Unfollow Korupsi, Please!!!

Sepertinya saat ini korupsi tengah berada di puncak popularitasnya dimana banyak sekali individu yang menjadi fans atau followernya. Kasus-kasus korupsi yang tengah hangat diperbincangkan di media saat ini hanya segelintir dari buruknya pribadi seorang manusia. Gayus, Nazarrudin, hingga korupsi di kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi hanya contoh yang bisa masyarakat kecil seperti saya saksikan dari layar kaca. Berada di radius ratusan kilometer dari perkara-perkara tersebut hanya bisa membuahkan argumen-argumen atau ketidakacuhan bagi sebagian masyarakat.

Sebenarnya, kasus-kasus korupsi tak hanya terjadi di pusat pemerintahan bangsa ini. Banyak sekali tindakan korupsi serupa yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki sedikit kuasa di daerah. Mungkin memang tidak meraup uang Negara dengan jumlah yang luar biasa besarnya atau menggunakan uang tersebut untuk plesir ke luar negeri, tetapi sebenarnya kasus-kasus kecil di daerah juga tak kalah pentingnya untuk diusut tuntas.

Sebagai orang yang memiliki ikatan persaudaraan dengan mereka yang bekerja sebagai pegawai pemerintah, saya banyak sekali mendengar cerita tentang kebiasaan suap-menyuap atau korup-korupan. Kakak saya sering kali didatangi oleh sekolompok orang yang memberikan sejumlah uang dengan maksud meminta kelancaran untuk melakukan suatu proyeknya. Diterimakah uang tersebut? Ya… diterima, tetapi kemudian uang itu diserahkan pada para tunawisma yang ia temui di jalanan. Saya serius…. Mungkin ada fikiran yang menyatakan bahwa  bodoh sekali jika menyerahkan uang sebesar (katakanlah) 500 ribu pada pengemis atau gelandangan. Namun itulah kenyataan yang saya ketahui.

Saat pertama kali diangkat menjadi pegawai pemerintah atau kita sering mengenalnya sebagai PNS, kakak saya memiliki dua teman seangkatan. Sekarang, kedua temannya tersebut sudah memiliki rumah yang terbilang mewah beserta fasilitas penunjang seperti mobil atau beberapa buah motor sementara kakak saya masih tetap hidup di sebuh rumah kontrakannya. Padahal pangkat (golongan) mereka sama dan gaji yang diterimapun tidak berbeda. Apa karena teman-temannya memiliki warisan keluarga atau memang seorang turunan milyuner sehingga kehidupannya lebih layak dibandingkan beberapa tahun lalu, hanya Tuhan yang tahu. Namun rasanya sangat ganjil jika bekerja di tempat yang sama dengan gaji yang sama dan memulai dengan kehidupan yang setara kemudian berbeda secara drastis setahun kemudian. Mengapa tidak melaporkan ke KPK setempat? Hah… pertanyaan lucu! Kasus besar macam Nazarrudin masih tak menemukan ujungnya, masa ia KPK mau mengurusi kasus beberapa karung bibit jagung?

Saya tidak kenal siapa Nazarrudin ataupun Gayus Tambunan. Saya tak memiliki bukti mengenai korupsi-korupsi di daerah. Saya juga tak kenal orang-orang di kementrian yang dikepalai Muhaimin Iskandar sehingga saya hanya bisa memposisikan diri sebagai penonton yang tak mau ambil pusing. Menyerahkan peradilan pada yang berhak mengadili dan berharap semoga penegakan hukum tidak menjadi follower dari korupsi.

P.S: Sampai lupa, kemarin saya hendak mengucapkan selamat ulang tahun untuk Pak SBY. Maaf ya pak baru bisa mengucapkan hari ini! Semoga di usia ke 62 ini, presiden saya bisa bertahan dari tekanan yang menyerangnya dan tentu saja tidak menyerah pada tekanan tersebut, tetapi menyelesaikannya sesuai kepercayaan rakyat.  Berantaslah korupsi, Pak… Jangan tebang pilih! Happy Birthday, my president! 🙂

(nonton) Radio Lagi….. Radio Lagi

Sebenarnya ada apa sih dengan TV saya ini? Apa hanya di rumah saya atau memang di beberapa rumah orang yang memiliki masalah siaran langsung pertandingan sepak bola dari luar? Saat tayangan ‘radio’ saya saksikan di stasiun SCTV, saya fikir hal ini tak akan terjadi di stasiun TV lainnya. Namun saat ini saya kembali harus ‘menonton’ radio via Indosiar!!!

