Mom & Kids at Mall

Kalo sedang jalan-jalan di mall atau pasar atau toko-toko, pernahkah kalian melihat ibu-ibu yang juga mengajak anaknya khususnya balita? Lalu pada umunya yang kalian lihat pasti adegan si ibu sedang asik memilih-milih barang sementara si anak memegang tangan atau baju emaknya sembari melihat-lihat sekitar.

Kemudian, saat si anak mulai bosan lantaran ibunya terlalu sibuk bertransaksi… ia akan mulai mencari aktivitas yang membuatnya tertarik. Entah itu berlari-lari atau menyentuh-nyentuh barang yang ia lihat. Atau mengobrak-abrik tumpukan baju dan sepatu.

Selanjutnya ketika si ibu menyadari anaknya ‘mulai berulah’, si ibu akan beraksi:

  1. memanggil nama anak mereka
  2. memelototi si anak
  3. menggenggam erat tangan si anak
  4. memberikan siraman rohani pada si anak, seperti “Mama kan udah bilang… kalo mau ikut gak boleh nakal!! Dasar bandel!!”
  5. Mencubit si anak dan segera meninggalkan tempat tersebut

Kalaupun ada anak yang tetap diam di samping emaknya yang tengah memilih-milih barang, saya duga si anak memang anak baik yang selalu patuh pada orang tua atau si anak benar-benar takut akan ancaman sang bunda jika ‘membuat onar’.

Tapi hari ini saya melihat peristiwa yang tidak biasa. Tidak biasa saya lihat di kota-kota besar. Saya yang sedang menunggu kakak saya yang tengah sibuk mengitari toko untuk mencari sandal suaminya melihat sepasang ibu dan anak. Usia si anak sekitar 3 tahun dan aktifnya luar biasa. Dia berlari-lari mengitari toko sembari tertawa-tawa. Ok…masih wajar.

Kemudian tiba-tiba saja, si adek menghampiri salah satu etalase sepatu yang ada di depan saya dan mengambil sanggahan sepatu yang biasanya digunakan toko-toko untuk memajang contoh sepatu yang dijual. Si anak duduk di lantai dan mulai memainkan sanggahan sepatu yang ia ambil.

Kemudian si adek (yang kemudian saya tahu bernama Mano), meninggalkan sanggahan sepatu tersebut berserakan di lantai untuk kembali berlari-lari mengitari toko plus menjatuhkan beberapa sepatu yang dipajang. Ekspresi si ibu adalah tersenyum melihat aksi putranya, kemudian dia membereskan sanggahan sepatu yang berserakan di lantai dan mengembalikan sepatu yang ‘disenggol’ putranya ke tempat semula.

Setelah itu si ibu mengikuti aksi anaknya… seolah-olah mereka main kejar-kejaran. Tidak ada omelan. Tidak ada mata melotot. Tidak ada cubitan.

itulah yang seharusnya dilakukan oleh emak-emak yang membawa balita mereka shopping!! Konsekuensi seorang ibu. Pusat perbelanjaan bukan tempat bermain balita dan jika memang ingin membawa balita ngemall harus tahu apa yang akan dilakukan ‘monster kecil’nya itu.

Saya memang tidak mengenal pasangan ibu dan anak tadi, but two thumbs up for her…. She’s Such a good mother!!  🙂 Saya yakin… masih banyak ibu-ibu lain sepertinya. Dan saya harap si mbak (ibu) bisa tetap menjadi ibu yang baik bagi anaknya sampai kapanpun ia diberi hidup olehNya!! 

P.S: Maaf ya mbak saya motret gak bilang-bilang 😉

Adek Mano yang Asik dengan Kreasinya 🙂

one of the good Mother in the world

Mom & Kids 🙂

Juventus, Campiano d’ Inverno 2011-2012 —–> Scudetto

Menaklukkan Atalanta di pekan terakhir paruh pertama dengan 2 gol membuat Juventus kokoh di puncak klasemen sementara serie A. Tetap capolista sekaligus menjadi juara paruh musim. Campiano d’ Inverno

Grazie Lichsteiner e Giaccherini 😉

Kelegaan telah saya hembuskan di paruh pertama musim ini. Semoga saja kelegaan ini bisa terus bertahan hingga akhir musim. Hingga scudetto benar-benar menjadi milik The Old Lady. Masih ada 18 pertandingan lagi. Pertandingan yang mungkin saja jauh lebih berat daripada paruh pertama karena sepertinya tim-tim lain memiliki ambisi untuk menjegal Juventus. Mereka pasti ingin memecahkan telur tak terkalahkan Juventus di serie A. Satu-satunya tim yang belum tersentuh kekalahan… Alhamdulillah… dan semoga saja rekor ini bisa bertahan lama.. kalau perlu hingga akhir musim… Hingga scudetto benar-benar menjadi milik The Old Lady 🙂

Ayo ayo Juve… terus pertahankan Lo Spiritto Juventus untuk Scudetto….. Tetap rendah hati di setiap pertandingan (nasehat untuk saya 😉 ), tetapi tetap semangat untuk menang!!!

Forza Juventus……. Ieri…Oggi… Domani… Sempre…..

Sedikit Mengobati Kangen Makanan di Kampung

Mencari-cari yang namanya rujak cingur di daerah Surabaya, khususnya Surabaya timur atau lebih tepatnya yang deket dengan area kampus saya, susah susah gampang. Banyak yang jual, tetapi seperti yang pernah saya katakan sebelumnya…. rasanya kurang ok. Tidak pas. Tidak seperti rasa rujak cingur yang saya temukan di kampung halaman.

