Biarkanlah Mereka Dengan Mimpinya Sendiri

Semua orang tua pasti menyayangi putra-putrinya. Semua orang tua ingin menlihat anak-anaknya sukses. Semua orang tua selalu memiliki mimpi untuk melihat anaknya tumbuh menjadi orang besar. Atau doa umumnya menginginkan putra-putri mereka berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Apapun keinginan orang tua, semuanya hanya untuk melihat buah hati mereka bahagia.

Bahkan terkadang orang tua mencekoki anak-anaknya dengan berbagai cita-cita. Memberikan nasihat-nasihat tentang menjadi ini dan itu ketika anaknya mulai mengenal masa depan. Bahkan terkadang arahan orang tua terhadap putra-putrinya adalah keharusan tak tertulis. Keharusan yang harus dilakukan. Inilah masalahnya…. meskipun ada ikatan darah dan struktur DNA yang sama antara orang tua dengan keturunannya, jalan fikiran dan keinginan mereka tidaklah sama 100%.

Orang tua boleh saja mengenalkan apa itu cita-cita sejak anaknya duduk di bangku taman kanak-kanak, tetapi cukuplah hanya mengenalkan saja. Tak perlu sampai mendikte atau memberikan list supaya si anak menjadi seorang dokter ataupun insyinyur. Tidak perlu menentukan si anak harus menempuh studi di bidang apa. Tak perlu menyuruh mereka bekerja dimana.

Dan jika para orang tua telah memberikan kebebasan terhadap putra-putrinya untuk menjadi apa, jangan kotori kebebasan tersebut dengan cerita-cerita lawas yang pernah dilalui oleh kakek atau nenek mereka. Jangan pernah mengatakan “Dulu Ayahmu ini hampir jadi pilot. Tapi karena ada masalah teknis, akhirnya jadi pegawai negeri” atau kalimat sejenisnya karena kalimat-kalimat seperti itu sama artinya dengan menyuruh si anak secara halus untuk menjadi apa yang dulu tak bisa orang tuanya lakukan. Sama halnya dengan meminta pada si anak untuk meraih mimpi orang tua yang tidak dapat diwujudkan.

Saya tahu bahwa semua petuah yang terpapar dari mereka adalah wujud kasih sayang yang begitu besar. Namun terkadang kasih sayang tersebut terlalu berlebihan. Lebih terlihat seperti ambisi mereka daripada arahan untuk anak. Percayalah wahai Ibu dan Bapak, anak-anak kalian juga memiliki mimpi yang tak kalah hebatnya dari kalian. Anak-anak kalian juga ingin menjadi seseorang yang lebih baik dari orang tuanya. Jadi biarkanlah mereka menentukan sendiri ingin menjadi apa saat besar nanti.

Tularkan saja semangat meraih cita-cita terhadap setiap anak, tetapi jangan pernah sekalipun memberikan cita-cita pada mereka. Jangan pernah pula membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan yang lain. Percayalah bahwa setiap anak itu istimewa dengan jalannya sendiri. Biarkan mereka memiliki mimpi dan cita-citanya sendiri 🙂

Film Kolosal Versi 2011

Saya senang sekali ketika mengetahui sebuah film kolosal lawas yang bermutu (Mak Lampir dan Nyi Pelet tidak termasuk di dalamnya!!!) akan ditayangkan ulang oleh salah satu stasiun TV. Film-film kolosal yang menceritakan zaman kerajaan di Nusantara adalah salah satu tayangan TV yang dulu sering kali saya tonton.Karena itulah ketika melihat iklan mengenai jadwal penayangan film tersebut, saya segera mengosongkan jadwal di hari pemutaran film. Pokoknya setiap malam jam setengah sembilan, TV adalah kuasa saya! Begitulah rencana awalnya.

Saat  mulai menonton film tersebut, saya kaget luar biasa! Sempat bingung apakah benar ini film yang pernah saya tonton ketika masih duduk di bangku SD? Saat saya baca judulnya… bener kok! Judulnya sama! Tapi kenapa aneh ya?

