Surabaya, Setelah 2 Bulan

Baru dua bulan meninggalkan Surabaya, sudah banyak sekali cerita (red: gosip) yang saya lewatkan. Ya Tuhan, ternyata informasi di kota metropolitan tak bisa berdiam diri selama dua bulan saja!! Heii… ini kan zaman internet.. informasi bisa berubah setiap detiknya, dear!!

Sayangnya ketika saya menanyakan beberapa kabar mengenai berita di kampus pada salah satu teman saya, jawaban dia adalah “Memangnya ada berita itu, Mei?”

Toenggg….. dengar berita dari mana? Padahal saya menanyakan berita-berita tersebut pada orang-orang yang menghabiskan waktunya di kampus selama 12 jam setiap senin sampai jumat!! Masa iya mereka tidak mendengar berita yang saya dengar? Padahal saya tengah berada ratusan kilo dari kampus! Saya yang up date atau memang mereka yang malas baca papan pengumuman ya???!!! 

🙂

Setelah dua bulan meninggalkan Surabaya (kampus); masa jabatan ketua jurusan saya yang lama akan berakhir dan beberapa waktu ke depan akan ada pemilihan ketua jurusan yang baru! Calonnya ada empat dosen wanita yang bersiap memimpin Jurusan saya. Sayangnya, dosen yang saya harapkan untuk menjadi ketua jurusan tidak mencalonkan diri (entah apa alasannya). Semoga saja KaJur yang baru bisa memperbaiki manajemen jurusan yang agak ‘berantakan’!!

Setelah dua bulan meninggalkan kota ini (kampus); ternyata harga nasi jamur yang biasa saya beli di kantin pusat naik 500 perak!!! (penting gak sih kabar ini??? Penting dong buat saya!!!). Nasi jamur yang tadinya hanya 2500 rupiah menjadi 3000 rupiah dengan porsi yang sama! Harusnya kalo harga naik, porsipun ikut naik! Kalau dulu 10000 bisa beli empat bungkus, sekarang 10000 hanya bisa dapat tiga 😦

Setelah dua bulan tidak bertemu teman-teman (kampus); ternyata ada sedikit berita kurang baik dari salah seorang teman. Ceritanya, empat orang teman sekampus saya mendiami rumah kos yang sama sejak beberapa tahun terakhir. Namun, ketika saya menanyakan mengenai kabar Febby (sebut saja begitu) pada Dessy (bukan nama panggilan yang sebenarnya)… jawaban Dessy adalah “Memangnya Febby gak cerita ke kamu?”. Karena memang tidak mendengar berita apapun mengenai Febby, saya hanya menggelengkan kepala sebagai tanggapan terhadap pertanyaan Dessy. Akhirnya… keluarlah cerita bahwa mereka tidak tinggal satu kos lagi! Febby dan dua orang teman saya yang lain pindah kos. Terus masalahnya dimana? Masalahnya mereka bertiga tidak mengatakan apa-apa pada Dessy mengenai kepindahan tesebut! Memang bukan urusan Dessy atau urusan saya jika mereka mau pindah kota sekalipun. Akan tetapi, sebagai makhluk sosial yang baik seharusnya Febby menceritakan rencana kepindahan kosnya tersebut pada Dessy. Setidaknya menghargai hubungan pertemana diantara mereka selama ini, bukan? Kalau sudah begini, rasa-rasanya seperti ‘Habis Manis Seah Dibuang’! (Semoga saja masalah ini tidak berlarut-larut!).

Heiii Dessy…. enjoy aja!! Gak usah terlalu dipusingkan! Kalo kamu gak dianggep, gak usah anggep mereka! Banyak kok di luar sana yang masih bisa mengganggapmu sebagai seorang teman… Ok?? Kept Fight!! 

Heii… Febby… ada apa denganmu? Kenapa sepertinya saya tidak mengenal sosokmu ya??? Are you, ok?

Dan setelah dua bulan meninggalkan kota ini (kampus); saya menjadi tahu bahwa honor asisten di jurusan naik 3 kali lipat!! HOREEEEEEEE! Kenaikan yang menurut saya memang harus terjadi sejak awal adanya jabatan seorang asisten dosen karena honor yang naik ini adalah jumlah honor yang diterima oleh teman-teman saya di jurusan lain yang juga menjadi asisten. Ya sudahlah… syukuri saja apa yang ada ;). Dan 50% honor yang baru saya terima kemarin sudah saya sumbangkan ke toko buku 🙂

Sekarang saatnya siap-siap meninggalkan Surabaya kembali untuk sebulan ke depan….. See Yaaaaaa