Tapi, dari semua kios rujak cingur yang dekat dengan kampus saya….. Saya bisa merekomendasikan satu… Warung rujak cingur yang ada di kawasan Mulyosari. Alamat lengkapnya sih saya tak tahu ( 😉 ). Pokoknya daerah Mulyosari. Kalau dari arah Kenjeran, di kanan jalan… beberapa meter setelah belokan pertigaan ke arah Unair kampus C. Kalau dari arah ITS, kiri jalan sebelum belokan pertigaan ke arah Unair kampus C. Duuhhh… piye yo ngomongnya….. Pokoknya Mulyosari lah…

Rujak cingur di sana lumayan. Porsinya juga tidak tanggung-tanggung lohhh…. cukup banyak kata Puput dan sangat banyak kata saya 🙂

Warungnya sih tidak sebesar resto-resto modern….. Hanya sebuah etalase kaca kecil tempat bahan rujaknya dan sebuah meja yang juga tidak besar sebagai tempat ulekan serta peralatan lainnya. Tempat makan di sanapun hanya cukup untuk lima orang seukuran tubuh saya dan itupun harus desek-desekan. Tapi… semua yang serba minimalis itu terbayar dari rasa rujaknya yang maksimalis.

Harganya?? 8 ribu rupiah untuk satu porsi. Standarlah untuk harga rujak cingur di kota sebesar ini. Bahkan menurut saya harganya terbilang murah karena sama dengan harga rujak cingur di kampung saya.

Sayangnya saya tak bisa mendokumentasikan si pemilik warung karena ia tak mau dipoto. Mau coba curi-curi motret, tapi gagal lantaran saya sibuk dengan urusan menikmati sepiring rujak. Setidaknya cukup untuk mengobati rasa kangen akan makanan kampung…..

Para Manusia Kampus yang Kerap Kali menjadi Partner Saya saat Makan Rujak Cingur

Roaming Bahasa ala Pembantu

Suatu minggu sore saya menonton idola cilik 2 di RCTI (ups…maaf sebut merk). Acara itu memang tontonan rutin bagi saya serta penghuni kos yang lain. Maklumlah , kami memerlukan hiburan ringan yang tak ada kaitannya dengan sinetron stripping. Saya dan teman-teman (beberapa) sepakat bahwa acara tv saat ini terlalu dipenuhi oleh wajah-wajah glamor yang menipu alias sinetron. So, aksi anak-anak idola cilik menjadi penawar sakit perut kami karena basinya acara-acara tv.
Kebetulan minggu itu saya hanya menonton bersama mbk Yanti, pembantu di kosan.

Walaupun begitu dia hebat. Buat yang suka meremehkan para pembantu, harus hati-hati dengan mbk Yanti. Dia betul-betul luar biasa. Kalo bahasa kerennya multitalent. Masakannya lezat. Mbk yanti bisa memasak berbagai macam masakan. Rawon, soto, captjai, nasi goreng, tempe bacem, ayam bakar,  tumis kangkung, sambal terasi… pokoknya semua masakan luluh oleh tangan mbk Yanti. Selain memasak , mbk Yanti juga berbakat jadi tukang kebun, semua tanaman di halaman kos rapi dan sedap dipandang. Pekerjaan menyapunya juga sempurna. Bisa angkat berat juga loh! Kalau hanya ngangkat gallon seperti ibu-ibu di salah satu iklan komersial televisi sih biasa. Mbk Yanti bisa mengangkat motor bapak kos dari halaman depan sampai garasi. Padahal motornya dikunci setir. Hebat bukan?

Baiklah…. Mbk Yanti memang tokoh penting dalam cerita ini , tetapi bukan tulisan di atas yang ingin saya ceritakan.
Kembali pada Idola Cilik 2.
Setelah menonton berdua dan menebak-nebak siapa yang akan tinggal kelas (tereliminasi) , di tengah-tengah acara Mery, salah satu teman kos, datang dan bergabung bersama kami. Beberapa saat kemudian , Mery yang notabenenya memang tidak terlalu mengikuti acara ini bertanya pada mbk Yanti ,
Yang tajir mana , Mbk?
Sebenarnya saya  hendak menjawab pertanyaan itu. Akan tetapi , mbk Yanti mendahului dan menjawab dengan lantang
Tajir? Gak ada yang namanya tajir , Mbk. Adanya Cahya , Cakka , Oik , Bastian…………”
Saya: “######@@@@@@@#####?????” menganga dan rasanya jantung ini berhenti berdetak karena mendengar mbk Yanti menyebutkan nama-nama peserta Idola Cilik 2.
Hah? Maksudku yang anak orang kaya , Mbk!” , kata Mery meralat pertanyaannya.
Oalahh….aku pikir tanya nama. Ngomong to Mbk dari tadi” , jawab mbk Yanti dengan tampang polos.
Saya: Masuk kamar mandi… ambil wudhu… masuk kamar… shalat ashar… lalu tertawa cekikikan!!

……………………………………………………………………………………………………………………………………

Setelah insiden mbk Yanti dan “tajir” , saya kembali disuguhi percakapan kocak yang tokoh utamanya tentu saja kawan senasib sepenanggungan dengan mbk Yanti. Kali ini berlangsung di rumah salah satu kakak saya.
Sore itu kakak saya tengah menonton televisi sembari menemani putrinya bermain. Mbk As, pembantu kakak saya, berada diantara mereka. Muncullah sebuah dialog yang diawali oleh pertanyaan mbk As “Bu , saya kepingin punya Hp. Kira-kira harganya berapa ya?”

Kakak Saya: “Mbk maunya Hp seperti apa? Harganya macem-macem , mbk”

Mbk As: “Ya…yang penting bisa telepon dan sms , Bu” menimpali sambil tersenyum.
Kakak Saya: “Kalo yang biasa murah kok, Mbk. Dua ratus ribu sudah bisa dapat, tapi bekas”
Mendengar perkataan kakak saya, mbk As hanya mengangguk-angguk takzim.

