See Ya, Jogja

12 jam yang lalu saya masih disibukkan dengan urusan TA di salah satu uneversitas negeri terkemuka di Yogyakarta, tetapi saat ini saya sudah berada di atas kursi di dalam kamar kos saya di Surabaya. Ya Tuhan…. cepat sekali saya berpindah tempat.. meski hanya lintas provinsi, ternyata sangat aneh jika harus berada di tempat yang berbeda dalam waktu 24 jam.

Ada perasaan lega saat udara yang saya hirup kembali didominasi oleh polusi. Lega karena tak harus bermanja-manja di tanah Sri Sultan, tetapi karena deadline yang semakin mendekat. Saya masih punya waktu, bahkan waktu saya terbilang cukup… tak lebih dan tak kurang. Insya Allah, 103 masih terbuka untuk saya. Yang perlu saya lakukan adalah merevisi pembahasan serta kesimpulan yang disarankan oleh dosen-dosen tercinta. Dan saya rasa saya bisa melakukannya karena toh saya tak harus membuat rumus-rumus fisika ataupun matematika 🙂

Yogyakarta memang menyenangkan, tetapi berada di ‘rumah’ sendiri rasanya jauh melegakan. Selepas perjuangan ini berakhir saya akan menyempatkan diri untuk mengunjungi Jogja lagi (semoga bisa secepatnya. AMIN)

Sampai jumpa lagi Jogja…… Terimakasih atas pelayanan luar biasamu selama 10 hari terakhir ini….

Dear God (2)

Dear God,

Hari ini sepertinya Kau memberikan cermin padaku supaya aku tahu seperti apa aku saat merasa di atas langitMu. Melalui cermin itu terpantul sebuah siluet yang sangat menakutkan. Rasanya sungguh menyeramkan, Tuhan.

Karena itulah aku ingin meminta maaf dan mohon ampun karena selama ini aku kerap kali menjadi sosok yang angkuh dan congkak.

Bantu aku untuk merubah siluet itu, Ya Tuhan…

supaya aku bisa hidup tenang dan tak dihantui oleh mimpi-mimpi buruk yang berkepanjangan…

Supaya aku tak terlalu merasakan sakit jika suatu saat Kau menghempaskanku tanpa peringatan..

Terimakasih atas cerminMu hari ini…

See Ya…

Yogyakarta Never Ending

Jogja oh Jogja…. Meskipun akhir-akhir ini kerap kali membuat kepala saya migrant lantaran hasil pengujian yang berkaitan dengan TA tak kunjung selesai, tempat ini tetap pantas mendapatkan acungan berjempol-jempol. Yogyakarta betul-betul istimewa. Selama sepuluh hari di kota ini saya sudah dua kali mengunjungi museum benteng Vredeburgh dan seandainya saya diajak kesana lagi saya berani menjamin bahwa saya tak akan mengatakan “aku bosan”.

Selain tiket masuk yang sangat sangat sangat sangat sangat terjangkau, diorama-diorama yang dipajang di sana benar-benar mengesankan. Rasanya seperti berada di ‘dunia sendiri’. Ada kepuasaan yang tak bisa diukur saat berada di sana.

Astaga, saya ingin sekali memohon kepada Sri Sultan supaya bisa menjadi penduduk Jogja dan bisa tinggal di sini supaya saya bisa mengunjungi museum benteng Vredeburgh sesuka hati saya. Bagaimana dengan Keraton? Hiksss…. sepertinya saya akan melewatkan Keraton dan Taman Sari di kunjungan saya kali ini. Bukannya saya tidak ingin, melainkan benar-benar tidak sempat. Besok sore saya harus kembali ke Surabaya karena selain Tugas Akhir yang benar-benar dikejar deadline, hari jumat paginya saya harus mengikuti TOEFL test…. hhhhhhhh….. padahal saya benar-benar ingin mengunjungi Keraton, Taman Sari, dan tentu saja candi Prambanan.

Ngomong-ngomong soal candi, kekecewaan lantaran tak dapat melihat Prambanan sedikit terobati karena tadi pagi saya diajak teman-teman kos di Jogja untuk melihat candi di kampus mereka, UII. What??? Candi di UII?? Saya sudah lebih dari seminggu di kos ini dan mereka baru mengatakan bahwa ada candi di kampus mereka. Keterlaluan! Harusnya saya diberitahu sejak saya menjadi penghuni rumah kos ini, bukannya di hari-hari terakhir saya menghirup udara Kaliurang.

