Masih Tentang Perjanjian DenganNya

Hari itu tak ada tanda-tanda kehadirannya diantara kerumunan kecil di suatu ruang kecil

Dia tak ada di sana… Tak memberikan sorak sorai yang menguatkan

Mungkin saat itu dia memang tak selayaknya ada di sana karena tak ada alasan kuat yang bisa mendatangkan sosoknya

Dan akhirnya mengerti dengan keterpaksaan yang diharuskan

Lalu, saat peristiwa serupa datang dalam ratusan putaran bulan

Dia berdiri dengan raut kecewa.. Tidak meluncurkan sumpah serapah memang

Namun caranya mendesahkan nafas sudah menjadi bukti kuat akan ketidaksukaannya

Mungkin saat itu dia membatin “Percuma datang”

Tanpa menimpali kekecewaan dan ketidakpuasan tersiratnya, berlalulah dua pasang kaki dalam kediaman

Kesempatan ketiga diberikan olehMu

Ada suatu kebanggaan yang hendak ia terima sebenarnya..

Ada perayaan sebagai apresiasi yang mungkin telah sangat lama ia nanti

Namun lagi-lagi semuanya hanya sekedar rencana

Tatanan rias wajah dan kebaya merah menyala tercuci oleh air langitMu

Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa Ia sangat menginginkan berada di antara keriuhan tiga perayaan yang telah berlalu

Tak pernah terpikir bahwa Ia sangat ingin menunjukkan bahwa hari itu adalah harinya

Tuhan… maaf jika aku tak pernah memikirkan perasaannya

Maaf  karena aku terlalu egois… Meninggalkannya sendiri dalam hingar bingar yang sebenarnya untukku

Maaf  karena selalu membiarkannya tersenyum sendiri

Janji itu, masih menjadi kesepakatan kita bukan?

Kau tak akan ingkar bukan?

Bencilah aku Tuhan, tapi tetaplah pada kesepakatan yang kita buat

Kesempatan keempat itu, aku tak akan membuatnya asing karena Ia tak pantas diasingkan

Kesempatan keempat itu, aku betul-betul ingin ada dia

Ketakutan ini benar-benar tak terkendali, Tuhan

Takut tak ada waktu, takut terlambat….

Berikanlah kesempatan keempat itu di akhir liburan musim panasMu, Tuhan….

Bukan untukku.. Bukan untuk siapa… Hanya untuknya

By meirina Posted in Poetry

Belajar Bicara

He said : “Kemampuan verbalmu itu kurang. Coba sering-sering komunikasi supaya paketmu gak hanya di sisi redaksional saja, tapi paket komplit”

diam sejenak… loading….. Ding dong… kemudian muncul sesimpul senyum…..

Ok ok… saya tahu maksud dari dosen saya itu… Saya kurang berkomunikasi dengan beliau. Saya tak pernah mengeluhkan Tugas Akhir yang saya kerjakan pada beliau. Sayatak pernah mendiskusikan apapun mengenai TA ini dengan beliau. Mungkinkah itu kesalahan yang saya lakukan? Baiklah, jika memang sikap saya selama ini salah… I’m so sorry, Sir.

Jujur saja, sebenarnya saya sangat ingin mengeluhkan apapun yang berkaitan dengan TA ini. Saya ingin mendiskusikan apapun yang berhubungan dengan TA ini. Saya ingin menceritakan apapun yang terjadi mengenai TA ini. Tapi saya selalu bingung harus memulainya dari mana karena menurut saya tak ada hal yang perlu saya ceritakan tentang TA ini. Tak ada masalah yang harus saya keluhkan mengenai TA ini. Untuk apa saya mengeluhkan sesuatu yang saya pilih sendiri? Seandainya ada uneg-uneg yang ingin saya keluhkan, mungkin hanya sekedar keadaan lab yang beberapa kali membuat saya jengkel. Apakah keluhan macam itu layak saya sampaikan pada beliau?

Saya sadar bahwa saya memang harus lebih banyak berbicara. Saya tak akan menyangkal pernyataan salah satu dosen saya itu mengenai saya yang terlalu banyak diam. Saya memang tak suka berbicara terlebih pada orang yang tak saya kenal. Heii… wajar bukan jika saya tak berbicara jika tak ada orang yang saya kenal.. yang ada saya dikira sinting!! Seandainya saja beliau tahu bahwa sampai saat inipun saya berusaha keras untuk keluar dari kata diam. Saya berusaha keras untuk tidak selalu menggunakan ‘diam itu emas’, sangat keras malah!

Saya tengah belajar untuk berbicara… tidak mudah memang, tapi setidaknya saya tahu saya bisa… Salah satu buktinya adalah saya menyalinkan beberapa tulisan di buku harian saya di blog ini…