Saat Partner Kerja Tak Mengerjakan Tugasnya


 

Setelah hampir dua bulan bermain-main di warung internet sebagai operator saya merasa bahwa partner saya ini termasuk mereka yang menyalahartikan kerjasama. Bagi saya, kerjasama merupakan simbiosis mutualisme dimana semua pihak yang terlibat di dalamnya mendapatkan keuntungan. Namun pada kenyataannya, partner saya itu lebih cenderung membuat saya merugi daripada untung.

Di warnet ini, kami juga menyediakan jasa pengetikan. Entah itu hanya berupa makalah, surat-surat pernyataan, atau bahkan skripsi (hanya PENGETIKAN, bukan PENGERJAAN SKRIPSI 😉 ). Dan selama bekerjasama melakukan pengetikan inilah saya merasa dibully.

Misalnya kami menerima dua buah makalah untuk diketik dimana jumlah halamannya relatif sama. Tahu dong kalau 2 dibagi 2 = 1?! Jadi masing-masing kami harusnya bertanggung jawab atas satu makalah tersebut. Namun kenyatannya adalah 2 dibagi 2 itu bisa 1,75 : 0,25 atau 1,50 : 50. You see what I mean?

Jadi pekerjaan yang harusnya menjadi tugas partner saya itu kerapkali menjadi bonus kerja bagi saya. Saya yang memang sangat tidak suka menunda-nunda pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawab saya tak akan pernah membiarkan pekerjaan tersebut kalah dari aktivitas bermain poker via FB!!! Karena itulah, Alhamdulillah, saya selalu bisa menyelesaikan apa yang menjadi pekerjaan saya dengan tepat waktu bahkan kadang-kadang saya masih menyisahkan sedikit waktu kerja yang bisa saya gunakan untuk melemaskan otot atau berselancar di dunia fana (red; internet). Saya tidak salah bukan?

Kebalikannya, partner saya menjadikan tugasnya sebagai jobside dari bermain FB! Hasilnya pekerjaan dia kerap kali tertunda penyelesaiannya. Lalu entah mengapa ketika tugasnya itu belum selesai dia selalu saja mengirimi saya pesan singkat di pagi hari yang isinya

Mei, ketikanku yang kemarin belum selesai. Kemarin itu lagi rame, jadi aku gak bisa nyelesaikan

Welldone! Akhirnya sayalah yang harus menuntaskan pekerjaannya. Kesal sih, tapi mau bagaimana lagi? Kalau orderan tidak selesai ketika si pemesan hendak mengambilnya dimana saat itu saya yang sedang bertugas di warnet? Saya yang diomelin customer bukan?

Sekali dua kali sih tak masalah, tapi nyaris ada pengetikan yang jumlah halamannya berlembar-lembar hal tersebut salalu terjadi. Akhirnya munculnya emosi kesal yang menumpuk pada saya. Ingin sekali membiarkan apa yang memang bukan tanggungjawab saya itu. Tapi apa daya, saya bukan orang yang suka melihat pekerjaan selesai setengah jalan.

Saat saya mencurahkan kekesalan ini pada salah satu teman, dia berkata

Ingat, Mei! Itu bukan tugas kelompok kuliah yang bisa bikin kamu gak dapet A. Kalau memang bukan tugasmu, gak usah dikerjakan!”

Tapi bukankah saya sudah mengatakan sebelumnya… kalau si pemesan datang mengambil orderannya saat saya yang menjaga warnet bagaimana? 😦

Lalu ada lagi yang lebih keren solusinya

“kamu log out aja, Mei!”

Bagus! Resign memang jalan tercepat supaya saya tak berhubungan lagi dengan orang yang tak disiplin dalam melakukan pekerjaannya. Tapi kalau saya resign, saya mau makan darimana? Bukankah saya telah bertekad bahwa seorang Sarjana tak boleh lagi meminta biaya hidup pada orang tua! Tak boleh lagi jadi parasit…kasian inang saya yang sudah mulai menua. Kalau sudah bisa membuat makanan sendiri, kenapa perlu inang? 🙂 Lagipula pekerjaan ini bukan proyek jangka panjang saya sehingga ada saatnya saya akan mundur dari tempat ini (Insya Allah).

Solusinya bagaimana coba?

Tetap bekerja dengan riang. Itulah yang akhirnya saya lakukan. Sempat marah dan kesal, itu manusiawi. Namun setelahnya saya berusaha untuk bertahan dengan memikirkan bahwa jika saya bsia menyelesaikan tugas dengan baik maka sayalah yang akan mendapatkan manfaatnya. Seseorang akan selalu riang gembira ketika melakukan sesuatu yang hasilnya bermanfaat untuk diri sendiri, bukankah begitu sifat manusia? Jadi saya menganggap bahwa apa yang saya kerjakan adalah untuk saya bukan untuk partner saya!

Satu lagi, mengundurkan diri dari pekerjaan lantaran masalah kecil tersebut sama saja lari dari masalah. Pecundang! Saya kan pemilik scudetto, masa harus jadi pecundang gara-gara ketidakdisiplinan orang lain? 😉

Haruskah mengadu pada atasan mengenai partner kerja yang agak henghong? Silahkan saja mengadu jika kalian memiliki kasus yang sama seperti saya. tetapi ingat, pengaduan harus disertai dengan bukti-bukti otentik. Selain itu, bulatkan niat bahwa pengaduan tersebut tidak dimaksudkan untuk menjatuhkan partner tetapi sebagai bentuk teguran supaya kawan kerja kita bisa menjadi pekerja yang lebih baik di kemudian hari. Kalau niat mengadunya untuk mendongkel partner kerja, pasti ada dendam dan niatan untuk membalaskannya di kemudian hari. Jadinya kondisi lingkungan kerja semakin tidak nyaman. Intinya jangan ada dendam diantara kita.

Semoga saja kinerja partner saya bisa berubah. Dan saya bisa bertahan hingga mendapatkan panggilan kerja yang saya suka. Sampai saat itu tiba harus tetap semangat!!!! 🙂

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s