Juventus, Campiano d’ Inverno 2011-2012 —–> Scudetto

Menaklukkan Atalanta di pekan terakhir paruh pertama dengan 2 gol membuat Juventus kokoh di puncak klasemen sementara serie A. Tetap capolista sekaligus menjadi juara paruh musim. Campiano d’ Inverno

Grazie Lichsteiner e Giaccherini 😉

Kelegaan telah saya hembuskan di paruh pertama musim ini. Semoga saja kelegaan ini bisa terus bertahan hingga akhir musim. Hingga scudetto benar-benar menjadi milik The Old Lady. Masih ada 18 pertandingan lagi. Pertandingan yang mungkin saja jauh lebih berat daripada paruh pertama karena sepertinya tim-tim lain memiliki ambisi untuk menjegal Juventus. Mereka pasti ingin memecahkan telur tak terkalahkan Juventus di serie A. Satu-satunya tim yang belum tersentuh kekalahan… Alhamdulillah… dan semoga saja rekor ini bisa bertahan lama.. kalau perlu hingga akhir musim… Hingga scudetto benar-benar menjadi milik The Old Lady 🙂

Ayo ayo Juve… terus pertahankan Lo Spiritto Juventus untuk Scudetto….. Tetap rendah hati di setiap pertandingan (nasehat untuk saya 😉 ), tetapi tetap semangat untuk menang!!!

Forza Juventus……. Ieri…Oggi… Domani… Sempre…..

Sedikit Mengobati Kangen Makanan di Kampung

Mencari-cari yang namanya rujak cingur di daerah Surabaya, khususnya Surabaya timur atau lebih tepatnya yang deket dengan area kampus saya, susah susah gampang. Banyak yang jual, tetapi seperti yang pernah saya katakan sebelumnya…. rasanya kurang ok. Tidak pas. Tidak seperti rasa rujak cingur yang saya temukan di kampung halaman.

Tapi, dari semua kios rujak cingur yang dekat dengan kampus saya….. Saya bisa merekomendasikan satu… Warung rujak cingur yang ada di kawasan Mulyosari. Alamat lengkapnya sih saya tak tahu ( 😉 ). Pokoknya daerah Mulyosari. Kalau dari arah Kenjeran, di kanan jalan… beberapa meter setelah belokan pertigaan ke arah Unair kampus C. Kalau dari arah ITS, kiri jalan sebelum belokan pertigaan ke arah Unair kampus C. Duuhhh… piye yo ngomongnya….. Pokoknya Mulyosari lah…

Rujak cingur di sana lumayan. Porsinya juga tidak tanggung-tanggung lohhh…. cukup banyak kata Puput dan sangat banyak kata saya 🙂

Warungnya sih tidak sebesar resto-resto modern….. Hanya sebuah etalase kaca kecil tempat bahan rujaknya dan sebuah meja yang juga tidak besar sebagai tempat ulekan serta peralatan lainnya. Tempat makan di sanapun hanya cukup untuk lima orang seukuran tubuh saya dan itupun harus desek-desekan. Tapi… semua yang serba minimalis itu terbayar dari rasa rujaknya yang maksimalis.

Harganya?? 8 ribu rupiah untuk satu porsi. Standarlah untuk harga rujak cingur di kota sebesar ini. Bahkan menurut saya harganya terbilang murah karena sama dengan harga rujak cingur di kampung saya.

Sayangnya saya tak bisa mendokumentasikan si pemilik warung karena ia tak mau dipoto. Mau coba curi-curi motret, tapi gagal lantaran saya sibuk dengan urusan menikmati sepiring rujak. Setidaknya cukup untuk mengobati rasa kangen akan makanan kampung…..

Para Manusia Kampus yang Kerap Kali menjadi Partner Saya saat Makan Rujak Cingur