Perang Dingin “My Sister Vs My Dad”


 

Terlepas dari suasana rumah yang ‘sepi’ karena kepergian Mami, sebagai manusia (agak) normal saya tetap merasa rumah ini begitu ramai. Bahkan terlalu ramai. So crowded! Rame! Pertama ramai gara-gara adu argumen antara Papi & bude-bude Vs Kakak saya. Kubu Papi bersikeras untuk mengadakan acara doa bersama tetangga-tetangga sekitar hingga 7 hari ke depan atau orang-orang di sekitar saya menyebutnya sebagai tahlilan sedangkan kakak saya kekeuh untuk tidak melakukan apa-apa.

Kedua kubu memang tidak bersitegang atau saling lempar gas air mata macam demonstran vs polisi di depan gedung DPR RI. Tapi sikap mereka menunjukkan ketidaksukaan satu sama lain. Kakak saya bahkan berencana untuk menggagalkan rencana Papi cs dengan cara memblokadir orang-orang yang akan datang ke rumah malam ini. Memblokadirnya bukan dengan menghalangi tamu menggunakan pagar kawat, melainkan dengan mengatakan adanya salah informasi dari pihak keluarga. Halus dan bersih.

Saya memang tidak setuju dengan acara tahlilan 7 hari beruntun dengan alasan orang yang kehilangan sedang dalam kondisi susah sehingga mengadakan acara tahlilan semakin menyusahkan mereka. Kenapa menyusahkan? Karena acara mengundang orang-orang seperti itu pasti harus menyuguhkan sesuatu. Dan yang saya ketahui, orang-orang daerah atau masyarakat yang masih tinggal di pedesaan akan menggunjingkan tuan rumah jika suguhannya kurang Oke! Nah loh… bagaimana ceritanya jika orang yang kepaten itu kurang berada? Masa iya harus melakukan tahlilan dengan menyuguhkan hidangan mewah? Susah memang kalo membicarakan masalah adat istiadat.

Tak ada pula perintah dariNya untuk mengadakan acara 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau 1 juta hari orang yang telah meninggal. Jadi, tidak melakukan acara-acara seperti itu bukanlah dosa besar!

Sayangnya Papi dan bude-bude dan sebagian besar keluarga saya masih terpaut pada paradigma masyarakat tersebut sehingga mereka kekeh untuk tetap melakukan tahlilan. Dan kakak saya kekeh menolak tahlilan. Saya, bingung!

Akhirnya karena Papi cs telah bekerja keras di dapur dan undangan telah disebar maka saya pun memberanikan diri untuk berkata pada kakak saya ;

Papi tetep mau bikin tahlilan. Udahlah biarin aja. Biar gak ribut. Kita niatnya sedekah aja. Biarkan mereka datang dan doa-doa sesuai keyakinan mereka. Kita doa sesuai keyakinan kita sendiri. Kasian juga Papi kalo harus batalin undangan”

Sedikit deg-deg saat menunggu respon kakak saya, tetapi akhirnya dia berkata ‘ya sudahlah’. Cukup untuk membuat saya tenang karena itu berarti tak akan ada perang mulut saat acara tahlilan berlangsung.

Masa iya harus berantem gara-gara masalah ‘Mami’? Kan kasian Mami kalau kami meributkan perkara yang bersangkutan dengan beliau.

Semoga saja perang dingin ini bisa lebih mencapai kata sepakat 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s