“Gimana kalo beli yang baru aja , Mbk? Ada kok yang murah”, Kata kakak saya tiba-tiba karena melihat mbk As terlihat berfikir keras (entah mikir entah ngapain, saya kurang bisa memastikan ekspresinya)
“Harganya berapa , Bu?”, tanya mbk As menimpali perkataan kakak saya.
Kakak Saya: “Bisa empat ratus ribu… ada juga kok yang tiga ratus ribu”  
“Tapi bisa sms kan , Bu?” , Mbk As kembali bertanya dengan ekspresi tanpa dosanya.
Kali ini kakak saya tidak langsung menjawab. Sementara saya mulai cekikikan di dalam kamar, saya mendengar kakak saya mengatur nafasnya. Menghirup udara banyak-banyak dan menghembuskan nafas panjang.
“Bisa kan , Bu?” , mbk As mengulangi pertanyaannya.
“Bisa”,  jawab kakak saya singkat.
Kemudian , kakak saya kembali berkata , “Beli yang nokia aja , mbk. Makenya lebih gampang. Awet dan kalo mau dijual lagi gak terlalu jatuh”
“ya, kalo megangnya bener kan ndak mungkin jatuh, Bu. Nanti saya beli tempatnya sekalian biar kalo jatuh ndak langsung rusak”.
“HHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH”, saya  kembali mendengar hembusan nafas panjang ibunda si Ais.
Sepertinya tulalit mbk As mulai. Dan sepertinya sebentar lagi kakak saya akan mengakhiri percakapan tersebut karena kesal.
“Beli yang tipe supernova aj , mbk. Bagus kok”, kata kakak saya yang masih bisa menahan emosinya.
Mbk As membisu mendengar penjelasan majikannya itu. Selama beberapa saat mbk As terdiam, seperti memikirkan sesuatu. Dan tiba-tiba saja dia bergumam pelan tetapi cukup untuk menembus gendang telinga saya yang berada di kamar,
“Hp kok mereknya supra. Kayak motor ibu aja!”
Jeddddennnnggggg……… kakak saya segera mematikan televisi dan masuk ke kamar mandi. Saya sendiri hanya bisa membisu dan memikirkan apa yang kakak saya lakukan di dalam kamar mandi. Mungkinkah ia mencoba menenggelamkan diri di dalam bak mandi??? 😉

————————————————————————————————————————————–

Apakah semua pembantu bermasalah dengan kosa-kata? Maybe. Masih adakah mbk Yanti dan mbk As lain yang tersebar di seluruh negeri ini? Saya fikir kata tajir telah lama bergaung di tanah ini. Namun, masih saja ada makhluk seperti mbk Yanti yang sama sekali tidak mengerti maksudnya. Jika memang masih ada mbk Yanti dan mbk As lainnya, saya harap suatu saat nanti jalan hidup mereka berubah. Kalaupun tidak, semoga mereka mendapatkan seorang majikan yang sabar, baik hati, ramah dan tidak sombong. Karena saya yakin tidak semua orang diberi bakat untuk menahan emosi yang ditimbulkan oleh roaming bahasa.

Tuhh kan… masalahnya tetap saja roaming bahasa…. 🙂

(Catatan 4 April 2009)

Cerita Lain Di Welirang

Mengingat waktu ‘jalan-jalan’ ke tanah Welirang beberapa pekan lalu…..

Saya kira saya adalah manusia paling awam untuk menjamah gunung. Tapi ternyata sesampainya di sana saya menemukan cerita ajaib yang sama sekali tak pernah saya bayangkan akan dilakukan seseorang yang disebut pendaki. Bahkan saya yang awampun tak akan pernah melakukannya.

Pertama mengenakan celana jins model pensil ala Cangcuter. Toeng!!! Sama sekali bukan pakaian yang pantas untuk naik gunung karena celana yang ngepres body itu bisa mengganggu aliran darah saat melakukan pendakian. Saya memang bukan ahli kesehatan, tetapi percaya deh…. kita yang biasa hidup di dataran rendah akan sedikit mengalami kesulitan saat berada di dataran tinggi karena suhu, tekanan udara, serta kadar oksigen di gunung dengan di dataran rendah jauh berbeda sehingga baju-baju press body sangat tidak disarankan untuk digunakan.

Ada lagi yang mengenakan high heels model weidgest!!! HADUH…… Memangnya jalanan gunung sama dengan catwalk??? Pake weidgest?? ini beneran loh ya… Saya berpapasan dengan mbak-mbak yang mengenakan weidgest sebagai alas kakinya. Mungkin niatnya memang tidak hendak mendaki hingga puncak, tapi please dehhh…. masa iya pake weidgest??? 😦

Terus ada lagi yang super ajaib… Seorang anak muda mendaki tanpa membawa bekal konsumsi. Yang dia bawa adalah uang tunai sebanyak 5 juta rupiah!! WHATTTTTT????? Tidak bawa konsumsi, hanya uang 5 juta! Kalo ada pendapat “Loh…kan gak papa… duitnya bisa dibuat beli konsumsi di atas gunung” maka saya akan menjawab “kenapa gak sekalian aja duitnya itu dimakan??”. Heran dehhh…. ngapain bawa uang tunai 5 juta tanpa membawa bekal makanan??? Memangnya di puncak gunung ada orang jualan?? Ada sih.. penjual belerang.. kalo mau silahkan beli dan makan tu belerang!!Kalau maksudnya untuk biaya transportasi, kenapa gak bawa bekal coba? Memangnya saat itu kami sedang mendaki Alpen (hope for that 😉 ) sehingga butuh uang 5 juta untuk kembali ke tanah air???

Ya ampun… inilah yang sampai sekarang masih membuat saya senyum-senyum sendiri jika mengingat perjalanan di Welirang.

Mungkin benar kata orang bahwa kita akan menemukan hal-hal aneh saat mendaki gunung. Contohnya adalah bertemu pendaki yang membawa uang saku 5 juta rupiah plus mengenakan weidgest…. So real, so funny 🙂

Fighting For ‘WISUDA’

Tiba-tiba saja menemukan sesuatu’ dari beranda facebook salah satu teman. Gambar yang menohok sebenarnya, tetapi menyulut emosi semangat yang telah membara….

🙂 SEMANGAT!!!!

