Image

Selebrasi Terbaik di Paruh Pertama Musim 2011-2012

Selebrasi Yang Paling Saya Suka dari pencetak gol Juve di sepanjang paruh pertama 2011-2012... Salam cinta Arturo Vidal----> Menang 4-1 atas Parma (11 September 2011)

Satu Gol yang menjadi penentu kemenangan Juventus atas Siena (18 September 2011)..... Che Matri 🙂

2 Oktober 2011 Marchissio membungkam Milan dengan 2 golnya ke gawang Abbiati 🙂 🙂

 

Tema Hari Ini Adalah Juventus

Paruh pertama musim 2011-2012 sudah selesai. Hasilnya adalah Campione d’ Inverno :). Kokoh di puncak klasemen dengan rekor tidak (belum) terkalahkan di liga. Ya Tuhan.. benar-benar Alhamdulillah, yaaaa…. Sangat sesuatu banget…

Perjalanan di paruh kedua dimulai akhir pekan lalu (Sabtu, 28 Januari 2012) dengan menaklukkan Udinese. Dua gol yang dicetak Matri membuat The Old Lady tetap menjadi yang terbaik di musim ini.

Perjalanan masih pannnnjjjaaanngggg…. Sebelum 13 Mei 2012, tidak boleh lengah sedikitpun. Tidak boleh besar kepala sebelum mengunci Scudetto. Satu minggu ini tiga pertandingan akan Juventus lakoni. Besok melawat ke Parma dan selanjutnya menjamu Siena. Lawan-lawan kecil yang bisa saja membuat Juve tersandung… Tapi saya benar-benar berharap semua pertandingan bisa menghasilkan poin maksimal… AMIN…

Dan tanggal 8 harus melawat ke San Siro untuk menghadapi si Merah Hitam di semi final Coppa Italia. Seperti pesan salah satu pendukung merah hitam pada saya bahwa kami akan bertemu sebanyak 3 kali di bulan Februari… fiiuuhhhh…. Saya tidak takut, hanya sedikit spot jantung… deg deg kan…. Posistif thinking, tapi tetap waspada… Semoga saja pertemuan dengan merah hitam juga menghasilkan poin penuh untuk Juve….

Ya Tuhan….. Saya mau Scudetto… Boleh ya, Ya Allah… 🙂

P.S: Sepertinya hari ini adalah hari Bianconerri. Tak tahu kenapa saya sedang bernafsu untuk melakukan apapun yang ada hubungannya dengan Juventus. Nonton video Juventus, nyanyi lagu-lagu Juventus, dan memposting sesuatu tentang Juventus :). Buat yang tidak suka dengan postingan hari ini… Silahkan pergi..minggato kono… just get outThe day is Juventus day 🙂

Image

Papa & Kids For Juventus

Dady and baby

Ini Masih Wajar, si anak sudah agak gede untuk ngerti Bola 🙂

Juventini Baby lagi 😉

Juventini Juventini 🙂

 

Semoga saja Juventini-Juventini belia pada foto-foto di atas tetap sebagai Juventini saat mereka dewasa nanti bahkan hingga ajal menjelang  ;). Buat dady-dady nya… teruskanlah mengajarkan pada buah hati kalian bagaimana menjadi seorang Juventini yang sebenarnya :). Forza Juventus per sempre sara’ !!!!

(Sumber foto: http://www.juventus.com).

Cinta Ala Juventini

Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, Salah satu hal yang paling tak masuk akal di dunia ini adalah Cinta dan salah satu bentuk Cinta yang tak masuk akal itu adalah mencintai klub sepak bola, menjadi suporter setia atau bahkan fanatik.

He’em… menjadi suporter suatu klub sepak bola itu memang Gila. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga cinta! Satu bentuk kegilaan dari seorang suporter suatu tim adalah menjadikan anak atau keturunan atau siapapun orang di dekatnya ikut serta untuk menjadi pendukung tim tersebut, untuk menjadi GILA! Dan semua hal yang akan dilakukan seakan-akan harus berbau tim kesayangan.

