Akhir Kisah Antara Saya Dengan Nicky


26 Januari 2012 (17.30 WIB)
Salah satu teman saya datang ke kosan untuk mengantarkan selembar surat bebas KOPMA milik saya. Dia juga mengunjungi saya di H -18 jam sidang TA dengan menyodorkan kisah sidang TA nya yang berlangsung tiga hari sebelumnya. Sebenarnya saya yang menginginkan dia menceritakan bagaimana sikap dosen-dosen pengujinya itu. Menuturkan pertanyaan apa saja yang ditanyakan oleh dosen pengujinya supaya saya bisa menerka-nerka pertanyaan apa yang akan mereka berikan besok karena komposisi dosen penguji antara saya dan teman saya itu sama.
Dia mengatakan bahwa terjadi kekacauan dan cek-cok antara dosen penguji di hadapannya. Dosen penguji dan pembimbingnya adu argumen dimana si pembembing akhirnya menjadi bete’. Adu argumen itu berujung pada penggatian pembahasannya. Revisi pembahasan. Saya mendengarkan dengan seksama plus berfikir keras bagaimana caranya untuk menghindari adu argumen antar penguji atau penguji vs pembimbing.
Saat saya menanyakan adu argumen itu terjadi antara siapa dengan siapa, dia tersenyum sambil menjawab “Pembimbingmu”. Dan kemudian saya tak bisa berfikir lagi. Saya diam saja kemudian meneguk segelas air putih.
26 Januari 2012 (19.00 WIB)
Saya masih duduk di atas kasur tanpa banyak aktifitas. Hanya mengamati suasana kamar. Buku-buku catatan kuliah sejak zaman semester muda terbuka lebar dan mendekorasi setiap sudut lantai. Di atas kasur, jurnal-jurnal ilmiah terbentang dengan manisnya. Text book yang penuh warna stabillo pun ikut tersenyum pada saya meskipun tak sedikitpun saya tersenyum padanya.
Kemudian tiba-tiba saya menyadari bahwa selama beberapa semester terakhir buku-buku catatan, jurnal-jurnal dan text book itu sudah sangat saya perlakukan dengan baik. Saya tak pernah mengabaikan mereka. Saya tak pernah melupakan keberadaan mereka. Jadi, kenapa sekarang saya menjadi galau hanya karena beberapa jam dalam sehari yang masih akan terjadi besok? Catatan-catatan, jurnal, dan text book itu pasti bisa membantu saya. Mereka tidak akan meninggalkan saya. Buktinya si text book tersenyum manis meskipun wajah saya cembetut dengan kening berkerut-kerut. Untuk apa saya merenungkan cerita kawan saya? Besok kan sidang TA saya, bukan sidang TA nya…..
Baiklah….. Besok ya besok…. Karena merasa otak sudah tak mampu lagi menambah beban, hal yang saya lakukan adalah memotret-motret kondisi kamar yang mirip Costa Concordia pasca karam kemudian merapikan buku-buku, jurnal, dan catatan yang saya prediksi tak saya perlukan untuk besok.
26 Januari 2012 (22.30 WIB)
Teman saya yang tadi sore itu mengirimi saya SMS. Isinya adalah “Mei, jangan begadang. Mendingan tidur buat besok”.
Hemmm… maunya sih begitu… Maunya adalah memejamkan mata untuk menata posisi materi yang ada di dalam tempurung kepala ini supaya saat materi itu dibutuhkan saya mudah mendapatkannya. Tapi sayangnya semakin saya memejamkan mata, semakin sulit saya bernafas. Gak tahu kenapa rasanya dada ini sesak.
Akhirnya sepanjang malam itu saya terjaga sembari membaca-baca sesuatu yang ringan dengan sesekali diselingi bacaan kuliah. Saat bosan, konek internet untuk main-main di jejaring sosial. Sedikit adu kata dengan seorang teman melalui twitter dan status FB. Lalu beranjak untuk menuliskan ‘beberapa’ sesuatu di blog. Namun ternyata si blog sedang tidak ingin diajak bermain.
Jadilah semalaman itu hanya membaca-dan membaca.
