Iri, Tidak. Sombong, Jangan.


Beberapa saat yang lalu saya kedatangan seorang customer yang berseragam khas pegawai negeri sipil, batik hijau. Profesinya bukan PNS, tetapi seorang guru di salah satu sekolah yang ada di daerah kos saya. Jika menilik dari seragamnya, sebagian besar orang pasti mengatakan dia memiliki pekerjaan yang layak. Terlihat keren karena setiap hari keluar rumah dengan menggunakan seragam. Terlihat lebih prestisius dan mewah dibandingkan pekerjaan yang saya lakukan saat ini (catat: menurut pikiran masyarakat awam). 

Bahkan saya merasa sikap si customer terhadap sayapun demikian. Ia merasa lebih high class daripada saya. Sikapnya ketika menyuruh saya untuk mengetikkan selembar surat keputusan (SK) seolah-olah dia orang paling penting di dunia ini. Dan entah apa maksudnya yang tiba-tiba meletakkan ponselnya di atas meja tempat saya mengetikkan SK nya. Awalnya saya kira dia hanya sekedar meletakkan Hp tersebut sesaat karena dia harus mengambil sesuatu atau melakukan apa yang membutuhkan kedua tangannya. Tetapi lama-lama saya merasa aneh karena dia meletakkan HP tersebut selama saya melakukan pengetikan, sedangkan dia duduk di kursi yang memang disediakan untuk menunggu ketikan selesai. Hello…maksudnya apa coba naruh HPnya di meja saya? Mau ngasih Hp itu ke saya atau gimana coba?

Dan akhirnya saya bisa menebak dengan tebakan yang mungkin saja tidak benar atau buruk sangka, bahwa ia hendak pamer! Ketika saya mengatakan “Mbak, ini handphonenya kenapa di taruh di sini

Jawabannya adalah “Oh, iya..lali aku (aku lupa) Kalo hilang bisa mati aku. hape larang e. Titip situ dulu mbak

Konyol! Oh My god! Memamerkan Hpnya yang menurut dia super canggih itu pada saya sama saja dengan konyol! Kenapa harus menggunakan pernyataan ‘Hp larang’??!! Apa dia mengira saya tidak mengerti berapa rupiah harga ponselnya. Dan caranya menyampaikan kata larang itu tak dengan mimik bercanda, karena saya tahu pasti bagaimana ekspresi seseorang yang humoris dengan yang congkais (red: songong). Saya hanya diam menaggapi pernyataan ‘larangn’nya tersebut, tetapi dalam hati saya tersenyum simpul agak ngakak, menertawai kekonyolan sikapnya.

Handphonenya itu memang bagus. Bermerek dan mahal. Bahkan saya sempat hendak membeli ponsel tersebut. Tapi maaf, ponsel saya tak hanya bagus dan bermerek tetapi juga pintar. Kenapa saya harus iri pada ponselnya yang bagus , mahal dan bermerek tersebut?

Kemudian, ketika saya telah menyelesaikan pesanannya dia berkata

Mbak, S.E nya jangan lupa diketik! itu oh yang setelah nama. itu gelar sarjana

Dan jawaban saya singkat “Iya” sembari tersenyum geli di dalam hati! 

Lalu hari ini ketika seorang ibu-ibu meminta saya untuk mengetikkan suatu surat permohonan, saya jadi semakin tahu bahwa saya tak perlu iri dengan seorang sarjana ekonomi yang memiliki hape bagus, mahal, dan bermerek tersebut. Surat yang saya ketik ini adalah permohonan kenaikan gaji guru-guru suatu sekolah yang secara kebetulan adalah sekolah tempat mbak-mabk SE berhape bagus,mahal, dan bermerek tersebut mengajar. Di situ jelas tertulis nominal rupiah yang diterima si mbak SE berhape bagus, mahal, dan bermerek setiap bulannya. 

Ya Tuhan…. tak usah saya sebutkan jumlah pastinya, yang pasti angkanya jauh di bawah angka yang saya dapatkan setiap bulan. Jika dilihat-lihat, seragamnya yang prestisius itu harusnya memiliki pendapatan jauh lebih besar daripada pekerja paruh waktu seperti saya, bukan? Inilah kenapa saya tak perlu iri-irian terhadap mbak tersebut.

Apa yang mau dibuat iri? bagian mananya? Bagian seragam? Ohhhh…hari gini masih pake seragam? Memangnya saya anak sekolahan?! 😉

Gelar S.E nya? Ngapain? Saya juga sarjana! Bahkan kampus saya jauh lebih reputable daripada almamaternya. Hp nya? Kenapa harus iri dengan handpone mahal kalau HP saya jauh lebih pintar? 

Pokonya tak boleh iri pada siapapun dan apapun karena masih banyak seseorang yang kurang beruntung dari kita. Dan tak perlu sombong pula dengan apa yang kita miliki karena di atas langit masih ada langit! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s