Secara tidak sengaja saya menemukan foto-foto seorang ayah (persepsi saya) yang membawa serta anaknya ke stadion untuk menonton pertandingan. Mending kalo anaknya ngerti… Masalahnya adalah si anak masih tergolong balita dan bahkan bisa dibilang baby ;). Tidak hanya sekedar ‘membawa’ si anak, tetapi juga mendandani anak mereka dengan kostum tim kesayangan. Ekspresi ayah dan anak yang tampak pada kamera itu adalah bahagia. Tapi bisa saya pastikan bahwa bahagia antara keduanya tidaklah sama.

Si anak tertawa karena merasa senang berada diantara kerumunan orang-orang dengan aneka macam dandanan serta meniupkan terompet-terompet atau bunyi-bunyian sejenisnya. Namanya juga anak kecil… Mereka pasti senang dengan keramaian bukan? Sementara itu, ekspresi si ayah adalah bahagia karena GILA 🙂

Salah? TIDAK! Siapa yang bisa menghakimi si ayah?

Bahkan secara subjektif saya berani mengatakan bahwa kelakuan sang ayah itu wajar. Kalau saya yang menjadi si ayah, saya pun akan bersikap begitu. Membawa serta anak saya ke setiap pertandingan Juventus yang saya datangi dengan mendandani si anak dengan segala sesuatu yang berbau The Old Lady! Meskipun si anak tidak mengerti, tetapi saya fikir hal itu adalah salah satu cara untuk membiasakan si anak menjadi Juventini sejak kecil. Sama halnya orang tua yang mengajarkan budi pekerti saat anak mereka masih bocah. Namanya juga Juventini, gak mungkin lah mendoktrin anak untuk menjadi suporter selain Juventus…. Lebih baik tak usah menjadi suporter, daripada menjadi pendukung tim selain juventus! 😉

Tidak hanya Papa pada gambar yang saya colong dari situs Juventus itu yang Gila, saya pun demikian. Sama gilanya dengan si Papa. Saat sidang TA kemarin, tema yang saya usung adalah pinky. Mulai dari kostum, slide yang akan saya presentasikan, naskah yang saya bagi, map naskah, sampai masalah konsumsi pun berhubungan dengan warna pink. Bukan karena saya tergila-gila pada warna pink, melainkan karena saya menggilai Juventus.

Musim ini, jersey (kostum) tandang Juventus berwarna pink dimana setiap mengenakan jersey tersebut Juventus tak hanya bermain apik tetapi juga dilingkupi oleh keberuntungan. Karena itulah saya memilih pinky sebagai tema sidang TA saya beberapa hari lalu. Saya berharap saya dapat tampil optimal plus beruntung seperti saat Juventus bertanding dengan jersey pinknya.

Sayapun kerap kali memilih tanggal 27 untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa. Misalnya presentasi kelas, saya selalu berusaha untuk presentasi pada tanggal 27. Dan saat sidang TA kemarinpun saya sengaja memilih tanggal 27. Demikian halnya ketika hendak melakukan seminar proposal… saya memilih tanggal 27. Jika ada yang tanya kenapa harus 27? Jawabannya adalah karena (secara resmi) Juventus sudah 27 kali meraih scudetto, juara serie A liga Italia (Meskipun saya dan semua Juventini tetap berpendapat Scudetto Juventus adalah 29——>Secara tidak resmi *yang bukan pecinta Liga Italia dan gak ngerti tapi pengen ngerti, tanya mbah gugel!! 😉 ).

Masuk akalkah? Tidak Juga……Namanya juga Cinta 🙂

Ahh… it’s always about Juventus…..

