Roaming Bahasa ala Pembantu

Suatu minggu sore saya menonton idola cilik 2 di RCTI (ups…maaf sebut merk). Acara itu memang tontonan rutin bagi saya serta penghuni kos yang lain. Maklumlah , kami memerlukan hiburan ringan yang tak ada kaitannya dengan sinetron stripping. Saya dan teman-teman (beberapa) sepakat bahwa acara tv saat ini terlalu dipenuhi oleh wajah-wajah glamor yang menipu alias sinetron. So, aksi anak-anak idola cilik menjadi penawar sakit perut kami karena basinya acara-acara tv.
Kebetulan minggu itu saya hanya menonton bersama mbk Yanti, pembantu di kosan.

Walaupun begitu dia hebat. Buat yang suka meremehkan para pembantu, harus hati-hati dengan mbk Yanti. Dia betul-betul luar biasa. Kalo bahasa kerennya multitalent. Masakannya lezat. Mbk yanti bisa memasak berbagai macam masakan. Rawon, soto, captjai, nasi goreng, tempe bacem, ayam bakar,  tumis kangkung, sambal terasi… pokoknya semua masakan luluh oleh tangan mbk Yanti. Selain memasak , mbk Yanti juga berbakat jadi tukang kebun, semua tanaman di halaman kos rapi dan sedap dipandang. Pekerjaan menyapunya juga sempurna. Bisa angkat berat juga loh! Kalau hanya ngangkat gallon seperti ibu-ibu di salah satu iklan komersial televisi sih biasa. Mbk Yanti bisa mengangkat motor bapak kos dari halaman depan sampai garasi. Padahal motornya dikunci setir. Hebat bukan?

Baiklah…. Mbk Yanti memang tokoh penting dalam cerita ini , tetapi bukan tulisan di atas yang ingin saya ceritakan.
Kembali pada Idola Cilik 2.
Setelah menonton berdua dan menebak-nebak siapa yang akan tinggal kelas (tereliminasi) , di tengah-tengah acara Mery, salah satu teman kos, datang dan bergabung bersama kami. Beberapa saat kemudian , Mery yang notabenenya memang tidak terlalu mengikuti acara ini bertanya pada mbk Yanti ,
Yang tajir mana , Mbk?
Sebenarnya saya  hendak menjawab pertanyaan itu. Akan tetapi , mbk Yanti mendahului dan menjawab dengan lantang
Tajir? Gak ada yang namanya tajir , Mbk. Adanya Cahya , Cakka , Oik , Bastian…………”
Saya: “######@@@@@@@#####?????” menganga dan rasanya jantung ini berhenti berdetak karena mendengar mbk Yanti menyebutkan nama-nama peserta Idola Cilik 2.
Hah? Maksudku yang anak orang kaya , Mbk!” , kata Mery meralat pertanyaannya.
Oalahh….aku pikir tanya nama. Ngomong to Mbk dari tadi” , jawab mbk Yanti dengan tampang polos.
Saya: Masuk kamar mandi… ambil wudhu… masuk kamar… shalat ashar… lalu tertawa cekikikan!!

……………………………………………………………………………………………………………………………………

Setelah insiden mbk Yanti dan “tajir” , saya kembali disuguhi percakapan kocak yang tokoh utamanya tentu saja kawan senasib sepenanggungan dengan mbk Yanti. Kali ini berlangsung di rumah salah satu kakak saya.
Sore itu kakak saya tengah menonton televisi sembari menemani putrinya bermain. Mbk As, pembantu kakak saya, berada diantara mereka. Muncullah sebuah dialog yang diawali oleh pertanyaan mbk As “Bu , saya kepingin punya Hp. Kira-kira harganya berapa ya?”

Kakak Saya: “Mbk maunya Hp seperti apa? Harganya macem-macem , mbk”

Mbk As: “Ya…yang penting bisa telepon dan sms , Bu” menimpali sambil tersenyum.
Kakak Saya: “Kalo yang biasa murah kok, Mbk. Dua ratus ribu sudah bisa dapat, tapi bekas”
Mendengar perkataan kakak saya, mbk As hanya mengangguk-angguk takzim.

