Saya Masih Ingin Bisa, Mom

“Kenapa kemarin gak ikut adiknya coba? Daripada kamu di kampus gak ngapa-ngapain! Cuma nunggu dosen aja dari pagi sampe sore! Ndak usah terlalu dipaksakan. Kalo dosen-dosennya ndak mau, ya wes tinggalen! Gak usah terlalu dipikirin! Nanti lek kamu stress malah bikin repot banyak orang”

Kira-kira begitulah respon ibu ketika kemarin menelpon saya yang sedang menunggu dosen.

Jika mendengar pernyataan ibu itu…rasanya saya benar-benar merasa bersalah. Seandainya saya menyelesaikan acara ngelab lebih cepat, mungkin saja saya sudah mendapatkan keputusan kapan TA saya disidangkan. Apakah saya terlalu lambat bekerja, Tuhan? Inikah hukumanMu karena saya tak bekerja dengan baik selama ini?

Mom…. saya pun ingin ikut adek ke Semeru, tapi TA saya ini sudah berada di titik akhir. Saya sudah sangat dekat dengan garis finish. Jadi tolonglah, Mom….. just trust me! Bukan masalah besar jika saya harus menunggu dosen dari pagi hingga sore selama hari kerja.

Saat ini saya sedang sangat sangat sangat sangat sangat sangat berjuang untuk mempertahankan semangat sampai di garis finish. Tolong jangan buat saya menjadi sosok yang tiba-tiba tak punya daya. Saya sudah sangat jauh melangkah…bahkan sampai Yogyakarta (upsssss…balik serius lagi 😉 ). Karena itulah, jangan suruh saya berhenti sekarang meskipun itu hanya untuk rehat sejenak!

Dukung saya….. beri saya semangat… dan tetaplah yakin bahwa saya bisa….. Dengan sisa-sisa dan keterbatasan semangat ataupun  semakin kaburnya harapan… Saya masih tetap ingin menyelesaikannya dengan baik. Biarkanlah saya di sini untuk beberapa saat lagi…. hingga semua ini berakhir dengan seutas senyum di bibirmu.

Tutup Mulutmu

Aku tak di sana, bukan berarti aku tak mampu….. Jadi tutup rapatlah mulutmu

Aku tak di sana, bukan karena aku tak melakukan apa-apa…….. Jadi tak usah banyak bicara

Aku tak di sana, bukan karena aku mau….. jadi tak usah berfikir paling hebat

Aku tak di sana, bukan karena aku tak bekerja….. jadi diamlah dari setiap kata

Aku tak di sana, bukan karena aku lebih buruk darimu…….. jadi tak usahlah bersikap sok

Aku tak di sana, bukan karena aku tak bisa…… jadi hentikan kecongkakanmu

Diamlah saja…. karena kita tak pernah tahu bagaimana bumi ini berotasi

Tutup saja mulutmu……… karena gendang telingaku sudah mendekati titik pecah

Percayalah…… dirimu tak jauh lebih baik dariku

By meirina Posted in Poetry

Berdamailah Untukku

Apakah kalian tidak ingin berbaikan?

Saling mencekal bukan hal yang bisa menyelesaikan masalah…

Aku tak pernah mengerti sebesar apa karang yang menghalangi kalian

Aku tak pernah tahu sekokoh apa dinding yang memisahkan kepala kalian…

Tak inginkah kalian menjadi teman saja?

Tak perlu saling memuji di depan dan menghina di belakang masing-masing…

Tak lelahkah kalian atas perang dingin ini??
Jujur saja, aku sangat lelah…

begitu lelah, Kawan….

Berada di antara kalian yang saling menyapa

Seakan-akan menjadi bola pimpong!

saling melemparkanku untuk melampiaskan kekesalan kalian

Menjadikanku dresscode yang dengan mudahnya kalian pakai danj kalian buka seketika…..

Apakah kalian benar-benar tak ingin berdamai?

Tak adakah perasaan bersalah pada otak kalian??

Sikap kekanak-kanakan kalian itu…. menyusahkannku… menyulitkanku….. dan benar-benar merugikanku…

Ayolah, kawan…

Ulurkan tangan kaliam…. berjabatlah….

Jika kalian memang tak bisa menyatukan kepala masing-masing,

setidaknya izinkan aku pergi dari tengah-tengah kalian

Biarkan aku melanjutkan alur ceritaku sendiri…

Tolong…. aku sangat membutuhkan kesadaran kalian…. benar-benar ingin, Kawan!

Berdamailah Kawan…. Berdamailah…. untukku yang tak tahu apa-apa….

By meirina Posted in Poetry