Perang Dingin “My Sister Vs My Dad”

 

Terlepas dari suasana rumah yang ‘sepi’ karena kepergian Mami, sebagai manusia (agak) normal saya tetap merasa rumah ini begitu ramai. Bahkan terlalu ramai. So crowded! Rame! Pertama ramai gara-gara adu argumen antara Papi & bude-bude Vs Kakak saya. Kubu Papi bersikeras untuk mengadakan acara doa bersama tetangga-tetangga sekitar hingga 7 hari ke depan atau orang-orang di sekitar saya menyebutnya sebagai tahlilan sedangkan kakak saya kekeuh untuk tidak melakukan apa-apa.

Kedua kubu memang tidak bersitegang atau saling lempar gas air mata macam demonstran vs polisi di depan gedung DPR RI. Tapi sikap mereka menunjukkan ketidaksukaan satu sama lain. Kakak saya bahkan berencana untuk menggagalkan rencana Papi cs dengan cara memblokadir orang-orang yang akan datang ke rumah malam ini. Memblokadirnya bukan dengan menghalangi tamu menggunakan pagar kawat, melainkan dengan mengatakan adanya salah informasi dari pihak keluarga. Halus dan bersih.

Saya memang tidak setuju dengan acara tahlilan 7 hari beruntun dengan alasan orang yang kehilangan sedang dalam kondisi susah sehingga mengadakan acara tahlilan semakin menyusahkan mereka. Kenapa menyusahkan? Karena acara mengundang orang-orang seperti itu pasti harus menyuguhkan sesuatu. Dan yang saya ketahui, orang-orang daerah atau masyarakat yang masih tinggal di pedesaan akan menggunjingkan tuan rumah jika suguhannya kurang Oke! Nah loh… bagaimana ceritanya jika orang yang kepaten itu kurang berada? Masa iya harus melakukan tahlilan dengan menyuguhkan hidangan mewah? Susah memang kalo membicarakan masalah adat istiadat.

Tak ada pula perintah dariNya untuk mengadakan acara 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau 1 juta hari orang yang telah meninggal. Jadi, tidak melakukan acara-acara seperti itu bukanlah dosa besar!

Sayangnya Papi dan bude-bude dan sebagian besar keluarga saya masih terpaut pada paradigma masyarakat tersebut sehingga mereka kekeh untuk tetap melakukan tahlilan. Dan kakak saya kekeh menolak tahlilan. Saya, bingung!

Akhirnya karena Papi cs telah bekerja keras di dapur dan undangan telah disebar maka saya pun memberanikan diri untuk berkata pada kakak saya ;

Papi tetep mau bikin tahlilan. Udahlah biarin aja. Biar gak ribut. Kita niatnya sedekah aja. Biarkan mereka datang dan doa-doa sesuai keyakinan mereka. Kita doa sesuai keyakinan kita sendiri. Kasian juga Papi kalo harus batalin undangan”

Sedikit deg-deg saat menunggu respon kakak saya, tetapi akhirnya dia berkata ‘ya sudahlah’. Cukup untuk membuat saya tenang karena itu berarti tak akan ada perang mulut saat acara tahlilan berlangsung.

Masa iya harus berantem gara-gara masalah ‘Mami’? Kan kasian Mami kalau kami meributkan perkara yang bersangkutan dengan beliau.

Semoga saja perang dingin ini bisa lebih mencapai kata sepakat 🙂

 

Semoga Berkah

Good bye, Mom. Take a rest forever. I’m sure that You stay in right place 🙂

Seperti tidak terjadi apa-apa, tetapi jelas ada yang lain dari kepergian Mami. Ibu saya memang sedang sakit parah, tetapi kepulangannya ke sisi Tuhan tetap membuat perubahan pada lingkungan sekitar. Rumah memang telah terbiasa dengan kata sepi sejak beberpa tahun terakhir, tetapi sepi di saat ini tentu sangat berbeda dari sepi yang lalu. Sepi yang tidak bisa diramaikan dengan sorakan suporter Bonek sekalipun.