Harus yakin bisa! Tidak ada alasan batuk pilek, WISUDA harus SEMESTER INI!!! Tidak peduli minum kopi 10 kali sehari (sounds good 😉 ), WISUDA harus SEMESTER INI!!! Tidak peduli membaca buku-buku yang telah khatam beberapa semester lalu, WISUDA harus SEMESTER INI!! HARUS SEMESTER INI!!!

Ya Tuhan….. Lancarkan peperangan yang akan saya lakukan pekan depan. Lancarkan pula perang teman-teman saya!!!!

Ayo teman-teman semua….. FIGTHING!!!!!!

Please… Give Your Bless, God 🙂

Pemuda, Bahasa, & Bangsa

Indonesia.

Siapa tak kenal negeri ini ? Negeri kaya akan sumber daya alam yang kerap kali tak terjamah. Negeri maritime yang memiliki berhektar-hektar hutan gundul. Negeri yang penuh dengan berbagai macam budaya. Negeri elok dengan sejuta pesona. Negeri yang kenyang akan pahit manisnya berjuang melawan penjajah. Negeri yang selalu memberikan mimpi indah bagi putra-putrinya. Negeri merdeka walaupun sebenarnya penjajahan masih saja merongrong beberapa masyarakatnya.
Diantara sekian banyak samaran potret indah tentang negeri ini , kita masih memiliki sesuatu yang patut kita banggakan. Bahasa Indonesia. Tanpa bahasa resmi ini , negeri kita tetaplah sebagai negara terbelakang. Kiranya kita patut berterimakasih pada mereka yang telah mencetuskan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bahasa yang mampu menyatukan kita , bangsa yang beraneka ragam. Seandainya saja Muh. Yamin dan Sanusi Pane tidak memasukkan fungsi bahasa Indonesi ke dalam teks sumpah pemuda yang mereka rumuskan , mungkin kita tidak akan mengenal mereka-mereka yang ada di Sumatra , Papua , dan semua wilayah di luar daerah yang kita tinggali. Sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 itu telah menjadi tonggak akan pentingnya integralistik bahasa bagi bangsa ini.
Saya mengerti bahwa mengIndonesiakan bahasa Indonesia tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sebelum merdeka , Indonesia memiliki banyak sekali kerajaan. Sistem pemerintahan serta tata hidup yang dianut biasanya bersifat feodalisme. Meskipun prinsip negeri ini adalah demokrasi , pengaruh sistem kerajaan masih terbilang kuat. Karena suku Jawa merupakan suku terbesar , pengaruhnya terhadap perkembangsn bahasa Indonesia cukup besar pula.
Dahulu masyarakat Jawa yang sudah sangat Jawa , sangat sulit sekali berkomunikasi tanpa menggunakan bahasa daerahnya. Mereka selalu berpendapat bahwa menanggalkan bahasa daerah merupakan sikap yang tidak berbudaya. Akan tetapi , seiring berjalannya waktu paradigma tersebut mulai berubah. Lebih-lebih karena adanya sumpah pemuda. Tanpa melupakan kulitnya , masyarakat daerah mulai bertutur kata dengan bahasa Indonesia meskipun sesekali tersisipi oleh bahasa daerah.
Suatu kali saya berwisata ke Yogyakarta. Daerah dengan bahasa jawanya yang begitu kental. Karena orang tua saya mendidik putra-putri mereka dengan bahasa Indonesia , perbendaharaan bahasa jawa yang saya miliki sangatlah pas-pasan. Kalaupun bisa itu pun hanya sekedar bahasa ngoko , tingkatan terendah dan terkasar pada bahasa Jawa. Saya sempat berfikir untuk tidak bertanya tentang apa pun pada siapa pun , termasuk bertanya dimana letak toilet. Akan tetapi , tiba-tiba saja ada seorang remaja putri menghampiri saya. Dia menawarkan barang dagangannya pada saya dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Karena penasaran , saya menanyakan asalnya. Tanpa canggung dia mengatakan bahwa dia asli Yogya. Bahkan kedua orang tuanya merupakan batur keraton. Ketika saya bertanya mengapa dia begitu fasih berbahasa Indonesia tanpa logat Jawa sedikit pun , dia tersenyum dan menjawab, ”Saya memang asli Yogya. Namun saya pun menerima pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Bukankah Yogyakarta juga termasuk bagian dari negara Indonesia?
Mendengar jawabannya itu membuat saya menyadari bahwa betapa besar peran pemuda bagsa terdahulu terhadap perkembangan bahasa kita. Kalau saja pendahulu kita tidak menyinggung kepentingan bahasa Indonesia , maka saya akan selalu menutup mulut jika harus berkunjung ke suatu daerah.
Saya jadi mengingat sederet kalimat dari salah satu buku yang pernah saya baca, yang bunyinya : sumpah pemuda tidaklah hanya merumuskan aspirasi yang hidup di kalangan pemuda , tetapi juga sekaligus menciptakan arah perjuangan pemuda. Bahkan sampai saat ini sumpah pemuda tetap bermakna dalam kehidupan bangsa.
Hal tersebut merupakan bukti bahwa perumusan sumpah pemuda tidak hanya ditujukan pada kehidupan seketika , tetapi juga sebagai pegangan di masa selanjutnya. Sumpah pemuda adalah kontrak bagi setiap putra-putri Indonesia akan kesatuan dan keutuhan bangsa.
Terlepas dari pengaruh bahasa daerah , masalah besar yang tengah menanti bahasa Indonesia yang sebenarnya adalah bahasa asing. Bahasa Indonesia sedang mengalami krisis. Beberapa orang yang terjangkit virus globalisasi mulai terserang penyakit sok Inggris. Hal inilah yang akan menentukan eksistensi bangsa kita. Jika penyakit tersebut tidak segera disembuhkan , identitas negeri ini akan dipertanyakan. Karena pada dasarnya bahasalah yang menunjukkan suatu bangsa.
Saya begitu heran mengapa kita yang hidup di zaman merdeka ini tidak mampu bersikap layaknya bangsa yang merdeka. Dahulu Bung Karno , Ki Hajar Dewantara , R.A Kartini , Bung Hatta ,dan mereka-mereka yang merasakan udara penjajahan mampu berbicara dengan bahasa asing , tetapi tetap fasih jika harus merangkai kata dengan bahasa Indonesia. Padahal mereka hidup dimana bahasa Indonesia dilarang beredar.