Tata bahasa yang digunakan sangat berbeda dengan gaya bahasa kerajaan zaman lampau. Bahasanya pake kata ‘gak’, ‘biasa aja dong’, serta gaya bahasa lugas yang sering saya dengar di sinetron-sinetron saat ini. Saya pun semakin terkejut ketika mendengar salah satu musik yang melatarbelakangi salah satu adegannya…. Musiknya itu bukan hentakan gendang atau tiupan seruling, melainkan theme song pembuka Harry Potter!! Entah telinga saya yang agak konslet atau memang film tersebut berubah mengikuti perkembangan zaman sehingga dentingan pianolah yang menjadi musiknya….. Mana ada sih prajurit Majapahit  berkuda diiringi dengan musik klasik??? 😦

Kalau begitu namanya bukan film kolosal, tetapi sinetron kolosal!!! Jadilah pengkudetaan atas TV setiap pukul setengah sembilan malam saya batalkan!!!

Bukannya saya menghina karya mereka, melainkan merasa aneh saja mendengar musik yang biasa saya dengar dari film Harry Potter dilantunkan di film yang pemerannya pake sewek dan sanggulan!! Aneh!!! Jika versi 2011 nya saja menggunakan theme song Harry potter dengan cara bicara ibu kota… bisa-bisa versi 2020 mendatanng akan menggunakan Simphony 5 milik Beethoven dengan menggunakan bahasa Jerman??!!



Kata Ponakan Saya (Hafsha): Maunya Polisi Chaiya Chaiya

Sewaktu seharian di kantor polisi untuk melaporkan kelakuan Papi, sebenarnya saya tak ikut masuk ke dalam kantor melainkan MENUNGGU di parkiran. Alasannya karena salah satu ponakan saya, Hafsha, tak mau memasuki kantor polisi. Dia takut pada mereka yang disebut polisi, karena itulah sementara Mami beserta keluarga kakak saya melapor ke bagian Satuan Anti Teror saya ngetem bersama si Hafsha dan tentu saja sekaligus menjadi Nanny untuk beberapa jam!

Iseng-iseng saya melakukan sedikit investigasi terhadap ponakan kecil saya itu

Saya: “Kenapa sih dek ndak mau masuk? Kan di sini panas”

Hafsha: “Gak mau… aku takut”

Saya: “Takut kenapa? Kan gak ada apa-apa”

Hafsha: “Ada Pak Polisi, Tante! Banyak tu.. Polisinya”

Saya: “Kan Polisinya gak nakal”

Hafsha: “Iya… tapi polisinya gendut-gendut! Kumisnya tebel. Aku takut”

Saya: Bengong sambil nahan tawa

Hafsha: “Aku maunya polisi chaiya chaiya! ndak gendut! Cakep juga”

Saya: membatin…. Dasar ponakan geblek!!

Takut pada polisi karena perut polisi gendut??? Yang benar saja!! Dasar bocah! Pake milih polisi chaiya chaiya lagi!! Anak zaman sekarang memang benar-benar sukar ditebak…

Seandainya ponakan saya mengerti bahwa tak ada lagi polisi chaiya chaiya…. Kenapa sih ponakan-ponakan saya ini? Yang satu minta om kayak Bondan Prakoso.. adeknya doyan Norman Kamarun!!! Kenapa gak ada yang suka David Beckham atau Leonardo di Caprio?? 😦

Susahnya Ngopy Buku di Kampung

Tempat tinggal saya ini memang tergolong daerah administratif yang tidak terlalu besar. Tak ada mall dan gedung-gedung bertingkat 10. Tak ada traffict jam sepanjang 10 km. Tak ada 21 atau XXI dengan film-film terbarunya. Tak ada stasiun kereta api. Tak ada airport. Tak ada perusahan konstruksi yang menangani proyek-proyek besar. Tak ada toko buku sekelas Gramedia. Ya… hanya kota kecil yang punya alun-alun seluas lapangan perpustakaan kampus saya.

