Masalah Anak Kos Itu Sudah Biasa


Sangat heran ketika melihat kejadian dimana pertikaian terjadi antara teman satu kos. Berantem dengan teman satu kos hanya karena masalah sederhana dan sangat tidak penting adalah sesuatu yang tak penting! Lebih tidak penting lagi kalau diantara mereka tak saling sapa, tetapi tinggal seatap.

Apa enaknya coba?

Tidak sependapat dengan kawan kos itu sudah biasa. Namanya juga kepala…beda pola pikir! Tak mungkinlah bisa selalu sepaham. Tapi, meskipun berbeda polanya…bukankah sama-sama memiliki pikiran? Pikiran itu gunanya untuk mikir… jadi ketika sedang merasa kesal pada teman kos lantaran suatu hal… jangan asal ngelabrak atau marah-marah lalu membuat keributan! Pikir dulu kenapa kawan kos bersikap seperti itu! Tapi kalau pikiran kalian lebih sering berujung pada keburukan, lebih baik abaikan saja pikiran tersebut! Tak usah dipikirkan! Tak usah memikirkan sikap kawan kos yang mengesalkan itu. Lupakan saja! Cuekin!

Jangan kira saya tak pernah punya masalah dengan teman kosan. Pasti punyalah. Saya bahkan pernah sangat kesal pada mantan roommate saya karena setiap pulang kencan dia pasti menangis! GILA!! Gimana gak kesal coba? Orang lagi ‘asik’ mengerjakan tugas kuliah tiba-tiba disuguhi deraian air mata yang disebabkan oleh kaum Adam!!! UUUHHHHH…rasanya pengen nabok kawan saya dan (mantan) cowoknya itu! Habis kencan kok nangis??! Tapi ngapain juga saya mengurusi air matanya? Mau nangis atau mau gulung-gulung itu bukan urusan saya. Jadi… saya biarkan dia menangis setelah kencannya. Dan saya tetap melakukan aktivitas yang sedang saya lakukan. Dan tentu saja menutup kedua telinga saya dengan earphone yang menyalurkan lagu-lagu! Dengan volume mp3 100%. Biarlah telinga saya menggemakan lagu-lagu favorit, daripada harus dimasuki sesegukan yang fals!

Lama-kelamaan, mungkin kawan saya menyadari bahwa saya menutup kuping dari tangisannya. Karena itulah setiap kali dia menangis, dia menikmati air matanya dengan kuping saya yang hanya mendengarkan nyanyian dari mp3. lalu setelah dia menangis dia akan mencolek pundak saya yang kemudian berkata “Aku suudah selesai“. Jika sudah begitu, saya mengecilkan volume mp3 atau menyeting volumenya menjadi loudspeaker.

Well…itulah enaknya sekamar dengan orang yang sama tak warasnya dengan saya 😉

Kalau misalnya masih saja tak bisa menerima sikap dan sifak kawan kos… kenapa masih bertahan di rumah kos tersebut? Pindah saja! Masa bisa nyaman tinggal bersama tanpa saling tegur sapa?? Percaya deh…. justru itu adalah salah satu seni menjadi anak kos.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s