Berbeda halnya dengan kita. Kita telah berada di alam merdeka Republik Indonesia. Semestinya penggunaan bahasa Indonesia harus lebih baik dari sebelumnya. Pada kenyataannya , saat ini kita lebih memilih mendalami bahasa asing ketimbang memerbaiki penggunaan bahasa sendiri. Di seluruh negeri ini telah tersebar lembaga kursus bahasa asing. Mulai dari bahasa Inggris , Perancis , Jepang , hingga Mandarin. Namun , saya tidak pernah mendengar adanya lembaga kursus bahasa Indonesia. Sungguh sebuah Ironi. Perjuangan puluhan tahun lalu serasa terhambat oleh putra bangsa sendiri.
Tengoklah bagaimana perjuangan ahli tata bahasa kita. Seandainya kita menyadari bahwa tatanan bahasa kita begitu indah , mungkin bahasa Indonesia bisa menjadi salah satu bahasa resmi yang digunakan oleh PBB.
Mendalami bahasa asing bukanlah suatu dosa. Akan tetapi , menguasai bahasa ibu sendiri adalah kewajiban yang tidak pantas kita tolak. Sangat tidak beradap jika kita mengobrak-abrik bahasa yang telah membawa kita memroklamasikan kemerdekaan. Begitu banyak genangan kata-kata asing di dalam kepala kita , tetapi begitu kering perbendaharaan kata kita akan bahasa Indonesia.
Harusnya kita bersyukur bahwa bahasa kita adalah bahasa yang teratur. Pengucapan kata dengan bahasa Indonesia jauh lebih mudah dibandingkan pelafalan bahasa Inggris. Mari kita ambil contoh. Pelafalan huruh a pada kata ’bangga’ tetaplah berbunyi a. Lain halnya dengan bahasa Inggris , huruf i pada kata ’pie’ bukannya dibaca i melainkan ai. Bahkan huruf-huruf vokal memiliki pelafalan yang berbeda-beda pada setiap kosa kata bahasa Inggris. Jika begitu , tidak dapat disangkal bahwa belajar bahasa sendiri justru lebih mudah daripada mendalami bahasa asing.
Akan tetapi , sepertinya masyarakat merasa bangga jika menyisipkan beberapa kata asing pada kalimat yang mereka buat. Banyak sekali kosa kata asing yang terserap menjadi kosa kata bahasa Indonesia. Kita berlomba-lomba untuk menguasai bahasa Internasional. Bahkan saat ini kita dituntut untuk memiliki sertifikat lulus TOEFL , tes kemampuan bahasa Inggris. Beberapa perguruan tinggi tidak akan mewisuda mahasiswanya sebelum ia memenuhi syarat tersebut walaupun indeks kumulatif yang dicapainya sangat memuaskan. Harusnya kita curiga mengapa orang Indonesia yang menguasai bahasa asing bergelimang pujian dan acungan jempol. Tidakkah hal tersebut merupakan bentuk penjajahan yang lain?
Menurut saya lebih baik kita menggali bahasa Indonesia dengan berbagai bahasa daerah dibandingkan dengan bahasa asing. Segala bahasa di Nusantara ini sangat kurang diperhatikan. Sikap pemuda-pemudi bangsa sekarang yang menganggap bahwa bahasa daerah merupakan penjegal perkembangan negara sangatlah salah. Banyak sekali fikiran-fikiran aneh dan konyol mengenai bahasa daerah di negeri ini. Justru bahasa daerah inilah yang membuat kita dikagumi dunia. Mungkin karena itulah negeri kita dihasut oleh beberapa pihak untuk bergelung dengan bahsa asing daripada memasukkan unsur bahasa daerah ke dalam tatanan bahasa Indonesia.
Seandainya saja kita bisa memajukan bahasa Indonesia seperti layaknya penjamuran bahasa Inggris ke seluruh dunia , mungkin Indonesia akan menjadi sahabat baik Amerika , Jepang , Perancis ,dan negara-negara maju lainnya. Karena saya yakin bahwa bahasa merupakan alat terampuh bagi siapa pun untuk menguasai dunia. Ada seorang doktor yang mengatakan bahwa tidak ada alat yang lebih baik dan lebih adil daripada bahasa kita. Hal itu seperti segala penyebaran fikiran , memberi kepuasan batin dan memberi alat untuk mengokohkan kepentingan. Beliau juga mengatakan bahwa politik jajahan Amerika dan Perancis semata-semata berdasarkan penyebaran bahasa dan kebudayaan. Hal tersebut merupakan jalan untuk melakukan ekspansi ekonomi.
Memang terkesan sederhana , tetapi hasilnya begitu luar biasa. Bagi kita yang hidup di kota mungkin memiliki pandangan bahwa mereka yang ada di pelosok daerah sudah ketinggalan zaman. Sebagian dari kita kerap kali mengatakan bahwa bahasa daerah yang mereka gunakan terkesan kuno. Tidak demikian bagi saya. Saya begitu kagum pada mereka yang masih menjaga budaya tanpa mengesampingan bahasa Indonesia. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya bahwa bahasa daerah cukup besar pengaruhnya bagi perkembangan bahasa Indonesia meskipun kalah saing dari bahasa asing.
Salah satu kawan saya , seorang putra daerah. Dia berasal dari daerah di wilayah Sulawesi. Ia datang ke Jawa tanpa mengerti satu patah kata pun bahasa Jawa. Saya pernah mendengarnya berbicara dalam bahasa bugis pada ibunya. Percakapan mereka rasanya tanpa celah sedikit pun. Walaupun begitu , dia tetap dapat hidup di Jawa. Kami masih dapat saling berkomunikasi. Alasannya tentu saja karena ia cakap berbahasa Indonesia. Anak daerah ini bahkan bisa bertatapan langsung dengan presiden kita , Susilo Bambang Yudhoyono , melalui karya ilmiah yang ia ciptakan. Bukankah penulisan karya ilmiah menggunakan bahasa Indonesia? Bukti nyata bahwa bahasa Indonesia tertinggi di bumi pertiwi ini. Lebih baik kita memerkaya dan memerbaiki penggunaan kosa kata bahasa Indonesia daripada mendalami bahasa asing. Cara tersebut merupakan jalan terbaik bagi kita untuk membangun bangsa Indonesia.
Selama delapan puluh tahun terakhir, peran pemuda untuk mengembangkan negeri ini melalui bahasa tidaklah pantas diremehkan. Sungguh kejam jika kontribusi mereka kita balas dengan acuh tak acuh. Saya , kita semua, sebagai pengguna bahasa Indonesia hendaknya terus menjaga dan memelihara bahasa kita.
Jika dianalogikan dengan sekuntum bunga , bahasa Indonesia ; harusnya kita pupuk , kita siram secara teratur dan tetap kita jaga supaya dapat tumbuh dan berkembang dengan indah. Dengan begitu , kita bisa melanjutkan perjuangan 28 Oktober 1928 sebagai pengemban pertumbuhan bangsa Indonesia di segala bidang kehidupan , terutama melalui aspek bahasa.

