Tentang Upacara 104


 

Menjadi bagian dari suatu wisudah kelulusan di kampus sekeren ITS adalah hal yang membanggakan dan tentu saja patut mendapatkan credit title tersendiri. Pikiran pertama mengenai upacara wisudah yang akan saya lakukan adalah mendebarkan dan mengharukan plus menyenangkan. Tapi ternyata di sebuah acara wisudahpun ada sisi negatifnya… 

Acara upacara wisudahnya keren sih…hanya saja ada beberapa ritual aneh yang kurang saya mengerti dan terlalu membosankan.

Salah satu bagian upacara yang menurut saya aneh adalah saat rektor beserta anggotanya memasuki ruang wisudah. Mereka berbaris dengan rapi sembari berjalan pelan dengan dipimpin oleh sseorang yang tak saya tahu dimana seseorang tersebut membawa tongkat besi yang ujungnya berbentuk lambang kampus tercinta dengan beberapa lonceng kecil dan selama perjalanan dari pintu masuk menuju panggung tempat rektor tentu saja lonceng tersebut mengeluarkan suara “cring..cringg..cringg”. Selanjutnya tongkat berlonceng itu diputar-putar supaya mengeluarkan bunyi sesaat sebelum rektor membuka dan menutup upacara wisudah.

Apakah sebenarnya esensi dari bagian tersebut? Saya pun tak tahu apakah pembunyian lonceng tersebut dilakukan di setiap upacara wisudah di seluruh kampus di dunia atau hanya berlaku di tempat saya, tapi bagi saya ritual tersebut aneh. Mungkin seandainya saya tahu maknanya, saya bisa mengatakan ritual tersebut unik. Namun karena tak ada penjelasan maka saya katakan bahwa ritual tersebut lebih mirip pengangkatan seorang Paus Vatikan daripada pengukuhan wisudawan.

Itu yang aneh. Sedangkan yang membuat saya bosan adalah rentang waktu upacara yang sangat lama. Lebih dari 500 wisudawan dipanggil satu-persatu untuk menerima ijazah dan bersalaman dengan rektor dimana untuk melakukan hal tersebut harus mengantri dan urut jurusan plus nomer mahasiswa masing-masing. Uuhhh….bosanlah jadinya saat harus menunggu antrian untuk naik panggung dan menunggu prosesi serah terima ijazah selesai. Bosan plus mengantuk lebih tepatnya 🙂

Tapi seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa ada baik dan buruk, kawan. Ada sisi positif dari upacara wisudah yang saya suka. Pertama adalah melantunkan lagu kebangsaan kita…Indonesia Raya 🙂 Mungkin semua kampus juga menyanyikan Indonesia Raya di setiap acara wisudahnya. Tapi bagi saya, menyanyikan Indonesia Raya kali ini adalah sesuatu yang luar biasa. Setelah hampir 4,5 tahun tidak menyanyikannya dengan berdiri tegak dan sikap hormat, saya bisa melakukannya di acara wisudah. Melantunkan Indonesia Raya setelah merengkuh salah satu gelar pendidikan tertinggi.

Bagusnya lagi dari acara wisudah di Institut saya ini adalah diberikannya ijazah plus transkrip (bilingual) secara langsung kepada wisudawan. Di Indonesia, hal ini hanya berlaku di kampus saya. Ijazah dan traskrip bisa langsung kami dapatkan di hari wisudah tanpa perlu menunggu beberapa pekan setelahnya. It’s awesome 🙂

Yang paling bagus lagi adalah wisudawan diperkenankan membawa kamera ataupun ponsel ke dalam ruang upacara. Bagus banget karena dengan begitu saya memiliki dokumentasi saat berada di ruang wisudah. Selain itu keberadaan kamera ataupun ponsel bisa dijadikan pelampiasan kebosanan kala menunggu berakhirnya prosesi wisudah.

Apapun itu…. saya tetap merasa bersyukur karena pernah menjadi bagian dari sebuah Institut yang luar biasa. menjadi civitas akademika di salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Tapi tetap… saya mengharapkan adanya perbaikan di acara wisudah selanjutnya… termasuk menjelaskan ritual ‘tongkat berlonceng’ yang tak saya mengerti itu… 😉

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s