Gara-Gara Garam


Ampun…. hanya karena butiran garam dapur, muncul suatu pertengkaran kecil antara saya dengan salah satu teman kos. Tidak bertengkar sih sebenarnya, hanya sedikit salah tangkap saja. Dua hari yang lalu tiba-tiba saja teman sekamar saya mengingat bahwa garam miliknya tengah ‘dipinjam’ oleh mbak kos saya yang lain, anggap saja Ruth (nama sebenarnya). Lalu teman sekamar saya segera menuju kamar mbak Ruth untuk mengambil garamnya.

Tak berapa lama, teman sekamar  saya kembali sembari berkata

kata Ruth garamku dihabisin Niken

Niken itu adalah mbak kos saya yang lainnya lagi dan ia telah angkat kaki dari kosan saya. Karena hubungan diantara mbak Niken dan mbak Ruth memang kurang akur, iseng-iseng saya memanggil mbak Niken melalui twitter…biasalah…ngetwit! Isinya hanya sekedar guyonan. Saya twit apa yang disampaikan oleh teman sekamar saya tentang garamnya plus saya bubuhi dengan hastag (#) ‘ayoperang’ sembari cekikikan. Tak ada maksud lain selain bercanda.

Sayangnya apa yang saya maksudkan itu dimaksudkan lain oleh mbak Niken. Dia tersinggung dengan twit saya. Bahkan update status di akun FB nya jelas-jelas menyebutkan ‘garam’! Ya Tuhan….saat saya mengomentari statusnya yang lebay itu (menurut saya) dengan mengatakan bahwa saya hanya bercanda…Mbak Niken mengatakan bahwa saya bercanda di saat yang tidak tepat! 

duhhh….. salah lagi! Aneh sih sebenarnya karena saya merasa tak ada waktu yang tepat bagi mbak Niken untuk bercanda yang berarti dia tak bisa diajak bercanda! Saking emosinya dia membeli garam baru dan langsung diantarkan ke kos saya pada keesokan harinya. 

Waduhhh…..masa hanya gara-gara garam? Payah! Okay, kalau memang twit saya membuat ia tersinggung…saya sudah minta maaf, tetapi buat saya sungguh konyol jika seseorang menganggap twit atau status FB seseorang itu terlalu serius. Buat apa sih marah-marah hanya karena twit sederhana yang maksudnya hanya bercanda? Bagi saya twitter atau FB atau blog atau apapun yang menggunakan jaringan internet itu untuk senamg-senang, bukan untuk perang! Jadi apapun yang saya postingkan baik melalui twitter atau FB, sama sekali tak berniat buruk. Mau apa juga ghellut via dunia maya? Itu Cemen! Marah gara-gara status FB atau twitt = bocah ingusan = bocah ababil = gak bisa berfikir dewasa!

Mungkin ini juga pelajaran buat saya untuk lebih berhati-hati mengirimkan postingan via jejaring sosial supaya tak ada lagi kesalahpahaman atau miss communication seperti ini. Harus lebih memilah-milah lagi mereka yang bisa mengerti gaya bahasa dan bercandaan saya..Buat mbak Niken; “Maaflah kalau memang twit saya itu membuat kakak sakit hati. Tapi sungguh…That was a joke, sist! I really am sorry about that!” 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s