Akhir Kisah Antara Saya Dengan Nicky

26 Januari 2012 (17.30 WIB)
Salah satu teman saya datang ke kosan untuk mengantarkan selembar surat bebas KOPMA milik saya. Dia juga mengunjungi saya di H -18 jam sidang TA dengan menyodorkan kisah sidang TA nya yang berlangsung tiga hari sebelumnya. Sebenarnya saya yang menginginkan dia menceritakan bagaimana sikap dosen-dosen pengujinya itu. Menuturkan pertanyaan apa saja yang ditanyakan oleh dosen pengujinya supaya saya bisa menerka-nerka pertanyaan apa yang akan mereka berikan besok karena komposisi dosen penguji antara saya dan teman saya itu sama.
Dia mengatakan bahwa terjadi kekacauan dan cek-cok antara dosen penguji di hadapannya. Dosen penguji dan pembimbingnya adu argumen dimana si pembembing akhirnya menjadi bete’. Adu argumen itu berujung pada penggatian pembahasannya. Revisi pembahasan. Saya mendengarkan dengan seksama plus berfikir keras bagaimana caranya untuk menghindari adu argumen antar penguji atau penguji vs pembimbing.
Saat saya menanyakan adu argumen itu terjadi antara siapa dengan siapa, dia tersenyum sambil menjawab “Pembimbingmu”. Dan kemudian saya tak bisa berfikir lagi. Saya diam saja kemudian meneguk segelas air putih.
26 Januari 2012 (19.00 WIB)
Saya masih duduk di atas kasur tanpa banyak aktifitas. Hanya mengamati suasana kamar. Buku-buku catatan kuliah sejak zaman semester muda terbuka lebar dan mendekorasi setiap sudut lantai. Di atas kasur, jurnal-jurnal ilmiah terbentang dengan manisnya. Text book yang penuh warna stabillo pun ikut tersenyum pada saya meskipun tak sedikitpun saya tersenyum padanya.
Kemudian tiba-tiba saya menyadari bahwa selama beberapa semester terakhir buku-buku catatan, jurnal-jurnal dan text book itu sudah sangat saya perlakukan dengan baik. Saya tak pernah mengabaikan mereka. Saya tak pernah melupakan keberadaan mereka. Jadi, kenapa sekarang saya menjadi galau hanya karena beberapa jam dalam sehari yang masih akan terjadi besok? Catatan-catatan, jurnal, dan text book itu pasti bisa membantu saya. Mereka tidak akan meninggalkan saya. Buktinya si text book tersenyum manis meskipun wajah saya cembetut dengan kening berkerut-kerut. Untuk apa saya merenungkan cerita kawan saya? Besok kan sidang TA saya, bukan sidang TA nya…..
Baiklah….. Besok ya besok…. Karena merasa otak sudah tak mampu lagi menambah beban, hal yang saya lakukan adalah memotret-motret kondisi kamar yang mirip Costa Concordia pasca karam kemudian merapikan buku-buku, jurnal, dan catatan yang saya prediksi tak saya perlukan untuk besok.
26 Januari 2012 (22.30 WIB)
Teman saya yang tadi sore itu mengirimi saya SMS. Isinya adalah “Mei, jangan begadang. Mendingan tidur buat besok”.
Hemmm… maunya sih begitu… Maunya adalah memejamkan mata untuk menata posisi materi yang ada di dalam tempurung kepala ini supaya saat materi itu dibutuhkan saya mudah mendapatkannya. Tapi sayangnya semakin saya memejamkan mata, semakin sulit saya bernafas. Gak tahu kenapa rasanya dada ini sesak.
Akhirnya sepanjang malam itu saya terjaga sembari membaca-baca sesuatu yang ringan dengan sesekali diselingi bacaan kuliah. Saat bosan, konek internet untuk main-main di jejaring sosial. Sedikit adu kata dengan seorang teman melalui twitter dan status FB. Lalu beranjak untuk menuliskan ‘beberapa’ sesuatu di blog. Namun ternyata si blog sedang tidak ingin diajak bermain.
Jadilah semalaman itu hanya membaca-dan membaca.
