When She Missed My Mom


Beberapa hari setelah kepergian Mami, ponakan saya (Hani) tiba-tiba merengek untuk bermalam di rumah. Ia tak mau diajak pulang ke rumah orang tuanya. Entah kenapa tiba-tiba bocah 3 tahun ini meminta untuk bermalam di rumah orang tua saya, di rumah kakek neneknya.

Pikiran saya saat itu adalah mungkin karena dia ingin bermanja-manja dengan tantenya (adik saya, bukan saya) yang beberapa saat terakhir memang sangat jarang pulang kampung. Di tengah malam, saat saya dan Intan (adik saya) sedang asik menonton drama korea rengekan yang kami takutkan dari Hani pun muncul. Si Hani ini hanya mau bermalam di rumah saya (orang tua saya) dan tidur nyenyak di samping utinya. Terus kalau sekarang dia merengek, bagaimana caranya membuat dia tidur nyenyak? Gak mungkin kan saya memanggil Mami untuk meninabobokkan ponakan saya itu?

Karena hanya adik saya yang bisa menggantikan posisi Mami di mata Hani, maka Intan lah yang kemudian menggendong ponakan saya itu. Menenangkan dia supaya bisa kembali tertidur. Butuh beberapa jam untuk mengembalikan nyenyaknya tidur Hani. Lama sih, bahkan adik saya harus bolak-balik menggendong Hani lalu meletakkannya di atas kasur. Yang penting rengekannya berhenti dan kami bisa tidur malam.

Sewaktu subuh Hani yang saya kenal sebagai ponakan yang bangunnya paling siang tiba-tiba menjadi manusia pertama yang membuka matanya. Tepat saat adzan subuh berkumandang. Papi yang hendak menunaikan shalat subuh berkata;

“Loh… putune engkong wes tangi (cucuku sudah bangun)”

Hani tidak menggubris perkataan Papi. Yang dia lakukan adalah memasuki semua kamar yang ada di rumah kami. Lalu melongok ke dalam kamar mandi, dapur, dan berhenti di ruang TV tempat dimana Papi memerhatikan inspeksi dadakan Hani.

Tiba-tiba Hani Berkata;

“Kong, Uti kemana?”

Papi menjawab spontan “Hah??”

Lalu Hani mengulang pertanyaannya dengan ejaan yang lebih diperjelas;

“utii…ke-ma-na? Ke pasar ta?”

Papi saya masih memandangi ponakan saya itu. Saya sendiri tak mengetahui apa yang ada dipikiran beliau kala itu, namun yang pasti saya ketahui adalah Papi tak bisa menjawab pertanyaan salah satu cucunya. Papi diam sembari menatap Hani yang menunggu jawaban atas pertanyaannya. Mungkin karena terlalu lama menunggu dan tak kunjung mendapatkan respon dari kakeknya, dia mulai sadar… Lalu berkata dengan sendirinya

“oh..iya ya…uti kan sudah dikobong (dikubur)”

dan kemudian meninggalkan Papi yang masih terpaku.

Ah…Hani…

Saya rasa saat itu dia tengah merindukan Mami. Merindukan utinya. Tapi karena dia terlalu kecil untuk mengerti apa itu rindu, yang dia lakukan adalah meminta bermalam di rumah saya lalu mengalami amnesia sesaat akan keberadaan utinya. 

P.S: Semoga Mami tahu bahwa Hani menyayangi utinya, kami semua menyayanginya. Kalau tidak sayang, bagaimana mungkin Hani menanyakan keberadaan Mami? Miss You, Mom 🙂

Advertisements

One comment on “When She Missed My Mom

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s