Dibalik Sebuah Kata


Saat saya dekat dengan seseorang (laki-laki), kadang-kadang ada komentar “cieee” dari beberapa orang terdekat. Entah itu dari pihak saya atau lawan jenis.

Saat sedang terlibat dalam suatu percakapan atau diskusi, kadang-kadang ada pernyataan “Gak papa” yang terlontar dari saya atau mungkin juga lawan diskusi saya.

Saat dihadapkan dengan suatu pilihan, kadang-kadang muncul kata “terserah” sebagai bentuk pilihannya.

Saat mengharapkan sesuatu dari orang lain dimana harapan tersebut tak bisa dipenuhi, kadang-kadang keluarlah kata “Ya sudah“.

Tahukah kamu….

Di balik komentar “cieee” itu ada kecemburuan. Entah itu cemburu karena memiliki perasaan suka terhadap salah satunya atau cemburu karena ia hanya bisa berkomentar tanpa memiliki seseorang yang dekat dengannya. Akhirnya rasa cemburu tersebut berujung pada sikap kekanak-kanakan. Memutus hubungan komunikasi misalnya. Tak lagi mengirimkan pesan singkat atau saling komentar di twitter, padahal sebelumnya orang tersebut menunjukkan sikap ramah terhadap kita (saya). Bahkan kadang-kadang sikap ketidakdewasaan tersebut ditunjukkan dengan tidak ingin melihat, mendengar, & mengomentari apapun yang berhubungan dengan kita (saya)…. Apapun yang berhubungan dengan orang telah membuatnya mengatakan “ciee” seolah-olah adalah virus yang harus dijauhi. Nah loh! Kalau sudah begitu, apa yang harus kita lakukan terhadap manusia “ciee” tersebut? BIARKAN saja! Serius…biarkanlah ia berkspresi sesuka hatinya… tidak usah terlalu dipikirkan. Biarkan dia dengan “ciee” nya selama tidak mengganggu alur hidup kita 🙂

Di balik kata “gak papa” pasti ada masalah. Benar bukan? “Gak papa” itu bukan perkataan tepat di sebuah percakapan. Entah itu resmi atau hanya sekedar basa-basi. Bagi saya “gak papa” itu hanya alibi untuk mengalihkan topik pembicaraan. Suatu cara untuk mengatakan bahwa saya (kita) sudah bosan dengan topik pembicaraan yang arahnya tidak jelas itu dan jika topik yang dibicarakan tidak segera diganti maka masalah akan benar-benar muncul!

Di balik kata “terserah” pasti ada keinginan! PASTI! Tidak ada yang namanya pilihan “terserah”. Bukankah hidup itu pilihan? Kalau memang memiliki keinginan, mengapa tak dikatakan saja? Katakan A jika memang ingin A. Katakan B jika memang ingin B. Percaya deh…. menentukan pilihan itu sangat jauh lebih menyenangkan daripada “terserah” karena dengan “terserah” kita (saya) hanya menemukan penyesalan di belakang!

Dan di balik kata “ya sudah” ada sebuah kekecewaan. Jika kita (saya) melontarkan “ya sudah” pada suatu sesi, itu berarti kita (saya) kurang menerima keputusan yang telah diambil. Kadang-kadang memang agak nyesek, tapi harus diterima bukan?! Namanya juga keputusan bersama. Jika “ya sudah” itu keluar dari lawan bicara, itu berarti kita (saya) yang harus menyadari bahwa lawan bicara kita (saya) itu sedang berusaha untuk menutupi kekecewaannya dan kalau sudah begitu, kenapa tidak kita tanyakan saja apa maunya?

Jangan terlalu sering melontarkan “ya sudah“! Katakan saja apa yang benar-benar kita mau tanpa harus terbentur dengan “terserah“. Jangan pula berteman dengan “gak papa” supaya tak ada “ciee” yang keluar dari mulut kita! 🙂

P.S: Thanks for ur ispiring, Senja 😉

Advertisements

2 comments on “Dibalik Sebuah Kata

  1. I cling on to listening to the news talk about getting boundless online grant applications so I have been looking around for the best site to get one. Could you advise me please, where could i acquire some?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s