Ketika Persamaan Menjadi Berbeda


Kami suka akan warna yang  sama

Sama-sama menyukai hitam dan putih… sama-sama menggilai I Bianconerri

Sama-sama berfikiran bahwa biru adalah warna terindah

Kami suka berkelana ke tempat-tempat baru

Sama-sama menggilai cita rasa tradisional

Sama-sama beranggapan bahwa gunung adalah tempat terbaik untuk melihat dunia

Bagi kami waktu adalah mutlak

Tak ada elastisitas untuk sebuah waktu

Tak ada toleransi untuk melewati satu detikpun

Saat melancarkan suatu percakapan… kalimat-kalimat kami seakan-akan melengkapi yang satu dan yang lain

Membentuk suatu paragraf dengan alur cerita yang tak terpecah

Ketika salah satunya tersulut api,yang lainnya akan mengguyurkan air dengan segera

Dan bagi kami,hidup terlalu membosankan jika hanya dilalui dengan balutan kemeja rapi jali

Betapa samanya pribadi & isi kepala kami

Sayang…persamaan yang melimpah itu luruh hanya dengan satu perbedaan

Saya meyakini Tuhan saya, sedangkan dia percaya pada Tuhannya

Kalau boleh saya bertanya padaNya..
“Tuhan,bukankah Kau hanya satu?! Lalu mengapa harus ada perbedaan itu? Mengapa kami tidak meyakiniMu di jalan yang sama?”

Dan akhirnya kami hanya bisa menikmati kebersamaan dalam persamaan yang luruh itu…

Menikmatinya sebagai salah satu chapter buku terbitanNya

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s