Ganti Clurit Dengan Buku, Gan!!

Masih terkait dengan aksi tawur siswa….

Sore tadi saya melihat berita mengenai razia tas sekolah siswa di salah satu daerah. Hasilnya adalah beberapa orang siswa kedapatan membawa senjata tajam macam clurit dan pisau. Astaga… clurit di dalam tas sekolah?? Memangnya di sekolah diajarkan cara-cara nylurit?? Atau jangan-jangan dia juga sedang nyambi sebagai tukang kebun sekolah sehingga membutuhkan clurit untuk membabat rumput-rumput liar di sekolah??!!

Ya Allah….. bocah-bocah itu….. sebenarnya apa sih yang mereka fikirkan? Sekolah di kota dengan bangunan sekolah yang jauh dari kata bobrok, tetapi membawa-bawa clurit dan pisau! Mau apa coba??

Seandainya saya yang terkena razia, mungkin Satgas yang merazai saya itu akan menjadikan saya siswa teladan karena yang ada di dalam tas saya adalah buku-buku tebal berbahasa inggris yang lengkap dengan catatan-catatan rapi, alat tulis, botol air minum, selembar sapu tangan, dan sebungkus kertas tissue. Sedangkan mereka yang membawa clurit dan parang akan mengatakan “Dasar Cupu” saat melihat isi tas saya itu!!!!

Jangan salah loh…. meskipun hanya membawa-bawa buku tebal tanpa senjata tajam, saya juga bisa menghajar siapa saja yang macam-macam dengan tumpukan buku-buku tersebut! Tertimpuk textbook tak kalah sakitnya dengan dilempar batu!!! Serius ini!! Makanya…. buat teman-teman siswa yang memang hobby tawuran, mendingan bawa buku-buku tebal sajalah!! Kalau tak ada yang mau ditawur, buku-bukunya kan bisa dibaca dan dijadikan bahan diskusi bareng teman-teman satu gang. Aman dari razia satgas yang sewaktu-waktu, bisa tambah pintar pula!!! 😦

Jika hanya ingin menjadi tukang tawur, lebih baik berhenti sekolah saja… Malu sama seragam, guys!!! Kita memang tidak tahu akan hidup sampai kapan, tetapi Tuhan memberikan kita hidup bukan untuk main keroyok dan bikin kisruh. Terlepas dari kapan kita mati, hidup seseorang tak hanya sebatas bangku sekolah….. Kenapa tak menghabiskan hidup dengan hal-hal yang lebih bermanfaat saja, kawan??

Gak usah bawa-bawa clurit ke sekolah!!! Gak usah nyelundupin pisau ke dalam tas!! Bawa buku pelajaran atau catatan untuk belajar supaya bisa lulus sekolah. Kalau memang masih gatel pengen pegang clurit, setelah lulus nanti jadi tukang kebun saja atau jadi tukang tebang pohon atau jadi pengusaha es kelapa muda yang menjadikan clurit sebagai alat pembuka kulit kelapanya yang keras atau jadi penjual clurit!!!! Asal tak jadi tukang potong kepala manusia saja!!!


Nice To Know You, Albertina!!!

Kenal Albertina Ho? Jika jawaban kalian adalah “tidak kena”l maka sayapun akan menjawab “Sama… Saya juga tidak mengenalnya”. Saya hanya tahu sosoknya melalui layar kaca. Jadi, tahukah kalian seseorang yang bernama Albertina Ho?

Perempuan berdarah Maluku ini terkenal lohh…. Ingat sosok perempuan dengan rambut ikal yang mengetukkan palu di persidangan Gayus Tambunan dan menfonis si mafia pajak dengan hukuman tujuh tahun penjara dan denda sebesar 300 juta rupiah? Atau orang yang mengadili Sirus Sinaga dengan pertanyaan-pertanyaan menusuknya? Dialah si pemilik nama Albertina Ho.

Seorang hakim yang menolak diwawancara dalam hal apapun. Tak mau berkomentar tentang apapun di depan kamera untuk semakin meningkatkan popularitasnya.

