Bukan Hanya jakarta


Jumat lalu kampus saya kembali kedatangan ‘orang luar’ yang bertugas sebagai pembimbing Tugas Akhir teman. Yang membuat saya heran adalah perlakuan 180 derajat yang diberikan oleh jurusan terhadap ‘orang luar’ tersebut jika dibandingkan dengan ‘orang luar’ yang datang beberapa hari sebelumnya.

Di hari Rabu lalu ‘orang luar’ yang datang ke acara sidang TA teman saya rasanya sama sekali tak dihiraukan. Tidak diberi ucapan selamat datang, tidak diberi sapaan hangat, tidak ditemui sebelum acara sidang, dan tidak diberi sovenir setelah sidang selesai. Diabaikan begitu saja!

Sementara ‘orang luar’ yang datang di hari Jumat itu diberi perlakuan bak tamu agung. Dijamu dengan hidangan mewah, diundang ke ruang dosen dan sekertaris jurusan setelah sidang selesai, serta mendapatkan buah tangan yang disiapkan khusus oleh jurusan.Sangat dihargai.

Ada apa sih dengan kampus ini? Karena tidak terlalu mengerti maka saya hanya bisa berspekulasi bahwa perlakuan istimewa itu diberikan karena ‘orang luar’ yang menguji di hari jumat lalu berasal dari ibu kota. Karena dari Jakartalah maka ‘orang luar’ tersebut diperlakukan dengan baik sedangkan ‘orang luar’ yang menguji di hari Rabu hanya sebatas penguji yang tidak berarti apa-apa karena berasal dari daerah Purwodadi.

Apa perlakuan istimewa itu hanya sekedar basa-basi untuk memberikan citra baik kampus pada orang Jakarta? Supaya mereka yang berasal dari Jakarta itu memberi izin untuk menjadikan uji pendahuluannya sebagai proyek pribadi? Saya tidak percaya jika alasannya untuk membangun hubungan kerjasama dengan instansi luar. Kalo memang alasannya adalah untuk membangun kerja sama, kenapa ‘orang luar’ yang menguji di hari Rabu tidak diperlakukan seperti ‘orang luar’ yang menguji di hari Jumat??!!! Seakan-akan merendahkan penguji yang hanya berasal dari daerah.

Jakarta memang hebat, tapi Jakarta bukan segalanya. Kampus ini tidak hanya butuh kerjasama dengan instansi yang ada di Jakarta. Lagipula sebelum ke Jakarta, bukankah harus melewati kota-kota kecil macam Kediri, Jombang, Nganjuk, Madiun, dan Ponorogo… Belum lagi lintas provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta….. Percuma memiliki nama baik di Ibu Kota tetapi bobrok di mata kota-kota lain. Indonesia punya 33 provinsi dengan 530 kota…. Baik di 1 satu kota, tapi mati di 528 kota lainnya….. Apa hebatnya coba?

Semoga saja perlakuan baik terhadap ‘orang luar’ dari Jakarta itu adalah bentuk untuk menebus kesalahan kampus saat mengabaikan ‘orang luar’ dari Purwodadi dan tetap memberikan citra baik pada ‘orang luar’ lain yang akan datang ke kampus di hari-hari selanjutnya 🙂

P.S: God…. kalau tujuanMu menempatkan saya di kampus ini untuk mengetahui masalah itu… saya rasa saya sudah cukup untuk mengetahuinya. Keluarkan saja saya dari tempat ini, Tuhan….. Honestly… i’m so tired, God!!

Advertisements

One comment on “Bukan Hanya jakarta

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s