Dan sebagai manusia yang kehilangan, wajar jika perasaan sedih itu ada. Ya…namanya juga manusia 😉

Sedih memang. Sepi juga. Tapi tetap…Live must goon. Tidak boleh berhenti hidup gara-gara kematian. Pasti ada hikmah di balik setiap peristiwa, bukan? Kalau misalnya Bung Karno belum meninggal dan tak dimakamkan di Blitar, mungkin masyarakat Blitar tak akan pernah dikenal orang. Karena ada yang mengatakan bahwa orang-orang Blitar hidup dari orang mati. Coba saja tak ada makam Bung Karno, mana ada turis (lokal ataupun mancanegara) yang datang ke kota kecil seperti Blitar? Kalau tak ada Bung Karno di sana, tak ada rezeki tambahan untuk masyarakatnya. Jadi, orang matipun bisa membawa berkah. Bahkan mungkin berkahnya jauh melampaui mereka yang masih bernyawa.

Karena itulah, semoga kepergian Mami bisa membawa berkah pada Saya serta keluarga kami layaknya bung Karno kepada masyarakat Blitar 🙂

Just hope that’s the best for my family!!

See ya, Mom 🙂

Silahkan Demo, Kawan!

Demo kenaikan BBM dimana-mana. Seperti kata teman saya “Gw bukan manusia yang hobi demo. Tapi Gw menghormati mereka yang suka demo. Asal gak barbar”. Tidak suka turun ke jalan untuk orasi dan teriak-teriak, tapi saya percaya bahwa aksi turun ke jalan adalah salah satu cara untuk merubah kehidupan di dunia ini. Turun ke jalan adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menurunkan penguasa dari jabatannya. Demo bukan hal baru di negeri ini, bahkan sejak kompeni menduduki bangsa ini demo telah menampakkan batang hidungnya. Jadi, tak ada yang aneh dari aksi demo yang berlangsung hari ini.

Saya hanya orang awam yang tidak mengerti mengapa harga BBM harus naik atau turun. Karena tidak mengertilah saya hanya bisa berharap bahwa keputusan tersebut adalah hal bijak dari pemerintah untuk memajukan negeri ini. Karena tidak tahulah saya tidak ikut aksi demo seperti yang (mungkin) dilakukan adik saya.

Mau ikut atas dasar apa? Untuk rakyat? Apa yang rakyat dapatkan dari teriakan-teriakan di jalan? Apa dengan demo tiba-tiba saja pak presiden mengatakan “April Mop… Saya Cuma bercanda soal kenaikan BBM!” ???? Kalau ada pendemo yang mengatakan bahwa hasil dari demo tidak bisa dilihat dalam jangka waktu satu dua hari, saya rasa hasil kerja pemerintah pun demikian. Tidak semudah merebus air untuk membuat secangkir kopi. Bahkan untuk membuat kopi pun tidak akan bisa dilakukan jika komponennya tidak ‘bersatu padu’. Harus ada bubuk kopi, gula, air panas, atau tambahan creamer lalu diaduk hingga bercampur. Jadilah secangkir kopi. Untuk membentuk suatu negara yang besar pun tak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Tak bisa hanya pemerintah yang bekerja, sedangkan rakyat hanya meminta.

Yuk kita sama-sama membesarkan bangsa ini. Meskipun tidak pernah menjadi presiden, saya yakin bahwa sebenarnya menjadi presiden itu tidak enak. Sangat tidak enak. Tanggung jawabnya sangat besar, kawan. Kalau misalnya kenaikan BBM ini didemo habis-habisan dan dianggap menyusahkan rakyat sehingga banyak diantara kita yang menuntut presiden untuk mengundurkan diri dari jabatannya, siapa yang mau jadi presiden? Kalian mau? Saya sih ogah! Lalu setelah presiden kita berganti, yakinkah bahwa penggantinya bisa bekerja lebih baik dari presiden saat ini? Lalu jika tidak lebih baik…demo lagikah??? Aaahhh… benar-benar roda kehidupan.

Selamat berdemo buat kalian yang suka demo! Semoga hasilnya seperti yang kalian harapkan…. Tapi tetap yaaa… Jangan Barbar!! 😉

Saya Juventini

Pertanyaan yang sempat saya terima beberapa saat lalu

  1. Memangnya kamu beneran suka Juventus?
  2. Apa buktinya kalo kamu Juventini?
  3. kalo memang Juventini sejati, Ikut JCI chapter mana?
  4. Kamu pake jaket dan atribut Juve bukan gara-gara penampilan Juventus yang musim ini sedang on fire kan?

Pertanyaan pertama adalah pertanyaan bodoh. Pertanyaan kedua adalah pertanyaan yang tak perlu dijawab. Pertanyaan ketiga sangat tolol. Dan pertanyaan terakhir lucu!

