Tomcat Hanya Seekor Kumbang


 

Tranding Topic Pekan ini —–> Tomcat

Mulai dari FB, twitter, hingga YM. Dari TV lokal, hingga internasional… Kurang bekennya hanya di infotaiment saja… Mungkin si tomcat akan dibahas habis di segmen infotimen jika ada artis yang kena serangannya 😉

Karena ingin berpartisipasi menaikdaunkan Tomcat maka saya bermaksud memberikan sedikit arahan bahwa sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan dari kumbang kecil tersebut. Seperti kata teman saya “Tomcat tidak membuat manusia yang dihinggapinya berubah menjadi zombie”.

Keberadaan Tomcat  tak perlu terlalu dihebohkan karena ia sudah ada sejak dahulu kala. Hanya saja saat ini mungkin waktu bagi Tomcat untuk unjuk gigi. Tiba-tiba saja jumlahnya melimpah ruah dan membuat heboh masyarakat Jawa Timur, khususnya Surabaya.

Sebenarnya Tomcat tidak bermaksud untuk hidup di area perkotaan. Namun apadaya, karena habitat aslinya mulai (telah) lenyap maka mereka pun berusaha mencari ‘rumah’ baru. Mencari tempat untuk hidup. Kalau sudah begini, salah siapa coba?

Kasus Tomcat ini tak jauh beda dengan kasus orang utan yang kerap kali merusak pemukiman penduduk di daerah Kalimantan atau Sumatra. Sama-sama ‘meminta’ tanggung jawab manusia yang telah merusak rumah mereka. Hanya saja si Tomcat langsung menyerang manusia. Membuat gatal plus memberikan luka di kulit. Hal inilah yang pada akhirnya membuat banyak orang bergegas untuk melenyapkan Tomcat.

Nyaris semua wilayah di Surabaya melakukan penyemprotan pestisida untuk membunuh si kumbang. Tidak salah memang, tetapi kurang tepat. Kurang tepat karena penyemprotan pestisida tersebut dilakukan di semua tempat. Di sekolahan, di pemukiman, dan di area persawahan. Sadarkah mereka bahwa Tuhan tidak akan menciptakan makhluknya tanpa sebab?

Meskipun membuat gatal dan bernanah atau luka pada kulit, Tomcat punya peran penting di salah satu ekosistem yang ada di muka bumi ini! Kalau tidak ada Tomcat, kemungkinan kita tidak bisa makan nasi setiap hari loh. Tahu kenapa? Karena Tomcat adalah predator hama wereng. Hama yang kerap kali mengganggu pertumbuhan padi tersebut adalah sumber makanan Tomcat. Karena adanya Tomcat lah, para petani kita bisa meminimalkan keberadaan hama wereng sehingga mengoptimalkan hasil panennya untuk memaksimalkan nasi yang dimamah rakyat.

Alasan itulah yang harusnya dijadikan patokan untuk tidak menyeprot pestisida ke area persawahan. Tomcat tidak perlu dilenyapkan, cukup dicegah supaya tidak melakukan urbanisasi! Kalau si Tomcat tidak sengaja menempel di kulit kita, jangan dikeplak atau dipencet, karena hal tersebut membuat cairan yang ada di dalam tubuhnya keluar. Cairan itulah yang membuat gatal dan luka pada kulit manusia. Usir saja secara halus. Ditiup atau dikibas dengan tangan. it’s simple to do!

Percaya deh…tidak perlu terlalu menghebohkan Tomcat.. Atau jangan-jangan issu Tomcat ini dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian terhadap kenaikan BBM & TDL?? 😉

Masih ingat kasus ‘Ulat Bulu’ di Probolonggo beberapa bulan lalu, bukan? Sekarang gosipnya sudah menghilang to…dan setelah pergi, ulat bulu malah menambah hasil panen buah mangga di Probolinggo.

Siapa tahu setelah ini Tomcat memberikan sesuatu pada masyarakat Surabaya yang disapanya, seperti si ulat bulu pada penduduk Probolinggo! Anggap saja sebagai salam sapa dari Tomcat. Tak kenal, maka tak sayang 🙂

Semoga Tomcat cukup puas atas publikasi yang telah saya buat untuknya sehingga ia tidak menyerang saya 😉

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s