7

Di awal musim, yang terlihat hanyalah angka 1

Bertanding untuk meraih poin-poin kemenangan

Kerja keras yang tak pernah pudar menjadi senjata utama untuk mempertahankan capollista

Pertengahan musim pertama, angka 1 menjadi 2

Penurunan yang tak buruk karena akhir musim masih sangat lama

Usaha dan kegigihan tetap terluncur untuk sebuah perisai kebanggaan

Akhirnya, hanya ada empat pekan tersisa di musim ini…

Dua menjadi tiga, lalu tiga berpindah pada empat

Empat berubah menjadi lima, kemudian lima bertukar dengan enam

Musim berakhir di angka 7

Ada sesal mungkin, tapi setidaknya tetap menjadi bagian dari The Magnificent 7

Seekor kuda akan melompat lima langkah jika ia mundur satu atau dua langkah

Dan 7 akan menjadi pijakan untuk melompat ke arah 1

7 bukanlah angka buruk untuk memulai kompetisi di musim yang baru

By meirina Posted in Poetry

Still Cooming Soon

KURANG AJARRR!!!! Ternyata info adik saya kemarin itu PALSU!!!!!! HHHHHHUUUUUUUUUUUUUUUUUU

Rasanya ingin saja mencincang-cincang dia. Di saat-saat saya ingin sekali menonton Harry Potter dia mengabarkan si HP sudah tayang di bioskop…. kemudian tadi tiba-tiba dia mengirimkan pesan “Pilemnya masih coming soon kok Mei….heheheheheheheehhehehe”

Hamsyong!!!!! Padahal kemaren saya mengatakan jadwal cineplex 21 Surabaya rancu, ternyata saya ditipu sama kerancuan yang dibuat adik saya! Asem! Maaf cineplex…maaf banget… Saya yang salah karena terlalu percaya dengan tipuan adik saya….

Padahal saya juga sudah gembar-gembor ke teman-teman saya yang doyan Harry Potter mengenai penanyangan sekuel terakhir Potter di Royal Plaza… dong-dong…….. Pasti mereka pikir gila saya sudah akut…..

Sewaktu saya menanyakan kembali mengenai antrian panjang yang ia lakukan kemarin, dia jawab…

“Antrian beli CD bajakan Harry Potter 7… hehehehehehehehe!!!”

ASTAGA!!!!!!!! Benar-Benar Keterlaluan! Sudah bohong…. pake beli bajakan pula!!!! ckckckckckckck…..

Berarti posistif…  Di Indonesia, HP 7 part 2 masih cooming soon

Kisah 21 Hari

21 hari yang lalu saya bertemu teman SMA saat melakukan tes TOEFL.

Dia murung dan tampak bingung. Mukanya kucel. Meskipun standar diamnya tak sama dengan diam saya, sikapnya yang tak banyak bicara itu tetap menunjukkan bahwa dia sedang galau. Kemudian dia bertanya pada saya

“Gimana TA mu, Mei? Aku masih bingung dengan TA ku. Sampe sekarang belum apa-apa. Gimana aku bisa lulus semester ini?”

Saya tersenyum dan menepuk bahunya sembari berkata,

“Bisa kok!”

Kemudian dia menanyakan kembali progress TA saya dan saya menjawab;

“TA ku lumayan… sudah selesai sih… tinggal revisi dikit aja”

Kemudian perbincangan kami berakhir ketika masing-masing dari kami memasuki ruang tes.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Hari ini saya kembali bertemu teman saya setelah 21 hari yang lalu, di tempat yang sama. Rautnya ceria. Senyumnya terkembang. Tak ada sinar kesedihan dari sorot matanya. Dia kembali terlihat sebagai sosok yang saya kenal ramai. Celotehnya tak berhenti saat kami telah berada di ruang tes (kebetulan hari ini kami ditempatkan di ruang yang sama).

Sebelum masuk ruang, dia bertanya

“Yudisium fakultasmu kapan, Mei?”

Saya menjawab;

“Tanggal 29 terakhir’

Lalu dia kembali bertanya;

“Kamu sudah maju sidang? Aku sudah kemaren”

Saya tersenyum mendengar pertanyaan dan kabar darinya, kemudian berkata;

“Selamat ya… aku sidang dua bulan lagi… Insya Allah. Kalo bisa maunya September besok”

Mendengar jawaban saya itu, dia terkejut dan berkata;

“Loh…berarti kamu 104? Kok bisa? TA mu belum selesai ta? Katanya kemaren sudah?”