27 Januari 2012 (05.00 WIB)
Semua barang yang hendak saya bawa sudah siap. Tinggal angkut lah. Kemudian, saya membuka lemari untuk mengeluarkan kostum sidang yang sudah saya persiapkan (kira-kira delapan bulan yang lalu). Uuhhhhh… ternyata oh ternyata saya lupa bahwa jilbab yang akan saya pakai masih menggantung di jemuran. Baru saya cuci kemarin dan belum disetrika. Inilah untungnya mempersiapkan sesuatu sebelum H-1 jam acara, meminimalisirkan kelupaan sesuatu. Dan saat mengingat akan sesuatu yang nyaris terlupa itu, segera siapkan. Tak perlu menunggu nanti dan nanti karena penundaan sekali setelah kita (saya) ingat akan berujung pada penundaan selamanya alias gak dikerjain.
27 Januari 2012 (07.30 WIB)
Mandi pagi.
27 Januari 2012 (08.30 WIB)
Melakukan pengecekan ulang untuk yang entah ke berapa kalinya. Tak tahulah. Saya merasa ada sesuatu yang kurang. Ada hal yang masih mengganjal, tetapi saya tak tahu apa itu. Cek satu-persatu semua yang harus saya bawa..
•    Leno Ok
•    Flashdisk OK
•    All HP silence (no vibrate)
•    Kostum Ok
•    Buku, jurnal, & catatan penting siap
•    Konsumsi tinggal ambil di depan kos
•    Minuman dibawain Intan
•    Form penilaian untuk ketua sidang aman
Ya… semuanya Ok. Insya Allah.
27 Januari 2012 (10.00 WIB)
    Saya meluncur ke kawasan kampus ITS dengan adik saya. Selama perjalanan, tak ada satupun dialog yang terjadi antara saya dan Intan. Dia mengemudiakan motor dengan diam dan saya duduk di belakang sopir dengan tenang.
    Acara sidang memang masih pukul 13.00 WIB. Tapi prinsip saya adalah datang ke suatu acara maksimal H-1 jam sebelum acara tersebut dimulai. Saat saya masih ngekos di dekat kampus saya selalu berangkat pukul 06.30 jika kuliah dimulai pukul 07.30, masa iya saat ngekos jauh dari kampus seperti sekarang berangkat dengan rentang waktu yang sama seperti saat kuliah?
27 Januari 2012 (10.30 WIB)
    Saya dan Intan berada di dalam kamar kos Puput. Beberapa saat setelah saya menyelonjorkan kaki, hujan turun. Tidak diiringi dengan kilat dan petir memang, tetapi cukup deras untuk membuat saya basah kuyup. Ahh… seandainya saja saya tak berangkat lebih awal…. mungkin saya akan terjebak hujan di pinggir jalan karena Intan yang entah mengapa sudah saya ingatkan berkali-kali tidak meletakkan jas hujan di jok motor. Padahal saya punya dua jas hujan dan semuanya berada di tempat adik saya.
    Uhhh…. kata orang hujan itu adalah berkah dariNya. Semoga saja hujan ini pertanda akan diberkahiNya sidang TA saya.
27 Januari 2012 (12.30 WIB)
    Saya sudah berada di dalam ruangan pembantaian. Semuanya sudah siap. Konsumsi telah berjajar rapi di atas meja para penguji. Leno telah menyala dan terhubung dengan LCD proyektor dan siap membantu saya mempresentasikan hasil TA yang hampir berakhir ini. Namun kemudian saya ingat satu hal. Satu hal yang sebenarnya dari tadi menggajal pikiran saya. Handout presentasi yang sudah saya print dan siapkan tertinggal.
    Ya ya ya…. padahal saya sudah merasa sangat berhati-hati dan melakukan pengecekan berkali-kali, tetapi tetap ada yang terlupa. Handout itu tidak wajib memang. Tetapi setiap saya melakukan presentasi pada semua kelas kuliah yang saya ikuti, handout itu adalah salah satu properti yang sakral. Dan sekarang, handout ppt itu hanya tinggal cerita…. tergeletak di atas meja kamar kos saya.
