Mengingat Lembaran 100 Rupiah


 

Ya Allah… Ternyata masih ada ya uang pecahan seratus rupiah kertas yang berwarna merah agak orange. Masih ingat bukan dengan wajah mata uang kita yang satu ini?? Mata uang yang jaman saya kecil selalu menjadi menu wajib lebaran yang disuguhkan oleh orang tua, bude-bude dan saudara-saudara yang lebih tua bahkan kalau beruntung oleh para tetangga 🙂 Uang kertas ini tiba-tiba saja saya dapatkan dari Intan, adik saya. Tak tahu darimana dia bisa mendapatkan lembaran rupiah ini. Dalam kondisi masih kesat…masih baru. Baunya juga bau khas uang yang baru dikeluarkan oleh BI. Aneh juga rasanya ketika mendapatkan selembar receh ini.

Masihkah ingat gambar apa yang ada di bagian rupiah yang ada di samping ini?

Yuhuuu… itu adalah kapal Pinisi. sebuah perahu khas Indonesia yang berasal dari suku Bugis, Makassar (nama anyar dari Ujung Pandang). Kenapa harus Pinisi? Mungkin karena kapal ini istimewa. Hanya dengan dua tiang, dapat membentangkan 7 buah layar. Hebat bukan bukan? Dan masih ingatkan kalian bahwa 7 buah layar tersebut meiliki makna yang lebih dari sekedar kibaran layar? Jika ada yang ingat… 7 layar menandakan bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia telah berhasil mengarungi 7 samudra besar yang ada di muka Bumi ini hanya dengan sebuah kapal yang dibuat oleh tangan sendiri, tanpa bantuan mesin. Ihhh… Marcopollo kalah yaa kalau begitu…

Lalu sisi lainnya menampilkan gambar anak gunung Krakatau. Kenapa Krakatau yang harus dipilih untuk menemani Pinisi di recehan ini ya? Mungkin karena ledakannya menimbulkan pengaruh yang luar biasa bagi manusia. Bukan karena letusannya yang dahsyat, tetapi juga efeknya yang mematikan. Letusan gunung Krakatau memang tak lebih hebat dari Gunung Tambora atau gunung Toba. Namun, kedua gunung tersebut meletus ketika populasi manusia masih sangat jarang dimana sains dan teknologi tidak berkebang pesat seperti saat meletusnya Krakatau. Jadi indikasi tersebutlah yang dijadikan alsan mengapa Krakatau pantas mendampingi Pinisi di salah satu lembaran mata uang kita.

Tak begitu paham juga sebenarnya mengapa pinisi dan Krakatau… Dan kalau  kemarin adik saya tak memberi selembar receh ini maka tak akan ada cerita mengenai lembaran seratus rupiah. Masih lakukah uang ini untuk sistem jual beli? Masihkah recehan ini sah sebagai salah satu alat pembayaran di negeri ini? Waahhhh… kalau masih laku berarti adik saya memiliki simpanan rupiah yang cukup banyak untuk membeli segelas kopi 😉

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s