Renteten pertanyaannya itu hanya saya jawab dengan seutas senyum. Melihat saya yang hanya memberi respon senyum, dia kembali bertanya;

“Tapi kamu gak papa kan, Mei? Kamu baik-baik aja kan?”

Dan lagi-lagi saya tersenyum menimpalinya sembari mengangguk!

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

21 hari yang lalu rasanya sangat mungkin untuk saya dan tak mungkin untuk teman saya menjadi bagian dari 103. 21 hari saya ada dalam daftar pemain inti sedangkan sekedar menjadi pemain cadanaganpun rasanya tak mungkin untuk teman saya itu. 21 hari yang lalu bukan cermin untuk 21 hari kemudian.

Saya tak memunculkan pernyataan ‘seandainya’ atau perandaian yang lain karena saya masih yakin bahwa Tuhan tidak menjadikan hambaNya sebagai arena judi! Entah apa yang ada difikiran teman saya itu…saya sama sekali tidak tahu dan tidak peduli. Dia boleh saja berfikiran saya belum menyelesaikan TA. Tapi saya jadi tahu dengan pasti bahwa keajaibanNya itu tak bisa diprediksi ataupun direncanakan.

Mungkin orang-orang yang berkuasa atas kelulusan kurang adil dan bijak dalam membuat keputusan. Tapi Tuhan selalu adil dan bijaksana terhadap makhlukNya….

Kalau kata Soe Hoek Gie “Guru bukan dewa dan selalu benar dan murid bukan kerbau. Kebenaran cuma ada di langit!”

P.S: Selamat untuk teman-teman (SMA & Jurusan) yang menjadi bagian dari 103! Untuk yang lain…ayo semangat 104!!!!!!! 🙂

Harry Potter oh Harry Potter

Sudah nonton sekuel terakhir Harry Potter? Selamat untuk yang sudah dan tak usah kecewa bagi yang belum karena sayapun belum menyaksikan ending Potter vs Voldemort. Jadwal penayangan Harry Potter 7 part 2 di Surabaya agak rancu. Semalam saat saya ngecek jadwal lewat internet, HP 7 part 2 masuk dalam daftar cooming soon. Tapi barusan adek saya bilang dia lagi ngantri beli tiket HP 7 part 2 di 21 Royal Plaza….

Hikkssssss….. pengen nonton tapi sedang tak ada daya untuk terbang ke daerah Ketintang 😦

Kenapa oh kenapa kedatangan Harry Potter harus sekarang?

Di saat saya sedang sangat tidak ingin berada di mall. Di saat saya ingin sendiri. Di saat saya tak punya hasrat untuk keluar kamar. Dan di saat uang hanya cukup untuk membeli sesuap nasi…… HUUAAAAAAAAAAAAAAAAA….. Adakah yang mau mentraktir saya menonton HP 7 part 2?

Tuhan…… tolong kirimkan malaikatmu… Jika dia perempuan, akan saya jadikan dia teman sejati..jika dia laki-laki akan saya jadikan dia teman ponakan saya (ponakan-ponakan saya ayu kok 😉 )…… Tolong  Tuhan…sebelum saya di kampung, saya ingin nonton HP 7 part 2 dulu…. Ya ya ya…..

Bye Bye Textbook

Mbak RBB: “Buku kuliahmu kok akeh nemen, Mei”

Saya: “Masa sih, Mbk?”

Mbak RBB: “Aku kuliah loh gak gawe buku”

Saya: “heeeeeee….Ini baru sebagian kok, mbak. Yang lainnya masih aku baca untuk sidang”

……………………………………………………………………………………………………………………………

Entah kenapa sedikit aneh melepaskan buku-buku yang tadinya menumpuk di meja belajar kosan. Buku-buku yang beberapa tahun terakhir menjadi bagian dari dekor kamar kos, saya pindahkan ke ruang baca jurusan.