Dan beberapa malam lalu saya dibuat frustasi oleh kota kecil mungil ini. Susahnya mencari tempat fotokopi!

Ok… gak susah kok sebenarnya. Banyak sekali tempat-tempat fotokopy di kampung saya. Bahkan sejak saya masih sekolah TK, tempat fotokopi sudah bisa ditemukan di hampir setiap sudut kota. Yang membuat saya frustasi adalah tempat-tempat fotokopi yang saya datangi tadi tak mau dikasih duit!!

Saya serius! Saya hendak menfotokopikan buku LKS si Ais, tetapi mereka menolak karena saya mau memfotokopi saat itu juga sedangkan mereka baru bisa menyelesaikannya besok atau lusanya!!! Astaga!!! Padahal saya hanya akan memfotokopikan LKS atau lembar kerja siswa atau buku-buku pekerjaan rumah bocah SD kelas 1! Halamannya juga tak lebih tebal dari laporan-laporan praktikum yang telah saya buat! Tapi mereka tak sanggup mengerjakannya. Saya hanya hendak mengopikan satu buah buku setebal 35 halaman! Butuh waktu berapa lama sih untuk mengerjakannya?

Benar-benar malas tu tukang fotokopi! Padahal ketika di Surabaya, saya memfotokopi 50 halaman dimana hasilnya  langsung bisa saya ambil 30 menit kemudian dan itupun saya masih harus mengantri. Sedangkan tadi, fotokopian yang saya datangi sedang tidak ada pengunjung! Mereka hanya mau melayani satu atau dua lembar fotokopian!! Mau dikasih duit 5000 malah minta 500!! Aneh!!

Ini nih yang membuat saya gemes sama orang-orang daerah. Terlalu lelet. Buang-buang waktu. Terlalu terbiasa dengan ketenangan daerah, tetapi mulutnya berisik berkoar-koar untuk pergi ke kota. Mau malas-malasan di kota macam Surabaya atau Jakarta? Ibu kota bukan untuk mereka yang senang menunda-nunda pekerjaan, Bung!!! Semoga saja beberapa orang yang malam ini menolak uang dari saya tidak menyebarkan virus kemalasannya pada seluruh penghuni kota Situbondo.

Resume 7 Hari

Telah lama rasanya saya tak bersua dengan hiruk pikuknya dunia maya. Kira-kira tujuh hari tidak mengunjungi blog tersayang. Alasannya karena tiba-tiba saja modem saya tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Saat saya utak-atik dan ngecek sana-sini ternyata yang bermasalah adalah pulsanya… hahahahahahahahahhaaaa…..

Padahal hari-hari itu saya sangat membutuhkan internet untuk melihat foto-foto enam orang teman saya yang lolos seleksi 103 melalui facebook. Saya ingin mengucapkan selamat kepada mereka berenam karena saya tak bisa menghadiri acara wisudah mereka. Sungguh… saya ingin sekali berada di jurusan untuk melihat acara wisudah mereka… namun gara-gara seorang Kanjeng Dimas atau Kanjeng siapapun, saya hanya bisa turut bergembira dari jauh….. Ditambah tanpa koneksi internet yang tak mendukung pula…. Ya Tuhan… seolah-olah saya tidak peduli akan kebahagiaan teman-teman saya itu!!!