    Sudahlah… mau bagaimana lagi…. Semoga saja nilai presentasi saya tidak berkurang hanya gara-gara tidak membagikan handout pada penguji. Semoga tak ada hal lain lagi yang saya lupakan sehingga presentasi bisa berjalan lancar.
27 Januari 2012 (13.00 WIB)
Hanya ada seorang penguji yang telah siap di ruang sidang. Seperti biasa… Terlambat datang alias ngaret.
27 Januari 2012 (13.30 WIB)
Saya diminta keluar ruang sidang. Tak sampai 2 menit, ketua sidang kembali memyuruh saya masuk. Dengan Bismillah, saya melangkahkan kaki ke dalam ruangan yang telah berisi empat orang penguji.
Ya… hanya empat orang. Pembimbing saya belum berada di dalam ruang sidang. Possitive thinking. Itulah yang saya lakukan. Pasti beliau masih shalat dhuhur. Dan saya tak mau pikiran ini terlalu mengganggu konsentrasi saya. Biarkan sajalah…. yang perlu saya lakukan adalah fokus. Saya tak mau kejadian 27 Desember 2010  terulang. Saat itu saya kehilangan konsentrasi lantaran terlalu memikirkan ketidakhadiran pembimbing pada saat seminar proposal TA yang pada akhirnya saya tak bisa memberikan jawaban maksimal untuk pertanyaan yang diajukan penguji. Pertanyaan yang seharusnya bisa saya jawab karena saya tahu.
27 Januari 2012 (13. 40 WIB)
Pintu ruang sidang terbuka. Saya melihat pintu itu terbuka, tetapi saya tetap fokus pada apa yang saya presentasikan. Saya semakin fokus saat mengetahui bahwa seseorang yang masuk ruang itu adalah pembimbing saya.
Alhamdulillah… beliau tidak melupakan bahwa sekarang ini saya tengah melakukan sidang TA. Tengah bergelut dengan perjuangan untuk menuntaskan masa strata satu ini.
27 januari 2012 (13 45 WIB)
Presentai selesai. Saatnya menjawab pertanyaan yang akan diberikan penguji. Lalu saya menoleh ke arah kursi pembimbing saya. Kosong. Hanya ada naskah TA saya di atas meja beliau.
Lohh….. kok ibunya menghilang ya? Kok cepet banget ilangnya? Padahal saya presentasi tak lebih dari 10 menit. Yang saya herankan lagi adalah saya tidak mengetahui kapan pembimbing saya itu keluar ruangan. Atau jangan-jangan beliau bisa berdisapparate seperti Harry Potter dan teman-temannya? Ya Ampun… saya ditinggal lagi… Beliau tidak lupa akan sidang TA saya, hanya tidak datang. 😦
Ok Ok… Tetap fokus!!!
27 januari 2012 (14.00 WIB)
Ya Tuhan…. buat saya tenang. Kenapa sih tiba-tiba jadi tegang begini?? Padahal penguji saya tidak marah-marah. Mereka tidak memasang tampang serem. Tidak ada pula yang membawa parang atau golok. Kenapa saya jadi tegang? Ya ampun, Mei….. santai… pertanyaan itu bisa kok kamu jawab… Just relax!!!
Aduuhhhh… kenapa pake kebelet pipis juga sihhh…. Gimana ini….. Fokus Fokus Fokus…
Dear Pipis,.. Tahan sebentar ya…. Janji, gak sampe 1 jam kok. Please… jangan buru-buru keluar ya pipis!
27 Januari 2012 (14.45 WIB)
Saya dipersilahkan meninggalkan ruangan yang berarti acara tanya jawab sudah selesai. Sekarang waktunya penguji berdiskusi untuk menentukan kelulusan saya.
Tak sampai dua menit saya di luar, ketua sidang memanggil saya untuk kembali masuk ruangan.
Kemudian ketua sidang saya melontarkan pertanyaan “Kamu mau minta nilai berapa?”
What??? Ini benar-benar pertanyaan yang sangat tidak saya suka dan saya sama sekali tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan tersebut. Pertanyaan itu sama halnya dengan pertanyaan ‘Berapa besarnya gaji yang kamu minta’ saat interview kerja. Pertanyaan menjebak dan lebih bersifat psikis. Belum kerja udah minta gaji? Yang bener aja… Dan jawaban saya selama sidang tadi belum tentu bernilai di mata mereka, kalau saya minta nilai… apa kata dunia? Maka jawaban saya adalah ‘Saya pasrah, Bu. Yang berhak menilai itu penguji’.
