Giornata 2 (Still Capolista)

πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Pengen senyum terus….. dua pertandingan, dua kemenangan, dua kali mendapat poin penuh, dan tetap kukuh di puncak klasmen. Apalagi yang diharapkan dari seorang Juventini selain melihat (mengetahui) tim kesayangannya meraih kemenangan?!!!

Meskipun gol pada pertandingan ini hanya sebiji, permainan anak asuh Conte tidak kalah kerennya dibandingkan pertandingan pekan lalu. Para defender berhasil memblokir setiap serangan yang dilancarkan oleh pemain-pemain Siena. Hanya ketidakberuntunganlah yang membuat lesakan Pepe dan Vidal tidak menjebol gawang Siena (yang gak ngerti… googling aja sana!! atau gak usah baca tulisan ini). Gol tunggal Matri (54′) membuat The Old Lady pulang ke Turin dengan poin penuh….. Dan kalian yang mengatakan The Old Lady hanya bisa nyabutin ubannya karena telah sangat tua, kemenangan ini adalah bukti otentik bahwa ini I Bianconerri masih bertaji!!! Ini Juventus, Bung!!!!

Masih jauh dari gelar juara….. masih ada 36 pertandingan lagi, Mei…. jadi masih banyak cerita tentang La Vecchia Signora untuk musim ini (yang gak suka, gak usah baca!!).

Good Job untuk semua pemain malam ini…… Dengan begini, besok pagi saya tak harus cembetut sepanjang hari πŸ˜‰

Tetap semangat untuk pertandingan-pertandingan selanjutnya……..

Β πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Kata Unknown Koko : “Warisan Itu Jahat”

Selama perjalanan pulang kemarin, dua orang yang duduk tepat di belakang saya sedang asik ngobrol tanpa perlu berbisik-bisik! Saya yang memang tidak suka ikut campur urusan orang, sama sekali tidak peduli mengenai apa yang mereka diskusikan! Terserah mau ngobrol tentang apa dan siapa, bukan urusan saya! Namun, dua orang beretnis tionghua tersebut membuat saya kesal setengah mati. Masalahnya adalah mereka ngobrol dengan volume yang tak repot-repot dipelankan dan nyerocos mulai dari Surabaya sampai transit di salah satu rumah makan terkenal di Probolinggo (sebut merek aja boleh??? Tongas Asri!!!). Rasa-rasanya tangan ini susah sekali saya tahan untuk tidak melemparkan sesuatu ke arah mereka. Biar diem atau setidaknya mengurangi volume ocehan mereka.

Untung saja saya masih bisa menahan kesabaran dan cepat-cepat pikiran buruk terhadap kedua orang tersebut dengan memejamkan mata sembari mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Saya tak ingat detail pembicaraan mereka karena saya memang tidak sedang on the record, tetapi saya sangat ingat bahwa salah satu dari mereka mengatakan “Warisan itu jahat. Jangankan orang lain, keluarga sendiripun akan kalah oleh keberadaan warisan“.

Jika difikir-fikir, ada benarnya juga perkataan Koko-koko yang tidak saya kenal tersebut.

Warisan adalah salah satu penyebabΒ  rusaknya tali persaudaraan. Hanya karena warisan, keluarga yang semestinya hidup rukun berdampingan bisa-bisa tidak bertegur sapa selama bertahun-tahun seolah-olah tak mengenal satu sama lain. Warisan dapat membuat pertengkaran dalam sebuah keluarga dimana mereka akan berteriak-teriak dan saling caci. Tak jarang pula perseteruan mengenai warisan terdampar di sebuah meja hijau.

Benar-benar jahat!!!

Topik warisan itu….. kenapa sampai sekarang masih saja ada? Hanya perkara sepetak tanah, keluarga besar yang harusnya kokoh dan tak tertandingi terancam menjadi puing-puing rapuh…… Duhh… jika sudah begini rasanya ingin sekali menyalahkan kakek dan nenek buyut yang telah memberikan warisan….

Syukuri Sajalah

Buka folder movie… klik Indonesia…. Laskar Pelangi

Sudah sangat lama rasanya tidak menonton film ini. Film yang diputar di bioskop di awal tahun 2008 dimana saat itu saya masih sebagai mahasiswa tingkat satu. Film ini sebenarnya biasa saja karena saya telah membaca novelnya yang luar biasa. Akan tetapi, saya tak bisa memungkiri bahwa saat itu film ini juga sedikit menyadarkan saya untuk selalu bersyukur terhadap pendidikan yang saya enyam.