Entah timingnya yang kebetulan atau memang takdir Tuhan, ketegangan di rumah kecil saya bertepatan dengan acara 103 plus tak ada pulsa internet. Hasilnya adalah saya baru ingat bahwa sabtu kemarin adalah acara 103 saat matahari mulai bertengger di ufuk barat. Karena itulah…meskipun agak sedikit terlambat saya ucapkan “Congratulation, guys…. Semoga kalian berenam bisa mempertanggungjawabkan gelar sarjana itu dengan sebaik-baiknya!” 🙂

Masalah kegilaan Papi terhadap ajaran Dimas Kanjeng itu benar-benar telah membuat  Mami spaneng. Akhirnya, masalah ini diserahkan ke tangan polisi. Jaring-jaring ajaran si Kanjeng Edan itu benar-benar sungguh menggelikan. Saya tak perlu menceritakannya kembali bukan? Namun ada hal yang menurut saya nonsense…. Ketika beberapa hari lalu Mami mendatangi rumah salah satu kawan Papi di padepokan dodolnya, sebut saja Usman (nama sebenarnya), si Usman mengatakan bahwa kegiatan padepokan Kanjengnya itu sudah mendapat restu dari Presiden RI… Bapak Susilo Bambang Yudhoyono!!

Toenggg…. Benarkah begitu Pak Presiden saya yang terhormat? Jika benar bapak memberikan restu pada padepokan itu…. Saya tak akan memilih Bapak sebagai Presiden di Pemilu yang akan datang karena padepokan itu adalah sampah! Kalau ucapan Usman hanyalah gertak sambal dan cicitan sumbang belaka maka saya mohon dengan sangat  Bapak bisa mengerahkan anak buah bapak (entah itu polri, TNI, atau BIN sekalipun) untuk membabat habis kelompok yang mengatasnamakan keagamaan ini. Secara religi, kelompok ini lebih dekat dengan ajaran sesat daripada ilmu yang bermanfaat. Secara materi, kelompok ini telah sangat merongrong uang Papi saya! Entah berapa ratus juta yang telah Papi masukkan ke dalam kotak amal di padepokan tersebut tanpa sepengetahuan Mami! Satu lagi Pak SBY…. Mereka mengatakan bahwa si Kanjeng Dimas itu adalah keturunan Bung Karno yang bisa menemukan harta karun yang ada di bumi pertiwi ini!!! SINTING!!! Keturunan Bung Karno? Dari istri yang ke berapa, dimas???

Mungkin benar jika bumi pertiwi ini memiliki kekayaan yang tiada tara. Tapi sadar gak sih kalau kekayaan tersebut tak akan datang hanya dengan mantra panggil Harry Potter sekalipun. Butuh kerja keras, dodol!!!! Memangnya bisa ada beras kalau petani tidak menanam padi di sawah? Adakah perhiasan emas jika para penambang tidak menggali tanah hingga kedalaman ratusan kilo?? Yang benar saja Bung!!!

Menurut kepolisian, si Kanjeng Dimas ini berasal dari Jakarta Selatan… Kok bisa-bisanya sih polisi-polisi di Jakarta tidak menyadari ada salah satu warganya yang keleleran gak jelas di jalanan??? Tolonglah Pak Polisi….. dimanapun anda sekalian berada…. segera selesaikan perkara ini. Pengaduan yang telah keluarga saya buat, segeralah ditindak lanjuti. Bukankah tugas seorang anggota kepolisian melindungi rakyat?

Gara-gara kanjeng dimas pula saya tak up date tentang kabar pengeboman di Solo atau Ambon…. deeeeehhhhhh….. bom lagi bom lagi.. Mungkin itu akibatnya jika saat kecil dilarang main petasan atau kembang api oleh orang tua masing-masing…. Gedenya jadi bomber!! Mau keren-kerenan? Mengatasnamakan jihad? Basi!! Saya memang bukan ahli agama.. kalo kata Bajaj di PPT “pengetahuan agama gue belum sampe situ”… Tapi saya tahu bahwa agama yang saya yakini ini sama sekali tak pernah mengajarkan untuk membom gereja atau tempat-tempat ibadah agama lain. Apalagi mereka tidak melakukan pembantaian terhadap umat muslim!! Kalo sotoy-sotoyan saya… Nabi hanya akan memerangi kaum kafir yang menyerang kaum muslim… bahkan Nabi memperlakukan setiap tawanan perangnya dengan beradap. Tak ada yang namanya bom-boman… Gusti…. semoga saja orang-orang yang masih berniat main-main dengan bom berkekuatan apapun menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sama sekali tidakberperikemanusian. Dan lagi mereka yang kerap kali berkata bahwa orang-orang non muslim sama sekali tak mencerminkan budaya ketimuran, budaya yang manakah yang dimaksud? Budaya tidak memakai pakaian lengkap seperti orang-orang pedalaman? Dan apakah bermain bom sembarangan merupakan cermin budaya ketimuran???? 😦