Heiii…. padahal bulan lalu saya sudah bahagia luar biasa lantaran bisa menyaksikan pertandingan Liga Italia melalui saluran TV biasa secara gratis….. Sayangnya di pekan pertama serie A saat ini saya tak bisa menyaksikan pertandingan yang tengah berlangsung! Hanya mendengar, tidak melihat! Pertandingan saat ini memang bukan pertandingan yang dilakoni Juventus, tetapi tetap saja saya ingin menyaksikannya. Setidaknya melihat peforma tim yang nantinya juga akan berhadapan dengan Juve!!!

Indosiar oh Indosiar…. kenapa ikut-ikutan SCTV sih??? Musim lalu, meskipun hanya menyiarkan separuh musim…. saya masih bisa melihat aksi bintang-bintang serie A. Apa mentang-mentang SCTV dan Indosiar bersaudara sehingga sama-sama menayangkan siaran radio??!! Untuk teman-teman di kota-kota besar bisa menonton, tetapi kenapa tidak bagi orang-orang yang harus menggunakan parabola serta digital satelite receiver? Pake antena… malah gak nangkep sinyalnya!!

haduhh…nasib tinggal di kota yang jauh dari riuhnya Ibukota!!!

Kalau begini, jadi ingin pindah ke Surabaya saja setiap akhir pekannya!!!! 😦

Hehhh….live streaming lagi dehhh….

Tukar Tabloid Dengan Compact Powder

Kemarin siang saya berencana membeli salah satu tabloid sepak bola (rutinitas seminggu sekali)! Tentu saja untuk mengetahui berita-berita terbaru mengenai I Bianconerri dan lawan-lawannya. Karena tengah berada di kios kecil keluarga bersama Mami maka saya katakan pada Mami untuk mampir ke salah satu toko koran langganan saya saat pulang nanti.

Respon Mami adalah “Masih tetap beli kertas? Gak usah! Mendingan duitnya buat beli rujak atau bakso atau apa gitu yang bisa dimakan! memangnya kamu mau makan kertas?! Udah, gak usah beli-beli kertas lagi!!”

Aiiiiii….. kertas???!

Hiksss…. Mami saya itu masih saja sama. Masih berfikiran bahwa buku atau majalah atau tabloid hanya bisa digunakan sesaat. Saat saya meninggalkan tumpukan tabloid yang menuturkan kisah-kisah Juve dan dunianya di rumah untuk melanjutkan studi ke Surabaya, tak ada pikiran apapun mengenai tabloid-tabloid tersebut. Namun ketika saya pulang kampung beberapa bulan kemudian, tumpukan tabloid yang saya simpan sejak masih mengenakan seragam merah putih raib! Bahkan buku-buku pelajaran sekolah yang saya susun di rak buku ikut-ikutan menghilang.

Saya tanyakan pada Mami mengenai tabloid-tabloid dan buku-buku pelajaran sekolah saya dan jawaban mami adalah “Sudah tak loakkan”

Toengggggg…… diloakkan??? Jadi rombengan dong tabloid-tabloid dan buku-buku saya itu??!!!

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Dan akhirnya hari ini saya tak bisa membolak-balik tabloid yang biasanya saya baca. Memang benar bahwa saat ini saya masih bisa membaca berita-berita mengenai apapun lewat dunia maya! Tapi kan saya tak bisa membacanya sebelum tidur? Masa iya saya tidur telentang sambil buka Dellpie hanya untuk baca berita?!! Jika membeli hardnya kan bisa saya baca dimana saja. Bisa saya bawa-bawa dan gak repot nyolokin modem tiap mau baca beritanya!!

Bukannya dapat tabloid malah dapat bedak!! Serius ini…. sewaktu pulang dari kios tadi Mami membelikan saya BEDAK di salah satu swalayan di tempat saya….. Apa Mami fikir bedak bisa merubah fikiran saya untuk membeli tabloid mingguan tersebut??? Ckckckckckckck…….