Di saat namanya melambung karena menangani kasus-kasus besar tanpa pandang bulu, dia dimutasi atau istilah sederhananya dipindah tugaskan atau menurut saya DIBUANG ke Bangka Belitung. Di singkirkan jauh-jauh dari hiruk-pikuknya kasus kejahatan Ibu Kota.

Saat pusat negara butuh seseorang untuk menjadi pengadil yang tak pandang bulu, salah satu hakim terbaik yang ada di sana harus angkat kaki dan bertugas di daerah…… sungguh waktu yang sangat kebetulan.

Mau bagaimana lagi? Tugas tetaplah tugas yang harus dikerjakan. Beliau tetap harus professional dan melaksanakan setiap tanggung jawabnya dimanapun itu. Sangat disayangkan memang, tetapi menurut saya mutasi tersebut tidak terlalu buruk. Albertina dimutasi ke Bangka Belitung bukan?

Coba saja bandingkan Jakarta dengan Bangka Belitung??? Wahhh….. asik tu Bu…. daripada di Jakarta… rame, berisik, banyak debu, kalinya kotor….. lebih baik di Bangka Belitung bukan? Daerahnya masih belum banyak terkontaminasi oleh buruknya globalisasi.

Tidak perlu takut akan kekurangan kasus yang akan diadili juga karena sekarang ini kasus-kasus korupsi tak hanya milik Ibu Kota… bukankah saya telah mengatakan sebelumnya bahwa di daerahpun sudah banyak penyakit-penyakit korupsi dan cenderung tak tersentuh hukum?!! Siapa tahu di Bangka Belitung ada kasus yang bisa lebih menenarkan nama Albertina Ho daripada sekedar pelecehan seksual seorang Ana Khrisna!!!

Seharusnya penjahat-penjahat di Bangka Belitunglah yang ketakutan karena akan kedatangan seorang cewek sangar!!!!

Good Job, Albertina…….. Selamat bersenang-senang di Bangka Belitung, Mam…. Tetaplah menjadi hakim yang adil di Negara hukum ini… Tetaplah rendah hati seperti yang saya kenal (tahu).

Problematika Mencari Pekerjaan

Orang bilang mencari pekerjaan itu susahnya minta ampun. Harus punya IQ tinggi dan gelar pendidikan minimal sarjana. Selain itu untuk mendapatkan pekerjaan di zaman sekarang ini harus memiliki koneksi yang bisa membuat kita diterima sebagai salah satu staff atau pekerja di perusahaan tersebut. Benarkah begitu?

Saya bilang, mencari pekerjaan itu susah-susah gampang. Susah karena memang belum rezeki, gampang jika memang punya niatan besar untuk bekerja. Orang mengatakan mencari pekerjaan itu susah karena ekspektasi mereka bekerja adalah memakai kemeja dengan dasi plus jas hitam, bawa tas koper, pakai sepatu fantofel, dan masuk kerja jam 8 pagi pulang jam 4 sore. Semua orang yang saya temui selalu beranggapan bahwa bekerja itu harus di sebuah ruangan. Bagaimana dengan petani? Apakah petani itu menanam padi di sebuah ruangan ber AC dengan menggunakan jas plus dasi kupu-kupu? Lalu tukang becak? Apakah mereka tidak bisa dibilang sedang bekerja? Orang yang duduk di dalam ruangan ber AC atau mereka yang mencangkul sawah seharian, sama-sama bekerja kok! Sama-sama dapat penghasilan bukan? Apa coba yang dicari orang saat bekerja? Pengalaman? Kenyangkah makan pengalaman??? Bekerja tidak harus dimulai dari pukul 8 pagi. orang-orang yang jualan di pasar bahkan memulai aktivitasnya sejak pukul 2 dini hari….. Mereka tak bisa dibilang tidak bekerja bukan?