Dan gara-gara mengurusi sri kanjeng edan itu saya tak up date tentang pertandingan Juve di serie A… Hanya tahu hasil alhirnya dan itupun melalui berita berjalan yang biasanya ada di bagian bawah layar 😦 Alhamdulillah ya…. Juve masih tetap menjadi capollista…. 🙂

Semoga saja tak ada lagi absen yang saya buat karena masalah si Kanjeng-Kanjengan beserta padepokan dodolnya!

Saya harus segera kembali ke Surabaya… Jadi tolong Ya Allah… beri saya waktu untuk menuntaskan perkara TA yang nyaris berakhir ini… Satu bulan saja… Bisakah, Tuhan?? Kondusifkan dulu rumah saya, Tuhan!! Mana mungkin saya meninggalkan Mami sendirian menghadapi sikap sinting Papi? God… I need your help! Badai pasti berlalu, bukan? 😉

Yang Penting Nulis (red: Ngeblog)

Sebenarnya blog yang baik itu seperti apa sih?

Sudah lama ngeblog tetapi baru berfikir bagaimana blog yang baik itu. Karena penasaran saya bergegas menghubungi mbh google. Jawaban si mbah ternyata bermacam-macam. Mulai dari didatangi ratusan pembaca dan komentar setiap harinya, sampai banyaknya iklan di sisi atas bawah kanan kiri tulisan yang dipostkan! Dan ternyata ada pula situs yang membuat peringkat blog-blog yang ada di dunia ataupun di Indonesia dimana parameternya adalah jumlah pembaca atau pengunjung setiap hari. Ternyata ada blog yang dikunjungi 7000 orang perharinya?? Benarkah itu???? Wuuiiihhhhhhh…..keren!!!

Jika mengikuti perkataan mbah google maka blog saya ini sama sekali tak masuk kategori baik dong. Blog saya ini  jelas tidak dikunjungi oleh rastusan reader  dengan komentar-komentar mereka setiap harinya dan jelas tak ada banner iklan di semua bagian blog saya ini. Dan sepertinya tak ada peringkat untuk blog ini.

Jadi, mulai ogah-ogahankah saya memposting tulisan lantaran tak ada jutaan pembaca beserta komentarnya atau iklan-iklan yang mendatangkan uang  sekaligus menjadikan blog ini yang nomer satu di seluruh dunia? Hahhhh…. yang benar saja….

Blog saya memang tidak dikunjungi oleh ratusan orang setiap harinya, tetapi setidaknya saya masih memiliki reader yang mau membaca atau mampir ke ‘rumah’ ini. Dan kalaupun tak ada yang mau membaca….. saya bisa membacanya sendiri karena tujuan utama saya membuat blog ini adalah menyalurkan kesukaan saya akan menulis. Menyenangkan diri sendiri.

Tak ada  Banner iklan juga tak membuat saya berhenti menuturkan kisah yang ingin saya tuliskan….. (kalau ada yang mau naruh iklan di blog saya… ayo taruh… tapi perjamnya 3000 euro yaaa….. supaya saya bisa keliling Eropa secepatnya… gimana??? 😉 ).