‘beneran suka Juventus’ ? Saya fikir tak ada Juventini palsu karena saya yakin bahwa tifosi Juventus adalah Juventini sejati. Mereka menjadi Juventini karena suka. Kalau memang ada dari mereka yang mengawalinya dengan ‘pura-pura’ dan motif tertentu, lambat laun mereka pasti terkena karma… menjadi Juventini yang sesungguhnya… Menggilai Juventus seperti saya 🙂

Bukti apa lagi yang bisa saya beri supaya mereka tahu bahwa saya memang Juventini? Saya rasa tak ada karena suatu kebenaran tidak perlu dibuktikan.

Memangnya kalo tidak menjadi member JCI bukan Juventini sejati, gitu? Ahhh..kata siapa coba? Saya memang tak mendaftarkan diri di chapter-chapter JCI yang ada di Indonesia, tapi bukan berarti saya bukan Juventini sejati! Sebenarnya ada keinginan untuk mendaftarkan diri di salah satu chapter JCI, tapi saya sedang tidak stay di satu kota dalam jangka waktu yang lama. Saya suka berpindah-pindah. Pergi-pergi kesana-kemari. Masa iya setiap kali mendiami satu kota saya harus mendaftarkan diri sebagai member JCI di kota tersebut? Ibaratnya membuat KTP, KTP saya jadi banyak dong… Bisa-bisa saya disangka teroris! Karena itulah, rasanya kurang pantas menentukan kadar kesukaan saya akan Juventus dari saya ikut JCI chapter mana. Helo…saya Juventini. Dan Juventini ada dimana-mana….. chapter-chapter di JCI itu hanya wadah untuk mempersatukan Juventini yang ada di daerah, bukan patokan bahwa seseorang benar-benar suka atau tidak pada Juventus.

Satu lagi deh…masalah jaket atau atribut Juventus yang saya kenakan….. Kalau boleh sayapun ingin bertanya.. “Kamu sendiri pake jaket Juventus bukan karena Juventus main bagus di musim ini kan?”

So, I’m Juventini! Sempre. Domani. Oggi. Ieri……. Forza Juventus!!! 🙂

Mengirimkan Lamaran Kerja Ala Saya

Model melamar pekerjaan di zaman ini sungguh bervariasi. Mulai dari via pos, via email, sampai via Facebook. Dari semua media penyalur lamaran tersebut, email adalah favorit saya. Mau tahu kenapa?

Alasan pertama karena menghemat biaya pengiriman. Saya seorang jobseeker yang tak memiliki penghasilan tetap, jadi harus benar-benar perhitungan terhadap rupiah yang harus saya keluarkan. Mengirimkan surat lamaran tidak sekali atau dua kali lalu bisa langsung diterima sebagai seorang pekerja (kecuali memang rezeki Tuhan). Kalau misalnya surat lamaran yang berkali-kali itu harus dilayangkan via pos atau jasa titipan kilat, berapa coba biayanya? Anggaplah saya mengirimkan surat lamaran tersebut ke Ibukota dari Surabaya, satu kali kirim saya harus mengeluarkan Rp 10.000 – 15.000. Kalau 10 kali?? UUuhhh…. mahal beuudd ;)Sedangkan via email, saya hanya butuh modal untuk mengisi paket pulsa modem yang bisa digunakan selama satu bulan. Kalau kebetulan sedang tidak ada pulsa modem, meluncur saja ke warnet. Cukup dengan 5000 rupiah saya bisa mengirimkan beberapa lamaran plus searching-searching lamaran lain plus main-main di dunia maya selama dua jam.

Jadilah via email adalah alternatif untuk menawarkan diri sebagai pekerja ke tempat-tempat yang membutuhkan tambahan sumber daya manusia.

Selain hemat, mengirimkan lamaran via email juga efisien. Nyampenya (relatif) lebih cepat dari pada via pos. Hanya tinggal membuka account email saya lalu mengklik ‘Tulis Pesan’ lalu mengetikkan resume di badan emailnya dan melampirkan file-file yang disyaratkan di menu ‘attachment’. And than, send email! Kalau koneksi internet sedang sangat lelet bin lemot, maksimal email tersebut akan sampai ke account perusahan sehari kemudian. Tapi itu kalau internet sedang tidak normal dan si pengirim berada di dalam hutan belantara (jangankan nyampe, terkirim saja sudah luar biasa 😉 ).