Berbagai komentar mengenai keputusan menghibahkan buku-buku kuliah ke ruang baca dilayangkan oleh teman-teman dimana intinya tidak berbeda yaitu menyayangkan keputusan saya karena mereka merasa saya sinting lantaran memberikan buku-buku tersebut secara cuma-cuma. Ada pula yang merasa heran karena buku kuliah saya di semester awal masih layak baca sedangkan buku miliknya raib entah kemana.

Mereka bilang saya sinting? Ah…sudah biasa! Masalah menyimpan buku di ruang baca jurusan ini memang sudah saya rencanakan sejak saya membeli si buku. Niatan awal saya adalah buku-buku tersebut saya simpan di RBB (Ruang Baca Biologi) setelah saya tidak butuh dan bosan memilikinya.

Saya sama sekali tak punya rencana untuk menyimpan buku-buku tersebut di rumah. Daripada nantinya hanya menumpuk di rak buku dan berdebu, lebih baik saya titipkan saja pada ruang baca jurusan. Karena meskipun sedikit, setidaknya pasti ada orang  yang akan membaca buku-buku tersebut. Selain berbagi ilmu, buku-buku itu juga bisa menjadi kenang-kenangan dari saya untuk almamater (meskipun saya tak yakin bahwa si almamater butuh kenang-kenangan dari saya). Bukti bahwa saya pernah menjadi bagian dari mereka.

Semoga saja sedikit buku yang saya simpan di ruang baca jurusan bisa bermanfaat bagi siapapun……………

P.S: Hembusan nafas ini terasa lebih ringan saat melihat meja yang tak dipenuhi oleh buku 🙂

Tidak Untuknya

Aku tak mau lagi melompat kegirangan

Kabar yang dibawa oleh burung itu, tidak berarti istimewa seperti kabar angin yang lalu

Tak lagi aku menjadi budak belia hanya untuk masa yang buram

Kemudi ini adalah milikku seorang, takkan lagi kukerahkan pada arah yang tak terpeta

Aku telah melepaskan rantai yang menjeruji kedua kaki ini, takkan lagi aku tertahan oleh sanjungannya yang menghina

Tak akan lagi menyembah padanya yang sama sekali tak hiraukanku

Tak mau lagi menjadi mainan mimpi indahnya

Tak mau lagi menjadi seseorang yang bergantung padanya

Biarkan saja angin menghembuskan kabar tak pasti

Aku hanya akan berdiri di atas bumiku sendiri

By meirina Posted in Poetry

Sapaan Pagi PadaNya

Selamat Pagi, Tuhan……

Dengarkah Kau apa kata salah satu dari mereka kemarin? Mereka memasukkanku ke dalam daftar yang akan rilis dua bulan lagi. Namun, sepertinya aku hanya ada dalam daftar sementara.

Kau tahu bukan bagaimana dia menanyakan tentang ‘kegagalan’ ini? Mungkin Kau harus memberitahu mereka untuk merubah daftar yang mereka buat sebelumnya. Suruh mereka merevisinya karena aku telah memperoleh kepastian yang sangat pasti.

Sampaikan pula pada mereka bahwa aku kesakitan, tetapi aku bisa menahannya. Sampaikan pada mereka untuk membuang jauh-jauh tentang semua penilaian sempurna terhadapku. Tak perlu memberikan ekspektasi lebih terhadapku karena aku tak berbeda dengan mereka. Katakan pula pada mereka bahwa tingkat kecerdasanku tak akan mati hanya gara-gara sekuel drama abstrak ini. Aku masih bisa berfikir dengan keterbatasan kapasitas yang Kau berikan.

Aku sakit, tapi aku bisa bertahan dari segala sakit itu. Aku masih yakin bahwa tak ada hal yang lebih puitis daripada kebenaran.

See Ya

Road To Kampung (Ngepak Baju)

Baju-baju yang tadinya menumpuk di dalam lemari akhirnya terbungkus rapat di dalam empat buah tas jinjing besar. Lemari jadi bersih dan badan jadi pegel lantaran bekerja keras packing-packing. Tapi Ok lah… daripada beres-beres mendadak dan terburu-buru, lebih baik disiapkan jauh-jauh hari supaya benar-benar tak ada yang tertinggal.

Ngeliat lemari kosong rasanya jadi aneh lagi….. Kenapa ya saya merasa ada sesuatu yang ganjil.