Benar-benar luar biasa. Candinya memang tidak sebesar Prambanan atau semegah Borobudur, tetapi cukup membanggakan karena kampus mereka menemukan sebuah peninggalan sejarah. Bukti otentik yang semakin menguatkan bahwa Indonesia benar-benar pernah mengalami masa kerajaan.

Teman-teman saya mengatakan bahwa candi tersebut ditemukan tahun lalu dimana saat itu tanah kosong yang ada di kampus hendak dibangun gedung perpustakaan baru. Kemudian saat penggalian tanah untuk membuat pondasinya, salah satu pekerja bangunan menemukan batu-batu yang bentuknya berbeda dengan batuan lain. So…. setelah dilakukan penggalian lebih lanjut ternyata ditemukan dua buah candi berbentuk persegi dan menurut cerita mereka juga, menteri Kebudayaan Indonesia datang langsung ke tempat ini untuk memandatkan supaya si candi tak usik. Perpustakaannya gimana? Pembangunan perpustakaan tetap dilanjutkan dan si candi menjadi simbol bagi perpus yang sampai saat ini masih dalam proses pembangunan. Sayangnya saat saya menanyakan nama candinya pada kawan-kawan saya, mereka bilang “Apa ya namanya?! Aduh…lupa”. karena itulah saya menamakannya candi UII (seandainya ada yang mengetahui nama candinya, kasih tahu saya ya??!).

Meski belum meninggalkan provinsi ini, rasa rindu akan suasana Jogja sudah ada dipikiran saya. Merindukan trans Jogja beserta shulter dan kondekturnya. Merindukan angkutan Jogja-Kaliurang yang dengan setia mengantarkan saya menuju kampus UGM. Merindukan nasi kucing yang murah meriah plus ajib. Dan tentu saja merindukan Ukiran Bung Karno di pintu masuk Diorama 1 museum Benteng Vredeburgh. Tidak ada kata mati untuk Jogja. Tak ada titik untuk mengakhiri segala kisahnya. Bahkan meskipun Merapi mengamuk Jogja tetaplah memiliki magnet untuk menarik jutaan penduduk dunia menapakkan kaki di tanahnya, termasuk saya.

Sampai jumpa lagi Jogja… Terimakasih untuk semua pelajaran yang sudah kau bagikan. Insya Allah, kita akan bertemu lagi. Sekarang saatnya saya mengakhiri segala ‘penderitaan’ di kota pahlawan…..

P.S: saat membaca tulisan ini, si Wiwit pasti berkata “Orang gila! Kuliah jurusan apa, sukanya liat apa! Pindah jurusan Sejarah atau PPKN aja kakak” 🙂

Ngelayap Murah

Hari ini (Sabtu, 25 Juni 2011) memuaskan diri dengan berkeliaran di Jogja!!

Hanya berkeliaran…tak lebih!!

Dimulai dari naik angkutan JOgja-Kaliurang… Kemudian transit di shulter TransJogja depan Kopma UGM dan menunggu kedatangan Bus 3A yang selanjutnya membawa saya ke Malioboro. Akhirnya, setelah hampir seminggu di Jogja saya bisa menghirup udara Malioboro…. Hanya menghirup, tak lebih 😉 Saya juga tak punya niatan lain selain poto-poto. Tujuan utama saya adalah benteng Vredeburg…. Ngapain kesana??? Poto-poto lahhh…… gak ada yang namanya shopping atau nawar-nawar di jalanan Malio atau masuk-masuk ke pasar Bringharjo… Sebenarnya ada juga keinginan untuk membeli satu atau dua batik-batik, tapi kemudian ada yang berbisik “Mei…TA mu butuh biaya besar lohhhh…. Hemat, Beb!” Karena itulah, saya benar-benar hanya menikmati pemandangan di sekitar Malioboro… tiket masuk bentengnya gimana?? Murah kok, cuma 2 ribu rupiah!!!