(Catatan 14 April 2009)

Salad Indonesia

Pernah mendengar salad ?

Ya, salad adalah suatu istilah yang luas dipergunakan bagi persiapan jenis-jenis makanan yang merupakan campuran dari potongan-potongan bahan-bahan makanan siap santap. Salad sendiri berasal dari negeri Eropa yang biasanya disajikan sebagai hidangan pembuka dari suatu menu makanan. Walaupun begitu, untuk menikmati salad kita tidak perlu menginjakkan kaki di ranah Eropa. Hal ini dikarenakan salad telah mendunia dan proses pembuatannya juga terbilang mudah.
Suatu salad dapat disajikan setelah didinginkan terlebih dahulu dalam lemari pendingin. Selain itu, salad dapat menjadi isi dari roti atau pun sandwich. Biasanya jenis makanan ini terdiri dari setidaknya satu jenis sayuran atau buah-buahan. Sayuran yang kerap kali menjadi bahan utama salad berupa selada , tetapi kita dapat menggunakan beberapa jenis sayur lain seperti sawi putih atau kubis. Hal utama yang perlu diperhatikan pada penyajian salad adalah saus atau dressing. Jika saus yang biasanya berupa mayoneis itu absen, maka salad tidak akan pernah ada.
Bagaimana jika kita gemar mengonsumsi sayuran atau buah-buahan dalam bentuk salad , tetapi tidak familiar dengan rasa mayoneisnya (seperti saya 😉 ) ? Jangan khawatir. Negeri kita memiliki makanan serupa. Kita dapat mengatakan bahwa salad merupakan versi barat dari jenis makanan seperti pecel , lotek , dan gado-gado.
Pecel & Lotek
Siapa sih yang tidak mengenal pecel ? Pecel dalah makanan yang terbuat dari rebusan sayuran berupa kangkung, bayam, tauge, kacang panjang, daun turi, kemangi, atau sayuran lainnya. Konsep penyajian pecel memiliki kemiripan dengan penyajian salad Eropa. Keduanya dihidangkan dengan siraman topping mayonnaise. Hanya saja topping yang digunakan keduanya berbeda. Jika umumnya salad menggunakan yogurt sebagai bahan toppingnya , topping pecel berupa sambal. Bahan utama dari sambal pecel ini berupa kacang tanah dan cabe rawit yang dicampur dengan bahan lainnya seperti daun jeruk purut, bawang putih , asam jawa, merica dan garam.
Pecel juga sangat identik dengan rempeyek , sejenis kerupuk yang terbuat dari tepung beras dengan adonan tertentu. Rempeyek tersebut dapat berupa rempeyek kacang tanah, udang atau teri. Tanpa rempeyek rasanya kenikmatan pecel akan sedikit berkurang. Selain itu, pecel kerap kali dihidangkan dengan nasi putih hangat. Bukankah kita sering mengatakan bahwa bukan makan namanya jika tidak ada sepiring nasi putih? Maklumlah sebagai negara agraris yang menghasilkan padi , nasi tetap menjadi pilihan pertama untuk lidah Indonesia. Ciri khas dari makanan ini adalah rasa pedasnya yang begitu menyengat.
Untuk menikmati pecel sangatlah mudah. Bahkan terlewat mudah. pecel dapat kita jumpai hampir di seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari Medan, Lampung , Riau , Jakarta , Bandung , Semarang , Bali , dan tentu saja Madiun yang memang terkenal dengan kenikmatan pecelnya.
Jika anda sangat mengenal pecel , dapatkah anda mendiskripsikan apa itu lotek? Jangan terlalu dipusingkan. Lotek hampir sama dengan pecel , yakni makanan yang berupa rebusan sayuran segar. Sayur yang digunakan pun tidaklah berbeda. Dapat berupa kacang panjang , kangkung , bayam , dan sebaginya.
Akan tetapi , bahan pembuatan samballah yang menjadi perbedaan keduanya. Kacang tanah memang digunakan sebagai bahan dasar lotek dan pecel , tetapi pada lotek tidak menggunakan cabe rawit seperti pembuatan sambal pecel. Cabe rawit tersebut digantikan oleh terasi dan tempe atau kacang kedelai. Rasanya ? Tentu saja berbeda. Rasa lotek ini lebih ringan dan gurih daripada pecel. Selain itu, jika sambal pecel disiram atau dicampur sebelumnya , untuk lotek bumbu atau sambalnya baru ditambahkan ketika akan dinikmati.
Walaupun demikian, baik pecel atau pun lotek tetap dapat dipilih untuk menjadi menu sederhana , lezat dan tentu saja bergizi tinggi.
Gado-Gado
Lain pecel lain pula gado-gado. Kita mungkin tidak perlu mendapat penjelasan panjang lebar tentang makanan yang satu ini. Gado-gado merupakan salah satu makanan Indonesia yang berupa sayuran dan dicampur jadi satu dengan bumbu atau sausnya. Sayuran yang digunakan biasanya berupa sayur mentah yang masih segar , tetapi ada pula yang direbus dengan air panas atau terkadang hanya dimasak dengan uap air panas.
Lazimya , sayuran yang digunakan pada makanan ini berupa kubis , selada , bunga kol , tauge , dan kacang panjang. Kita dapat pula menjumpai kentang , wortel , tomat , dan mentimun pada masakan yang katanya khas Jakarta ini. Sayur-mayur tersebut diiris kecil-kecil sebelum dihidangkan.
Lalu bagaimana dengan saus atau bumbunya? Hal inilah yang menjadi perbedaan gado-gado dengan salad Eropa. Sama seperti ‘salad-salad Indonesia’ lainnya , bahan utama untuk membuat saus gado-gado adalah kacang tanah yang telah digoreng. Kacang goreng tersebut dilumatkan dan dicampur dengan bawang putih , cabai , merica , dan sedikit garam. Kita juga dapat menambahkan terasi pada pembuatan bumbunya. Bedanya lagi , bumbu gado-gado merupakan handmade alias buatan tangan. Bahan-bahan yang telah dicampur diletakkan di atas cobekan dan diulek hingga halus.
Bumbu yang telah siap dapat disiramkan di atas piring yang berisi sayuran. Finish? Tentu saja belum. Kita juga harus menunggu siraman kecap secukupnya sebagai pelengkap rasa bumbu gado-gado. Bawang goreng juga turut memeriahkan sajian masakan khas ibukota ini.
Gado-gado dapat disantap begitu saja seperti salad-salad pada umumnya , tetapi sandingan utama yang perlu ditambahkan ke dalam seporsi gado-gado adalah potongan-potongan lontong serta irisan telur rebus. Sebagai one dish meal sajian ini sangat lengkap gizinya , baik protein , vitamin , mineral hingga karbohidrat.