IQ tinggi, Ok…. tapi tidak semua pekerjaan membutuhkan IQ tinggi. IQ tinggi sangat dibutuhkan untuk mereka yang berniat menjadi professor. Jangan salah… menurut survey salah satu harian berita di New York, kebanyakan orang SDM di perusahan-perusahaan sama sekali tidak melihat nilai yang tercantum pada ijazah orang-orang yang melamar pekerjaan di tempat mereka, terutama ketika lolos interview. Yang dibutuhkan adalah kecerdasan emosial atau EQ!! Alasannya karena seseorang yang mampu mengendalikan emosinya disinyalir adalah pribadi yang mampu bekerja di bawah tekanan sekalipun. Orang-orang yang mudah bergaullah yang paling banyak diminati oleh pemilik perusahaan. Sebenarnya EQ tinggi ini tak melulu dibutuhkan oleh orang-orang yang ingin bekerja di perkantoran. Semua orang yang bekerja harusnya punya kecerdasan emosional karena tekanan kerja tak hanya muncul di area kantor. Untuk mengurus padi atau jagungpun dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan supaya tanaman mereka tak dimangsa oleh ulat grayak ataupun agronema. Berjualan juga sangat membutuhkan senyum sapa yang ramah supaya pelanggan tidak kabur ke pedagang lain. Coba saja kita datang ke sebuah pasar atau toko yang pelayan atau pedangannya melotot dengan mulut manyun sepanjang melayani…. males banget deh jika harus belanja ke tempat itu lagi…… Makanya…. dibutuhkan keterampilan menjaga emosi untuk orang-orang yang tengah bekerja (apapun bentuknya).

Pikiran lain yang membuat seseorang kerap kali menyerah untuk mencari kerja adalah koneksi! Masih sangat banyak pandangan yang menyebutkan bahwa koneksi menentukan jenis pekerjaan yang bisa kita peroleh. Bahkan pandangan tersebut masih berceceran diantara teman-teman yang saya anggap memiliki IQ di atas rata-rata (tuh kan… bukti kalo tidak selamanya IQ tinggi menyebabkan individunya berfikiran luas!). Dia mengatakan “Sekarang ini kalau gak ada koneksi, gak akan dapet kerja Mei”

Koneksi dan koneksi…. inilah masalahnya….. Jika bekerja karena koneksi, kenapa harus sekolah susah-susah? Kenapa harus masuk kelas setiap hari? Kenapa harus bayar mahal-mahal kuliah jika pada akhirnya mengandalkan koneksi untuk bekerja? Supaya mendapatkan gelar? Lalu ilmu yang didapat saat kuliah atau sekolah mau dibawa kemana? Saya rasa koneksi itu penting, tetapi hanya sebatas informan bahwa di suatu tempat ada sebuah pekerjaan. Setelahnya adalah usaha si pelamar sendiri. Jika mengandalkan koneksi untuk mencari pekerjaan kemudian ketika telah bekerja menghadapi suatu masalah, apakah si koneksi juga yang harus menyelesaikan masalah tersebut? Saya yakin bahwa masih banyak lapangan pekerjaan yang bebas dari kata “Pelamar Harus Punya Koneksi”.

Haduhhhh…… jika untuk mendapatkan sebuah pekerjaan dibutuhkan IQ tinggi dan koneksi….. bagaimana caranya saya mendapatkan pekerjaan?? Karena jelas sekali bahwa IQ saya tidak tinggi dan saya tidak memiliki koneksi di perusahaan-perusahaan terkenal.

Hemmmm…. sepertinya saya harus membuat perusahaan sendiri saja supaya saya tak usah kerja jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore, tak harus punya IQ tinggi, dan tak harus punya koneksi supaya saya bisa bekerja (kan saya yang punya ;)). Tapi masalahnya untuk membangun perusahaan atau membuka usaha sendiri saya butuh uang sebagai modalnya…. haduhhh… ngelluuu……

Semoga saja ada rezeki pekerjaan buat saya….

(Doa hari ini: Ya Allah…. kasih saya pekerjaan yaa….. yang masuk kerjanya gak harus jam 8 pagi dan pulang jam 6 sore… yang kerjanya gak harus ber IQ tinggi… yang masuk kerjanya tanpa punya kenalan orang dalam……. Yang penting kerjanya halal dan gajinya bisa saya gunakan untuk belajar di Inggris dan mengunjungi Italia….. AMIN 🙂 ).