Selain itu saya merasa beruntung karena ternyata malam ini ada festival Malioboro di pelataran Monumen Serangan Umum 1 Maret. Ada semacam pagelaran seni budaya. Tari-tarian sampai pementasan drama Jawa, hemmmm… benar-benar menghibur euy!! Ditambah lagi ada kopi gratis yang dibagikan panitia, makin mantap!! Sebelum menonton pagelaran, saya mampir ke taman pintar, kenapa ??? Apa lagi kalo bukan untuk poto-poto!!!???!! Masuknya gratis pula…

Setelah menonton pementasan drama, pukul 20.15 saya meninggalkan kawasan Malioboro menuju shulter bus terdekat… naik bus 2B (apa 1B ya?? lupa) menuju Tugu Jogja!! Jika pertanyaannya adalah ngapain, jelas poto-poto lah… Mau apa lagi coba! Sebenarnya jam 9 malam masih terlalu sore untuk waktu Indonesia bagian Tugu Jogja, tapi karena saya mebutuhkan jasa trans Jogja untuk sampai Tugu maka sebelum jam 22.00 saya harus sudah ada di Tugu karena trans Jogja berhenti beroprasi jam 10 malam. Kalo saya ke Tugunya jam 11 malam, naik apa coba? Becak? Kasian tukang becaknya. Taxi? MAHALLLL… niat awal kan wisata murah!!

So, karena Tugu masih terlalu ramai maka niatan poto-poto dicanceled sejenak menjadi duduk-duduk di Tugu sembari menjadi fotografer dadakan. Karena saya tak poto-poto seperti yang lain, seorang bule menghampiri saya dan meminta tolong untuk memotretnya… Ok lah… daripada tak ada kerjaan, saya terima saja tawarannya tersebut… Terusss…. setelah si bule puas dengan pose-posenya, saya memutuskan untuk meninggalkan Tugu sementara waktu.. tujuannya adalah mengisi perut… lapar euy…karena setelah  seharian berkelana, makanan yang masuk perut saya hanya seporsi kecil sate yang saya beli di depan Taman Pintar plus dua cangkir kopi gratis… Melangkahlah kaki ini ke KFC yang letaknya tak jauh dari Tugu Jogja. Menurut saya sih tak jauh, karena itulah transportasi andalan saya tetaplah kedua kaki ini… MerSikil!!! 😉 Dan tiba-tiba saya menyadari bahwa untuk menuju KFC itu saya melewati Kali Code… Yesss… sekalian jepret-jepret Kali Code tengah malam…

Jam 23.00 saya memutuskan untuk kembali ke Tugu, berfikir dan berharap bahwa sudah ada ruang kosong untuk saya berpoto-poto. Namun ternyata pikiran dan harapan saya itu salah. Tugu masih terlihat ramai, dikelilingi oleh orang-orang yang sedang mengekspresikan berbagai gayanya plus kilatan blitz yang tak berhenti-berhenti… Yahhhh…. saya jadi bingung mau kemana.. Kenapa gak balik ke kos?? Wkwkwkwkwkwkwkwk….pertanyaan bodoh… (kecuali taxi) mana ada angkutan umum ke Kaliurang, tempat saya stay selama di Jogja??! karena itulah, sekarang… dini hari ini,  saya terdampar di sebuah warung internet yang jaraknya dengan Tugu tak lebih dari 20 m (perkiraan saya sih 😉 )…. Kalau saya tak salah nama warnetnya ToeguNet…

Target saya tetap poto-poto di Tugu dengan bebas… mungkin satu atau dua jam lagi saya baru bisa memotret Tugu Jogja dengan leluasa… untuk saat ini cukup meluruskan kaki sejenak sembari menggeluti dunia maya…

P.S: Perjalanan ini masih akan berlanjut, yang penting tak menguras kantonglahhh 🙂

Resend Email

Tiba-tiba saja dosen saya mengirimkan pesan singkat yang mengatakan bahwa file pembahasan yang saya kirim melalui email tidak ada di inboxnya…. Hikssss…… Ada apa dengan jaringan internet di Jogja ini… Padahal hari selasa kemarin saya benar-benar sudah mengirimkannya… Suer!!! Status di email saya juga ‘terkirim’. Hadehhhh…

Kirim email lagi sih gak masalah, tapi kan buang-buang waktu! Seandainya si email sudah sampai di tangan dosen saya, mungkin saja hari ini saya sudah mendapatkan balasan serta pembenarannya dan saya bisa segera mengirimkan revisiannya…. Jadi pembahasan ini segera di acc. Kalau begini, benar-benar membuang-buang waktu!