Lalu kemudian si Ibu ketua sidang berkata; “Karena penelitianmu yang di Jogja gak berhasil mendingan kamu kembali ke Jogja ya”. Lalu penguji saya yang lain menimpali, “Sekolah lagi, Mei”. Dan si ketua sidang menambahkan, “balik lagi ke Jogja untuk Mastermu
Perasaan saya saat itu adalah biasa saja. Serius. Tak ada sesuatu yang spesial. Tak ada hal yang luar biasa. Hanya sekedar lega karena telah menyelesaikan sidang TA. Dan saya tahu bahwa saya lulus. Saya pun tahu skenario seperti apa yang akan dikatakan untuk mengumumkan kelulusan setiap mahasiswa. Si dosen awalnya akan berkata sok serius seakan-akan mahasiswanya tak lulus hanya untuk membuat mahasiswanya tegang atau mungkin menangis dan kemudian kata ‘Lulus’ dianalogikan dengan kata-kata lain seperti ‘Kamu sudah tidak layak menjadi mahasiswa S1’ atau ‘Meskipun kamu kurang optimal, kamu bisa mengikuti wisudah semester ini’. Ya Tuhan…. kenapa sih saya tidak dibiarkan seperti teman-teman saya yang lain. Kenapa tak membiarkan saya tidak mengetahui hasilnya sehingga ada perasaan spesial seperti kata teman-teman saya yang lain bahkan diantara mereka ada yang menitikkan air mata. Uhhh….. saya merasa tidak normal!
Saking datarnya ekspresi saya, saya hanya berdiri terpaku di depan meja penguji yang mulai berdiri. Dodolnya saya ini….. aturan mainnya adalah setelah pengumuman kelulusan mahasiswa harus menghampiri semua penguji untuk mencium tangan mereka sembari mengucapkan terimakasih sebelum penguji beranjak dari kursinya. Namun yang saya lakukan adalah menatap mereka satu persatu-satu dimana kemudian salah satu penguji menyodorkan telapak tangannya pada saya. Dan itu adalah sinyal yang membuat saya sadar bahwa saya harus menghampiri para penguji untuk mencium telapak tangan mereka. Lalu dengan kesadaran yang mendadak dan setengah sadar itu saya menjabat tangan penguji. Ya… Menjabat tangan!!! Apa-apaan sih saya ini!!! Jabatan tangan???!!! Memangnya mereka teman main saya?? Astaghfirullah… maaf Ya Allah.. Maaf bapak Ibu Penguji… bukan maksud saya tidak sopan, tetapi itu semua benar-benar di luar alam sadar saya… sifatnya otonom…Tak bisa saya kendalikan….. 🙂
Sudahlah… semuanya sudah berakhir. Tidak peduli pembimbing saya tidak datang, tidak peduli saya tahu skenario pengumuman kelulusan, dan tidak peduli pada ekspresi saya yang datar saat pengumuman. Yang penting sidang TA ini telah selesai dan syukurlah saya tak harus mengganti pembahasan seperti beberapa teman saya.
Inilah akhir cerita saya bersama Nicky. Jaringan hidup yang berusaha saya jadikan makhluk hidup seutuhnya. Saya memang belum berhasil membuat Nicky tumbuh dengan sempurna, tetapi setidaknya saya bisa memperlihatkan pada Nicky apa itu hidup.
Hidup itu adalah perjuangan. Saya berjuang untuk menghidupkan Nicky sementara Nicky berjuang untuk hidup di lingkungan yang kurang bersahabat dengannya. Sekarang, perjuangan pertama berakhir. Saatnya menyambut perjuangan-perjuangan lain yang tengah mengantri untuk masuk ke dalam catatan harian saya.
Mungkin salah satunya adalah Strata 2 atau penguji saya menyebunya sebagai Master. Tapi maaf ibu dan bapak penguji… Insya Allah Master saya di London. Amin 🙂