Namun karena saya masih memiliki reader (meskipun tidak banyak), rasa-rasanya saya harus mengucapkan terimakasih kepada kalian semua yang telah mampir… entah kalian yang memang berniat mampir dan membaca tulisan-tulisan kecil saya, yang tersesat atau ada yang bilang stumbled ( 😉 ), siapapun kalian….. Terimakasih karena telah membaca apapun yang telah saya post kan! Terimakasih. Thank you. Grazie!. Gracias!. Dankeschon. Gumawo.

Semoga saja kemampuan menulis saya tak diganggu oleh kebosanan sehingga kalian yang membaca rangkaian kata ‘sampah’ di blog ini bisa terus mengambil hikmah, manfaat, dan pelajaran (jika ada, yang diambil untuk dipelajari, yang baik-baik saja yaaa… yang jelek dari tulisan saya, jangan diteladani 🙂 ) untuk menjalani hidup yang lebih baik dari sebelumnya :).

Saya rasa bukan banyaknya pengunjung, komentar atau iklan yang membuat suatu blog dikatakan baik atau tidak… melainkan seberapa besar pengaruh postingan di blog tersebut terhadap orang yang membacanya….. Terserah mbh google saja mau berpendapat apa…. terserah mau kasih blog ini peringkat berapa… yang penting saya tetap bisa ngeblog 🙂

Seri Untuk Menang

OK…… tertahan di rumah sendiri…. Gagal meraih kemenangan 100% di awal musim memang, tetapi setidaknya belum pernah mengantongi poin nol. Masih ada 35 pertandingan tersisa… karena itulaha, masih banyak poin yang harus diraih…. Mungkin hari ini para pemain sedang kelelahan dan kurang beruntung, tetapi semangat saya untuk melihat kemenangan Juve di pekan-pekan berikutnya masih ada kok.

Saya kan cinta The Old Lady apa adanya… Il Mio Libero Amore 😉 Menang, seri, atau kalah…. Juve is the best lahhh….. Pekan ketiga (harusnya keempat) ini hanya satu poin memang, tetapi bukan berarti permainan Juve tidak bagus…… si arbitronya saja yang sepertinya royal mainin peluit dan main-main dengan kartunya sehingga Juve harus bermain dengan 10 orang di babak kedua :(.

Hanya sedikit ketidakberuntungan untuk Juve dan semoga saja hanya untuk pekan ini (AMIN)…. Thanks to Vucinic yang telah menciptakan satu-satunya gol bagi Juve…..

(ayo nyanyi saja buat E Bianconerro)

Tanto tempo fa, da bambino come te
io sognavo sempre sotto ad una bandiera
giovinezza senza eta’, che da grande porti in te
con la gente bianconera
Stadi infiniti, di bianconero vestiti,
e tutti gridavamo, e tutti cantavamo

Juve, nel cuore
Ridere e piangere in tanti,
Con quell’amore che senti
Juve, l’amore
Un cielo a strisce che appare,
e noi con loro a volare

Adesso vieni qua, mai adulti io e te,
ritroviamoci abbracciati ad una bandiera
e se guardi un po’ più in la’,
hai due stelle insieme a te,
nei tuoi occhi anche quando non è sera

Non è passato il tempo che ci ha cambiato
E lasciami saltare e lasciami gridare

Juve, nel cuore
Signora voce del mondo
Un inno forte e profondo
Juve, l’amore
E’ una canzone che cresce,
è una vittoria che nasce

E’ bianconero, è bianconero il colore
E’ bianconero, io voglio cantare
E’ bianconero, è bianconero l’amore
E’ bianconero, continua a cantare
E’ bianconero, è bianconero l’amore
E’ bianconero, è bello cantare

E’ bianconero, è bianconero il colore
E’ bianconero, io voglio cantare
E’ bianconero, è bianconero il cuore
E’ bianconero, è bello cantare

E’ bianconero

Berharap Gol Tangan Tuhan

Ya Rabb…. Saya sedang tak ingin melakukan apa-apa

Pikiran saya sedang kacau

Kacau sekali sepertinya….. tak tahu bagaimana meletakkan setiap kata agar tak tertukar antara subjek  dan objek

Tidak peduli pada aturan penulisan kalimat pasif atau aktif

Tak banyak pelanggaran yang saya buat, tetapi mengapa banyak sekali kartu kuning yang saya terima

Mengapa wasit tak sekalian saja mengkartu merah saya?