Duh… apa ada baju yang belum saya masukkan ke dalam tas? Padahal saya yakin bahwa semua baju telah saya sekap di dalam tas. Benar kok! Semuanya sudah di dalam tas dan tinggal angkat aja saat waktu pulang tiba.

Hahhhhh….. SEMUA BAJU???!!!! DODOL…. Kalau semuanya saya masukin tas, terus beberapa hari ke depan saya pake apa coba? Benar-benar sinting! Yaaaa…. re packing deh jadinya. Pantas saja saya merasakan sesuatu yang gak bener! Ternyata saya sendirilah sumber dari ketidakbenaran itu! ck ck ck….. Sadar, sista…..


Hanya Lelah

Ada saat dimana kelelahan terfragmentasi dalam setiap relung

Memecahkan keseimbangan komunitas yang masih pada tahap menuju stabil

Ketika itu, kompetisi tak ubahnya perjudian yang kejam

Teori relativitas Einstein terbantahkan dalam seketika

Hanya ada menang dan kalah…. Juara dan pecundang

Restorasi, vaksinasi, dan regenerasi tak mampu mencegah bencana berkepanjangan

Suksesi berarah dan tak berarahpun hanya mampu menyentuh hembusan angin

Tuhan, kelelahan itu….. apakah bagian dari kebusukan habitat yang tersarangi?

Bukannya ingin mengeluhkan apa yang telah Kau atur dengan sedemikian rupa, melainkan ingin mengakhiri semua ketidakseimbangan alam ini

Lelah ini….. biarlah tertanam dalam komunitasku sendiri….

Aku hanya lelah….. tidak menyerah

By meirina Posted in Poetry

Kisah Pemeran Utama

Pada sebuah serial drama, jalan cerita pemeran utama pada umunya tak jauh berbeda dari serial drama lainnya. ‘Di atas‘ kemudian ‘di bawah‘ dan endingnya ‘di atas‘ lagi dimana bisa terjadi dua kemungkinan, mati bahagia atau hidup bahagia.

Ketika ‘di atas‘ rasa-rasanya dunia selalu berpihak pada si pemeran utama. Setiap langkahnya selalu diiringi senyum menawan. Tidak ada keraguan dalam setiap kata-katanya. Semua yang dikerjakan tak pernah meleset dari target yang dicanangkan. Keberhasilan selalu berada di pihaknya. Dan ia bersahabat karib dengan keberuntungan.  Everything is perfect!

Kemudian suatu hari ketika ia berada di puncak kejayaannya, konflik mencuat. Penyebabnya hanya satu…. ada rasa iri dari si pemeran antagonis. Si antagonis berhasil menjatuhkan pemeran utama dari takhta tertingginya. Pemeran utamapun mulai kehilangan kapabilitasnya sebagai orang yang selalu berhasil. Pemeran utama bangkrut. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Dewi fortuna tiba-tiba menghilang dan merenggut semua asa pemeran utama. Pemeran utama akhirnya berada ‘di bawah

Alur inilah yang menentukan akhir dari kisah si pemeran utama. Dia hanya punya dua pilihan. Tetap tersungkur atau kembali berdiri.

Jika suatu cerita menyajikan pemeran utama yang tak mau berbuat apa-apa atau menyerah pada hidupnya maka ending ceritanya adalah dia mati tanpa jejak. Sehingga dapat dipastikan bahwa serial drama tersebut tak akan mendapatkan jutaan penonton. Tak ada rating tinggi pada penayangannya karena kisah yang tersaji adalah kisah minoritas.

Namun, jika pada ceritanya si pemeran utama bangkit dari keterpurukan. Berusaha dengan keras untuk mempertahankan bahwa dia benar. Berpegang teguh pada prinsip bahwa dia sama sekali tidak seperti yang dikatakan pemeran antagonis. Maka ending dari kisah ini akan menjadi ending kisah pemeran utama pada umumnya. Bisa mati, tetapi meninggalkan banyak kisah dan kenangan yang diingat oleh generasi berikutnya atau kembali hidup dan menerima kembali mahkota kejayaannya.

Yang perlu diingat adalah, pemeran utama tidak selalu memiliki kehidupan bak putri di negeri dongeng… bahkan seorang putri di negeri dongengpun harus terusir dari istananya sebelum menikah dengan pangeran berkuda putih, bukan?