“Gimana kalo beli yang baru aja , Mbk? Ada kok yang murah”, Kata kakak saya tiba-tiba karena melihat mbk As terlihat berfikir keras (entah mikir entah ngapain, saya kurang bisa memastikan ekspresinya)
“Harganya berapa , Bu?”, tanya mbk As menimpali perkataan kakak saya.
Kakak Saya: “Bisa empat ratus ribu… ada juga kok yang tiga ratus ribu”  
“Tapi bisa sms kan , Bu?” , Mbk As kembali bertanya dengan ekspresi tanpa dosanya.
Kali ini kakak saya tidak langsung menjawab. Sementara saya mulai cekikikan di dalam kamar, saya mendengar kakak saya mengatur nafasnya. Menghirup udara banyak-banyak dan menghembuskan nafas panjang.
“Bisa kan , Bu?” , mbk As mengulangi pertanyaannya.
“Bisa”,  jawab kakak saya singkat.
Kemudian , kakak saya kembali berkata , “Beli yang nokia aja , mbk. Makenya lebih gampang. Awet dan kalo mau dijual lagi gak terlalu jatuh”
“ya, kalo megangnya bener kan ndak mungkin jatuh, Bu. Nanti saya beli tempatnya sekalian biar kalo jatuh ndak langsung rusak”.
“HHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH”, saya  kembali mendengar hembusan nafas panjang ibunda si Ais.
Sepertinya tulalit mbk As mulai. Dan sepertinya sebentar lagi kakak saya akan mengakhiri percakapan tersebut karena kesal.
“Beli yang tipe supernova aj , mbk. Bagus kok”, kata kakak saya yang masih bisa menahan emosinya.
Mbk As membisu mendengar penjelasan majikannya itu. Selama beberapa saat mbk As terdiam, seperti memikirkan sesuatu. Dan tiba-tiba saja dia bergumam pelan tetapi cukup untuk menembus gendang telinga saya yang berada di kamar,
“Hp kok mereknya supra. Kayak motor ibu aja!”
Jeddddennnnggggg……… kakak saya segera mematikan televisi dan masuk ke kamar mandi. Saya sendiri hanya bisa membisu dan memikirkan apa yang kakak saya lakukan di dalam kamar mandi. Mungkinkah ia mencoba menenggelamkan diri di dalam bak mandi??? 😉

————————————————————————————————————————————–

Apakah semua pembantu bermasalah dengan kosa-kata? Maybe. Masih adakah mbk Yanti dan mbk As lain yang tersebar di seluruh negeri ini? Saya fikir kata tajir telah lama bergaung di tanah ini. Namun, masih saja ada makhluk seperti mbk Yanti yang sama sekali tidak mengerti maksudnya. Jika memang masih ada mbk Yanti dan mbk As lainnya, saya harap suatu saat nanti jalan hidup mereka berubah. Kalaupun tidak, semoga mereka mendapatkan seorang majikan yang sabar, baik hati, ramah dan tidak sombong. Karena saya yakin tidak semua orang diberi bakat untuk menahan emosi yang ditimbulkan oleh roaming bahasa.

Tuhh kan… masalahnya tetap saja roaming bahasa…. 🙂

(Catatan 4 April 2009)

Cerita Lain Di Welirang

Mengingat waktu ‘jalan-jalan’ ke tanah Welirang beberapa pekan lalu…..

Saya kira saya adalah manusia paling awam untuk menjamah gunung. Tapi ternyata sesampainya di sana saya menemukan cerita ajaib yang sama sekali tak pernah saya bayangkan akan dilakukan seseorang yang disebut pendaki. Bahkan saya yang awampun tak akan pernah melakukannya.

Pertama mengenakan celana jins model pensil ala Cangcuter. Toeng!!! Sama sekali bukan pakaian yang pantas untuk naik gunung karena celana yang ngepres body itu bisa mengganggu aliran darah saat melakukan pendakian. Saya memang bukan ahli kesehatan, tetapi percaya deh…. kita yang biasa hidup di dataran rendah akan sedikit mengalami kesulitan saat berada di dataran tinggi karena suhu, tekanan udara, serta kadar oksigen di gunung dengan di dataran rendah jauh berbeda sehingga baju-baju press body sangat tidak disarankan untuk digunakan.

Ada lagi yang mengenakan high heels model weidgest!!! HADUH…… Memangnya jalanan gunung sama dengan catwalk??? Pake weidgest?? ini beneran loh ya… Saya berpapasan dengan mbak-mbak yang mengenakan weidgest sebagai alas kakinya. Mungkin niatnya memang tidak hendak mendaki hingga puncak, tapi please dehhh…. masa iya pake weidgest??? 😦

Terus ada lagi yang super ajaib… Seorang anak muda mendaki tanpa membawa bekal konsumsi. Yang dia bawa adalah uang tunai sebanyak 5 juta rupiah!! WHATTTTTT????? Tidak bawa konsumsi, hanya uang 5 juta! Kalo ada pendapat “Loh…kan gak papa… duitnya bisa dibuat beli konsumsi di atas gunung” maka saya akan menjawab “kenapa gak sekalian aja duitnya itu dimakan??”. Heran dehhh…. ngapain bawa uang tunai 5 juta tanpa membawa bekal makanan??? Memangnya di puncak gunung ada orang jualan?? Ada sih.. penjual belerang.. kalo mau silahkan beli dan makan tu belerang!!Kalau maksudnya untuk biaya transportasi, kenapa gak bawa bekal coba? Memangnya saat itu kami sedang mendaki Alpen (hope for that 😉 ) sehingga butuh uang 5 juta untuk kembali ke tanah air???

Ya ampun… inilah yang sampai sekarang masih membuat saya senyum-senyum sendiri jika mengingat perjalanan di Welirang.

Mungkin benar kata orang bahwa kita akan menemukan hal-hal aneh saat mendaki gunung. Contohnya adalah bertemu pendaki yang membawa uang saku 5 juta rupiah plus mengenakan weidgest…. So real, so funny 🙂