Tak akan pernah saya merendahkan diri pada pengadil lapangan yang tak adil  supaya dapat mencetak gol kemenangan…. TAK AKAN

Karena saya hanya bisa merendahkan diri dihadapanMu, Ya Rabb

Apakah permainan yang saya tampilkan tidak apik sehingga saya harus menahan nafas di setiap babak pada pertandingan ini?

Mungkinkah lagi-lagi saya telah ditinggalkan oleh seorang dewi fortuna

Jika begitu, Kau saja yang turun ke lapangan ini…. ya Rabb

Saya butuh gol dari tanganMu

Saya butuh gol tangan Tuhan untuk mengakhiri pertandingan ini dengan sebuah kemenagan

By meirina Posted in Poetry

Kebakaran Balai Pemuda Surabaya

Baru saja direnovasi, salah satu cagar budaya yang ada di Surabaya dilalap si jago merah 😦

Padahal baru beberapa hari lalu saya melewati jalanan di depan Balai Pemuda Surabaya…. Namun kemarin, gedung tersebut terbakar… Penyebabnya? Masih dalam tahap penyidikan. Masih spekulasi antara ledakan asbes dengan percikan api yang berasal dari las besi…

Saya melihat dari layar kaca bagaimana paniknya Bu Risma berteriak-teriak untuk memerintahkan anak buahnya memadamkan api…. Haduhhhh…. tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika berada di posisi beliau!!

Paniklah… bagaimana tidak panik jika salah satu bangunan kebanggaan kota disambangi api??? Setelah kebakaran ini, akankah Balai Pemuda tetap didaulat sebagai cagar budaya?

Musibah musibah….

Lapar = Masalah Di Seluruh Dunia

Di Afrika bagian selatan, masyarakatnya diributkan oleh krisis pangan yang tak pernah berhenti. Busung lapar dimana-mana. Kerusuhan dan penjarahan dilakukan semata-mata karena perut berteriak-teriak minta diisi. Tangisan bocah-bocah telanjang  di jalan hanya karena merasa lapar dan lapar. Intinya adalah mereka kelaparan.

Di Afrika bagian utara, penduduknya sibuk berperang menyerang rezim yang tengah berkuasa. Mulai dari negara kecil yang sangat jarang diekspos oleh televisi dunia, Tunisia…. hingga negara yang menjadi salah satu pusat peradaban dunia, Mesir….. dan konflik yang saat ini masih saja berlangsung di Lybia. Semuanya bertujuan untuk melengserkan pemimpin yang paling berkuasa di negara-negara timur tengah tersebut. Namun intinya tak jauh berbeda dari mereka yang  ada di sebelah selatan…. menginginkan kondisi ekonomi yang lebih baik supaya bisa mendapatkan penghasilan cukup untuk makan sehari-hari…. sederhananya adalah mencegah kelaparan.

Lalu menuju Eropa…. Krisis ekonomi Yunani yang diindikasikan menimbulkan efek domino bagi perekonomian negara uni Eropa ujungnya-ujungnya juga menyebabkan masyarakat mengalami penurunan pendapatan sehingga mengharuskan mereka mengurangi daya konsumsi…. Lapar lagi yang menjadi masalahnya. Tak hanya Yunani, negeri sekelas Inggris pun dihantui oleh kerusuhan massa selama beberapa pekan. Inggris membara karena dipicu oleh serangan polisi terhadap Mark Duggan dan hal ini merupakan alasan sosial… Namun jika dilihat dari sisi ekonomi, entah disadari atau tidak, kerusuhan dan penjarahan di setiap bagian negara Ratu Ellizabeth ini dikarenakan mereka takut tertular krisis ekonomi yang tengah melanda negara-negara Eropa Daratan….. Takut akan adanya kelaparan. J.K Rowlingpun menggambarkan bagaimana buruknya suasana hati Harry Potter, Hermione, dan Ron Weasley ketika harus berburu horcrux dengan perut kosong…..