Selain pecel , lotek dan gado-gado , masih ada ‘salad-salad Indonesia’ yang tak kalah keeksotisannya dari ketiga makanan tersebut. Kita dapat menjumpai karedok dan ketoprak yang jenisnya tidaklah jauh berbeda dari pecel ataupun gado-gado. Bahan-bahan yang digunakan juga berupa sayuran segar dengan saus kacang.
Nah , sebagai warga negara yang baik tentunya kita harus mencintai produk dalam negeri. Bolehlah kita menrima hal-hal baru dari dunia luar , tetapi jangan sampai kita terseret oleh derasnya arus globalisasi yang akan menghilangkan jati diri kita sebagai Indonesian. Salad Eropa memang terlihat lebih berkelas jika disandingkan dengan pecel dan kawan-kawannya.
Akan tetapi , percayalah bahwa ‘salad-salad Indonesia’ ini memiliki cita rasa tersendiri yang tidak akan mudah ditandingi. Bukankan kita sering mengenal istilah don’t judge something from this cover ? 🙂

(Catatan 23 Juni 2009)

Ritual-Ritual Pra Ujian

Di semua jenjang pendidikan, ujian adalah waktu krusial bagi semua civitas akademika. Dan sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga menjadi mahasiswa Tingkat Akhir, saya mendapati berbagai ritual pra ujian yang dilakukan oleh teman-teman atau kakak-kakak dan adik-adik kelas (tingkat). Ritual yang menurut saya tidak masuk akal, tetapi menyenangkan untuk diamati.

Pertama “pergi ke orang pinter macam dukun atau mungkin kyai dimana sepulang dari tempat mereka, ‘pengunjung’ akan mendapatkan sebotol air mineral”. Selanjutnya air mineral itu harus diminum sendiri, tidak boleh dibagikan pada orang lain! Terus?? Gak tahu deh seterusnya bagaimana. Saya kira hal ini hanya terjadi diantara orang-orang daerah seperti tempat saya bersekolah dengan seragam, tetapi ternyata di kota semegah Surabaya pun ritual macam ini ditunjukkan oleh masyarakatnya. Saya sendiri mengetahui beberapa kawan kampus saya melakukan ritual ini. Beberapa dari mereka mengaku bahwa orang tua mereka pergi ke orang pintar sebelum mereka melakukan seminar yang kemudian mendapatkan sebotol air mineral. Saya pun melihat langsung bagaimana salah satu teman dekat saya memperlakukan sebotol air mineral yang dia minum sebelum melakukan seminar proposal TA. Aduh… memangnya kenapa dengan air mineral itu?? Bukankah di Indomaret banyak stoknya? Hanya untuk sebotol air mineral 600 mL pergi ke dukun?? Memangnya air itu bisa apa coba?? Bisa membuat nilai A? gggrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…….

Ritual kedua yang sering saya lihat adalah “Tidak memijakkan kaki di lantai saat ujian”. Alasannya supaya penjaga ujian tidak mengacuhkan peserta ujian sehingga si peserta bisa bebas mencontek atau membuka kerpeannya. AAAAAAAAAA……. ini lagi yang super aneh!!! Memangnya apa hubungannya kaki gak napak dengan nilai? Kalau seseorang tidak berkaki otomatis dia tidak menapak lantai, apa ia menjadi invisible karena itu??? Misalnya ujian macam seminar atau presentasi di depan kelas yang harus berdiri, bagaimana caranya gak napak? Mau berdiri di atas meja? 😦 Menurut saya, tidak menapakkan kaki dan tak terlihat itu adalah mbk kunti beserta kawanannya. Kalau memang mau tidak terlihat saat ujian, gak usah ikut ujian aja… penjaga ujiannya pasti gak akan peduli….. 😉

Ritual selanjutnya adalah “menaburi sekeliling meja pengawas dengan garam” dengan maksud membuat pengawas tertidur. Masa iya sih??? Memangnya garam bisa membuat kantuk??? Terus kenapa orang-orang yang tempo dulu kerap kali menambahkan garam pada secangkir kopi saat mereka hendak begadang? Nah loh… garam bikin ngantuk apa bikin melek?? Naburin garam di area meja hanya buang-buang garam saja, itu menurut saya!

