Secuil Potret Sekolah Tanah Air

 

Mengingat masa-masa sekolah…. Saya kerap kali mengeluh saat bapak/ibu guru memasuki ruang kelas. Malas sekali jika mereka memberikan tumpukan PR. Tak ada dispensasi untuk tidak mengerjakan PR. Karena setiap mata pelajaran diajarkan oleh seorang guru, maka tak jarang PR yang saya dapatkan setiap harinya membentuk antrian panjang untuk diselesaikan.

Saking banyaknya PR, saya sering berharap diajar oleh seorang guru saja supaya saya tak mendapat PR setiap hari. Jika diajar dengan satu orang guru, setidaknya beliau tahu bahwa muridnya telah mendapat PR matematika sehingga tidak perlu memberikan PR fisika di hari yang sama. Kalau banyak guru, mereka tidak akan peduli berapa banyak PR yang telah tertumpuk di pundak murid. Itulah fikiran dodol saya ketika masih duduk di bangku sekolah.

Namun saat melihat berita mengenai suatu sekolah yang hanya memiliki seorang guru, rasanya mak jlebb! Sekali lagi Tuhan menyentil saya denga sangat halus nan menusuk. Saya yang dulu sangat membenci puluhan guru yang ada di sekolah betul-betul manusia paling tidak bersyukur jika dibandingkan dengan adik-adik berseragam putih merah yang hanya memiliki seorang guru. Satu orang guru menangani enam kelas? Ya Tuhan…..bagaimana cara mereka belajar? Bagaimana cara mereka menyerap ilmu? Terlepas dari seorang guru yang mungkin multitasking sehingga mampu mengajar di enam kelas dalam satu hari, saya sama sekali tak pernah bisa membayangkan bagaimana cara mengajarnya. Sehari mengajar enam kelas dimana setiap kelas per harinya diisi oleh 3 sampai 4 mata pelajaran. Hiii…..bagaimana ceritanya coba??? Miris nan ironis!

Sangat jauh dengan kondisi sekolah dasar saya dahulu. Saya memang tidak bersekolah di ibukota dengan fasilitas AC di setiap kelasnya. Namun untuk standar kota kecil, sekolah dasar saya adalah yang terbaik. Bangunan sekolah tidak reyot! Kamar mandi tidak hanya sebiji. Tidak ada bangku-bangku rapuh karena rayap. Tidak ada atap bocor. Dan tidak diajar dengan seorang guru. Tukang kebun saja tiga orang, asa iya gurunya hanya seorang?! Tapi kesadaran akan betapa beruntungnya dunia sekolah dasar saya baru berlangsung saat ini.

Potret pendidikan di negeri ini, apakah akan terus buram? Kalau buramnya bersifat artistik sih bagus…. Bukankah banyak sekali sekolah-sekolah tinggi yang mendidik masyarakat untuk menjadi guru? Kemana lulusan sekolah tinggi tersebut sehingga masih ada sekolah yang tak memiliki guru? Setidaknya jumlah guru sejalan dengan jumlah kelas yang ada di sekolah!

Terimakasih Tuhan, karena saat duduk di bangku sekolah dasar saya tak pernah sekalipun kekurangan guru sehingga saya harus berdiri di depan kelas untuk mengajar teman-teman sebaya…..

 

Suntikan Semangat Pagi ala Saya

 

 

Bangun pagi bukan kewajiban bagi saya yang beberapa tahun terakhir lebih sering bersahabat dengan kata ‘tidur pagi’. Namun sebagai jobseeker, saya berusaha untuk mengubah jam biologis yang cenderung tak normal ini. Bangun pagi tak hanya untuk shalat subuh, tetapi juga melakukan aktivitas sederhana yang bisa mengembalikan mood serta semangat. Yang paling sederhana adalah menonton televisi. Acara yang rutin saya lihat tentu saja berita-berita tentang Juventus. Rutin menyaksikan acara berita olahraga.

Pagi ini tidak sengaja menonton acara kuis di salah satu stasiun TV swasta. Acara menonton kuis ini bukan rutinitas harian saya, tetapi hari ini saya nonton dari awal hingga akhir. Karena apa coba? Karena ada teman-teman Juventini yang berlaga di sana 🙂

Ada teman-teman dari Juventini Bandung. Meskipun hanya kuis yang bersifat hiburan, tetap bangga dong kalo pendukung klub tercinta menjadi pemenangnya?! Voiillaaaaa…… pemenang kuis tersebut adalah seorang Juventini…Ye ye ye…. Tak ada hubungannya dengan saya secara personal, tetapi sebagai Juventini ada dong!

Meskipun tidak pulang dengan membawa hadiah utama, yang penting pulang dengan predikat yang terbaik! Yang terbaik diantara suporter klub lain 😉

Semoga saja musim ini, hasil terbaik itu juga diperoleh oleh Juventus. Semoga!!!

Semangat hari ini semakin bertambah… 🙂 Ini cara saya menambah semangat…. bagaimana dengan anda?

 

 

Ayo Semangat, Mei!!

 

Dua minggu beristirahat dari hingar bingar mencari kerja. Status jobseeker yang terabaikan selama dua minggu akhirnya kembali. Benar kata orang, kalau sudah melakukan sesuatu lalu tiba-tiba saja terpotong…pasti sulit untuk memulai dan menyelesaikannya.

Sama halnya dengan saya. Saat ini tiba-tiba saja ingin kembali lagi pulang ke rumah. Tak usah lagi berpanas-panasan di Surabaya. Tak ingin kesana-kemari mencari pekerjaan. Inginnya di rumah saja sembari menunggu jatuhnya durian runtuh!

Waahhh…itulah pikiran tolol yang muncul hari ini!

Untunglah….saya bisa segera tersadar bahwa Bing Band tak akan bisa saya sentuh dengan hanya menunggu! Masih jobseeker saja sudah menyerah, bagaimana bisa menemukan jalan menuju negeri Pizza? Come on, Mei…. kept spirit!!!

Ayo…Ayo…Ayo… SEMANGAT!