Ditambah lagi koneksi internet yang tak berbeda jauh dengan kondisi cuaca saat ini! Terasa seperti anomali signal… melampirkan filenya luuuuaaaaaaaaaaammmmmmmmmmaaaaaaa….. mau browser yang lain pun harus berkali-kali menghembuskan nafas panjang! Mungkinkah jaringan internet di sini mencerminkan kehidupan masyarakatnya??

Hahhh….. mengeluh lagi…. Migran lagi….

Ok, Sir… saya resend emailnya…. Semoga bisa langsung diterima… Hopefull!!!

Surabaya – Malang

Tau ndak, Mei?! Kemarin pas aku ke Surabaya rasanya kayak ke neraka. Surabaya itu panas. Polusi dimana-mana. Terus sewaktu aku naik bus kotanya, haduhhhhhhhh……besi bisnya itu loh bikin jijik… Karaten dimana-mana plus bau. Terus di Bungur Asihnya, Beeeehhhh…beda banget kalo aku lagi di Arjosari… Di Arjosari orangnya ramah-ramah, ndak kayak di Bungur yang judes-judes… tut tut tut tut tut…

 …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Sambungan telepon mati seketika. Saya coba cek pulsa, tetapi pulsa saya normal kok. Indikasi lain : Tidak Ada Signal!!!! Atau mungkin HaPe saya menganggap ocehan Herdia terlalu berisik sehingga melakukan pemutusan sepihak, bukan saya loh yang memutuskan hubungan telepon itu. Tiba-tiba saja perbincangan telepon antara saya dan Herdia terputus.

Hehex bilang, Surabaya panas. Tidak seperti Malang yang dingin. Saya akui itu. Polusi di udara benar-benar parah. Sedangkan di Malang, udara masih asri. Saya pun menyetujui pendapatnya. Hehex mencaci bis kota yang beroprasi di Surabaya lantaran kursi besinya berkarat dan bau, saya tak menyalahkan caciannya itu. Dan dia mengatakan orang-orang di terminal Arjosari lebih ramah daripada terminal Bungur Asih, saya tak punya alasan pula untuk mengelaknya.

Perbandingan apapun yang kerap kali Herdia katakan mengenai Surabaya dan Malang, tak pernah sekalipun saya sangkal. Bahkan ketika topik tersebut mengudara……. bukan perbincangan atau debat kusir yang terjadi, melainkan monolog menggebu-gebu yang dipersembahkan oleh salah satu teman saya itu. Saya hanya menyimaknya sembari tersenyum.

Panas, polusi, bis karaten, atau langkanya keramah tamahan yang ditujukan pada Surabaya pernah membuat saya frustasi, terutama di fase awal saya mendiami ibu kota provinsi Jawa Timur itu. Saya bahkan sempat mengutuk Herdia, karena secara tidak langsung orang itulah yang mengirim saya ke salah satu kota terbesar di tanah air ini. Namun, gerutuan itu hilang saat saya telah menyatu dengannya. Dan saya tahu bahwa Surabaya tidak terlalu buruk.

Panas, polusi, bis karaten, dan langkanya keramahtamahan di Surabaya sebenarnya menyimpan anugrah yang diberikan olehNya. Karena semua hal yang menurut Hehek buruk itu, telah membuat saya menjadi individu yang kuat baik fisik maupun mental. Dan seharusnya saya betul-betul berterimakasih pada Hehek karena empat tahun lalu ia ‘memaketkan’ saya ke Surabaya.

Seandainya saya tidak mengenyam studi di Surabaya, mungkin saya akan menjadi pribadi yang lemah, cengeng, dan manja. Seandainya saya kuliah di kota yang sama dengan Hehek, kota yang di awal memang menjadi pilihan saya, saya tidak akan mengetahui bahwa hidup itu benar-benar keras. Karena Surabayalah saya menjadi lebih berani bersikap. Karena Surabayalah pelajaran hidup saya terlihat lebih berwarna. Dan seandainya Hehek tidak membuat saya ‘terbuang’ di kota ini, saya tidak akan pernah mengenal teman-teman kampus yang beraneka rupa yang menjadi salah satu inspirasi di sebagian besar tulisan yang ada di blog ini.