Persyaratan-persyaratan yang biasa diminta seperti copy identitas diri atau ijazah pendidikan terakhir, tak perlu di copy dong. Cukup di scan, kawan. Atau seperti cara saya yang  jobseeker tanpa penghasilan tetap, memotret segala file yang disyaratkan. Beneran loh ini. Ijazah, KTP, Transkrip, Sertifikat, dan semua persyaratan saya potret. Buat apa di scan jika saya bisa memotretnya? Atau mungkin lebih tepatnya karena saya punya kamera, bukan scanner. Lagipula formatnya sama-sama JPEG 😉 Dan tetap, ujung-ujungnya IRIT 🙂

Yang penting lagi dari mengirimkan lamaran via email adalah mengurangi tumpukan kertas tak terpakai di calon kantor atau perusahan yang saya taksir. Kalau via email, pesan yang sudah tak dibutuhkan tinggal dihapus tanpa membuat tumpukan surat berdebu. Lebih menguntungkan juga untuk perusahaan. Dan secara tidak langsung, mengirimkan lamaran via email sangat mengurangi pemakaian kertas dengan begitu sedikit mengurangi penebangan pohon yang kemudian mengurangi pengaruh negatif global warming…. Sedikit membantu keselamatan Bumi yang di ujung tanduk 😉

Tapi terserah individu masing-masing lah mau melamarkan dirinya via apa… It’s just  my choice 🙂

Tentangnya Saat Ini

Hari ini aku melihat bagaimana sikapnya yang tak terkontrol

Meraung-raung kesakitan

Memanggil-manggil setiap orang yang dikenalnya

Berteriak minta tolong seakan-akan ia hendak diculik lalu dimutilasi

Dia, Seperti orang gila

Hari ini aku merasa bagaimana aku yang tak pernah benar di matanya

Secangkir tehku terlalu manis di lidahnya

Lantai yang telah kusapu masih berdebu baginya

Musik yang mengalun dari earphone ku membisingkan telinganya

Desahan nafas panjangku seakan-akan keluhan terhadapnya

Kali ini, Aku yang gila

Dia bicara tentang dosa, dia berkata tentang bala

Sumpah serapahnya mengalir lantaran aku terlelap barang semenit

Kutukannya terluncur karena aku tak bisa memberikan pijatan yang ia mau

Amarahnya memuncak di setiap laku yang kutunjukkan padanya

Jika aku diam dan menjauh… Bukan karena tidak hormat, bukan pula tak peduli

Melainkan karena tak ingin menyulut sumbu yang telah tertumpah bahan bakar

Dan Kalau saja Tuhan tidak menciptakan sabar, mungkin aku akan merasakan nasib seorang Malin

Sakit Bersama

Berniat pergi jauh dari sakit yang disebabkan tomcat, malah tersarang di rumah yang isinya manusia-manusia berpenyakit.

Adik saya mual gara-gara naik travel dengan sopir yang kata dia gak enak nyetir mobilnya. Kakak saya mual-mual gara-gara naik travel dengan sopir yang sama dengan sopir travel adik saya. Si Papi sakit kepala dan Mami memang sedang sakit. Saya sendiri sakit jiwa! Oh My God, serumah diisi oleh orang-orang sakit.

Semoga sistem imun saya masih bisa bertahan di antara penyakit-penyakit yang tengah bersarang di rumah ini. Sangat tidak seru jika cerita yang bisa saya buat berkisah tentang pesakitan di satu rumah!

Keluarga memang harus selalu bersama dalam suka atau duka. Tapi bukan berarti semua anggota keluarga harus sakit di waktu yang sama bukan? Hanya shalat berjama’ah yang menghasilkan pahala berlipat. Sedangkan sakit bersama cuma akan menceritakan sakit, tak lebih!

Come on, my sister….. Ngapain sih pake acara muntah-muntah? Gak asik deh kalian. Kalau begini saya jadi malas mengajak kalian berdua pergi-pergi…..And, Get well soon, Mom….

Thanks For World

Ada apa dengan grafik READER saya? Mengapa tiba-tiba jumlahnya melampaui rata-rata READER yang datang sebelumnya? Anggap saja saya katrok. Anggap saja saya norak. Anggap saja saya lebai. Anggap saja saya tak pernah punya pembaca blog. Tapi hari ini saya senang lantaran statistik pembaca saya meningkat drastis. Untuk pertama kalinya blog ini dibaca lebih dari 100 kali per hari 🙂 Apa lagi yang bisa dirasakan seorang penulis selain tulisan dibaca?