Ada lagi yang paling sederhana dan paling masuk akal “Meletakkan koran atau bacaan sejenis di meja pengawas”. Kalau yang satu ini sih masih logis karena dengan membaca koran, perhatian pengawas memang akan sedikit berpaling dari peserta ujian. Tapi sayangnya semakin masuk akal, semakin jarang ritual itu dilakukan. Dan ritual ini hanya saya lihat saat saya mengikuti ujian kelulusan SMA.

Entah apa lagi ritual pra ujian yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Tapi kalau saya, ritual wajib sebelum ujian adalah BELAJAR DAN BERDOA. Benar bukan?

Berusaha dengan sekuat tenaga dan semaksimal mungkin dengan cara BELAJAR. Kemudian memasrahkan hasil terbaiknya dengan cara BERDOA padaNya. Atau mungkin untuk ritual ekstra adalah meminta doa restu orang tua karena saya percaya bahwa semakin banyak doa, semakin maksimal hasil yang didapatkan.

Tidak perlu minta air ke orang pinter karena saya bisa beli di Indomaret atau ngerebus air sendiri dan sayapun bukan orang bodoh. Tidak perlu jinjit-jinjit supaya tidak menapak lantai karena bisa membuat kaki saya capek dan gak nyaman banget. Dan tak perlu menaburkan garam di sekitar meja pengawas atau penguji karena hanya akan menyebabkan over exploitation garam yang mungkin akan benar-benar membuat bangsa ini melakukan import garam.

Just Study and pray!!! trust me, it’s work 🙂

Kata Kakak Pada Adiknya

Suatu malam di atas kasur….

Seorang kakak ‘menceramahi’ adik kecilnya yang sedikit bebal… Begini katanya;

  1. Malam sebelum sidang gak usah belajar. Tenangkan diri aja. Gak perlu gak tidur sampe pagi. Mendingan istirahatkan otak. Kalo mau bangun tengah malam, bangun aja buat shalat malam. Denger ya… GAK USAH BELAJAR!!!
  2. Gak usah mikirin konsumsi, biar aku aja yang urus. Ngapain coba kamu ngurusin konsumsi? Percaya deh.. pas hari H nanti kamu gak kiro mikirin konsumsi!!
  3. Kalo ada pertanyaan yang gak bisa kamu jawab karena pertanyaannya aneh, bilang aja kamu gak ngebahas masalah itu. Pokonya pinter-pinter aja matahin argumen dosenmu! jangan diem, kamu malah dikira gak siap kalo cuma maen angguk-angguk kepala!

………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Si adik hanya terdiam mendengar petuah sang kakak. Ia diam bukan karena tak peduli. Ia diam karena hanya ingin mendengarkan supaya benar-benar mengerti apa yang diucapkan kakaknya.

Adik memiliki sanggahan terhadap ucapan kakaknya. Ia tak sepenuhnya menyetujui apa yang kakaknya katakan. Namun ia mengerti.

Ia mengerti bahwa kakak peduli padanya. Adik mengerti bahwa kakak menginginkan hasil terbaik untuk salah satu hal terpenting yang akan adiknya lakukan.

Si adik mengerti….. hanya itu. Tak ada sanggahan… tak ada adu argumentasi. Hanya ada pengertian dari adik dengan diamnya.

Ya Tuhan, semoga saja kepedulian kakak dan diamnya si adik memberikan hasil terbaik 🙂 AMIN.

SEMANGAT!!!!

(Bukan) Konser KOTAK

Siang-siang panas-panas berhenti di sebuah lampu lalu lintas Surabaya. Lampu merah euy…. Karena detik-detik menuju warna hijau masih lama, saya menoleh ke arah salah satu baliho atau billboard yang kebetulan nangkring di sebelah saya. Isinya adalah iklan konser band asal Kanada ‘Simple Plan’ di Surabaya.

Karena saya memang tak begitu ngefans sama pemilik lagu ‘Welcome to Mylife‘ tersebut maka ekspresi saya hanyalah “tanggal 18 besok (hari ini)  daerah Grand City pasti macet”

Kemudian, mata saya tertuju pada tulisan yang ada dibagian paling bawah billboard “opening act :KOTAK”

Saya suka KOTAK, tapi karena hanya sebatas band pembuka dan membuka konser sebuah band bernama Simple Plan maka tak ada yang berubah dari ekspresi saya kecuali mengatakan pada adik saya yang tengah melajukan motornya lantaran warna lampu telah menjadi hijau “Ehh…hari rabu besok KOTAK main di GrandCy, loh

Adik saya yang suka sekali pada KOTAK berkata dengan semangat “AYO NONTON,MEI!!!!”

Saya: “hahh??

Adik saya: “Kenapa???? Paling tiketnya cuma 10ribu!! Gak usah yang VIP

Saya: diemm…

Adik Saya: “Ayo, Mei… Nonton… Ya ya ya...”

Saya: “Itu kotak band pembukanya Simple Plan loh! MBOK KIRO KARCIS NONTON SIMPLE PLAN LEBIH MURAH DARIPADA NONTON BIOSKOP???!!!! 😦 “

Adik Saya: “oohhh….. itu yang konser Simple Plan ta??? hahahahahahahahahahahahahahahahahaha……. kirain cuma KOTAK

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Busettt….. Masa iya konser Simple Plan 10 ribu????

Kalo tiket konsernya memang hanya 10 ribu, tak mungkin saya masih sibuk ketak-ketik keyboard di dalam kubikel 4×4 ini… ahhh…. tak bisa dengar Tantri mengatakan ‘you say good morning when it’s midnight‘ secara langsung , putar mp3 saja…. Kualitas suaranya sama kok…. 🙂

Let’s sing Jetlag!!! 🙂