Karena itulah, saya hanya berperan sebagai pendengar jika Herdia mulai memberikan penilaian bagi Surabaya karena ocehannya itu secara tidak langsung membuat saya semakin yakin bahwa dari awal Tuhan menempatkan saya di tempat yang tepat (mana pernah Tuhan salah???). Saya tak diizinkan menuntut ilmu di kota Herdia karena mungkin Tuhan menganggap saya memiliki kekuatan yang lebih untuk hidup di kota yang jauh lebih besar. Mereka yang hanya mengamati dari jauh, mungkin memiliki pendapat yang sama dengan Herdia. Menganggap Surabaya sebagai kota tak layak huni. Sama halnya pendapat orang mengenai Jakarta. Tak ada yang salah dengan pendapat-pendapat mereka mengenai panas, polusi, bis karaten, dan kelangkaan ramah tamah di Surabaya. Masalah utamanya hanyalah perbedaan sudut pandang.

Menurut Herdia, Surabaya dan Malang mungkin memiliki jurang pemisah yang tak bisa dilalui sehingga perbedaan yang terjadi di kedua kota tersebut sama sekali tak bisa ditoleransi. Akan tetapi, bagi saya perbedaan itu hanyalah bukti kecil bahwa biodiversitas Indonesia memang patut menjadi salah satu yang terbesar di dunia.  Atau mungkin seleksi alam Surabaya lebih memilih saya dibandingkan Herdia??? 😉 (Perlu diketahui bahwa di awal kami merasa iri pada masing-masing. Hehek ingin Surabaya dan saya sudah menyiapkan kehidupan di Malang)

PS: Mendengar cacian Herdia mengenai Surabaya mengingatkan saya pada tokoh Petunia, Bibi Harry Potter, yang membenci semua hal tentang dunia sihir (Buat yang gak ngerti, baca dong buku Harry Potter!! Bagus kok!!). Benar-benar tak berbeda!

Antara Kampusnya Dan Kampus Saya (2)

Masih berkaitan dengan sistem menejemen kampus,

Teman saya tengah mengurus masalah Kerja Prakteknya, tetapi di mata saya dia sama sekali terlihat berbeda dengan saya saat hendak melaksanakan Kerja Praktek (KP).

Saat saya menanyakan waktu kerja prakteknya, dia mengatakan “Bulan Juli besok, Teh”. Hah??? Juli?? Sekarang bulan apa sih?? Apakah sekarang masih Januari 2011?? Jangan-jangan kemarin Jogja baru merayakan tahun baru!! Lalu, saat saya menanyakan masalah proposal KPnya dia malah balik bertanya

“Proposal KP? Memangnya itu perlu? Kan cukup pake surat pengantar dari kampus”.

What?? Kemudian saya kembali bertanya,

“Terus masalah dosen pembimbing KP? Apa tidak membooking dosen jurusan terlebih dahulu?”.

Jawabannya adalah,

“Gak perlu, Kakak. Kan kita kerja praktek, pembimbingnya ya dari tempat kita kerja praktek. Terus yang ngurusin nilai di kampus ya dosen pengampu mata kuliah Kerja Praktek. Ngapain juga pake dosen pembimbing? Memangnya Wiwit mau penelitian apa?”

Ok… saya belum putus asa untuk merobohkan sikap santainya.

“Surat Pengantarnya cepet diurus aja kalo gitu. Biar cepet jadi”

Teman saya mengerutkan dahinya sambil berkata “Cepet kok”

Berdasarkan hasil introgasi yang saya lakukan, teman saya menceritakan bahwa untuk mendapatkan surat pengantar dari kampusnya hanya membutuhkan waktu 10-15 menit. Diapun mengatakan bahwa semua masalah yang melibatkan tanda tangan dekan ataupun ketua jurusan tak pernah melebihi waktu 30 menit, kecuali dekan atau ketua jurusan sedang sakit parah dan benar-benar tak bisa beranjak dari atas kasurnya. Namun, dia mengatakan bahwa hal itu sangat jarang terjadi. Selama dia kuliah, segala macam urusan yang membutuhkan tanda tangan dosen atau ketua jurusan atau dekan maksimal dia dapatkan dalam waktu sehari. Itupun kalau memang benar-benar sudah kepentok. Jadi tak ada ceritanya ‘memesan’ surat pengantar. Butuh surat pengantar, datang ke ruang TU untuk dibuatkan dan kemudian cukup duduk di ruang tunggu selama 10-15 menit surat pengantarpun ada di tangan.

