Susahnya Ngopy Buku di Kampung


Tempat tinggal saya ini memang tergolong daerah administratif yang tidak terlalu besar. Tak ada mall dan gedung-gedung bertingkat 10. Tak ada traffict jam sepanjang 10 km. Tak ada 21 atau XXI dengan film-film terbarunya. Tak ada stasiun kereta api. Tak ada airport. Tak ada perusahan konstruksi yang menangani proyek-proyek besar. Tak ada toko buku sekelas Gramedia. Ya… hanya kota kecil yang punya alun-alun seluas lapangan perpustakaan kampus saya.

Dan beberapa malam lalu saya dibuat frustasi oleh kota kecil mungil ini. Susahnya mencari tempat fotokopi!

Ok… gak susah kok sebenarnya. Banyak sekali tempat-tempat fotokopy di kampung saya. Bahkan sejak saya masih sekolah TK, tempat fotokopi sudah bisa ditemukan di hampir setiap sudut kota. Yang membuat saya frustasi adalah tempat-tempat fotokopi yang saya datangi tadi tak mau dikasih duit!!

Saya serius! Saya hendak menfotokopikan buku LKS si Ais, tetapi mereka menolak karena saya mau memfotokopi saat itu juga sedangkan mereka baru bisa menyelesaikannya besok atau lusanya!!! Astaga!!! Padahal saya hanya akan memfotokopikan LKS atau lembar kerja siswa atau buku-buku pekerjaan rumah bocah SD kelas 1! Halamannya juga tak lebih tebal dari laporan-laporan praktikum yang telah saya buat! Tapi mereka tak sanggup mengerjakannya. Saya hanya hendak mengopikan satu buah buku setebal 35 halaman! Butuh waktu berapa lama sih untuk mengerjakannya?

Benar-benar malas tu tukang fotokopi! Padahal ketika di Surabaya, saya memfotokopi 50 halaman dimana hasilnya  langsung bisa saya ambil 30 menit kemudian dan itupun saya masih harus mengantri. Sedangkan tadi, fotokopian yang saya datangi sedang tidak ada pengunjung! Mereka hanya mau melayani satu atau dua lembar fotokopian!! Mau dikasih duit 5000 malah minta 500!! Aneh!!

Ini nih yang membuat saya gemes sama orang-orang daerah. Terlalu lelet. Buang-buang waktu. Terlalu terbiasa dengan ketenangan daerah, tetapi mulutnya berisik berkoar-koar untuk pergi ke kota. Mau malas-malasan di kota macam Surabaya atau Jakarta? Ibu kota bukan untuk mereka yang senang menunda-nunda pekerjaan, Bung!!! Semoga saja beberapa orang yang malam ini menolak uang dari saya tidak menyebarkan virus kemalasannya pada seluruh penghuni kota Situbondo.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s