Alhamdulillah, ya Allah….. saya diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari populasi di kampus ini. Semoga saja ilmu yang saya dapatkan tidak berhenti pada sebuah naskah setebal 56 halaman. Jika Kau mengizinkan…. biarkan saya terus belajar untuk mengejar mimpi itu dan menyebarkan ilmu yang tak banyak ini pada mereka yang membutuhkan.
Kept Fighting and moving foward!!!

Menyembuhkan Visual Error

Huuuaaaaa…. akhirnya saya bisa kembali menulis sesuka saya di blog ini. Selama beberapa hari ini saya tak bisa memposting dengan sesuka hati lantaran setting blog yang tiba-tiba aneh! Saya tak bisa memposting dan mengedit postingan. Hasilnya tak ada posting!!! 😦

Kemudian saya coba cek semua fitur yang disediakan oleh blog ini dan akhirnya saya tahu bahwa keanehan ini dikarenakan setting ‘visual’ pada blog saya tidak tampak. Bagaimana cara menampakkannya??

Sewaktu saya bertanya pada mbah google, saya disodori berbagai macam cara… Banyak jalan menuju Roma, tetapi semakin banyak jalan semakin mudah saya tersesat… Simplenya BINGUNG!!! Lalu, saya mencoba mencari jalan keluar sendiri… Kalau memang banyak jalan menuju Roma, pasti ada banyak jalan pula untuk keluar Roma… Intinya adalah saya berhasil menyembuhkan si Bloggy 🙂

Seandainya teman-teman punya blog dan memiliki masalah yang sama, tak bisa memposting tulisan atau apapun yang ingin kalian publish… Coba cara saya:

1. Masuk ‘Dashboard’lalu klik icon Users dan klik Personal Setting kemudian hilangkan tanda centang pada box ‘Disable The Visual Editor When Writing’ terus klik ‘Save profil setting’

2. Klik Tombol menu icon browser (misal: Firefox) lalu klik OPTION. Setelah itu pilih ADVANCED kemudian NETWORK and than klik CLEAR NOW pada kotak Offline Storage… Selesai dehhh 🙂

Tampilan Penjelasan Saya yang Nomer 2 (Namanya clear cache browser)

Terus setelah itu refresh PC kalian…. Itu hanya cara sederhana saya untuk menyembuhkan bloggy yang sedikit sakit…..

Saya Tak Tahu Apapun

Mereka mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja sehingga saya tak perlu mencemaskan apa-apa
Tapi saya tahu bahwa semuanya tidak baik-baik saja
Mereka mengatakan bahwa tidak ada masalah apapun yang perlu dikhawatirkan
Tapi saya tahu bahwa ada masalah yang sangat mengkhawatirkan
Mereka mengatakan bahwa semua orang tengah tersenyum senang
Tapi saya tahu bahwa semua orang sedang berlinang air mata
Mereka mengatakan bahwa semua orang tengah berpesta
Tapi saya tahu bahwa semua orang sedang berduka
Dan apa yang seharusnya saya lakukan Tuhan?
Mempercayai semua kata mereka… Berpura-pura tak tahu apa-apa sementara saya memiliki indra penglihatan yang jauh lebih jelas dari mereka….
Apa yang seharusnya saya lakukan Tuhan?
Tetap diam dalam ketidakberesan yang kata mereka aman terkendali atau saya harus berteriak bahwa saya tahu akal bulus mereka…
Tak tahukan mereka bahwa saya bukan lagi bocah berusia 5 tahun yang bisa ditipu dengan segenggam permen…..
Baiklah, Tuhan…
Kalau mereka memang benar-benar ingin menyembunyikannya dari saya…. Sembunyikan semuanya dengan sangat rapat
Jangan biarkan ada celah sekecil apapun supaya saya tak bisa mencuri pandang
Dan buat saya melupakan rahasia mereka itu…. Buatlah saya menjadi tidak tahu apa-apa

Insiden Kecil Di ‘Kios’ BAUK Kampus

Pagi agak siang tadi saya dan beberapa teman jurusan mengurusi beberapa persyaratan mengikuti wisudah. Surat bebas administrasi lah intinya. Kemudian sesuatu yang membuat saya nyaris meledak terjadi.

Beberapa saat setelah saya menyerahkan KTM (kartu mahasiswa) pada seorang bapak yang mengurusi surat bebas iuran IKOMA, si bapak berkata; “Mbaknya udah tiga semester ndak bayar SPP ya? Jadi gak bisa dapat surat bebas IKOMA

Saya yang awalnya diam tanpa ekspresi mendadak menjadi super ekspresif dengan berkata “Ahhh…bapak ini ada-ada aja” sembari tersenyum penuh semangat.

Lalu si bapak berkata, “Mbaknya beneran sudah bayar SPP belum?

Lalu saya bengong menatap si bapak berusaha menyesapi perkataannya.

Kemudian saya berkata “Gini deh, Pak… Masa iya saya gak bayar SPP selama 3 semester tapi saya bisa ikut kelas kuliah? Syarat ngisi FRS di tiap awal semester kan harus membayar SPP, Pak!“. Bahkan saya nyaris memasukkan kepala saya di lubang loket setengah lingkaran kecil tersebut saat si bapak kembali berkata, “Tapi masalahnya gak ada catatan mbknya sudah bayar SPP. Slip pembayarannya ada gak mbk? Mungkin mbaknya lupa…. Semester-semster itu gak ambil cuti ta, mbk??”