Teringatlah saya sewaktu masih berada di masa-masa KP, ribetnya minta ampun. Saya mengerjakan proposal KP satu semester sebelum melaksanakan KP. Bolak-bolik revisi proposal dengan dosen pembimbing yang pada akhirnya meninggalkan saya dan membuat saya harus berganti pembimbing dimana pembimbing baru saya itu sudah memiliki setumpuk anak bimbingan. Sehingga ketika saya hendak melakukan bimbingan, teman-teman yang merupakan ‘anak kandung’ pembimbing saya itu selalu mengatakan

“Antri dong, Mei. Kamu kan anak buangan, masa bimbingannya mau duluin kita yang memang anak bimbing ibunya?!”

Hahhh…nasib-nasib… Pembimbing tak punya, masalah surat pengantarpun harus menunggu lama. Satu minggu!! Bandingkan saja… satu minggu Vs 15 menit! Mana yang lebih cepat coba???

Tujuan kampusnya dan kampus saya mungkin sama dalam hal membentuk manusia-manusia berpendidikan, cara kami saja yang tak sama. Dan mungkin inilah yang akan membuat  Antara kampusnya dan Kampus Saya tak akan pernah selesai.

Kampus saya keren kok…… Beneran!! Tapi tetap saja buatan manusia. Dan manusia hanyalah manusia, tak seperti Tuhan yang sempurna. Seandainya para pemilik wewenang di kampus saya mengetahui betapa banyak hal yang masih perlu diperbaiki pada sistem menejemen kampus, saya yakin bahwa mereka pasti akan melakukannya. Perbaikan itu sebenarnya tak hanya untuk saya, tak hanya untuk kampus saya, tetapi juga untuk teman saya dan kampusnya. Namun saya tak punya kapasitas untuk menilai kekurangan kampusnya karena saya tak mau semakin mengotori pikiran saya yang sudah keruh ini dengan penilaian buruk terhadap hal yang belum saya ketahui dengan pasti. Saya hanya ingin tempat saya mengais ilmu bisa menjadi lebih baik. Itu saja.

Bukankah ini untuk kebaikan dan kenyamanan semua pihak? 🙂

Antara Kampusnya dan Kampus Saya

Memasuki kampus kawan saya dan menunggunya di salah satu sudut di lantai tiga….

Banyak sekali perbedaan yang saya lihat di sini. Yang menjadi sorotan utama saya adalah sistem menejemen di kampus ini terasa lebih baik dibandingkan almamater saya. Bukannya saya tidak mencintai tempat saya menuntut ilmu, melainkan hanya memberikan penilaian secara objektif meskipun terkadang objektifitas itupun bergantung pada sudut pandang masing-masing yang pada akhirnya kembali lagi pada teori relativitas Einstein.

Stop memperdebatkan subjektif atau objektif karena topik yang ingin saya ceritakan bukan itu… Ok??!!

Salah satunya adalah masalah ujian. Ujian di kampus saya, entah tengah ataupun akhir semester ataupun hanya sekedar kuis, selalu diiringi dengan pernyataan ‘Posisi Menentukan Prestasi’. Jadi jika kampus saya berada pada masa ujian, teman-teman saya tiba-tiba menjadi manusia paling rajin sedunia. Bagaimana tidak dibilang rajin jika mereka sudah berkumpul di depan pintu ruang ujian dua jam sebelum ujian dimulai! Misalnya jadwal ujian pukul 08.00 WIB, mereka sudah memadati lorong-lorong di depan kelas sejak pukul 06.00 WIB!!!! Padahal saat jam perkuliahan biasa mereka rata-rata terlambat 30-45 menit, bahkan ada yang masuk kelas setelah perkuliahan berlangsung selama 1 jam. Ckckckckckckck…. Alasan mereka datang cepat saat ujian tentu saja untuk mendapatkan kursi yang ‘nyaman’ saat ujian berlangsung. Biasalah, menghindari bangku di deret depan.