Rasa-rasanya saya yang saat itu sedang berusaha untuk lari dari setiap kelas perkuliahan sebagai bentuk protes kepada orang tua sangat tak bisa dibandingkan dengan semangat sekolah seorang anak pesisir yang mengayuh sepedanya sejauh 80 km hanya untuk masuk kelas reyot. Saya yang tak pernah menyentuh buku-buku dan materi kuliah dengan alasan tak peduli sangat jauh dari rasa syukur akan pendidikan yang saya dapat dengan cuma-cuma tanpa perlu memusingkan biaya.

Karena menonton film itu pulalah saya tidak lagi memusingkan saya sekolah dimana dan menjadi apa, yang penting saya sekolah… masuk kelas… pulang ke kos untuk belajar… setidaknya membuat seluruh badan dan kepala saya sibuk sehingga yang ada hanyalah meraup ilmu sebanyak-banyaknya dengan membaca buku dan jurnal-jurnal ilmiah sebanyak-banyaknya!!

Pelajaran β€˜Bersyukurlah’  yang saya dapatkan ketika menonton Laskar Pelangi untuk yang pertama kalinya, semoga masih bisa saya pertahankan hingga jenjang strata satu ini selesai. Memang banyak orang yang telah meraih gelar sarjana, tetapi masih banyak pula yang hanya mengenal bangku kuliah melalui media masa tanpa pernah merasakannya secara langsung bukan?? Syukuri saja…. karena Tuhan akan memberikan yang terbaik jika hambaNya melakukan semuanya dengan baik….

Bye Bye Kos-Kosan

Akhirnya pensiun menjadi anak kos tetap. Kemarin saya resmi hengkang dari rumah kos yang telah menaungi saya selama tiga tahun terakhir. Rasanya agak gimana gitu….. Jangan fikir saya akan sok melo dan nangis-nangisan sama semua penghuni kos karena kosan saya bukan kosan biasa! Hanya ada tiga orang anak kos (termasuk saya) yang berasal dari satu daerah yang sama. Satu kota. Satu SMP. Satu SMA. Dan kepergian saya dari rumah kos tersebut hanya seperti pulang kampung biasa…. gak ada ceritanya “Besok-besok kalo ada kesempatan, kita kumpul-kumpul yukkkkkk” karena bosen banget kumpul-kumpul dengan orang yang itu-itu saja selama 9 tahun!!! Jadi saya merasanya ya biasa saja…. tidak tahu lagi apa yang dirasakan oleh dua orang tersisa di kos tersebut… mungkin nangis-nangis karena rindu setengah mati pada saya ;).

Sebenarnya ada hal yang membuat saya diam selama beberapa hari sebelum meninggalkan rumah kos. Saya merenung sembari mengamati seisi kamar. Berfikir…… Berfikir sangat keras tentang bagaimana cara saya mengangkut barang-barang yang ada di kosan ini???!!! Ya Allah, saya baru menyadari bahwa barang-barang saya ini terlampau banyak. Lima buah kardus bekas air mineral ukuran satu liter, dua tas jinjing gede, satu ransel, satu kardus laptop, empat kardus bekas mie instan plus sebuah kipas angin. Ya Ampun…… bagaimana ini?

Total ada 9 buah kardus yang isinya adalah buku-buku!!! Padahal sebagian buku kuliah sudah saya letakkan di ruang baca jurusan, mengapa tetap saja masih terasa banyak barang yang harus saya bawa? Dan akhirnya……. setelah berfikir keras kembali… saya memberikan beberapa materi kuliah pada adik-adik tingkat yang entah kebetulan sekali menghubungi saya untuk meminta materi-materi bekas saya. Ok…. Itu belum cukup untuk membuat saya berhenti berfikir…. Seandainya saya nekat membawa semua buku-buku dalam kardus ini ke rumah, maka beberapa bulan kemudian nasibnya akan seperti tabloid-tabloid saya… mendekam bersama rombengan-rombengan lain!! Oke, daripada bawa berat-berat lebih baik diloakin di Surabaya saja! Rombengin saja, itulah akhirnya yang menjadi keputusan saya untuk empat buah kardus yang teronggok di bawah kasur!