HORAIIIII…

Siapapun dia yang membaca blog saya…. Terimakasih yaaaaa…. Someone who live in Canada, United States, Finlandia, Singapore, and France…. Thank’s for coming 😉 And somebody in Italy, Grazie Mille 🙂

Terimakasih sudah membuat statistik harian pembaca saya melambung…

It’s Just Requirements

Syarat untuk melamar pekerjaan yang tidak saya suka dan sangat mengganggu adalah Gender. Sangat tidak menyenangkan jika salah satu persyaratan suatu lowongan adalah ‘Laki-Laki’. Syarat nomor satu pula!

Hal itu pulalah yang membuat saya sangat geregetan saat melihat iklan lowongan pekerjaan. Misalnya ada lowongan begini:

We are the one of the largest tour travel company in Indonesia with more than 50 years experiance. To support our sustained growth, we are inviting highly qualified professionals to join our team

Karena tertarik dan sangat ingin, maka semangat ini berlanjut untuk membaca persyaratan si pelamar.

Requirements:
1.    Male
2.    S1 Graduated in Bahasa or English Literature

Duuhhh…. mandeg lah jadinya! Syarat pertamanya itu loh! Kenapa harus ‘Laki-Laki’! Memang tidak semua lowongan pekerjakan menjadikan ‘Laki-Laki’ sebagai persyaratannya, hanya pekerjaan yang saya taksir saja. Ah…inikah nasib seorang wanita (saya) yang tengah mencari pekerjaan? Tak jarang pula ada lowongan yang syarat pertamanya adalah “Female”, sehingga teman saya yang  (katanya ;)) male dan tertarik dengan pekerjaan tersebut tak bisa mendaftarkan diri.

Selain gender, masalah yang dihadapi oleh jobseeker adalah Pengalaman. ‘min. 2 years experiance’ atau ‘Labih diutamakan yang telah berpengalaman selama 1 tahun, fresh graduate dapat mendaftar

Itu maksudnya apa coba…. ‘Lebih diutamakan yang telah berengalaman’ tetapi diberi tambahan ‘fresh graduate dapat mendaftar’. Kalau fresh graduate yang belum pernah bekerja harus menunggu mereka yang berpengalaman, bagaimana bisa seorang fresh graduate memiliki pengalaman? Kalau sudah begitu ‘fresh graduate yang belum berpengalaman’ tersebut akan menjadi ‘spoiled graduate tanpa pengalaman’.

Uuuhhh….. mungkin inilah resiko seorang jobseeker. Selalu menghadapi kendala di persyaratan suatu lowongan pekerjaan. Menyerah? Oohhh…. No No No! Mana boleh menyerah hanya gara-gara ‘Male’ dan ‘Experiance’! Tak boleh berhenti hanya gara-gara requirements yang tak bersahabat. Tetap mencari dan mencari. Tuhan telah menyediakannya, tinggal kita (saya) saja yang harus menemukannya.

Doa Malam Ini: “Beri Saya Pekerjaan yang Saya Pilih itu, Tuhan” 🙂

Tomcat Hanya Seekor Kumbang

 

Tranding Topic Pekan ini —–> Tomcat

Mulai dari FB, twitter, hingga YM. Dari TV lokal, hingga internasional… Kurang bekennya hanya di infotaiment saja… Mungkin si tomcat akan dibahas habis di segmen infotimen jika ada artis yang kena serangannya 😉

Karena ingin berpartisipasi menaikdaunkan Tomcat maka saya bermaksud memberikan sedikit arahan bahwa sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan dari kumbang kecil tersebut. Seperti kata teman saya “Tomcat tidak membuat manusia yang dihinggapinya berubah menjadi zombie”.

Keberadaan Tomcat  tak perlu terlalu dihebohkan karena ia sudah ada sejak dahulu kala. Hanya saja saat ini mungkin waktu bagi Tomcat untuk unjuk gigi. Tiba-tiba saja jumlahnya melimpah ruah dan membuat heboh masyarakat Jawa Timur, khususnya Surabaya.