Sementara masa ujian di kampus teman saya ini tak ubahnya seperti waktu perkuliahan biasa. Saya dan teman saya berangkat pukul 08.00 dari kos. Niat saya adalah memanfaatkan fasilitas WiFi dikampusnya dan pikiran saya adalah saat dia mengajak untuk berangkat pagi niatnya itu sama dengan teman-teman di kampus saya jika berada pada masa ujian akhir yaitu mencari bangku yang nyaman untuk ujian. Tetapi ternyata saya salah besar. Ok, dia datang memang untuk mencari bangku ujian….. tidak menunggu di depan kelas dua jam sebelum ujian dimulai, tetapi melihat pengumuman yang ditempel di kaca jendela atau pintu ruang kelasnya. Isi pengumumannya adalah nomor kursi ujiannya. Jadi tak ada yang namanya berebut kursi atau booking tempat duduk untuk ujian seperti yang saya dan teman-teman kampus saya lakukan. Kursi ujian sudah ditentukan oleh pihak kampus. Sistemnya seperti ujian SPMB atau SNMPTN lah….. Bergantung pada dewi fortuna, jika untung pasti mendapatkan tempat duduk yang pas tetapi jika tidak ya sudah…duduk saja dan mengerjakan soal ujian. Selain itu, 15 menit sebelum ujian berlangsung pengawas akan memasuki ruang ujian untuk melakukan pemeriksaan pada setiap bangku. Setelah itu barulah peserta ujian memasuki ruang kelas tentu saja secara teratur karena mereka tidak perlu berebut kursi seperti di kampus saya.

Sistem itu hanyalah satu dari beberapa perbedaan antara kampus saya dan kawan saya. Saya tak bisa mengatakan sistem di kampus teman saya baik, karena lagi-lagi saya kepentok dengan yang namanya relatif. Sayapun tidak ingin menjadi orang yang selalu mengatakan ‘ rumput tetangga terlihat lebih hijau’, karena saya punya taman dengan vegetasi yang lebih dari sekedar rumput yang tentu saja jauh lebih indah dibandingkan segerombolan ilalang. Saya hanya ingin kampus saya menjadi lebih baik, terutama pada sisi menejemennya. Dan mencontoh sistem dari kampus teman saya ini, saya rasa bisa menjadi salah satu pilihannya. Tidak mencontoh 100% mungkin, tetapi setidaknya sedikit memberi pandangan bagaimana mengatur masalah teknis perkuliahan. Meskipun hanya sekedar teknis, menejemen pun turut berpengaruh bagi kebaikan kampus.

Semoga perbaikan itu segera terjadi….. AMIN 🙂

No USB… WHAT????

Astaghfirullah…. sepertinya saya memang ditakdirkan untuk tidak berlama-lama dengan dunia maya selama berada di Jogja. Saya kira saya bisa memanfaatkan WiFi di kampus teman saya, tetapi ternyata tidak!!!

Bangun pagi-pagi, melawan dinginnya Yogyakarta dan memberanikan diri mandi dengan air yang dinginnya tak kalah dengan si udara…. saya berniat ikut teman saya, Wiwit, ke kampusnya. Tujuan utamanya tentu saja internetan gratis pake WiFi. Internetannya mau ngapain?? Tentu saja mengirimkan file pembahasan TA pada dosen saya. Dan dengan semangat serta niat baik ini saya melangkahkan kaki tanpa prasangka apapun..

Ternyata saat saya sudah siap dengan Dellpie tersayang dan menghubungkan koneksi WiFinya… yang terjadi tetap saja tulisan ‘Problem Loading Page‘. Saya refresh si Dellpie dan mencoba membuka page baru… Tetapi hasilnya sama saja… Tak ada koneksi

Ketika saya menanyakan hal ini pada kawan saya itu, dia mengatakan

“Aduh teteh, Wiwit gak ngerti. Mungkin memang lagi error. Tapi biasanya gak gini kok”

Astaga…. LAGI???? Memangnya saat ini saya sedang berada di pedalaman??

Akhirnya, saya dan teman saya menuju Perpustakaan untuk menggunakan layanan komputer gratis yang sudah langsung nyambung koneksi internetnya. Alhamdulillah…. Ternyata saya bisa ngenet…

Ok, buka WWW.Yahoo.Com, Klik Mail, Log In, Klik user name plus pasword… Masuk..

Lalu.. Klik Tulis email, Lampirkan file…

Upsss… lupa nyolokin flashdisk... Colokin dulu ahh….

Ternyata oh Ternyata… si komputer di perpustakaan ini tidak menyediakan colokan USB… APA?????? Ya!!! Saat saya menanyakan CPU atau tempat colokan USB nya, si petugas Perpus mengatakan bahwa komputer di kampus memang tidak menyediakan colokan USB… alasannya???? GAK TAHU!!!

Hadehhhhh….. koneksi ok, tapi tak bisa kirim email gara-gara tak ada colokan USB…gimana caranya ngirim email ke dosen saya coba????? Gusti-Gusti….. bagaimana ini… 😦

Mungkin lebih baik saya ke warnet saja…..