Jangan sampai berfikiran saya meloakkan novel-novel saya, karena yang saya ‘jual’ ke tukang rombeng adalah laporan-laporan praktikum yang sudah sangat lama plus koran-koran plus tabloid-tabloid soccer (lagi) plus beberapa paper tugas kuliah yang kurang saya sukai!!! Buang jauh-jauh semuanya!!! Hasil ngerombengnya sih gak seberapa, tapi cukuplah buat nonton di XXI… Seandainya dulu ketika mengerjakan laporan ataupun tugas kuliah saya mengetahui bahwa setelahnya saya akan merombengkan laporan dan tugas-tugas tersebut… mungkin saya akan mengerjakan laporan dan tugas-tugas tersebut dengan sungguh-sungguh supaya bisa mendapatkan nilai 100 supaya gak malu saat nilainya diliat pak rombeng dan bos pengepul rombengnya!! πŸ˜‰

Kemudian muncullah ide bahwa saya tak akan membawa semua barang-barang saya ke rumah melainkan meletakkannya di rumah kos adik saya!! Yupp… karenaΒ  saya di rumah hanya sebulan ke depan dan setelahnya HARUS BALIK lagi ke Surabaya maka saya merasa buku-buku (red: NOVEL πŸ˜‰ ) itu masih harus tetap berada di Surabaya! Jadilah tiga kardus plus kipas angin saya taruh di kosan adik sedangkan dua kardus sisanya saya titipin di rumah enyong (salah satu kakak saya). Semua isinya adalah novel dan buku-buku cerita saya πŸ™‚ Dan saya pulangΒ  hanya dengan dua buah tas jinjing plus sebuah ransel berisi baju-baju dan sebuah kardus laptop yang saya isi dengan beberapa novel yang memang ingin saya baca di rumah……

Dan barang-barang yang saya bawa pulang tersebut masih tergeltak di kamar karena saya masih terlalu lelah membongkarnya (MALES)….

Ahhhhh…… meskipun tidak ada hal spesial di rumah kos yang telah saya tinggalkan itu, suatu saat nanti saya pasti merindukannya….. Entah sisi mana yang akanΒ  saya rindukan, tapi rasa rindu akan suasana kos pasti akan menghampiri saya….

Hhhhhhhh….

P.S: Thank u so much buat mbk Citra dan sekeluarga yang mau memberikan sedikit ruang di rumahnya untuk saya… Maaf kalo selama ngekos saya sering kelontangan tengah malam di dapur πŸ™‚

Hot Gosip Briptu (Mantan) Norman

Topik gosip terdahsyat pagi ini adalah;

persetujuan ibunda Briptu (mantan) Norman Kamarun mengenai pengunduran putranya dari kesatuan Brimob Gorontalo!!

Mulai dari tukang jual sayur, jual ayam potong, jual bubur, jual nasi pecel, sampe jual sampah (red: tukang sampah)…. semuanya membicarakan pengunduran diri Norman sebagai anggota Brimob. Semuanya menyayangkan keputusan Norman tersebut. Mereka rata-rata menyebut Norman sudah sangat terinfeksi virus artis sehingga melupakan tugasnya sebagai polisi RI.

Ada pula yang mengatakan bahwa keputusan si polisi lipsing tersebut bukan keputusan yang baik karena seandainya ia tetap bertahan menjadi polisi maka penghasilannya akan tetap sampai dia mati (pensiun), sedangkan penghasilan menjadi selebriti hanya besar di awal tanpa dana pensiun. Dibutakan oleh popularitas.

Sebagai warga negara RI saya juga sedikit menyayangkan pengunduruan diri Norman karena itu berarti dia tidak bisa melaksanakan amanah rakyat untuk ikut menjaga tanah air. Belum lagi biaya yang telah dikeluarkan oleh orang tuanya untuk membuat Norman menjadi seorang polisi! Gak mungkinlah gak keluar uang…. pasti ada…. dan mengundurkan diri artinya membuang-buang biaya.

Namun secara pribadi…. saya sih GAK NGURUS!!!!! Norman mau ngundurin diri, mau jadi artis, mau jadi pengusaha, mau jadi tukang sapu jalanan, atau mau jadi presiden…. Itu urusan dia!!! Untuk apa saya ikut campur urusan orang sementara urusan saya sendiri sudah sangat banyak???!!! πŸ˜‰

Saya hanya sedikit iri saja karena ia berani mengambil keputusan tersebut! Salut akan pilihannya. Mungkin dia (bahkan semua orang) bekerja untuk mencari materi, tetapi keputusan Norman ini saya fikir adalah mencari kepuasan hidup. Mungkin dia sudah bosan dengan kehidupan polisi sehingga igin menjalani kehidupan yang lain yang kebetulan saja sebagai seorang penghibur….. (SOTOY-SOTOYAN πŸ˜‰ ).

Berharap untuk bisa mengambil keputusan GILA dan BERANI seperti Norman Kamarun……. Can I?