27 Januari 2012 (05.00 WIB)
Semua barang yang hendak saya bawa sudah siap. Tinggal angkut lah. Kemudian, saya membuka lemari untuk mengeluarkan kostum sidang yang sudah saya persiapkan (kira-kira delapan bulan yang lalu). Uuhhhhh… ternyata oh ternyata saya lupa bahwa jilbab yang akan saya pakai masih menggantung di jemuran. Baru saya cuci kemarin dan belum disetrika. Inilah untungnya mempersiapkan sesuatu sebelum H-1 jam acara, meminimalisirkan kelupaan sesuatu. Dan saat mengingat akan sesuatu yang nyaris terlupa itu, segera siapkan. Tak perlu menunggu nanti dan nanti karena penundaan sekali setelah kita (saya) ingat akan berujung pada penundaan selamanya alias gak dikerjain.
27 Januari 2012 (07.30 WIB)
Mandi pagi.
27 Januari 2012 (08.30 WIB)
Melakukan pengecekan ulang untuk yang entah ke berapa kalinya. Tak tahulah. Saya merasa ada sesuatu yang kurang. Ada hal yang masih mengganjal, tetapi saya tak tahu apa itu. Cek satu-persatu semua yang harus saya bawa..
•    Leno Ok
•    Flashdisk OK
•    All HP silence (no vibrate)
•    Kostum Ok
•    Buku, jurnal, & catatan penting siap
•    Konsumsi tinggal ambil di depan kos
•    Minuman dibawain Intan
•    Form penilaian untuk ketua sidang aman
Ya… semuanya Ok. Insya Allah.
27 Januari 2012 (10.00 WIB)
    Saya meluncur ke kawasan kampus ITS dengan adik saya. Selama perjalanan, tak ada satupun dialog yang terjadi antara saya dan Intan. Dia mengemudiakan motor dengan diam dan saya duduk di belakang sopir dengan tenang.
    Acara sidang memang masih pukul 13.00 WIB. Tapi prinsip saya adalah datang ke suatu acara maksimal H-1 jam sebelum acara tersebut dimulai. Saat saya masih ngekos di dekat kampus saya selalu berangkat pukul 06.30 jika kuliah dimulai pukul 07.30, masa iya saat ngekos jauh dari kampus seperti sekarang berangkat dengan rentang waktu yang sama seperti saat kuliah?
27 Januari 2012 (10.30 WIB)
    Saya dan Intan berada di dalam kamar kos Puput. Beberapa saat setelah saya menyelonjorkan kaki, hujan turun. Tidak diiringi dengan kilat dan petir memang, tetapi cukup deras untuk membuat saya basah kuyup. Ahh… seandainya saja saya tak berangkat lebih awal…. mungkin saya akan terjebak hujan di pinggir jalan karena Intan yang entah mengapa sudah saya ingatkan berkali-kali tidak meletakkan jas hujan di jok motor. Padahal saya punya dua jas hujan dan semuanya berada di tempat adik saya.
    Uhhh…. kata orang hujan itu adalah berkah dariNya. Semoga saja hujan ini pertanda akan diberkahiNya sidang TA saya.
27 Januari 2012 (12.30 WIB)
    Saya sudah berada di dalam ruangan pembantaian. Semuanya sudah siap. Konsumsi telah berjajar rapi di atas meja para penguji. Leno telah menyala dan terhubung dengan LCD proyektor dan siap membantu saya mempresentasikan hasil TA yang hampir berakhir ini. Namun kemudian saya ingat satu hal. Satu hal yang sebenarnya dari tadi menggajal pikiran saya. Handout presentasi yang sudah saya print dan siapkan tertinggal.
    Ya ya ya…. padahal saya sudah merasa sangat berhati-hati dan melakukan pengecekan berkali-kali, tetapi tetap ada yang terlupa. Handout itu tidak wajib memang. Tetapi setiap saya melakukan presentasi pada semua kelas kuliah yang saya ikuti, handout itu adalah salah satu properti yang sakral. Dan sekarang, handout ppt itu hanya tinggal cerita…. tergeletak di atas meja kamar kos saya.
    Sudahlah… mau bagaimana lagi…. Semoga saja nilai presentasi saya tidak berkurang hanya gara-gara tidak membagikan handout pada penguji. Semoga tak ada hal lain lagi yang saya lupakan sehingga presentasi bisa berjalan lancar.