Sebenarnya Tomcat tidak bermaksud untuk hidup di area perkotaan. Namun apadaya, karena habitat aslinya mulai (telah) lenyap maka mereka pun berusaha mencari ‘rumah’ baru. Mencari tempat untuk hidup. Kalau sudah begini, salah siapa coba?

Kasus Tomcat ini tak jauh beda dengan kasus orang utan yang kerap kali merusak pemukiman penduduk di daerah Kalimantan atau Sumatra. Sama-sama ‘meminta’ tanggung jawab manusia yang telah merusak rumah mereka. Hanya saja si Tomcat langsung menyerang manusia. Membuat gatal plus memberikan luka di kulit. Hal inilah yang pada akhirnya membuat banyak orang bergegas untuk melenyapkan Tomcat.

Nyaris semua wilayah di Surabaya melakukan penyemprotan pestisida untuk membunuh si kumbang. Tidak salah memang, tetapi kurang tepat. Kurang tepat karena penyemprotan pestisida tersebut dilakukan di semua tempat. Di sekolahan, di pemukiman, dan di area persawahan. Sadarkah mereka bahwa Tuhan tidak akan menciptakan makhluknya tanpa sebab?

Meskipun membuat gatal dan bernanah atau luka pada kulit, Tomcat punya peran penting di salah satu ekosistem yang ada di muka bumi ini! Kalau tidak ada Tomcat, kemungkinan kita tidak bisa makan nasi setiap hari loh. Tahu kenapa? Karena Tomcat adalah predator hama wereng. Hama yang kerap kali mengganggu pertumbuhan padi tersebut adalah sumber makanan Tomcat. Karena adanya Tomcat lah, para petani kita bisa meminimalkan keberadaan hama wereng sehingga mengoptimalkan hasil panennya untuk memaksimalkan nasi yang dimamah rakyat.

Alasan itulah yang harusnya dijadikan patokan untuk tidak menyeprot pestisida ke area persawahan. Tomcat tidak perlu dilenyapkan, cukup dicegah supaya tidak melakukan urbanisasi! Kalau si Tomcat tidak sengaja menempel di kulit kita, jangan dikeplak atau dipencet, karena hal tersebut membuat cairan yang ada di dalam tubuhnya keluar. Cairan itulah yang membuat gatal dan luka pada kulit manusia. Usir saja secara halus. Ditiup atau dikibas dengan tangan. it’s simple to do!

Percaya deh…tidak perlu terlalu menghebohkan Tomcat.. Atau jangan-jangan issu Tomcat ini dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian terhadap kenaikan BBM & TDL?? 😉

Masih ingat kasus ‘Ulat Bulu’ di Probolonggo beberapa bulan lalu, bukan? Sekarang gosipnya sudah menghilang to…dan setelah pergi, ulat bulu malah menambah hasil panen buah mangga di Probolinggo.

Siapa tahu setelah ini Tomcat memberikan sesuatu pada masyarakat Surabaya yang disapanya, seperti si ulat bulu pada penduduk Probolinggo! Anggap saja sebagai salam sapa dari Tomcat. Tak kenal, maka tak sayang 🙂

Semoga Tomcat cukup puas atas publikasi yang telah saya buat untuknya sehingga ia tidak menyerang saya 😉

 

Road To Silver Star

 

Berhasil melangkah ke final Coppa Italia. Alhamdulillah yaaa…itu sesuatu sekali 🙂

Semoga saja final 20 Mei besok bisa benar-benar dimenangi oleh La Vecchia Signora tersayang. Kalau memang rejeki, 10 gelar coppa pun diraih. Artinya bisa mendapatkan satu bintang perak di kostum. Silver star!

Good Job, Juventus…. Teruslah bermain apik dengan kemampuan maksimalmu! Saya tetap setia terhadapmu, Juve! Still Juventini till the end of my life 🙂

FIGTHING JUVENTUS!!!!

(P.S:Yang gak suka, gak usah baca!!)

Ale Ale Alex Del Piero 🙂

Unyu-Unyu deh Perut si Alex 😉

Cinta Untuk Juventus (Hiksss…saya juga mencintaimu, kapten!! 🙂 )

Hero for That Match (Grazie, Vucinic!!)

Cinta Versi Vucinic

We Going to Final!!

🙂

(ex) Fren

The Great Juventus Arena

Eh…Ada Pippo (ex fren too 😉 )

(Sumber Foto: juventus.com)——> Always 😉