USA? Adem ayem…. tetap memfokuskan diri untuk melawan Al qaedah dan membantu pemberontak Lybia guna menjatuhkan rezim Khadafi. Menentang senjata nuklir Korea Utara….. Semuanya mengatasnamakan perdamaian dunia. Negara adidaya yang tak memikirkan perkara sesuap nasi, tetapi kelimpungan jika ladang gandum tak mengahsilkan apa-apa saat masa panen. Meskipun begitu, siapa yang tak butuh makan? Bahkan Presiden Obamapun butuh makan untuk menjalani aktivitas kepresidenannya. Artis-artis hollywood itu… mereka bekerja untuk mencari popularitas sematakah? Tentu saja tidak! Mereka mencari uang dan dari uang itu mereka bisa makan…

Di Asiapun sama saja….. India, Pakistan, Korea, China…. semua perkara selalu berujung pada isi perut…… Di Indonesia? Tentu saja sama!

Bedanya adalah kelaparan di negara-negara miskin di benua Afrika adalah kelaparan yang dikarenakan benar-benar tak ada bahan pangan, sedangkan di negara-negara berkembang seperti Indonesia….. sumber daya alam sangat melimpah, tetapi pemerintahnya sibuk mengurusi sumber daya manusianya yang banyak tingkah sehingga Presidenpun tengah sibuk membongkar pasang mentri dalam kabinetnya……

Belajar Dari Keburukan

Saat orang-orang melihat keteraturan di setiap laku ini

Tannggapan yang terlontar adalah tertular oleh virus keteraturan di dalam rumah

Namun jika aku harus jujur, keluargaku sama sekali tidak teratur

Melemparkan pakaian dimanapun mereka suka, tidak bisa membedakan dengan benar antara tempat sampah dan pot bunga

Dan aku belajar dari ketidakteraturan mereka

Ketika seorang kawan menilaiku sebagai orang yang tepat waktu

Dia pasti mendasarinya sebagai ajaran keluarga

tetapi sejujurnya, keluargaku selalu beranggapan bahwa waktu bersifat seperti karet yang dapat ditarik ulur

Tak mau repot-repot bangun pagi untuk mandi sehingga harus tergesa-gesa saat jam masuk kerja telah lewat 40 menit, tetapi masih sempat memikirkan sepiring nasi untuk sarapan

Dan dari jam karet keluargakulah aku belajar untuk menghargai waktu

Di saat orang lain mengatakan begitu rapinya aku

Perkataan itu pasti mengarah pada keluargaku yang sangat rapi

Seandainya orang itu tahu bahwa keluargaku lebih dekat dengan berantakan daripada rapi…

Menumpuk barang-barang bekas yang terpakai di dalam lemari yang berisi pakaian yang tak terlipat atau menjejali rak buku dengan kaus kaki yang tak dicuci selama berminggu-minggu

Dan akupun belajar dari setiap berantakan pada keluargaku

Orang lain selalu beranggapan aku pendiam

Anggapan yang mengarah pada keluarganya yang tak banyak bicara

Suatu anggapan ironi karena keluargaku sangat hobi berbicara

Mulut mereka seakan-akan tak lelah untuk melontarkan semua topik pembicaraan yang ada di dunia ini meskipun dengan pengetahuan seadanya sehingga omongannya tak lebih dari sekedar nyanyian sumbang yang membuat telinga sakit

Dan dari situlah aku belajar untuk menjadi seorang pendiam

Aku tak bisa merubah apapun dari sikap dan sifat mereka, tetapi aku bisa belajar dari mereka

Bahkan sesuatu yang burukpun adalah tempat pembelajaran

By meirina Posted in Poetry