27 Januari 2012 (13.00 WIB)
Hanya ada seorang penguji yang telah siap di ruang sidang. Seperti biasa… Terlambat datang alias ngaret.
27 Januari 2012 (13.30 WIB)
Saya diminta keluar ruang sidang. Tak sampai 2 menit, ketua sidang kembali memyuruh saya masuk. Dengan Bismillah, saya melangkahkan kaki ke dalam ruangan yang telah berisi empat orang penguji.
Ya… hanya empat orang. Pembimbing saya belum berada di dalam ruang sidang. Possitive thinking. Itulah yang saya lakukan. Pasti beliau masih shalat dhuhur. Dan saya tak mau pikiran ini terlalu mengganggu konsentrasi saya. Biarkan sajalah…. yang perlu saya lakukan adalah fokus. Saya tak mau kejadian 27 Desember 2010  terulang. Saat itu saya kehilangan konsentrasi lantaran terlalu memikirkan ketidakhadiran pembimbing pada saat seminar proposal TA yang pada akhirnya saya tak bisa memberikan jawaban maksimal untuk pertanyaan yang diajukan penguji. Pertanyaan yang seharusnya bisa saya jawab karena saya tahu.
27 Januari 2012 (13. 40 WIB)
Pintu ruang sidang terbuka. Saya melihat pintu itu terbuka, tetapi saya tetap fokus pada apa yang saya presentasikan. Saya semakin fokus saat mengetahui bahwa seseorang yang masuk ruang itu adalah pembimbing saya.
Alhamdulillah… beliau tidak melupakan bahwa sekarang ini saya tengah melakukan sidang TA. Tengah bergelut dengan perjuangan untuk menuntaskan masa strata satu ini.
27 januari 2012 (13 45 WIB)
Presentai selesai. Saatnya menjawab pertanyaan yang akan diberikan penguji. Lalu saya menoleh ke arah kursi pembimbing saya. Kosong. Hanya ada naskah TA saya di atas meja beliau.
Lohh….. kok ibunya menghilang ya? Kok cepet banget ilangnya? Padahal saya presentasi tak lebih dari 10 menit. Yang saya herankan lagi adalah saya tidak mengetahui kapan pembimbing saya itu keluar ruangan. Atau jangan-jangan beliau bisa berdisapparate seperti Harry Potter dan teman-temannya? Ya Ampun… saya ditinggal lagi… Beliau tidak lupa akan sidang TA saya, hanya tidak datang. 😦
Ok Ok… Tetap fokus!!!
27 januari 2012 (14.00 WIB)
Ya Tuhan…. buat saya tenang. Kenapa sih tiba-tiba jadi tegang begini?? Padahal penguji saya tidak marah-marah. Mereka tidak memasang tampang serem. Tidak ada pula yang membawa parang atau golok. Kenapa saya jadi tegang? Ya ampun, Mei….. santai… pertanyaan itu bisa kok kamu jawab… Just relax!!!
Aduuhhhh… kenapa pake kebelet pipis juga sihhh…. Gimana ini….. Fokus Fokus Fokus…
Dear Pipis,.. Tahan sebentar ya…. Janji, gak sampe 1 jam kok. Please… jangan buru-buru keluar ya pipis!
27 Januari 2012 (14.45 WIB)
Saya dipersilahkan meninggalkan ruangan yang berarti acara tanya jawab sudah selesai. Sekarang waktunya penguji berdiskusi untuk menentukan kelulusan saya.
Tak sampai dua menit saya di luar, ketua sidang memanggil saya untuk kembali masuk ruangan.
Kemudian ketua sidang saya melontarkan pertanyaan “Kamu mau minta nilai berapa?”
What??? Ini benar-benar pertanyaan yang sangat tidak saya suka dan saya sama sekali tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan tersebut. Pertanyaan itu sama halnya dengan pertanyaan ‘Berapa besarnya gaji yang kamu minta’ saat interview kerja. Pertanyaan menjebak dan lebih bersifat psikis. Belum kerja udah minta gaji? Yang bener aja… Dan jawaban saya selama sidang tadi belum tentu bernilai di mata mereka, kalau saya minta nilai… apa kata dunia? Maka jawaban saya adalah ‘Saya pasrah, Bu. Yang berhak menilai itu penguji’.
