Ujian dari Ibu-Ibu Rese Di Tengah hari


Seorang ibu-ibu paruh baya menghampiri tempat kerja saya. Lalu beliau memberikan selembar kertas yang isinya berupa tulisan tangan dimana tugas saya adalah merubahnya dalam bentuk ketikan komputer. 

Seperti biasa, jika telah menerima lembaran kertas bertulis tangan saya segera membuka si MS word untuk menyulap tulisan tangan tersebut menjadi rangkaian titik-titik alphabet. Seperti biasa pula Saya memastikan pada si orderer mengenai bentuk tulisan beserta ukuran hurufnya.

Kali ini tema ketikan saya adalah daftar harga barang-barang elektronik. Namanya daftar harga pastilah bentuknya berupa tabel yang berkolom-kolom dan tentu saja isinya adalah nama barang beserta harganya.

Ketika saya mulai mengetikkan daftar nomer 1, si ibu berkata

mbak…itu tulisannya taro tengah ya

Oke…saya memaklumi bahwa si ibu tidak mengetahui kebiasaan saya ketika harus berhadapan dengan MS word. Mengetik dulu, editing belakangan. Karena itulah saya katakan dengan suara yang super lemah lembut, “Iya, bu. Nanti saya taruh tengah kok

Si ibunya mengangguk dan membiarkan saya melanjutkan pekerjaan.

lalu ketika hendak menuliskan harga di daftar nome 3, si ibu kembali memprotes

“Mbak…itu harganya bukan 300 ribu. Ganti 500 ribu”

Sayapun melirik kertas yang isinya adalah tulisan si ibu. Di sana jelas-jelas tertera angka Rp.300.000 , bukan Rp.500.000 sehingga saya berfikiran mungkin ibunya hilaf. Sekali lagi saya merevisi. Tidak apalah…mengganti angka 3 menjadi 5 bukan hal sulit! 

Melanjutkan daftar nomer empat, si ibu kembali melayangkan gugatan pada kerja saya

Itu jumlah barangnya bukan 3 mbak, tapi lebih besar dari 3. Itu loh mbk…tanda matematika… lebih besar (kata si ibu sembari menuliskan maksudnya —> 3> )”

SUMPAH! 3> dibacanya lebih besar dari 3 kah???? >_<

Karena saya tahu antara yang disiratkan dan dituliskan si ibu berbeda, maka saya mencoba membenarkan dengan cara saya mengajari ponakan saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar

Bu… kalo lebih besar dari 3 tandanya itu gini (MENULISKAN >3 DI ATAS KERTAS)”

Ibu: “Iya…memang gitu maksud saya. Lanjut saja mbak” (berkata dengan ekspresi tanpa dosa)

Saya: (tercengang sembari mengepalkan tangan sembari berdoa semoga kepalan tangan ini tak mendarat di wajah si ibu).

Dengan sedikit emosi yang yang untungnya masih bisa saya tahan, tangan saya kembali menekan-nekan keyboard. Tak sampai dua menit, si ibu kembali menginterupsi

Mbak…itu harganya yang nomer 2 jumlah barangnya kok 4? harusnya 3

Karena saya merasa teledor maka dengan segera saya melihat secarik kertas yang ada di depan saya sembari mencocokkannya dengan hasil ketikan di monitor. Tapi tak ada kesalahan yang dimaksud oleh si ibu-ibu. Hasil ketikan saya sama dengan apa yang dituliskan si ibu. Namun karena customer adalah raja saya layani saja perkataan beliau dengan mengganti angka 4 menjadi 3.

Setelah itu lanjutlah ke daftar nomer 5! Ya… dalam kurun waktu 25 menit saya baru sampai pada daftar nomer lima! Padahal ketikannya tak berbentuk paragraf dengan ratusan kata. Hanya menuliskan satu kata di satu kolom serta beberapa digit angka di kolom sebelahnya. Namun memakan waktu layaknya saya merangkai satu paragraf yang terdiri atas 300 kata! The worst ever!

Belum selesai mengetikkan angka di kolom daftar nomer 5, si ibu kembali berucap

Mbak, itu harganya yang nomer 5 bukan 1 juta. 900 ribu

Dan kali ini rasanya sudah tak bisa menahan diri. Entah kenapa saya yang sudah merasa telah terbiasa bersikap sabar dengan tutur sapa yang ramah tamah tiba-tiba saja menjadi saya yang sesungguhnya, FRONTAL!

Di kertas yang ibu kasih ini tulisannya 1 juta, bukan 900 ribu! yang bener yang mana, Bu??!!!”

Dan si ibu dengan santainya menjawab;

itu yang di kertas salah semua mbak. Sini aku diktekan saja. jadi gak usah lihat kertasnya”

Saya pun menghembuskan nafas panjang! KALAU MEMANG SALAH SEMUA, KENAPA MENYURUH SAYA MENGETIKKAN APA YANG TERTULIS DI KERTAS TERSEBUT? BENAR-BENAR DEH IBU INI!!! GAK TAHU APA KALO SAYA SEDANG PMS,HAHH??!!!! 

Ya Allah….. untunglah kefrontalan saya hanya sampai pada pernyataan agak keras, kalau saja saat itu saya benar-benar kehilangan kesabaran mungkin keyboard ini saya lemparkan ke muka si ibu 😦 atau sekalian saja PC yang saya jontorkan!

Tuhan….sabarkan saya yaaa… 🙂

Talk to myself: “SABAR MEI!!!!!!” 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s