GILA ya NI Bapak!!! COBA DEH DICEK LAGI YANG BENER, PAK!!! GAK MUNGKIN LAH SAYA GAK BAYAR SPP KALAU SAYA BISA AMBIL KELAS KULIAH!!! GIMANA SIH PAK!!!!“, itulah teriakan hati saya. Ingin sekali saya memaparkan omelan tersebut secara lisan dengan diiringi sedikit sumpah serapah….

Tapi tidak tahu kenapa yang saya lakukan adalah menghembuskan nafas panjang dan berkata pelan pada si bapak, “Saya yakin 100% kalau saya gak sekalipun cuti kuliah, Pak! Terus saya harus gimana, Pak? Slip pembayarannya ada di kampung. Masa gak bisa dicek sekali lagi, Pak? Saya beneran sudah bayar SPP

Ya Tuhan…. Cuti kuliah??? Apa jangan-jangan iya ya??? Mungkinkah saya sedikit amnesia sehingga tidak menyadari bahwa tiga semester terakhir saya cuti kuliah?! Jangan-jangan selama tiga semester terakhir kelas kuliah yang saya ikuti itu hanya ilusi saya…. Ck ck ck…. Sabar, mei…. Sabar… Everthings gonna get OK!!!

Dan kemudian si bapak sibuk di depan layar monitornya. Entah apa yang beliau lakukan… dan selanjutnya secarik kertas bertuliskan “BEBAS IURAN IKOMA” ada di tangan saya.

Huuuaaaaaa…… nyaris saja saya membuat perang di tempat umum. Tapi beneran deh aneh… masa saya dibilang tidak membayar SPP selama tiga semester???!!

Pak Rektor yang baik…. tolong lah diteliti lagi masalah-masalah teknis seperti itu.. Untung saja tadi saya tak harus pulang kampung untuk mengambil bukti pembayaran SPP. Sungguh… masalah ngurus surat-surat itu memang terkesan simple, tapi kalau bertemu dengan masalah teknis seperti saya tadi bagaimana coba? Belum lagi kalau yang ngurusin punya sikap sok birokratif yang kerap kali membuat susah mahasiswa…..

Ungtunglah si bapak tadi pengertian sehingga tidak membuat saya kelimpungan dan meledakkan emosi…

‘Maaf ya Pak kalau tadi saya sedikit emosi’ 🙂

Ikut Tranding Topic : “Ngeflay ala Sopir Xenia Tugu Tani”

Trending topic beberapa hari terakhir ini adalah Tabrak Maut Xenia di tugu Tani, Jakarta. Kecelakaan yang terjadi pada 22 Januari lalu itu menjadi bahan perbincangan nyaris di semua kalangan. Termasuk acara-acara gosip artis….

Pantas sih… bagaimana tidak.. Kecelakaan tersebut menewaskan 9 orang pejalan kaki… Asataga… bahkan jalan kakipun bisa mati tertabrak. Dan yang membuat sebagian besar masyarakat jengkel adalah ekspresi pelaku. Dengan wajah datar plus status BBM nya yang mengatakan “Gila nih shabu2, gw ngeflay ampe sekarang. Berasa habis nabrak” itu, pantaslah jika banyak orang menghujatnya.

Deh..deh deh….. tobat lah mbk Afriyani… Ok lah… semua orang memang punya masa kelam dan pasti pernah berbuat salah…Dan hidup mati itu di tangan Tuhan… Tapi please deh… masa gak pernah mendapatkan pelajaran PPKN saat sekolah? Tidak diajarikah norma tentang meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat?

Dan hukuman 12 juta rupiah + hukuman penjara 6 tahun itu rasanya bullshit!!! Masa iya hukumannya hanya segitu? 12 juta rupiah + 6 tahun penjara dibagi 9 nyawa…. Murah banget ya harga nyawa di Indonesia???!!!

Sepertinya hidup si pelaku enak banget ya… Ngeflay…berasa tidak ada apa-apa dan berprestasi dengan menjadi perantaraNya untuk mencabut nyawa 9 orang pejalan kaki!!!

ahhh…Insensato 😦

Semoga pelaku diadili seadil-adilnya dan keluarga korban bisa tetap kuat menjalani hidup mereka…. Life must goon!!