Lalu kemudian si Ibu ketua sidang berkata; “Karena penelitianmu yang di Jogja gak berhasil mendingan kamu kembali ke Jogja ya”. Lalu penguji saya yang lain menimpali, “Sekolah lagi, Mei”. Dan si ketua sidang menambahkan, “balik lagi ke Jogja untuk Mastermu
Perasaan saya saat itu adalah biasa saja. Serius. Tak ada sesuatu yang spesial. Tak ada hal yang luar biasa. Hanya sekedar lega karena telah menyelesaikan sidang TA. Dan saya tahu bahwa saya lulus. Saya pun tahu skenario seperti apa yang akan dikatakan untuk mengumumkan kelulusan setiap mahasiswa. Si dosen awalnya akan berkata sok serius seakan-akan mahasiswanya tak lulus hanya untuk membuat mahasiswanya tegang atau mungkin menangis dan kemudian kata ‘Lulus’ dianalogikan dengan kata-kata lain seperti ‘Kamu sudah tidak layak menjadi mahasiswa S1’ atau ‘Meskipun kamu kurang optimal, kamu bisa mengikuti wisudah semester ini’. Ya Tuhan…. kenapa sih saya tidak dibiarkan seperti teman-teman saya yang lain. Kenapa tak membiarkan saya tidak mengetahui hasilnya sehingga ada perasaan spesial seperti kata teman-teman saya yang lain bahkan diantara mereka ada yang menitikkan air mata. Uhhh….. saya merasa tidak normal!
Saking datarnya ekspresi saya, saya hanya berdiri terpaku di depan meja penguji yang mulai berdiri. Dodolnya saya ini….. aturan mainnya adalah setelah pengumuman kelulusan mahasiswa harus menghampiri semua penguji untuk mencium tangan mereka sembari mengucapkan terimakasih sebelum penguji beranjak dari kursinya. Namun yang saya lakukan adalah menatap mereka satu persatu-satu dimana kemudian salah satu penguji menyodorkan telapak tangannya pada saya. Dan itu adalah sinyal yang membuat saya sadar bahwa saya harus menghampiri para penguji untuk mencium telapak tangan mereka. Lalu dengan kesadaran yang mendadak dan setengah sadar itu saya menjabat tangan penguji. Ya… Menjabat tangan!!! Apa-apaan sih saya ini!!! Jabatan tangan???!!! Memangnya mereka teman main saya?? Astaghfirullah… maaf Ya Allah.. Maaf bapak Ibu Penguji… bukan maksud saya tidak sopan, tetapi itu semua benar-benar di luar alam sadar saya… sifatnya otonom…Tak bisa saya kendalikan….. 🙂
Sudahlah… semuanya sudah berakhir. Tidak peduli pembimbing saya tidak datang, tidak peduli saya tahu skenario pengumuman kelulusan, dan tidak peduli pada ekspresi saya yang datar saat pengumuman. Yang penting sidang TA ini telah selesai dan syukurlah saya tak harus mengganti pembahasan seperti beberapa teman saya.
Inilah akhir cerita saya bersama Nicky. Jaringan hidup yang berusaha saya jadikan makhluk hidup seutuhnya. Saya memang belum berhasil membuat Nicky tumbuh dengan sempurna, tetapi setidaknya saya bisa memperlihatkan pada Nicky apa itu hidup.
Hidup itu adalah perjuangan. Saya berjuang untuk menghidupkan Nicky sementara Nicky berjuang untuk hidup di lingkungan yang kurang bersahabat dengannya. Sekarang, perjuangan pertama berakhir. Saatnya menyambut perjuangan-perjuangan lain yang tengah mengantri untuk masuk ke dalam catatan harian saya.
Mungkin salah satunya adalah Strata 2 atau penguji saya menyebunya sebagai Master. Tapi maaf ibu dan bapak penguji… Insya Allah Master saya di London. Amin 🙂

Alhamdulillah, ya Allah….. saya diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari populasi di kampus ini. Semoga saja ilmu yang saya dapatkan tidak berhenti pada sebuah naskah setebal 56 halaman. Jika Kau mengizinkan…. biarkan saya terus belajar untuk mengejar mimpi itu dan menyebarkan ilmu yang tak banyak ini pada mereka yang membutuhkan.
Kept Fighting and moving foward!!!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s