Terimakasih, Tuhan


Awalnya  hanya berpilin dan menumpuk di setiap rentetan detik dari suatu waktu

Alasannya adalah klasik… hanya ingin terlihat kokoh seperti cadas karang

Tak ingin mengeluh atau dikeluhkan..

Dan mungkin ingin bertahan dengan segala asa dan daya

Kemudian…. ketika detik berganti menit…

Rupa-rupa lain seolah menjadi tiupan angin… sedikit menggoyahkan namun ingin terus dirasakan

Akhirnya, dicobalah untuk mengikuti hembusan sejuk itu..

Tapi kemudian kembali tersadar bahwa tak mungkinlah Tembok Cina hancur dalam seketika

Lalu, saat menit terlewati oleh jam…

Tak ada pertanda bahwa keangkuhan itu akan terkikis..

Dan haripun berlalu bersama pekan-pekan yang tak bernyawa

Kemudian bulan barupun singgah tanpa diiringi sedikit rasa

Ada saat dimana ingin mencair, namun entah kenapa kelopak ini keras melebihi bebatuan

Lalu, saat tahun demi tahun menyongsong…

Cara itu datang dengan sendirinya…

Mengalir begitu saja dan tak terpengaruh oleh tiupan angin sekalipun

Dan ternyata ada sedikit lega di setiap tetes air mata

Terimakasih Tuhan, karena telah mengizinkanku menangis kembali

By meirina Posted in Poetry

4 comments on “Terimakasih, Tuhan

  1. sesuatu yang baik belum tentu berkembang secara konsisten secara baik, me..
    terkadang kesalahan membuat kita belajar dengan delta perkembangan yang signifikan, tinggal bagaimana kita mempertahankan stabilitasnya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s