Ketika Sekamar Berdua


 

Tahukah kalian syarat utama berbagi kamar ketika kita harus menjadi anak kos itu apa?

MENERIMA

Serius. Kita harus mau menerima dengan siapa kita akan berbagi kamar. Kedengarannya simple, tetapi percayalah… tidak mudah untuk menerima roommate. Bukan hanya sikapnya yang kadang-kadang menyebalkan, tetapi juga sifatnya yang mungkin berbeda 180 derajat dengan kita.

Tak mudah memang menemukan teman sekamar yang selalu sama dengan watak kita. Pasti ada saja sesuatu yang sering kali membuat kita jengkel, marah, pengen ngajak berantem bahkan rasanya pengen pindah kosan. Masalahnya pasti ada saja.

Kadang-kadang seseorang menginginkan privasi penuh untuk dirinya sehingga ia membuat batas teritori di dalam kamar yang tak boleh dipijaki seujung jari kaki pun oleh teman sekamarya. Menurut saya, itu gila! Seakan-akan kamar itu adalah sebuah negara dimana untuk masuk ke dalam wilayahnya harus memiliki paspor ataupun visa berkunjung! Kalau memang mau memiliki privasi penuh, kenapa harus menyewa kamar yang memang untuk dua orang?! Sewa kamar saja sendiri.

Lalu ada lagi yang meributkan masalah kebersihan kamar. Duhhh…ini lagi, mau bersih-bersih kok pakai ribut! Ada loh salah satu teman kos saya yang memperkarakan teman kosnya gara-gara tak pernah menyapu dan mengepel kamar. Sampai-sampai di balik pintu kamarnya ditempeli kertas HVS yang bertuliskan “HARAP MENJAGA KEBERSIHAN” lalu di bawah tulisan tersebut ada lagi tulisan “BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA”. Rasanya seperti berada di Kebun Binatang. Peraturan tertempel dimana-mana. Kalau saya sekamar dengan orang yang seperti itu, semakin saya jahilin saja. Bukannya tidak mau bersih-bersih, tetapi dengan peraturan yang tertulis begitu rasanya tidak nyaman. Sama-sama membayar, sama-sama memiliki hak. Lagipula, berbagi kamarnya bukan dengan bayi yang suka pipis sembarang bukan? Jangan sampai gara-gara teman sekamar yang malas menyapu dan mengepel lantai, kita pun jadi ikut-ikutan tak mau menyapu. menunggu si teman sekamar yang menyapu. Kalau seperti itu apa bedanya kita dengan si teman sekamar? Menyapu dan mengepel lantai tidak membuat seseorang terlihat tolol dan kita tak akan tiba-tiba kehilangan nyawa jika harus menyapu dan mengepel lantai. Kalau memang kesal karena teman sekamar tak mau menyapu dan mengepel, anggap saja saat kita melakukannnya itu demi diri sendiri bukan demi orang lain. Biasanya seseorang cenderung bersemangat melakukan sesuatu jika keuntungannya tampak untuk diri sendiri dibandingkan orang lain. Benar bukan?  😉

Masalah lampu. Kadang-kadang ada seseorang yang tak bisa tidur dengan kondisi lampu menyala dan ada pula yang tak bisa tidur dengan kondisi gelap. Ini juga kadang-kadang membawa bentrokan antar teman sekamar loh. Solusinya? Tetap ‘NERIMA’. Menerima bagaimana sikap dan sifat teman sekamar. Percaya deh, masalah gelap terang ruangan lama-kelamaan pun kita akan terbiasa. Saya adalah manusia yang tak bisa memejamkan mata saat lampu dimatikan. Sama sekali tak bisa tidur. Sialnya semasa kuliah saya harus berbagi kamar dengan orang-orang yang tak bisa tidur jika lampu menyala. Solusinya? Saya katakan pada teman sekamar saya itu bahwa saya tak bisa tidur dalam kondisi gelap… akhirnya adalah dia berbaik hati untuk tidak memadamkan lampu saat saya hendak tidur malam. Saya pikir lampu menyala semalaman, tetapi saya keliru. Ternyata ketika saya sudah tertidur lelap, kawan sekamar saya itu mematikan lampu kamar tanpa mengatakannya pada saya. Saya mengetahui hal ini setelah seminggu penuh menjadi roommatenya…..tak perlu ribut-ribut to??? 🙂 Tapi seperti yang telah saya katakan sebelumnya bahwa lama-lama sayapun terbiasa tidur dalam kondisi gelap dan teman sekamar saya pun tak masalah dengan kondisi terang. Kalau kami memang lelah, lampu mati . Dan saat kami ingin membaca sebelum tidur, lampu menyala.

Ada lagi masalah? Masalah mau tempel-tempel poster atau tempelan apapun di dinding? Saya rasa itu hak masing-masing penghuni kamar. Suka-suka pemilik kamar mau menempeli dindingnya dengan apa. Dengan poster tim sepak bola favoritnya (seperti saya) atau dengan tempelan jadwal plus aktivitas kampus yang harus dilakukan (seperti saya) atau nempelin foto-foto (seperti teman saya) pun itu terserah individu pemilik kamar. Tapi meskipun hak setiap orang  untuk menempel-nempel, harus tahu diri juga dong! Jangan semua permukaan dinding ditempeli oleh sesuatu yang hanya kita sukai. Kalau begitu caranya sih sama saja cari ribut sama teman sekamar -_- Kalau misalnya ada tempelan teman yang tak kita suka bagaimana? Ya Itu tadi… TERIMA saja! Namanya juga berbagi kamar. Kalau tak suka, anggap saja tak melihat. Susah memang jika kita harus berada di dalam ruangan yang dindingnya memajang sesuatu yang sangat tak kita sukai. Tapi lagi-lagi saya harus bersyukur karena saat kuliah saya berbagi kamar dengan orang yang cuek bebek dan mengerti sekali bahwa saya tak menyukai tim favoritnya tetapi dia dengan diam mau menerima poster-poster The Old Lady terpajang manis di kamar kami. Saya tahu bahwa ia tak suka Bianconerri, tetapi apa daya saya tak bisa jika tak melihat tim kesayangan di dalam kamar 🙂

Sekamar berdua untuk ngekos itu memang tidak mudah. Banyak aral yang melintang. Tapi kalau kita bisa Menerima dan menjalaninya dengan easy going, sekamar berdua itu asik loh! Paling tidak kita tak perlu nongkrong ke kamar sebelah kalau hanya ingin punya lawan bicara 🙂 Kalau memang tak bisa berbagi kamar, ngekos sendiri saja! Kalau perlu beli apartemen atau rumah sendiri.

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s