Pertanyaan Itu


 

Hari ini salah satu saudara bertanya pada saya

“Kamu lagi sibuk apa sekarang? Kapan Kerja”

Nah lohh…. pertanyaan yang sudah sangat biasa memang, tetapi bagi sebagian besar orang pertanyaan itu sifatnya sangat sensitif. Tapi karena saya tidak termasuk ke dalam orang yang sensitif untuk pertanyaan tersebut maka saya sempat ingin menjawab pertanyaan sepupu saya itu dengan;

“Lagi sibuk sama euforia pestanya Juventus mbak. Nyiapin kostum buat nobar minggu besok…kan sekalian konvoi. kalo masalah kerjanya, belum ada panggilan.”

Namun karena saudara saya itu termasuk dalam sebagian orang yang gak ngerti dengan alur pikiran saya maka jawaban yang terlontar adalah; 

“Masih sibuk cari kerja kok, mbak”

😉

Saya tidak salah bukan… saya kan masih jobseeker… apalagi kesibukan seorang jobseeker selain mencari kerja? 🙂

Saya jadi merasa menjadi anak yang beruntung karena dilahirkan dari orang tua yang tak pernah mengatur jalan hidup saya. Mereka tak pernah memaksa saya untuk begini dan begitu. Tak ada aturan saya harus bekerja ini atau itu. Selain masalah pendidikan, saya tak pernah dilarang-larang untuk melakukan apapun selagi hal tersebut tidak membahayakan dan tidak bersifat kriminal.

Hubungan antara paragraf di atas dengan paragraf yang di atasnya lagi apa?

Kaitannya dengan pertanyaan sepupu saya itu. Mayoritas saudara-saudara saya selalu ditatar dengan alur : Sekolah SD, SMP, SMA – Kuliah – Menikah (perempuan) atau bekerja (laki-laki). Karena saya sudah lulus kuliah, yang ia tanyakan saat ini adalah “sudah kerja belum?’.

Untunglah pertanyaan semacam itu tak pernah saya dapatkan dari Mami & Papi. Saat masih kuliah pun mereka tak pernah bertanya “kapan lulus”. Mereka hanya menempatkan saya pada suatu area, tetapi tak pernah menuntut saya untuk beraksi sesuai kehendak mereka. Saya dibiarkan melakukan apapun. Tidak menyuruh saya untuk berteman dengan A. Tidak menyuruh saya untuk menjadi asisten. Tidak menuntut berapa IPK saya. Dan mungkin karena itulah saya bisa melalui dunia perkuliahan dengan lepas. Meskipun saya bukan mahasiswa teladan, setidaknya saya tak pernah mencuil uang SPP atau uang kos untuk hura-hura 😉

Sekarangpun sama. Tidak ada aturan supaya saya cepat bekerja atau cepat menikah. Orang tua saya tetap membiarkan saya menjalani hidup yang saya mau. Papi tak pernah menyuruh saya pulang kampung untuk dinikahkan dengan anak kepala desa atau anak baik lulusan pesantren seperti yang sering dilakukan oleh bude-bude saya. Beliau tetap membiarkan saya berlalu lalang di tempat yang saya mau. Membiarkan saya terbang, tetapi tetap mengiringi saya dengan doanya.

Itu yang terpenting, bukan? 🙂

Kalau besok ada lagi saudara atau siapapun yang bertanya “Kapan kerja?” saya anggap pertanyaan itu adalah doa mereka untuk saya. Dan semoga saja pertanyaan itu tak datang dari Papi 😉

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s