menjadi sungkan untuk melakukan bimbingan TA. Lalu ada pula waktu dimana beliau memiliki jam kosong, tetapi di waktu yang bersamaan saya harus mengasisteni praktikum dan ketika praktikum selesai dan saya bergegas ke ruangan Beliau… saya hanya menemukan ruangan kosong nan rapi yang berarti dosen saya sudah meninggalkan kampus, mungkin pulang. Lalu ada waktunya saya kosong dan menunggu ibunya seharian, dosen saya tidak datang. Maunya langsung menghubungi dosen pembimbing dua saya, tapi saat itu Beliau juga sedang disibukkan dengan oleh kehidupan pribadinya dan saya tak mungkinlah merong-rong dan merengek-rengek minta bimbingan. Belum lagi acara sakit saya plus acara pulang kampung saat saya berada di puncak kejenuhan….. makin jaranglah saya pembimbing….

Meskipun saya sadar bahwa terlepas dari apapun alasannya, yang salah karena jarang bimbingan adalah mahasiswa… saya tetap sedikit kesal dan ingin membela diri bahwa saya sama sekali tak punya niatan untuk tidak bimbingan. Saya malah senang jika memang harus melakukan bimbingan setiap hari…..

Akhirnya saya harus kembali menunggu selama tiga minggu ke depan untuk mengetahui perkembangan Nicky saya yang baru…. Sedikit lelah memang, tapi biarlah…toh pada akhirnya semua ini juga untuk kebaikan saya. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian… Dan saya tidak menjadi salah satu dari teman-teman yang mengcancel TA di semester ini… Insya Allah semua selesai tepat waktu…. Keep Move On!!!!!! 🙂

Bait-Bait Ketegaran

Akhirnya berada di perbatasan

Langkahpun menjadi tak pasti… takut bertemu gagal jika mengambil langkah

Dan berbalik arahpun menemui jalan buntu karena waktu tak menyediakan dirinya untuk berputar ulang

Entah ini suatu karma atau ujian untuk bertemu menang

Tuhan, apakah ini jawabanMu atas semua pertanyaan-pertanyaan itu?

Bukankah tak pernah ada keluhan dari lisan ini?

Ah… sepertinya Kau tengah membuat jebakan

Dan akupun terjebak…. menjadi galau dan melontarkan kesah

Menjadi lemah dan seakan-akan tak bertahan lagi

Karma ataupun ujian…

Tolong  jangan pernah berpaling dari raga ini, Tuhan

Tak ada niat kecilpun untuk meninggalkanMu…

Hanya saja telapak kaki ini sudah menopang begitu banyak beban dan butuh pijakan kuat untuk tetap menapak

Berdiriku di perbatasan ini….

Hanya sebuah liku kecil Mu, bukan?

Koridor itu sudah kulihat, Sehingga hentakan ini tak ubahnya gulita akibat mati lampu

Jika memang tak ada lampu yang bisa menerangi, akan kugunakan lilin

Jika lilinpun tak mampu menjadi petunjuk cahaya,

Mungkin aku bisa melihat dalam gelap dan berada di ujung koridor yang kutuju…

By meirina Posted in Poetry